Tentang Piano Masterclass dan Tentang Mengajari Anak

Hari Senin yang lalu, pagi-pagi guru musik si abang ngabarin saya kalo sekolah musiknya kembali membuka piano masterclass untuk hari Selasa tanggal 30 Mei (kemarin). Ini adalah piano masterclass ketiga yang diadakan di sekolah musik si abang. Yang pertama si abang ikut sementara yang kedua gak ikut karena saya gak bisa nganterin. Untuk yang ketiga ini karena waktunya bisa saya atur, maka begitu ditanya oleh gurunya apa mau ikutan atau gak, saya langsung bilang mau.

Sesuai dengan namanya, piano masterclass adalah kelas piano di mana yang ngajar adalah yang sudah master dalam dunia per-piano-an. Kelas pertama sebelumnya yang ngajar adalah seorang bapak (kita sebut saja Mr. M yaaa) yang kuliah S1 – S3 di bidang musik, kalo gak salah waktu itu yang merekomendasikan beliau ke sekolah musik si abang adalah dari pihak penyelenggara salah satu event kompetisi piano.

Sementara, di kelas kedua dan yang ketiga kemarin, pengajarnya adalah Stephen Kurniawan Tamadji.

Hayooo…yang seangkatan sama saya, kenal gak sama nama itu??

Kemungkinan besar tau ya, karena di era akhir 90-an sampai awal 2000-an nama Stephen Tamadji cukup dikenal bersama grup musiknya, Warna (langsung terngiang di telinga lagu Dalam Hati Saja dan terbayang-bayang masa SMA waktu putus sama pacar pertama…wkwkwkwk).

Ternyata, saya juga baru tau nih, sebelum gabung dengan grup musik Warna, Stephen Tamadji ini udah dari jaman kecil berkecimpung di dunia musik, terutama piano dan electone. Trus ternyata juga pemirsa, di tahun 1980 ketika usianya masih 11 tahun, dia udah berjaya lhooo di ajang International Junior Original Concert Yamaha di Jepang. Keren banget yaaaa…..

Duh jaman tahun 80….itu mah saya belom lahir dan bisa jamin kalo kebanyakan anak Indonesia seumuran si koko Stephen di masa itu jauh lebih disibukkan dengan permainan tradisional ketimbang bermain musik, bukan karena gak mau tapi karena memang di masa itu akses ke dunia pendidikan musik belum semudah, seterbuka, dan dirasa seperlu sekarang. Jaman memang sudah berubah ya, dulu mah mayoritas orang masih mikirnya asal bisa sekolah saja sudah bagus, sementara sekarang pikirannya cuma bisa sekolah saja masih belum cukup karena semakin dirasa perlunya anak dibekali ilmu serta keahlian ini dan itu yang gak semuanya bisa didapat dari sekolah. Kalo dulu, yang bisa belajar piano paling adalah kalangan atas, sementara yang kalangan menengah ke bawah paling tinggi main gitar atau sekeren-kerennya main organ…hihihi… Sementara sekarang, orang dari berbagai kalangan juga bisa belajar piano seiring biayanya, baik untuk belajar maupun untuk beli alat musik, telah memungkinkan untuk dijangkau oleh banyak kalangan karena dengan perkembangan teknologi, maka piano-piano versi murah (kayak punya kami contohnya…hihihihi) semakin banyak diproduksi, bisalah dipake untuk berlatih walaupun harus diakui bahwa kualitasnya tetap saja jauh dibanding piano klasik (makanya, sampe sekarang masih berharap banget nih ada rejeki jatuh dari langit buat beli piano klasik πŸ˜€ ).

Balik ke Stephen Tamadji, nah, karena kepiawaiannya dalam bermain piano yang sudah menelurkan begitu banyak prestasi hingga ke tingkat dunia itulah maka kelas pianonya disebut masterclass. O ya, tau gak sih, ternyata kalo saya intip-intip di IG-nya (@stephen_warna), ternyata buah jatuh emang gak jauh dari pohonnya, anaknya juga berjaya tuh di International Junior Original Concert tahun 2016 kemarin. Duh, bikin mupeng banget. Anak saya kira-kira bisa gak ya kayak gitu??

