Yang Harus Dinikmati di Pulau Nias

Akhir tahun 2017 kemarin kami sempat berlibur ke pulau Nias. Sebenarnya tujuan utama ke sana bukan dalam rangka berlibur, more because of work duties sebenarnya. Tapi karena perginya bersama-sama dan pas momen akhir tahun pula, jadi anggaplah liburan…hehe…

Ini kali pertama buat saya dan anak-anak menginjakkan kaki di pulau Nias dan sejak dari pertama suami ajak ‘berlibur’ ke sini, saya sudah excited banget membayangkan hal-hal baru yang akan kami temui di pulau yang terletak di sebelah barat pulau Sumatera itu. Apalagi, karena sejak awal suami udah janji bakal bawa kami melihat langsung atraksi Lompat Batu yang sejak fotonya ada di uang 1000 jaman awal tahun 90-an dulu sudah bikin saya amat penasaran tentang benar gaknya ada orang yang bisa melompati batu setinggi itu.

Pengetahuan saya tentang pulau Nias tadinya memang sangat terbatas dan sebelum ini, setiap mendengar nama pulau Nias, saya hanya dapat membayangkan dua hal: Lompat Batu yang tadinya saya pikir hanya dongeng semata atau paling tidak hanya legenda yang sekarang tidak relevan lagi, serta tsunami pada 26 Desember 2004. Luas banget kan pengetahuan saya? Hihihihihi…

Satu tahun belakangan ini, barulah saya mengenal lebih banyak tentang pulau Nias, mendengar banyak tentang pulau Nias, dan hampir setiap hari dalam doa-doa saya menyebut nama pulau Nias. Meskipun, dalam setahun itu baru pada saat momen akhir tahun kemarin itulah saya benar-benar bisa menginjakkan kaki di pulau ini.

Nias adalah kepulauan di sebelah barat pulau Sumatera yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Penghuni pulau ini sebagian besar adalah orang asli suku Nias yang dikenal dengan nama Ono Niha. Secara administratif, Nias masih masuk ke dalam wilayah Sumatera Utara dan sekarang ini di Nias terdapat 4 kabupaten dan 1 kota yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli. Untuk menuju ke Nias kita bisa memilih untuk lewat jalur laut atau lewat udara dari Bandara Kualanamu ke Bandara Binaka di Gunungsitoli.

Penerbangannya dari Medan pagi banget, jadi anak2 belum mandi…hihihihi….anyway, walo masih bau igul, but still, we were happy that we were finally here!!!!
Coba tebak, mamanya udah mandi ato belom? Wkwkwkwkwkwk
Sooo ready to enjoy our very limited time in here

Jadi, setelah ada di Pulau Nias, di samping sederetan kewajiban yang harus dilakukan di situ, apa saja yang bisa kami lakukan untuk menikmati pulau nan eksotis yang masih memiliki budaya megalitik ini?

Karena kami hanya berada di Nias selama 3 malam saja, maka jujur, tak banyak yang bisa kami lakukan. Andai bisa, ingin sekali rasanya mengeksplor kepulauan Nias lebih dalam bahkan sampai ke pulau-pulau kecil di sekitarnya. Tapi sayang waktu kami sangat terbatas, jadi kami hanya bisa menikmati apa yang bisa kami nikmati saja. Puji Tuhan, sesedikit apapun itu yang bisa kami nikmati, ternyata membawa kesan yang sangat dalamΒ  πŸ™‚ .

Pantai

Iyes, sudah pasti di Nias di mana-mana ada pantai. Pulau ini berukuran cukup kecil, kalau saya tidak salah kurang lebih 5.000 km persegi dan tentu dikelilingi oleh lautan. Beberapa orang bilang ke saya, sebenarnya pantai di pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Pulau Asu jauh lebih cantik daripada pantai di pulau Nias. Mungkin benar, karena dari pengamatan saya, pantai-pantai yang kami kunjungi di pulau ini, tak ada yang benar-benar merupakan hamparan luas pasir putih. Tapiiii…buat saya yang lahir dan besar di daerah di mana saya bisa menghirup udara laut kapan saja saya ingin tapi kemudian harus membangun keluarga dan tinggal menetap di daerah yang tidak memiliki laut sama sekali, maka bisa melihat pantai, menikmati awan putih bergerak di langit yang birunya bersentuhan langsung dengan birunya laut, merasakan hembusan angin laut, dan mencium aroma laut adalah sebuah kesenangan yang sangat saya rindukan, sesederhana dan se-tidak-spesial apapun pantai itu.

