MPASI Hari Gini…

MPASI….

Rasanya sudah lama sekali saya berhubungan dengan kata ini. Dulu sih sangat akrab ya, apalagi waktu anak pertama masih bayi, wah itu bener-bener deh, MPASI jadi perhatian banget buat saya. Segala macam informasi saya cari, bahkan kandungan gizi dari setiap bahan makanan yang saya berikan juga saya buatkan rangkumannya. Perencanaan pemberiannya pun saya jadwalkan secara matang dan saya doakan bener-bener agar Tuhan memberkati semua yang saya beri dan upayakan memang jadi berkat untuk anak saya. Segalanya saya lakukan karena ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya.

Setelah anak kedua lahir dan masuk ke usia MPASI, tetep sih hal ini jadi perhatian, cuma sudah tidak seperti waktu anak pertama. Untuk anak kedua saya sudah lebih santai, karena eheemm… ngerasa udah berpengalaman. Saya gak lagi mencari informasi sebanyak dulu karena kebanyakan informasi memang sudah ada di tangan, panduan pemberiannya pun saya ikut seperti waktu abangnya dulu, walau tentu saja saya masih terus mendoakan agar apa yang saya yakini adalah yang terbaik yang saya berikan akan memang jadi yang terbaik untuk anak saya.

Puji Tuhan, sekarang anak-anak saya dua-duanya sudah lewat dari usia balita.Β  Walau sampai sekarang pun saya masih memperhatikan dengan detail asupan gizi untuk anak-anak, tapi tentulah saya tidak akrab lagi dengan segala hal mencakup MPASI.

Trus kenapa sekarang tiba-tiba nulis tentang MPASI?

Karena tadi pagi barusan sharing dengan teman soal MPASI, di mana teman saya ini bilang kalau dokternya menganjurkan untuk MPASI pertama pakai aja produk instan yang ada di pasaran atau kalau pun mau homemade, kombinasikan dengan produk instan itu. Alasannya? Karena kandungan gizi dalam produk instan itu lebih terukur dan lebih tepat.

Saya tau, jaman memang sudah berubah banyak dari sejak terakhir saya berhubungan dengan MPASI, meski itu baru beberapa tahun yang lalu.

Kalau dulu, jaman anak saya, pemberian MPASI itu harus pelan-pelan, memperkenalkan satu demi satu bahan makanan, tahap demi tahap sesuai usia anak, maka beberapa tahun terakhir ada trend pemberian MPASI 4 bintang untuk anak.Β  Kalau di jaman saya dulu protein hewani baru bisa diberikan di usia di atas 8 bulan, maka dalam trend MPASI sekarang, protein hewani sudah bisa diberikan dari sejak awal perkenalan MPASI dengan alasan agar anak tidak kekurangan gizi, terutama zat besi.Β  Kekuatiran terhadap kekurangan zat besi inilah yang sepertinya menjadi salah satu alasan beberapa dokter kemudian lebih merekomendasikan produk instan dengan alasan memiliki kandungan zat besi yang lebih tepat.

Anak-anak saya dulu, dengan menggunakan metode pemberian MPASI secara bertahap, puji Tuhan sampai sekarang tidak kekurangan gizi termasuk zat besi. Mereka anak-anak yang sehat, ceria, bahagia, dan puji Tuhan sampai sekarang mereka menunjukkan kecerdasan yang sangat baik.

Andaikan sekarang saya punya anak lagi dan akan memulai MPASI, maka selama anak saya tidak memiliki faktor resiko kekurangan zat besi, maka saya akan tetap menggunakan metode pemberian MPASI seperti yang dulu.

Kenapa?

Berikut alasannya.