Ah, sudahlah, daripada mikirin yang terlalu jauh-jauh, mari balik lagi ke cerita di hari Senin kemarin.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah, saya kasih tau ke si abang tentang piano masterclass itu. Saya ngasih taunya santai aja, karena dalam pikiran saya si abang pastilah mau, gak mungkin gak, orang anak ini seneng banget kok belajar musik.

Tapi ternyata di luar perkiraan saya, si abang langsung menolak doooong.

Kagetlah saya.

Heh?? Kok tumben?? Kok bisa gak mau??

Dua temen saya yang waktu itu lagi bareng-bareng dalam mobil juga ikutan kaget. Karena sumpah, tumben-tumbenan banget anak ini kayak gini. Ya abis biasanya jangankan piano, disuruh gak masuk les Kumon aja anak ini bisa protes berat kok…

Akhirnya setelah dikorek-korek, mau juga si abang terbuka.

Dia pun akhirnya ngasih tau alasan kenapa dia gak mau ikut masterclass.

Dan dia menjelaskannya sambil menangis terisak.

……………..

Ok, sampe di sini hati saya langsung ketar-ketir. Ketika mendengar suara dia bergetar ketika mo ngomong pun, saya sudah tau, something just wasn’t right here.

Ternyata benar.

Yang bikin dia sampe gak mau ikutan masterclass lagi adalah karena ‘trauma’ dengan pengalaman pada masterclass yang pertama di mana kata-kata dari sang master alias Mr. M yang waktu itu mengajarinya membuat dia merasa kalo dia sangat payah dan sangat low kemampuannya dalam bermain piano. Itu kata low si abang sendiri yang pake lho, bukan saya yang melebih-lebihkan, jadi memang dia benar-benar merasa kalo kemampuannya dalam bermain piano tuh rendah.

Sebagai informasi, masterclass yang pertama itu diadakan sebelum kompetisi yang ini, makanya waktu dengar betapa dia sebenarnya merasa kemampuannya sangat lemah dalam bermain piano karena kata-kata dari Mr. M saat itu, saya hanya bisa bersyukur bahwa hal itu tidak mempengaruhinya ketika mengikuti kompetisi hingga puji Tuhan dia masih bisa dapat juara 2 yang mana itu artinya kemampuan dia bisa dibilang lumayan.

Sebenarnya waktu selesai masterclass bersama Mr. M itu, saya seperti biasa nanya-nanya ke dia gimana kelasnya berlangsung. Waktu itu dia jawab baik-baik saja dan cuma bilang kalo dia perlu latihan lagi di rumah. Setelah itu hingga saat kompetisi, dia tetap semangat latihan kok, gak ada tanda-tanda demotivasi akibat masterclass yang baru dia ikuti. Setelah dia cerita tentang perasaannya yang sebenarnya setelah ngikut kelasnya Mr. M, saya baru sadar, berarti saat itu si abang berusaha keras mengalahkan rasa sedih yang dia rasakan dan berusaha tetap semangat meski dia sendiri sudah meragukan kemampuannya. Ah, inget ini jadi sedih. Di satu sisi saya sedih si abang gak langsung cerita. Tapi di sisi lain saya juga menghargai keputusan dia untuk berusaha overcome his self-doubt, by himself, without involving me in that process. Pasti gak mudah buat dia yang masih kanak-kanak. Dan saya sangat bersyukur karena dia dikasih kemampuan oleh Tuhan untuk itu.

Tapi meski tahap mengembalikan kepercayaan dirinya sendiri untuk menghadapi kompetisi dan tetap terus berlatih piano bisa dia lalui, tapi rupanya dia masih belum siap jika harus menghadapi hal yang sama lagi. Piano masterclass, diajar oleh seorang master piano, dan diberitahu bahwa hampir semua teknik bermainnya salah di mana cara memberitahunya bagi si abang sama saja dengan bilang kalo dia gak bisa main piano.

