The Master Bathroom: Because Every Room Has Its Own Story

Sejak membeli dan pindah ke rumah ini dari sekian tahun yang lalu, sudah cukup banyak perubahan yang kami lakukan di rumah ini. Secara struktur sih gak berubah ya, tapi secara penampilan baik dari luar maupun dalam terlihat sudah cukup banyak perbedaan di rumah ini antara waktu pertama kali ditempati dengan yang sekarang. Apalagi soal interior ya, karena saya cukup senang mendekorasi rumah, di samping juga karena memang seiring waktu kami perlu menambah atau mengurangi ini dan itu sesuai dengan perubahan kebutuhan kami di rumah ini. Terasa benar memang, untuk membuat sebuah rumah atau hunian terasa ‘komplit’ itu tidak hanya tergantung dari kita punya dananya atau gak, tapi memang harus pelan-pelan, satu per satu, karena kita akan tau apa saja yang kita butuhkan atau perubahan seperti apa yang perlu kita lakukan seiring perjalanan waktu kita menempati rumah tersebut. Sekedar terlihat bagus aja gak cukup, dan meski hasilnya sama memukaunya dengan gambar-gambar di Pinterest, tapi kalo gak cocok dengan kondisi atau gak sesuai dengan kebutuhan ya menurut saya itu gak akan bikin hunian jadi terasa nyaman buat penghuninya sendiri.

Nah, meski saya suka mendekor rumah, tapi ada satu ruangan nih yang dari kemarin-kemarin gak terpikir untuk saya sentuh dan bisa dibilang hanya saya biarkan saja dengan kondisi sebagaimana adanya seperti sejak pertama kali kami pindah ke sini.

Ruangan itu adalah kamar mandi di kamar utama.

Kenapa gitu?

Nah, begini ceritanya.

Kami pindah ke rumah ini dalam kondisi saya hamil kurang lebih 6 bulan, waktu itu si abang masih berusia 4 tahun, dan saat itu kami gak punya ART sama sekali. Jadi bisa kebayang kan ya kesibukan kami saat pindahan dan setelah pindahan. Nah, karena baru pindah, jadi urusan interior kami fokuskan pada hal-hal yang memang kami butuh sesegera mungkin, seperti kitchen set misalnya (walo akhirnya kitchen set-nya kudu diganti juga sih πŸ˜€ ), kamar-kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dan sebagainya. Untuk urusan kamar mandi, karena memang dari sejak beli kamar mandinya sudah bisa langsung dipakai jadi gak kami apa-apain lagi. Waktu itu kami belom bisa fokus ke kamar mandi, jadi pokoknya yang penting bisa dipakai sebagaimana tujuannya ya sudah cukup buat kami.

Beberapa bulan kemudian saya melahirkan dan sebagaimana yang mungkin dialami oleh hampir semua ibu-ibu yang punya bayi, keahlian mandi dan menyelesaikan urusan apapun itu di dalam kamar mandi dalam waktu yang super cepat mau tidak mau semakin bertambah. Mana ada istilah bisa menikmati waktu berlama-lama selagi mandi, bisa punya waktu untuk mandi aja udah syukur. Apalagi si adek ini kan tipe anak yang cuma bisa tidur lama kalo nempel sama mamanya, begitu ditinggal bentar, langsung otomatis terbangun trus nangis. Walo dulu pake baby sitter, tapi tetep aja, anaknya tau kalo mama lagi di rumah ya berarti harus sama mama. Jangankan mandi ya, BAB aja kudu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya πŸ˜€ . Jadi dalam kondisi kayak gitu, rasanya males lah mo mikirin dekorasi kamar mandi. Yang penting fungsinya bisa jalan, ya sudah biarkan saja sebagaimana adanya.

Seiring waktu berjalan, si adek makin besar, makin mandiri, dan kemudian udah bisa ditinggal sendiri selagi saya mandi. Saya pun seharusnya sudah bisa memiliki waktu mandi yang lebih panjang dibandingkan sewaktu dia masih bayi. Sayangnya nih, kondisi yang kemudian harus saya jalani mengharuskan saya untuk sibuk hampir sepanjang hari. Setiap hari dari subuh sampai malam saya kejar-kejaran dengan waktu. Mandi cantik? Gak ada waktulah. Setiap hari masih bisa keramas aja saya udah bersyukur puji Tuhan banget. Kondisi kayak gitu lagi-lagi bikin saya gak terpikir untuk menambah apapun di kamar mandi utama kami.

