Cerita Cerah Ceria (Part 2): Dari Medan ke Balige

Dari bandara Kualanamo Medan, kami menuju ke rumah mertua. Rencananya bakal menginap semalam di situ sebelum melanjutkan perjalanan via darat esok harinya, sekalian juga supaya ompung anak-anak paling gak bisa melepas kangen sejenak dengan si abang dan si adek.

Begitu nyampe rumah mertua, kami langsung ngobrol-ngobrol santai dengan amang dan inang. Puji Tuhan meski beberapa tahun terakhir ini mereka berdua terus bergumul dengan sakit penyakit, namun mereka tetap bersemangat dan tetap berusaha memelihara sukacita di hati mereka. Setelah ngobrol cukup lama, tiba waktunya buat anak-anak dan kami mandi sebelum makan malam. Saya pun naik ke kamar kami di atas. Keperluan kami untuk semalam di Medan dan rencananya semalam lagi di Balige sudah tersedia di kamar itu karena sudah dipersiapkan sebelumnya sama pak suami sebelum kami datang. Begitu juga dengan keperluan kami selama di Sibolga nanti, sudah dibawa dari minggu-minggu sebelumnya oleh pak suami, makanya saya dan anak-anak santai saja tanpa bagasi kemarin itu.

Begitu masuk kamar, sebuah benda di atas meja rias langsung menarik perhatian saya.

Benda itu adalah hair dryer πŸ˜€

Jadi gini, karena pak suami berkeras supaya kami gak bawa bagasi dalam penerbangan Palembang – Medan (maksudnya supaya saya gak repot ngurusin barang di bandara..so sweet banget kaaann suami saya ini, semua-semua dipikirinnya πŸ˜€ ), maka semua keperluan kami akan dia bawa sebelumnya dari Palembang atau dia siapkan di sini. Nah, salah satu keperluan saya tentu adalah hair dryer, saya hanya punya satu, jadi otomatis pak suami kudu siapin satu lagi buat saya pakai sepanjang liburan ini. Urusan beli hair dryer sebenarnya sederhana ya. Tapi yang bikin hati saya cerah ceria karena hair dryer yang dia beli adalah yang ini.

Kenapa saya begitu senangnya melihat hair dryer ini?

Sebagian pemirsa mungkin bisa menduga karena warnanya adalah warna kesukaan saya, yaitu ungu.

Namun sebenarnya gak hanya sampai di situ ceritanya.

Jadi begini, beberapa bulan yang lalu hair dryer yang sudah saya pakai sejak SMP tiba-tiba rusak, mungkin karena faktor usia jadi sudah saatnya buat pensiun. Saya gak bisa kalo gak pakai hair dryer setiap hari, maka begitu yang lama itu rusak, otomatis saya juga langsung cari yang baru.Β  Nah, saya naksir dengan yang Philips ini. Alasannya pertama karena warnanya ungu tua, saya suka banget. Kedua karena merknya sama dengan yang lama yang bertahan hingga lebih dari dua puluh tahun. Ketiga karena tenaganya tidak begitu besar yang mana cocok untuk saya yang berambut tipis. Sayangnya, waktu itu stoknya habis di semua toko yang saya kunjungi. Sedih deh. Akhirnya saya beralih ke hair dryer lain, yaitu yang merknya Kris yang juga punya tenaga mengeringkan yang cocok untuk rambut tipis saya dan yang juga berwarna ungu, walo warnanya ungu muda bukan ungu tua, tapi jadilah yang penting ungu πŸ˜€ .

Makanya, begitu saya lihat hair dryer yang dibeli pak suami ini, saya langsung ngerasa surprise banget karena gak nyangka ternyata memang saya masih berjodoh dengan hair dryer itu, thanks to pak suami….hehehe…

Cerita pembukanya jadi panjang ya…hehehe… Ok deh, lanjut lagi ke inti cerita.

Maka malam itu pun kami lewati di Medan. Sekali lagi puji Tuhan karena bisa bertemu sejenak dengan orangtua di sana, namun karena tujuan utama liburan kami adalah ke Sibolga, maka esok harinya kembali kami harus bertolak meninggalkan Medan.

Karena jarak Medan – Sibolga lumayan jauh, yaitu kurang lebih 10 jam, maka suami mengatur supaya kami singgah dan nginap semalam dulu di Balige, sekalian juga dia ingin mengecek SPLU yang baru dipasang di kantor unit PLN di situ.