Karena itu dia menolak dengan keras untuk ikut masterclass lagi.

Dan saya ngerti. Karena itu saya gak maksain dia, saya sadar perlu waktu untuk bicara dulu dengan dia.

Balik ke kantor, saya chat via WA dengan guru musik si abang, miss Mira. saya cerita soal abang yang menolak ikut serta alasannya apa. Gurunya kasih saran untuk yakinkan dulu ke si abang kalo sejak masterclass yang kedua, masternya bukan Mr. M lagi (sssttt…ternyata abang gak sendirian dengan perasaannya lhooo karena selain si abang, ada anak lain yang sudah SMP dan yang sudah bolak balik jadi juara dalam kompetisi piano dan electone yang juga ngerasain hal yang sama dengan Mr. M). Sekolah musik memutuskan untuk mengundang master yang lain yaitu Stephen Tamadji yang memang sudah terkenal kemampuannya dalam mengajar anak-anak. Hampir gak pernah katanya ada anak yang kecewa diajar oleh kak Stephen, sebaliknya, semua anak yang diajarnya ngerasa fun tapi sekaligus bisa dapat ilmu yang oke banget.

Pulang ke rumah, apa yang disampaikan oleh miss Mira saya teruskan ke si abang.

Puji Tuhan, si abang akhirnya mau.

Trus selesai, aman-aman semuanya sampai di situ?

Oh, tentu tidak.

Esok harinya, si abang dapat jadwal masterclass pada pukul 14.15.

Sebelum pukul 14.00 kami berdua sudah tiba di sekolah musik.

Awalnya biasa-biasa saja, si abang gak ada tanda-tanda takut, kuatir, atau yang gimana-gimana.

Sampai hampir tiba waktunya untuk masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba saja anak ini pergi sembunyi dan waktu saya nemuin dia, dia langsung nangis. Saya bawa dia duduk di deretan bangku di selasar depan kelas dan dia terus menangis sambil menutup mukanya. Pemilik sekolah musik, guru musik yang lagi ada di situ (miss Dina), sampe kak Stephen pun keluar kelas untuk bicara dengan dia, tapi dia tetap tidak mau. Tetep aja tuh nangis sampe gemetaran. Kak Stephen tawarin untuk dia masuk ke dalam kelas sendiri dulu sambil main-main tanpa kak Stephen supaya dia lebih tenang, tapi tetep aja abangΒ  gak mau. Nangiiiss aja sambil bilang takut…takut…. Ya ampun naaakkk…..itu senyumnya kak Stephen semanis dan seramah itu lho (eh sumpah, senyumnya Stephen Tamadji manis banget…hahahaha…saya yang lagi genting aja sampe tetep bisa perhatiin lho saking manisnya itu senyum….wkwkwkwkwk), suaranya pun hangat banget, apa coba yang ditakuti??

Hadeehh…..

Waktu itu doa saya cuma satu. Tuhan, kasih saya kesabaran supaya jangan sampe 10 tanduk keluar dari kepala saya ngadepin si abang yang lagi keras kepala banget kayak gini.

Akhirnya saya minta waktu untuk bicara dulu dengan si abang dan lalu menyetujui anak yang dapat urutan setelah si abang untuk masuk duluan aja.

