Tentang Pindah Ke Lain Hati dan Tentang Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2018

Ok, judulnya panjang. Tapi semoga isinya gak perlu panjang-panjang karena sungguhlah waktu saya gak banyak buat nulis blog seperti ini, karena itu kayaknya gak perlu lah ya berlama-lama di preambule, kita langsung aja ke inti cerita.

Pertama, soal pindah ke lain hati…errr….maksud sebenarnya bukan hati sih, tapi sekolah musik 😀 . Terhitung sejak Oktober 2017 yang lalu, si abang udah pindah dari Yamaha Music School ke Priskila Music yang berada di bawah naungan Trinity College London. Alasan pindahnya kayaknya gak perlu saya jabarkan di sini, biarlah untuk kami pribadi saja, yang pasti yang namanya pindah sudah bisa diprediksi karena mencari yang lebih baik. Puji Tuhan di tempat yang baru ini si abang enjoy dan semangatnya bertambah. Pindah sekolah musik akhirnya juga diiringi dengan ganti piano di rumah, dari piano listrik berganti ke piano akustik, karena kami lihat si abang udah makin serius belajarnya. Puji Tuhan dengan piano yang baru semangat belajarnya memang bertambah, jadi mamanya gak berasa rugi udah beliin…hehehe…

Selama di sekolah musik yang baru ini, si abang juga udah 2 kali berkesempatan ikut kompetisi. Pertama yang sempat saya ceritain di sini yang mana penyelenggaraannya pas saya berulang tahun yang ke-35 (yang artinya dia baru beberapa minggu bergabung dengan Priskila Music), puji Tuhan waktu itu si abang dapat platinum prize. Kompetisi kedua yang dia ikuti adalah Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2018 yang baru tahun ini diselenggarakan di Palembang. Untuk kompetisi yang terakhir ini si abang bawain dua lagu, yaitu Study For The Left Hand (Bela Bartok) sama The Avalanche (Stephen Heller). Penyelenggaraannya di tanggal 24 Februari lalu dan bertempat di Grand Attyasa yang notabene hampir tetanggaan sama rumah kami….hehehe…

Jam 9 pagi kami udah siap di tempat acara yang ternyata sudah mulai ramai dengan para peserta dan ternyata hanya tinggal tersisa dua nomor urutan tampil saja untuk diundi, yaitu 1 dan 3. Si abang dapat nomor 3, syukurlah masih termasuk cepat tampilnya, makin cepat selesai makin baik karena berarti makin cepat pula ilang gugupnya. Anaknya sih gak terlalu gugup ya, mamanya justru yang keringat dingin. Ya habisnya, selama ini setiap kali latihan si abang sering banget lupa ganti kaki padahal lagunya akan berantakan kalo kaki yang dipake salah.

Foto-foto dulu sebelum lomba dimulai
Foto sama guru musiknya. Foto sama kami malah kelupaan…wkwkwkwk

Jam 10 teng, kompetisi pun dimulai dan tentu aja gak berapa lama udah tiba giliran abang untuk tampil. Saya dan suami bagi tugas, saya bagian ngerekam, suami bagian foto.

Waktu si abang maju ke depan, kegugupan saya makin bertambah, rasanya hampir gak sanggup pegang HP buat ngerekam dia. Dalam hati saya terus berdoa supaya si abang jangan sampe lupa ganti kaki. Saya gugup bukan karena nafsu untuk menang, tapi karena saya tau persis betapa si abang akan kecewa sekali dengan dirinya sendiri kalo sampe terjadi kesalahan fatal di atas panggung. Saya cuma pengen dia bisa tampil baik, agar dia bahagia dengan dirinya sendiri. Menang gak menang gak masalah karena dia selalu jadi pemenang di hati saya.

Saking gugupnya, saya hampir bisa dibilang menahan napas selama abang memainkan lagu pertama dan begitu pindah ke lagu kedua dan kakinya juga dia ganti, barulah saya ingat buat bernapas lagi 😀 .

Puji Tuhan si abang membawakan lagunya dengan sangat lancar. Begitu turun dari panggung dia langsung berlari ke arah kami dengan wajah bersinar-sinar yang adalah signature si abang. Dari tadi saya gugup karena saya ingin melihat wajahnya yang seperti itu ketika turun dari panggung. Begitu nyampe di tempat kami duduk, dia langsung peluk kami bertiga (saya, suami, si adek) satu per satu. Kalo saya aja lega, apalagi dia ya kan? Hehe…puji Tuhan banget rasanya.

Selesai giliran si abang tampil, kami langsung permisi sama guru musiknya karena kami harus pergi untuk belanja mingguan. Syukurlah tepat setelah si abang tampil, pintu ruang kompetisi dibuka sehingga memungkinkan untuk kami segera keluar. Pengumuman hasil kompetisi akan diselenggarakan sore hari, jadi kami masih ada waktu untuk belanja mingguan, makan siang, pulang rumah untuk beresin belanjaan, dan mandi sebelum kemudian balik ke tempat kompetisi.

Sekitar jam 4 sore kami sudah tiba kembali di Grand Attyasa dan ternyata pengumuman sudah hampir dimulai dengan hasil si abang dapat juara 2. Wow! Again, another achievement. Puji Tuhan… Puji Tuhan…

Foto sama guru dan teman-temannya dari sekolah musik yang sama. Tahun ini dari Priskila Music yang ikut hanya 6 anak (dua lainnya gak hadir pas pengumuman pemenang) dan semuanya dapat award alias jadi pemenang di semua kategori yang diikuti
Lagi-lagi foto sama gurunya dan lagi-lagi foto sama kami kelupaan 😀
Foto sama para juri

Selesai pengumuman dilanjut foto-foto, kami pun cabut dari lokasi kompetisi. Gak langsung pulang, melainkan ke PIM dulu buat makan malam dan ajak anak-anak main di Loft. Puji Tuhan hari itu semua bahagia. Si abang bisa tampil baik aja udah bikin bahagia, apalagi dapat hadiah award pula, rasanya komplit!

Buat yang pengen liat gimana penampilan si abang dalam kompetisi tersebut, berikut videonya yaaa 🙂

Iklan

7 respons untuk ‘Tentang Pindah Ke Lain Hati dan Tentang Indonesia Steinway Youth Piano Competition 2018

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s