Di jalan menuju Balige, si adek tidur dengan nyamannya di pangkuan papanya

Jarak antara Medan-Balige kurang lebih 5 sampai 6 jam. Kami start jalan dari Medan kurang lebih jam 10 pagi. 3 jam kemudian kami tiba di Siantar dan singgah di situ buat makan siang. Resto yang dipilih pak suami adalah Aplus Cafe and Resto.

Di Aplus Cafe and Resto

Kenyang makan, perjalanan pun kami lanjutin. O ya, khusus buat si adek dia kami bawain bekal dari rumah, karena kalau perjalanan gini kuatir gak nemu makanan yang cocok buat dia. Syukurlah memang kotak bekal tahan panas yang pernah saya cerita di sini sudah kami bawa dari Palembang, jadi bisa bawa bekal dari rumah di Medan dan tetap anget buat dinikmati si adek di Siantar πŸ™‚ .

Perjalanan dari Siantar ke Balige masih lumayan jauh, jadi sepanjang perjalanan banyak kami habiskan dengan tidur…hehehe… Sekitar jam 5 sore, akhirnya kami tiba di Balige dan untuk overnight stay kami ini, suami memilih Hotel Sere Nauli, karena menurut suami, hotel ini menawarkan akomodasi terbaik di wilayah Balige ini.

Hotel Sere Nauli terletak di pinggir jalan utama, jadi cocok memang sebagai tempat persinggahan, dan meski gak menawarkan pemandangan danau Toba, tapi pemandangan perbukitan dan sawah di bagian belakang hotel ini sangat indah.

Lobi Hotel
Pemandangan di belakang hotel. Indah!

Bangunan hotel ini terdiri dari dua bagian. Depan dan belakang. Di depan khusus untuk lobi, restoran, serta kamar-kamar reguler. Sementara di belakang adalah kamar-kamar bertipe vila baik dua kamar maupun tiga kamar. Kedua bagian bangunan dipisahkan oleh taman serta kolam renang.

Taman di bagian dalam hotel
The swimming pool

Lagi jalan menuju kamar

Di hotel ini kami nyewa dua kamar. 1 kamar reguler untuk driver dan 1 villa 2 bedrooms untuk kami.

Deretan kamar tipe villa. Kamar kami adalah yang paling ujung ini, asyik karena tetanggaan langsung sama kolam renang πŸ˜€

Di bagian dalam tipe villa yang kami sewa terdapat ruang makan, dapur kecil (ada sink untuk cuci piring juga), ruang duduk dan nonton, 1 kamar utama dengan tempat tidur ukuran king, 1 kamar lainnya dengan dua tempat tidur single, 1 kamar mandi tanpa bathtub namun tetap menyediakan air panas, serta teras di bagian depan dan belakang.

Ruang duduk, di dinding yang berhadapan dengan sofa itu terdapat televisi dengan saluran TV kabel yang cukup banyak channel internasionalnya
Ruang makan yang bersebelahan langsung dengan ruang duduk
Di dapurnya sudah disediakan sabun cuci piring juga πŸ˜€
Kamar dengan 2 tempat tidur single untuk si abang dan si adek
Kamar utama
Kamar mandi di antara kedua kamar

Sebenarnya secara keseluruhan hotel ini terbilang cukup bersih ya, tentu memang tidak bisa dibandingkan dengan hotel berbintang apalagi yang di kota besar, namun waktu kami masuk ke dalam kamar, saya berasa kok lantainya masih kurang bersih dan sprei juga perlu diganti. Jadilah minta layanan kamar, yang untunglah cepat tanggap, langsung membersihkan kembali seluruh bagian tempat yang kami sewa ini juga mengganti semua sprei, sarung bantal, dan bed cover. Selagi mereka kerja, kami main-main lah di taman, terus abis itu berenang πŸ˜€ .

Enak banget dah dapat kamar yang tetanggan sama kolam gini, apalagi sepi, jadi berasa kolam renang pribadi πŸ˜€

Puji Tuhan kolam renangnya bersih, jadi kami bisa puas-puasin di situ, sampe menjelang malam dan kedinginan, trus langsung pada lari ke kamar buat mandi dengan air hangat yang mana syukurlah airnya bener-bener hangat waktu itu.