Malam pertama di pulau ini, kami menginap di hotel Kaliki yang berlokasi tepat di pinggir laut
Langit senja di Nias
Perjalanan dari kota Gunungsitoli ke Teluk Dalam di Nias Selatan dihiasi pemandangan laut yang tak berkesudahan…. Puaaass liatnya πŸ˜€
Rasa kangen dengan suasana laut bikin hati saya penuh bahagia menikmati pemandangan seperti ini di sepanjang jalan
Nyiur melambai….bikin kangen Manado banget….
Pantai Sorakhe di Nias Selatan
Sore hari menikmati waktu di sini, rasanya tenaaangg sekali
Sejauh mata memandang…..cuma ada kami di sini….hihihihi

Thank you for brought me here, dear husband! It means a lot to me…
Pagi hari di Teluk Dalam…

Lobster!

Seperti yang sudah diprediksi, Nias kaya akan makanan laut dan selama di sana saya benar-benar puasin diri saya, mengingat setelah kembali ke Palembang maka tak akan ada lagi kemewahan makanan laut yang benar-benar segar yang bisa saya dapatkan. Tak ada satupun makanan di Nias yang saya rasakan kemarin itu yang mengecewakan saya, sebaliknya saya benar-benar puas merasakan manisnya masakan laut yang memang masih sangat segar, dimasak apa aja jadi enak rasanya.

Digoreng polos kayak gini aja udah luar biasa rasanya πŸ˜€
Saosnya pedes, dagingnya maniiisss

Namun dari semua jenis makanan laut yang saya rasakan di Nias, yang paling luar biasa adalah lobsternya dan saya bisa bilang kalo lobster di Nias tak tertandingi rasanya. Duh, sampe sekarang pun masih bisa ngiler kalo inget betapa manisnya daging lobster di sana itu dan andai kalo gak perlu inget buat jaga kadar kolesterol, maka saya gak akan segan menghabiskan lebih dari dua piring lobster dalam sekali makan! Rasanya enak pake banget soalnya, pemirsa! Mana harganya pun muraaahh, sepiring isi 3 ekor (jadinya 6 potong), gak nyampe 200ribu, lho, amazing kan? πŸ˜€

O ya, saking bagusnya kualitas lobster di perairan laut Nias, maka di bandara pun sampai ada peringatan untuk tidak menyelundupkan bibit lobster Nias keluar dari daerah ini. Semoga bisa diperhatikan dan gak banyak orang yang nakal ya, supaya perairan Nias bisa terus menghasilkan lobster dengan kualitas premium seperti sekarang ini.

Penduduk dan Pusat Keramaian

Setiap pergi ke tempat yang baru, saya paling senang memperhatikan dan mencari tau kebiasaan penduduk di tempat itu dan salah satu tempat yang paling mudah dijadikan tempat observasi adalah pusat keramaiannya. Nias adalah daerah yang masih tergolong sepi, namun tentu di beberapa tempat ada saja pusat keramaian yang juga sekaligus menjadi pusat perekonomian. Dalam hal ini tempat yang dimaksud adalah pasar tradisional. Beruntung, kemarin dalam perjalanan dari Gunungsitoli menuju Teluk Dalam, kami beberapa kali melewati pasar tradisional yang ternyata tetap ramai meski sampai hari menjelang sore.

Penjual baju yang bertetangga lapaknya dengan penjual daging
Penjual daging tetangga lapaknya penjual baju πŸ˜€

Padi-padi yang dijemur di depan rumah jadi salah satu pemandangan yang akrab di pulau ini
Penjual jajanan
Lapak fashion
Sebenarnya penasaran dengan isi dalam kantung-kantung plastik itu, tapi gak berani mencoba πŸ˜€
Tampak seperti pasar darurat ya…

Bawomataluo dan Hombo Batu

Rasanya belum komplit berkunjung ke Nias tanpa melihat langsung atraksi Lompat Batu yang begitu melegenda ya dan seperti yang saya bilang di atas, sedari awal mengajak kami ke Nias, suami saya udah menjanjikan untuk membawa kami melihat langsung atraksi itu.