  1. Resiko bayi mengalami alergi terhadap jenis makanan tertentu itu selalu ada karena itu buat saya tetap adalah penting memperkenalkan jenis makanan satu per satu untuk bayi sesuai usianya. Ada alasannya mengapa menunda pemberian jenis makanan tertentu untuk bayi, misalnya brokoli. Meski kandungan gizinya tinggi, namun kemampuan pencernaan bayi yang masih kurang bisa menyebabkan perut bayi bergas yang tentu sangat tidak nyaman untuk bayi karena itu brokoli disarankan diberikan di atas usia 8 bulan.
  2. Dalam metode pemberian MPASI 4 bintang, bayi hanya diberi kesempatan 14 hari berkenalan dengan menu tunggal sebelum kemudian masuk ke dalam tahap 4 bintang itu. Jika saya mengikuti metode ini maka saya akan bingung sendiri karena dalam 14 hari itu berapa banyak makanan sih yang bisa dikenalkan ke bayi? Kalau setiap hari berbeda-beda trus bagaimana kita bisa mengenali makanan mana yang menyebabkan alergi dan mana yang gak sementara reaksi alergi itu bisa cepat bisa juga lambat. Kalau dalam metode MPASI yang lama ada istilahnya aturan tunggu 4 hari sebelum anak berkenalan dengan bahan makanan yang baru. Menurut saya ini lebih masuk akal karena jika anak saya mengalami alergi saya bisa lebih memastikan makanan apa yang menyebabkan reaksi alergi itu.
  3. Terkait reaksi alergi di atas, saya sudah mengalami sendiri dengan kedua anak saya dan memang sudah membuktikan kalua bayi bisa mengalami alergi pada makanan tertentu di usia tertentu. Contohnya putih telur. Si abang pernah saya kasih tumisan bayam dicampur telur orak-arik waktu usianya 11 bulan dan sekujur tubuhnya jadi merah-merah. Setelah lewat 1 tahun barulah dia gak mengalami alergi lagi ketika makan putih telur.
  4. Sumber zat besi itu tidak hanya dari protein hewani saja. Kacang-kacangan, sayuran hijau, sereal, oatmeal, dan buah-buahan juga mengandung zat besi yang banyak. Lagipula yang perlu diperhatikan tidak hanya jumlahnya, melainkan juga penyerapannya. Mau makan makanan yang mengandung banyak zat besi juga percuma jika tubuh tidak mampu menyerapnya, karena itu selain memberikan makanan yang mengandung zat besi untuk anak, penting juga memberikan makanan yang mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi yang lebih baik. Jadi seharusnya, selama kita selektif memilih dan mengkombinasikan bahan makanan untuk anak serta memperhatikan kandungan gizi yang ada dalam setiap bahan makanan tersebut, maka tidak perlu kuatir anak mengalami kekurangan zat besi. Inilah sebabnya, mengapa saya dulu setiap kali memperkenalkan satu bahan makanan untuk bayi selalu mencari tau kandungan apa yang ada dalam bahan makanan tersebut (bisa lihat contohnya di sini). Karena itu, selama kita bisa memastikan bahwa makanan yang kita beri mengandung zat besi yang baik dan tidak ada faktor resiko anak kita kekurangan zat besi, maka tidak perlu kuatir menunda pemberian protein hewani hingga kemampuan pencernaan bayi lebih siap di usia 8 bulan (salah satu referensi soal zat besi dan bayi bisa dibaca di sini).

Karena alasan-alasan di atas itulah, maka saya tetap yakin bahwa metode pemberian MPASI secara bertahap yang dulu saya berikan adalah yang terbaik untuk anak-anak saya. Dan soal pemberian makanan bayi instan, jika saya ditanya, maka saya akan tetap merekomendasikan pemberian makanan rumahan untuk anak dan bayi dibanding makanan instan. Membuat makanan rumahan untuk anak mungkin memang lebih merepotkan, namun percayalah repot buat anak itu tidak akan pernah sia-sia πŸ™‚ .

Terakhir,Β  buat ibu-ibu yang mungkin mengalami kebingungan memilih metode pemberian MPASI untuk anak, maka berikut ada sedikit saran dari saya, yang meski bukan siapa-siapa namun saya juga adalah ibu yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya.

  1. Hindari memilih metode hanya berdasarkan trend apalagi hanya karena takut anak kita jadi kurang pintar dibanding anak lain yang di usia sekian udah makan ini dan itu.
  2. Selalu rajin belajar dan mencari informasi, apalagi di era informasi seperti sekarang, informasi apapun itu mudah sekali kita dapatkan, termasuk soal pemberian MPASI dan bahan makanannya.
  3. Tentukanlah pilihan berdasarkan informasi yang kita gali, jika bingung bisa ditambah dengan berdasarkan pengalaman orang lain yang sudah terbukti, serta terutama tentu pilihan harus berdasarkan kondisi bayi kita. Apapun pilihannya, pastikan kita tau betul manfaat serta resikonya.
  4. Buatlah perencanaan pemberian makanan dan perhatikanlah secara detail kandungan gizi dalam bahan makanan untuk anak. Itu akan membantu kita untuk merasa yakin bahwa bahan makanan yang kita beri itu sesuai untuk bayi kita.
  5. Milikilah keyakinan dan doakan apa yang menjadi pilihan kita karena apapun usaha kita untuk anak semua akan sia-sia bila tidak diberkati Tuhan.
  6. Anak membutuhkan gizi yang terbaik tidak hanya saat bayi saja, tapi sepanjang masa pertumbuhan bahkan di selama masa hidupnya. Karena itu akan sia-sia saja ‘kehebohan’ selama masa MPASI tapi setelah masa itu lewat anak malah makan sembarangan. Makanan memiliki peran sangat penting terhadap kehidupan manusia, karena itu pastikan bahwa kita memberikan makanan secara bertanggung jawab untuk manusia yang Tuhan percayakan untuk kita sebut sebagai anak kita.