Kelar mandi, kami pesan makan malam buat si adek yang isinya ikan nila goreng, nasi putih, dan bihun kuah. Ikan nilanya sedap banget karena memang berasal dari danau Toba, memang sudah terkenal ikan nila danau Toba itu dagingnya enak banget!

Selesai si adek makan, kami pun siap-siap makan malam di luar.

Sebelum jalan

Muka-mukanya pada cerah ceria semua kan πŸ˜€

Suami ngajak makan di Cantik Daijo Cafe, sebuah restoran yang bertema modern yang juga terletak di pinggir jalan. Sejujurnya saya sudah lupa apa saja yang kami makan di sini, yang saya ingat adalah kopinya…nikmat!

Enjoying a cup of coffee with my husband (and also my children) by my side made me feel so very content!
Sebenarnya ini lampunya berganti-ganti warna, lah kok pas foto ini lampunya pas lagi warna ungu…jadi berasa keren banget deh πŸ˜€

Selesai makan dan puas foto-foto, kami pun melaju ke kantor pelayanan PLN Balige.

Ssstt…ada yang sidak
Di-zoom, ooohh,…ketawa-ketawa, berarti hasil sidaknya memuaskan untuk si bapak πŸ˜€

Habis itu kami balik deh ke hotel buat istirahat supaya besok kondisi badan bisa prima buat melanjutkan perjalanan dan menikmati apa yang bisa dinikmati di sepanjang jalan Balige – Sibolga.

Esok paginya bangun, mandi dan siap-siap, trus kami sarapan.

Si adek berdoa, si abang makan, dan si mama entah ngapain sampe ekspresinya begitu…aaarrgghh…that’s why I never like candid! πŸ˜€
Enaknya travelling sama suami ya begini. Saya bisa santai selagi dia sibuk ngurus anak πŸ˜›

Sehabis sarapan, kami pun check out dan kembali melanjutkan perjalanan kami.

Puji Tuhan, semalam di Balige meninggalkan kesan yang cukup baik, begitu juga dengan Hotel Sere Nauli. Hotel ini pelayanannya lumayan baik dan menyenangkan, walo ada beberapa catatan yang mungkin bisa diperbaiki ke depannya.

  1. Gak menyediakan mesin EDC, jadi semuanya harus dengan cash. Hari gini kan ya, orang makin jarang bawa cash banyak-banyak, jadi ya lebih baik sediakan saja mesin EDC supaya setiap transaksi berapapun nilainya bisa langsung dengan segera gak perlu ambil duit dulu di ATM.
  2. Kebersihan perlu dijaga dan bila perlu ditingkatkan, supaya tamu lebih nyaman. Apalagi untuk kamar-kamar tipe vila bertetangga langsung dengan sawah, jadi ya memang harus sering-sering dibersihkan mengingat banyak serangga (walo gak nyamukan) yang bisa masuk ke dalam kamar.
  3. Variasi menu sarapan perlu banget diperbanyak, terutama jenis makanan tradisional
  4. Air panasnya gak konsisten. Waktu sore menjelang malam sehabis berenang, airnya bisa sangat hangat. Tapi pas paginya, airnya tetap dong dingin terus-terusan, gak mau hangat sama sekali…hikkss….

Yah begitulah pemirsa, cerita perjalanan kami hingga ke Balige ini. Meski tak sempurna, tapi tetap kok, kami bahagia sekali.

Sehabis dari Balige ini, kami masih ada singgah lagi di Sipinsur dan Siborong-borong. Bagaimana ceritanya? Tunggu di bagian selanjutnya yaaa πŸ˜€

Iklan

10 respons untuk β€˜Cerita Cerah Ceria (Part 2): Dari Medan ke Balige’

  1. Samaaaa! Aku jg ga bs hidup tanpa hairdryer. Makanya happy bgt klo nginep di hotel yg udah ada hairdryernya. Biasanya klo abi brgk duluan ke kota tujuan, aku tanya: β€œdi hotel ada hairdryer apa nggak?” Klo ada kan lmyn, aku ga usah bawa dr rmh

  2. selalu mesem2 kalau baca kisah ke-sweet-an pak suami.. hihihi. langgeng2 yaa kak.

    akupun jg gak bisa ketinggalan hairdryer. kemana2 pasti bawa. kalau booking hotel, pasti liat ada hairdryer apa enggak. hehehe.

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s