Lompat Batu dalam bahasa Nias disebut Hombo Batu. Untuk menikmati atraksi ini, kami harus menuju ke kampung adat Nias yang bernama Bawomataluo yang terletak di Nias Selatan. Bawomataluo jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti Bukit Matahari. Mungkin disebut Bukit Matahari karena kampung ini terletak di atas bukit dengan ketinggian 270 meter di atas pemukaan laut tanpa adanya naungan pepohonan sehingga sinar matahari dapat langsung menerpa perkampungan ini dan meski kami ke situ bukan saat matahari terbit atau terbenam, namun saya bisa menerka kalau dari kampung adat ini kita bisa menikmati dengan leluasa terbit dan terbenamnya matahari.

Untuk menuju ke kampung ini, kami harus menaiki puluhan anak tangga yang terbuat dari batu.

Puluhan anak tangga menuju kampung Bawomataluo

Begitu kita tiba di atas, kami langsung disambut oleh deretan omo hada (rumah adat).

Welcome to Bawomataluo
Pemandu wisata lokal yang langsung menghampiri begitu kami tiba di sini

Luar biasanya, omo hada ini dibangun dari material kayu tanpa menggunakan paku, lho! Hebat yak manusia jaman dulu. Udah gitu hal lain yang memukau buat saya adalah jalan utama di desa ini yang lebar serta terbuat dari batu! Kebayang gak sih usaha serta kerja keras masyarakat kampung ini jaman dahulu buat ngangkut serta ngancurin batu-batu yang segitu banyak ke atas bukit setinggi ini demi bikin jalan? Saya sih gak kebayang ya, itu entah gimana coba caranya. Tapi syukurlah usaha mereka sama sekali tidak sia-sia. Buktinya jalan ini bisa bertahan ratusan tahun dan bahkan tidak hancur meski Nias berkali-kali digoncang oleh gempa bahkan tsunami.

Sebenarnya saya penasaran, aslinya dulu sebelum menggunakan seng, omo hada ini menggunakan atap dari material dari apa ya?
Pancuran air aja dibikin kayak gini. Sepertinya orang Nias jaman dahulu amat sangat berseni yaaa
Lihat deh jalannya, lebar banget kaaann

Memasuki bagian tengah perkampungan, kami bertemu dengan dua bangunan yang tampak lebih menonjol dibanding bangunan rumah lainnya. Kedua bangunan itu adalah Omo Sebua (rumah raja) di sebelah kiri dan Omo Bale (balai desa) di sebelah kanan. Selain itu kami juga melihat batu setinggi 2,15 meter yang digunakan untuk Fahombo atau Hombo Batu alias Lompat Batu.

Di depan Omo Sebua

Tepat di depan Omo Sebua terdapat dua buah menhir serta dolmen yang merupakan ciri khas kebudayaan megalitikum. Kampung ini memang merupakan salah satu situs megalitikum yang terjaga keasliannya hingga sekarang. Luar biasa ya, pemirsa.

Omo Sebua sendiri juga memiliki keuninkan yang sangat luar biasa. Salah satunya adalah konstruksinya yang menggunakan kayu bulat besar sebagai penopang. Gak main-main, jumlah tiang kayu bulat tersebut adalah kurang lebih 60 buah! Dan kabarnya yaaaa…lagi-lagi itu kayu-kayu yang segitu besar bukan berasal dari kampung ini, melainkan diangkut dari luar. Bukan cuma dari luar Bawomataluo, tapi dari luar pulau Nias!

Gede banget kaaann kayu-kayunya. Hebatnya ukurannya sama, lho. Orang jaman dulu luar biasa banget yak, dengan teknologi yang masih sangat terbatas jaman itu mereka mampu membuat bangunan dengan konstruksi luar biasa dan sangat detil sehingga kokoh bertahan sampai ratusan tahun
Si abang terkagum-kagum waktu memasuki Omo Sebua

Bagian inti dari Omo Sebua terletak pada lantai atas dengan akses ke situ lewat tangga kayu yang berukuran agak sempit serta dengan pencahayaan sekitar yang sangat seadanya, alias rada gelap dan rada nyeremin…wkwkwkwk… Di ruang inti tersebut terdapat tungku, patung-patung, gong, dan sebagainya.