Setelah itu saya kembali dengan si abang. Saya jongkok di depan dia dan biarin dia nangis untuk beberapa saat. Setelah agak reda, saya bilang ke dia kalo saya harap dia percaya dengan kata-kata saya bahwa yang kali ini akan sangat berbeda dengan yang sebelumnya dan juga percaya dengan sekolah musik yang berusaha cariin guru yang terbaik makanya sampe ganti master kayak gini. Terakhir, saya bilang ke dia, putuskan apa yang dia mau. Kalo mau tetap ikut, ya ayo, berhenti nangis, hadapi apa yang harus dihadapi dan percaya bahwa orang-orang di sini berusaha ngasih yang terbaik buat dia. Tapi kalo masih tetap takut, maka mending kami cabut dari situ karena saya masih harus balik ke kantor untuk kerja. Saya bilang ke dia supaya jangan egois, pikirkan juga saya, mamanya yang adalah pekerja ini, jangan sampai waktu kerja saya terbuang sia-sia.

Waktu itu saya sudah pasrah ya, kalo memang si abang bener-bener gak mau, maka ya sudah. Buat apa juga dipaksakan. Hanya akan bikin situasi tambah rumit.

Beberapa saat si abang gak ada jawabannya, saya pun berdiri dan kemudian ajak dia untuk pergi dari sekolah musik, setelah itu saya langsung melangkah. Dan si abang tiba-tiba turunin tangannya dan bilang dia gak mau pergi. Saya bilang lagi kalo dia gak mau pergi, maka stop nangis-nangis. Setelah itu saya duduk, tapi bukan di sebelah dia, melainkan di sebelah pemilik sekolah musik yang posisinya agak jauh dari si abang.

Saya dan pemilik sekolah musik, ibu Tjeni, kemudian ngobrol, tentang anak-anak, tentang ini, tentang itu. Ibu Tjeni juga ngertilah posisi saya, karena beliau juga punya anak-anak dan tentu pernah ngalamin yang mirip-mirip dengan yang saya alami sekarang ini (makasih ya ce Tjeni, kemarin itu udah nemenin saya ngobrol, jadi paling gak bisa nenangin diri dalam ngadepin si abang πŸ™‚ ).

Selagi kami ngobrol, tiba-tiba si abang datang dan langsung duduk di samping saya.

Tangisnya udah berhenti dan kali ini dia udah lebih siap untuk masuk ke kelas kak Stephen.

Begitu kelas sebelumnya selesai, kak Stephen keluar kelas dan dengan senyumnya yang manis itu dia menyapa si abang, “Raja, masuk yuk…”

Dan si abang pun masuk ditemani miss Dina (thank you, misss).

Awal-awal si abang di dalam kelas saya masih gak berani nengok-nengok ke dalam. Tapi setelah beberapa saat, tampaknya aman-aman, saya pun akhirnya ngeliat ke dalam dari kaca di pintu kelas.

Ealah….anaknya udah ketawa-ketawa di dalam.

Tuuuhh…bener kan baaanggg…. kak Stephen mah orangnya cocookkk sama anak-anak.

πŸ˜€ πŸ˜€

Masterclass ini berlangsung selama 1 jam, dan berasa kurang karena kak Stephen cara ngajarnya bagus banget. Si abang belajar banyak teknik dan asiknya karena saya juga diijinkan masuk ke dalam kelas, jadi bisa ngeliat sambil ngerekam yang diajarin biar gak lupa.

Puji Tuhan…

Setelah kelas berakhir, saya menyalami kak Stephen dengan penuh rasa terima kasih karena akhirnya si abang bisa mengikuti kelas ini sampai selesai dengan wajah penuh senyum cerah (trus pas di jalan pulang baru nyadar dan nyesel, tadi kok kenapa gak ajak kak Stephen foto bareng abang *kalo perlu beserta mamanya sekalian* ??? Ya sudahlah, semoga di bulan-bulan ke depan kak Stephen masih ada waktu buat menuhin undangan ngajar di sekolah musik ini lagi).

Oh ya, setelah selesai, saya tanya ke si abang,”Gimana bang? Kelasnya fun kan?”

Trus langsung dijawab si abang dengan senyum, “Iya, hehe…”

Dan kak Stephen dengan baiknya menimpali, “Iyalah, belajar musik itu harus fun, kalo gak fun ngapain belajar musik? Lagian Raja anaknya pintar kok, diajari apa-apa cepet nangkepnya.”