Jadi bisa dibilang, selama lebih dari 5 tahun tinggal di rumah ini, saya memang tidak pernah meluangkan waktu untuk membuat kamar mandi utama kami menjadi lebih nyaman, karena toh saya juga tidak perlu merasa nyaman berada di dalamnya. Ya buat apa menyamankan diri kalo hampir setiap hal yang saya lakukan di ruangan itu harus dilakukan dengan terburu-buru? YangΒ  penting kebersihannya dijaga, fungsinya gak ada yang terganggu, maka sekali lagi, kamar mandi itu sudah cukup untuk saya dan suami. Gak heran kalau dari sejak awal, kamar mandi kami itu tidak mengalami perubahan apapun. Rasanya selalu terlihat kosong dan plain, apalagi warnanya juga hitam putih, sangat menyokong untuk terlihat amat plain πŸ˜€

Padahal sebenarnya ya, kamar mandi utama itu adalah salah satu daya tarik rumah ini buat saya sebelum membelinya dulu. Meski rumah ini ukurannya tidak besar (hanya 170 m2) dan memiliki cukup banyak ruangan yang bisa dibilang komplit termasuk 5 buah kamar mandi, namun uniknya tetap bisa menyisakan ruang untuk kamar mandi utama yang terbilang luas.

Di dalam kamar mandi utama yang bernuansa hitam-putih ini sejak awal sudah berisi wastafel, toilet, dan bathtub yang dilengkapi shower. Di salah satu sudutnya terdapat area kosong yang cukup luas yang hanya terdapat keran di situ.

Dari sejak pandangan pertama, saya langsung jatuh cinta dan bahagia bukan main karena bakal memiliki kamar mandi pribadi dengan ukuran yang luas serta isi yang komplit sama bathtub. Dari dulu memang udah kepengen punya kamar mandi yang punya bathtub, hehe… Makanya seneng banget kan kalo bisa tercapai. Apalagi dalam benak saya kala itu sudah bisa membayangkan kelak menambahkan shower room di sudut yang kosong itu serta melengkapi kamar mandi ini dengan water heater… Hmmm….indah sekali bayangan saya saat itu, berkhayal punya kamar mandi yang komplit dengan segala fasilitas untuk mengakomodir saya yang memang dasarnya senang berlama-lama di kamar mandi.

Yang terjadi selanjutnya, seperti yang sudah saya cerita di atas memang akhirnya kenyataan tak sesuai impian.

Dalam khayalan, di sudut itu bakal terdapat shower room. Kenyataannya, sampai bertahun-tahun lewat pun, sudut itu hanya memiliki ember.

Dalam khayalan, saya bisa berlama-lama mandi di bawah guyuran air hangat atau menikmati waktu berendam sampai puas. Kenyataannya dengan aktivitas yang padat serta anak yang nempel banget, saya hampir selalu harus mandi kilat yang mana itu bisa terpenuhi dengan mandi byar byir byur pake gayung ala Indonesia.

Oh, hidup itu memang indah, bukan?

πŸ˜€ πŸ˜€

Saat-saat mandi bukan lagi waktu yang bisa saya nikmati seperti waktu belum punya anak dulu. Dan meski sekarang kami memiliki kamar mandi yang lebih bagus dibanding kamar mandi kami di rumah yang lama, tapi tetap saja saya tidak bisa menikmatinya. Bathtub yang pernah saya bayangkan bakal jadi tempat favorit saya untuk rileks akhirnya hanya menjadi hiasan belaka yang cuma terpakai beberapa kali dalam hitungan jari saja.

Yah, begitulah hidup….

πŸ˜€ πŸ˜€

Sampai kemudian 6 bulan yang lalu saya memulai cuti tanpa tanggungan ini.

Sibuk ya memang masih tetep sibuk, namanya ibu-ibu ngurus dua anak tanpa ART, gak mungkin lah gak sibuk. Tapi karena sekarang hanya fokus pada urusan keluarga, maka tentu saya jadi punya waktu luang yang lebih banyak daripada sebelumnya yang salah satunya bisa saya gunakan untuk rileks di kamar mandi.

Menikmati waktu selagi mandi, berendam berlama-lama dari airnya masih hangat sampe jadi dingin sambil menghirup aromaterapi, bahkan ‘nongkrong’ sampe lupa waktu sambil baca novel pun sudah bukan lagi hal yang sulit apalagi mustahil buat saya.

Karena mulai sering menghabiskan waktu untuk rileks di kamar mandi itulah, maka saya kemudian pelan-pelan mulai memberikan sentuhan personal di sini, terutama dalam hal memberikan warna supaya gak hanya hitam-putih aja yang saya lihat, melainkan ada juga warna kesukaan saya, yaitu ungu, meski hanya sebatas pada pernak perniknya aja.

Di saat yang sama, suami juga berpikir bahwa ini sudah saatnya untuk meng-upgrade kamar mandi kami dan juga kamar mandi anak-anak dengan water heater supaya bisa mengurangi pekerjaan saya ngangkat-ngangkat panci air panas dari dapur ke kamar mandi kami. Selain itu, suami juga berpikir untuk sekalian masang shower room di kamar mandi kami sesuai keinginan saya dulu waktu hendak membeli rumah ini. Selain untuk menambah rasa nyaman menikmati waktu mandi, keberadaan shower room juga membantu mengurangi pekerjaan ketika membersihkan kamar mandi πŸ™‚ .

Puji Tuhan…..