Abang dan adek terheran-heran ngeliat patung dari batu ini πŸ˜€
Tungku di dalam Omo Sebua
Rantai untuk menggantung gong

Hasil kerajinan tangan masyarakat Nias masa kini
Pak suami lagi ngamatin keris bikinan penduduk sini

Puas melihat-lihat bagian dalam Omo Sebua, kami keluar lagi, kali ini untuk melihat atraksi Lompat Batu. Atraksi ini selalu tersedia kapan saja kita datang ke kampung ini karena para pelompat pun setiap hari selalu siap sedia jika diminta oleh turis. Mintanya bukan sekedar minta doang ya, tapi kudu bayar agar pelompat nanti beratraksi spesial buat kita. Wajar sih kalo pake acara bayar, mengingat salah satu penghasilan masyarakat di kampung ini adalah dari objek wisata yang mereka tawarkan dan Lompat Batu adalah salah satu yang paling penting.

Si batu bersejarah yang tampil di lembaran uang Rp 1000 tahun 90-an

Saya sendiri sangat bersemangat pengen melihat langsung atraksi ini. Saya gak nyangka kalo ternyata sampai sekarang tradisi lompat batu ini masih terus dipelihara oleh masyarakat di sini. Kabarnya dari sejak masih kecil para pemuda sudah mulai berlatih agar generasi pelompat tetap terus ada.

Dan ternyata, rada nyeremin lhooo melihat langsung atraksi ini. Sumpah, pas pelompatnya melompati batu, saya kuatir banget dia nabrak batunya ato kalo pun batunya bisa terlewat tapi si pelompat malah jatuh terjerembab.

Puji Tuhan, tak ada satupun kekhawatiran saya yang terjadi. Kabarnya sih pernah juga memang terjadi si pelompat gagal mempertontonkan atraksinya dengan sempurna. Ya namanya juga manusia ya, pas lagi sial ya bisa aja gagal. Tapi syukurlah waktu itu kedua pelompat yang beratraksi buat kami bisa melakukannya dengan sangat baik, walo ya itu tetep aja serem liatnya dan harus saya akui kaki mereka kuat banget karena bisa gitu lho mendarat sempurna dengan kedua kakinya. Kebayang kalo itu saya, udahΒ  patah kali yaaa kaki saya πŸ˜€ πŸ˜€

Atraksi pertama. Itu ekspresi saya saking kaget liat si pelompat tiba-tiba kayak terbang di atas batu πŸ˜€
Atraksi kedua. Si abang aja gak mau liat pas atraksi ini berlangsung saking seremnya dia rasa πŸ˜€
Kelar nonton atraksi lompat batu, kita bisa berfoto memakai asesoris adat Nias
Berfoto bersama kedua pelompat yang beratraksi buat kami

================================

Begitulah pemirsa, cerita tentang beberapa hal yang kami lakukan selama berada di Nias dan saya sangat bersyukur karena kami bisa sampai ke tempat ini. Saya yakin, banyak di antara teman-teman yang baca ini belum pernah menginjakkan kaki di pulau ini apalagi melihat langsung situs megalitikumnya serta atraksi Lompat Batu itu. Karena itu saya merasa sangat beruntung diberi kesempatan untuk itu. Nias adalah tempat yang sangat unik dan merupakan cagar budaya tak hanya budaya Indonesia tapi juga peradaban manusia secara global yang patut kita banggakan, karena itu saya sangat bangga karena kami pernah ada di situ πŸ™‚ .

Iklan

4 respons untuk β€˜Yang Harus Dinikmati di Pulau Nias’

  1. Well, sebagai keturunan nias yang cuma sekali ke nias dan sudah lamaaaa sekali waktu batita dulu, aku mau bilang makasih ya Mbak untuk postingan ini πŸ˜€

    Aku nangis lho bacanya krn membayangkan “ah..dulu begini tho tempat papa lahir dan besar”

    Dan aku merindukan beliau 😒😒 sangat rindu..

    Makasih sekali lg ya mbak, i will go there again someday.

  2. Waaahh. Turut ikut merasakan pulau nias dari jauh. Cantik bgt yaaa.. dan emang deg2an bgt. Aku aja juga sampe tahan nafas pas liat yg foto lompat. Lagi negbayangin gimana mereka latihannya.

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s