Demikianlah pemirsa, ocehan saya soal MPASI yang bertepatan dengan malam minggu ini. Keren sekali yaaaa bahasannya πŸ˜€ . Duh, inilah akibat malam minggu gak kemana-mana, ditambah suami yang harus stay di unit mempersiapkan kedatangan RI 1, jadilah saya malam mingguan sama blog kayak gini gak seperti minggu lalu yang malam minggunya diisi dengan nonton midnight show Captain Marvel bareng suami dan anak-anak πŸ˜€ . Pengen nonton TV, tapi film-film di TV kok herannya kalo pas malam minggu mesti deh kurang menarik…huhuhuhu… Jadi sepertinya nanti setelah anak-anak tidur, saya akan menghabiskan malam minggu dengan baca novel di Wattpad aja. Di sini ada juga yang seneng baca novel di Wattpad gak?

PS:

Walau saya di atas bilang andaikan punya anak lagi, tapi tolong jangan doakan saya bakal hamil lagi ya, karena meski suka kangen sama anak bayi tapi sesungguhnya saya gak ada keinginan untuk nambah anak lagi πŸ˜€

14 respons untuk β€˜MPASI Hari Gini…’

  1. Tunjuk tangan sebagai pembaca setia Wattpad.. πŸ™‹β€β™€οΈ Maaf tdk bisa mengomentari tulisan soal MPASI nya krn blm punya anak Mba.. 😊

      1. Hi Mba.. Sori banget habis reply, ga lihat2 lagi, eh ternyata dibalas Mba Allisa.. 😁 aku kebanyakan masih baca novel2 yg ditulis penulis indo.. yg ujung2nya bukunya berjejer di Gramed.. πŸ˜† ga semuanya sih yg udah aku baca. Soalnya milih2 juga.. lihat jalan cerita n cara penulisannya:.. maklum dah bukan ABG. Jadi kl baca yg bahasanya terlalu non formal kayaknya gmn gitu.. Kl buku berbahasa inggris, bingung nyarinya.. blm ketemu yg sreg penulisannya. boleh juga tuh rekomennya Mba ntar aku cari, siapa tau cocok.. πŸ˜†

      2. Aku malah belom pernah baca yg bhs indonesia di wattpad, bknnya krn gk pengen tapi krn yang bhs inggris aja banyak banget kaann pilihannya, tiap hari baca juga gak habis2 buku yang bisa dibaca. Penulis luar yang recommended banyak banget sih di wattpad. Asik banget memang wattpad ini, bener2 memuaskan hasrat orang yang demen baca novel πŸ˜€

  2. Couldn’t agree more! Sepupuku juga bilang, DSA nya suruh makanan instant macem si pr*mina. Rada bingung dan mungkin saya kudet (kurang update) kalau MPASI jaman sekarang emang gitu kali ya. Entahlah.

    Saya adalah pembaca yang nemu blog ini akibat googling MPASI nya abang jaman saya baru akan memulai MPASI. Amat sangat membantu banget dan tentu saja banyak saya contek info dari mbak Lisa.

    Perkembangan jaman maupun update info mau gimana pun. Saya tetap sependapat dengan mbak Lisa. Karena saya merasakan manfaatnya. Mulai dari menu tunggal. Susah payah bikin kaldu ayam, ikan, daging dan mengolah dengan bahan lain. Jadi belajar dan punya pengalaman baru tentang MPASI.

  3. iya mbak,skrg emg udh beda bgt
    tp emang fokus dokter skrg adalah mencegah stunting. dan sbnrnya bukan dokter blg mpasi instan itu lbh baik,tp bukan berati lbh buruk dr mpasi homemade,krn yg homemade jika takaran tdk tepat malah ga bagus. kalo yg instan kan jelas terukur pas dan diawasi oleh ahli. anakq dua2nya jg ga pernah instan krn banyak pantangan alergi,hehe
    aq follow IG metahanindita, beliau DSA, dan sering bgt menjelaskan soal mpasi ini. walopun ga pny anak kecil lg,aq ttp baca biar ga kudet hahaha

  4. Ternganga2 baca ada dokter lebih menyarankan MPASI instan… segitu jauhnya kah aku dr masa MPASI untuk anakku yang 3.5 tahun itu??
    dan saya juga setuju pemberian makanan secara bertahap…
    kalau baca, masih lebih suka yang buku fisik, pengaruh mata yg gak tahan kelamaan di depan komputer atau HP

    1. Sama, aku jg sempat kaget…ternyata skrg udah begitu πŸ˜…. Tp ya apapun itu yg penting kita kenal betul lebih kurangnya pilihan kita ya…

      Sbnrnya mmg lbh asik buku fisik krn beneran dapat sensasi baca bukunya ya. Tp skrg ini yg online pilihannya lbh luas dan lbh gampang milihnya sih πŸ˜„

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s