Segala sesuatu itu memang ada waktunya ya. Pada akhirnya ini udah jadi waktu yang tepat untuk kami bikin perubahan di kamar mandi ini di mana hasilnya bisa bener-bener saya nikmati karena sekarang ini kamar mandi sudah memungkinkan menjadi salah satu tempat di mana saya bisa bersantai dan menikmati waktu sendiri πŸ™‚ .

Ini saya tampilin foto-fotonya di sini. Gak ada yang mewah seperti layaknya kamar mandi di hotel bintang lima, tapi yang saya cari memang bukan mewah, tapi sesuatu yang kesannya personal karena memang untuk dinikmati sendiri.

Wastafel dan bathtub yang sekarang udah ada bunga-bunganya πŸ˜€
Wastafel dan shower room
Saya gak berani taro tanaman hidup dalam kamar mandi, kuatir tanamannya mati, ya sudahlah pake yang artifisial aja, yang penting warnanya ungu πŸ˜›
Salah satu bagian pemandangan pas buka pintu kamar mandi. Gantungan handuk itu juga ungu lho….sayang kurang keliatan ya πŸ˜€
Shower room yang ukurannya pas di sudut yang tadinya kosong itu
Terlalu sering dan terlalu lama menghirup aromaterapi memang gak baik. Tapi kalo cuma sekali-sekali aja pengen berendam sambil rileks dengan aromaterapi tentu gak masalah dong ya
One of my most favorite new item in this bathroom is this toilet rack! Bener-bener membantu bikin kamar mandi jadi rapiiiii… Btw, di rak ini ada tiga shades of purple sekaligus: lavender, violet, dan magenta πŸ˜€
Selain buat naro barang-barang keperluan mandi, di rak ini juga bisa jadi tempat buat saya naro pernak-pernik lucu kayak gini πŸ˜€

Begitulah pemirsa, sekarang kamar mandi ini bener-bener bisa jadi tempat buat saya bersantai dan melepaskan lelah. Setiap hari setelah melewati hari yang sibuk, saya bisa bersantai menikmati guyuran air hangat sambil mata ini puas memandangi warnaΒ  kesukaan di sekeliling saya. Sekali lagi, puji Tuhan….

O ya, foto-foto sebelum perubahannya gak ada ya, karena sebelum ini kamar mandinya plain banget, jadi gak kepikiran buat difoto-foto πŸ˜€ .

Trus untuk water heater yang kami pake, kami pilihnya yang keluaran Atmor kayak gini.

Water heater ini tanpa tangki, jadi sistemnya langsung memanaskan air yang lewat. Keuntungannya kalau saya jabarkan adalah seperti ini.

  • Bentuk dan ukurannya minimalis, sehingga gak makan tempat
  • Instalasi mudah
  • Sistem pengamanan listriknya sudah sangat baik (dan diamini tetep aman-aman saja)
  • Tidak membutuhkan keran mixer air panas dan air dingin
  • Gak perlu menunggu lama untuk air menjadi hangat. Selama aliran air lancar, maka hanya perlu sekian detik saja dari sejak dinyalakan untuk airnya menjadi hangat.
  • Air yang keluar, sepanas-panasnya hanya sebatas pada hangat yang bisa ditolerir oleh kulit manusia pada umumnya. Saya paling gak suka sama water heater yang panas airnya bahkan bisa digunakan untuk bikin kopi πŸ˜€
  • Harganya relatif terjangkau

Sementara, kekurangannya adalah membutuhkan daya listrik yang cukup besar, yaitu 2000 Watt. Jadi kalau mau pakai water heater ini berarti daya listrik di rumah harus paling gak 3.500 VA. Tapi butuh daya listrik yang besar bukan berarti pemakaian listriknya juga harus meningkat tajam ya, karena hitungan biaya pemakaian listrik itu dalam kilo Watt Hour, bila mengambil contoh di rumah kami maka hitung-hitungannya jadi kurang lebih seperti ini (anggap lah yang baca jadi ikut belajar perhitungan biaya pemakaian listrik ya πŸ˜€ ).

Daya yang dibutuhkan sebesar 2000 Watt = 2kW

Dalam satu kali mandi, water heater menyala kurang lebih 10 menit, dalam satu hari mandi 2 kali, jadi dalam sebulan menyala selama 2 x 10 x 30 = 600 menit = 10 jam

Pemakaian untuk 1 unit water heater menjadiΒ  2 kW x 10 jam = 20 kWh

Biaya pemakaian menjadi Rp 1.467,28 x 20 kWh = Rp 29.345,6 alias kurang lebih Rp 30.000 per unit. Kalau pakai dua unit berarti menjadi Rp 60.000 per bulan. Untuk harga sebuah kenyamanan, rasanya segitu tidak terbilang mahal, bukan? πŸ™‚

Demikianlah pemirsa cerita soal kamar mandi kami. Senangnya besok sudah hari Jumat ya, gak kerasa satu minggu akan segera berlalu lagi. Puji Tuhan…

Iklan

3 respons untuk β€˜The Master Bathroom: Because Every Room Has Its Own Story’

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s