Puji Tuhan, itu complimentary sederhana, tapi pasti ngaruh banyak buat naikin rasa percaya diri si abang untuk terus semangat berlatih dan terus memiliki minat belajar musik. Bagaimanapun dia masih kecil, yang paling penting sekarang adalah minat itu bisa tetap dia miliki dan terus meningkat.

Diajari sama guru yang udah master, tapi tetep rendah hati πŸ™‚
Mudah-mudahan lewat kelas bersama ‘koko warna’ ini, teknik main piano si abang bisa lebih baik…amiinnn

Di jalan menuju kantor, saya tanya ke si abang kalo lain kali ada masterclass sama kak Stephen dia mau ikut lagi gak? Langsung dijawabnya, “Of course!”

πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Setelah itu ketika kami di jalan pulang menuju rumah dari kantor, si abang cerita ke saya perbedaan yang dia rasakan antara diajar oleh Mr. M dan oleh kak Stephen.

Kalo dengan Mr. M, dia bisa dibilang selalu dipotong permainannya dan dipotongnya pake kata-kata, “Bukan gitu.”. Ada satu kali dimana Mr. M bilang, kalo mainnya kayak gitu kedengeran kayak radio rusak. Dan gak cuma itu, yang paling nancep ke si abang adalah ketika Mr. M sampe pake acara nanya ke guru yang lagi ada di dalam kelas itu, “Ini anak piano kan???”. Pertanyaan itu, bikin si abang bener-bener ngerasa rendah. Lah, kalo bukan anak piano trus ngapain sekarang ikutan piano masterclass?????

Saya waktu denger cerita si abang dalam hati ikut ngerasa kesel juga sih. Ya gak heran si abang sampe segitunya karena otomatis jadi berasa gak layak jadi pemain piano. Walopun akhirnya dia tetap berusaha semangat latihan setelah dapat kata-kata gitu dari Mr. M, tapi dia belum siap ngadepin ‘intimidasi’ lagi dan harus berusaha bangkit lagi, makanya sampe nangis karena takut gitu. Padahal kan namanya juga dia masih belajar ya, jelaslah teknik main dia masih banyak yang belum bener. Saya juga mamanya sadar kok anak ini masih kurang sana sini dalam hal main piano. Maka dari itu sampe sekarang dia masih saya sekolahin musik. Maka dari itu juga dia saya ikutkan masterclass dengan harapan teknik bermainnya bisa terus meningkat. Tapi bukan berarti dengan teknik dia yang masih sangat standar untuk ukuran orang yang pendidikan musiknya udah sampe S3 itu, semangat bermusiknya harus dipatahkan kan? Mungkin bukan maksud Mr. M mematahkan semangat si abang, hanya saja caranya yang bikin kesannya jadi seperti itu.

Sementara kak Stephen, cara ngoreksinya gak dengan langsung motong, tapi dengan kasih kesempatan untuk main dulu, pake acara bilang “Oke” dulu, dan baru kasih koreksi dan selama memberikan koreksi, kak Stephen gak ada ngasih kata-kata yang merendahkan melainkan isinya semua positif untuk perkembangan si abang.

Puji Tuhan, kemarin semua akhirnya bisa terlewati dengan baik.

Dan dari semua yang terjadi, saya sendiri bisa belajar beberapa hal.

Pertama, cara kita ngajar, apa-apa yang kita sampaikan ke anak ketika memberikan koreksi, itu memang ngaruh banget ke penerimaan anak. Sekalipun tujuan sama-sama baik, tapi cara yang berbeda akan membawa hasil yang berbeda juga. Hasilnya bakal baik atau gak, bukan hanya tergantung dari tujuan melainkan terutama dari cara dan menurut saya cara itu harus seimbang antara pujian dan koreksi. Dipuji terus menerus tidak baik. Tapi koreksi melulu juga hanya akan berdampak buruk. Yang mengajar harus tau kapan harus mengoreksi, kapan harus memuji, supaya semangat tidak terpatahkan tapi sekaligus bisa ngasih perbaikan untuk anak.

Kedua, kami punya PR, membantu si abang (dan si adek juga!) untuk punya kepribadian yang lebih tangguh dan lebih siap menghadapi sesuatu yang dia rasa mengintimidasinya. Selama ini memang kalo sama anak-anak, kami selalu berusaha kasih mereka kesempatan untuk coba sendiri, baru saya koreksi. Hampir dalam semua hal, saya dan suami seperti itu ke anak-anak. Gak yang dikit-dikit langsung bilang bukan, harus gini, harus gitu. Karena bagi kami mereka juga harus dikasih kesempatan bernalar dan ngambil keputusan sendiri.Β  Makanya waktu saya tanya ke si abang gimana menurut dia cara saya mengajar dia selama ini, dia bilang mama gak pernah bikin abang ngerasa rendah, mama selalu encourage abang untuk bisa, walopun mama cerewet…oh oke, bagian cerewet itu memang susah untuk mama hilangin bang πŸ˜€ . Tapi meski begitu, kami juga harus mengajari dan mempersiapkan anak-anak ketika harus menghadapi situasi yang tidak seideal yang mereka harapkan atau yang sama dengan yang selama ini mereka dapat. Contohnya soal pengajar. Selama ini abang selalu dapat guru yang ‘asik’, baik itu di rumah (gak apa lah ya, mengakui diri asik dalam ngajar anak…wkwkwkwkwk), di sekolah, di gereja, maupun di tempat les (kalo musik sih memang gurunya harus asik ya, kalo gak asik mah ngapain? Belajar musik untuk fun karena musik adalah ‘makanan’ untuk jiwa, kalo gurunya aja gak fun dan gak cocok ya gimana belajarnya bisa jadi fun πŸ˜› ). Tapi siapa yang tau nanti-nanti dia bisa aja dapat pengajar yang gak asik menurut dia, nah itu dia harus siap supaya jangan sampe gara-gara gak cocok dengan yang ngajar bikin dia jadi patah semangat atau jadi gak percaya diri lagi. Yah, semoga yaaaa… Tuhan memberkati kami agar bisa mendidik anak-anak supaya punya jiwa yang penuh kasih tapi sekaligus tangguh. Amin…

Demikianlah pemirsa cerita malam ini. Panjang yak…hehehe…. Tapi memang sengaja berusaha cerita secara detil supaya bener-bener bisa jadi pengingat di masa yang akan datang πŸ™‚ .

Buat kak Stephen (sapa tau kapan-kapan gak sengaja mampir di blog ini…hehehe), makasih buat masterclass kemarin yaaa…makasih ilmunya, bermanfaat banget buat abang. Mudah-mudahan di bulan-bulan berikut bisa ngajar lagi di Palembang yaaa….dan trus…trus…kapan dong Warna ada lagu baru lagi? Kangen lhooo…sama lagu-lagunya. Lagu-lagu Warna yang dulu-dulu sampe sekarang pun masih enak banget didengar (ini aja sambil nulis sambil dengerin Waktu ‘Kan Menjawab…hehe…), makanya sering dinyanyiin ulang sama penyanyi-penyanyi baru tapi tetep lebih enak dengerin penyanyi aslinya πŸ˜€ .

 

 

 

Iklan

11 thoughts on “Tentang Piano Masterclass dan Tentang Mengajari Anak

  1. ko stephen sih luar biasa sabar orangnya.. plus berhubung dia orang jawa (surabaya) jadi ngomongnya juga kalem dan gak judes. hahaha. gua juga pernah kok belajar ama dia pas mau kompetisi dulu… πŸ˜€

    1. Hahahaha…tapi iya sih Man, waktu yang punya sekolah musik jelasin soal ko stephen ini jg ngomongnya gitu, “Stephen ini kan org surabaya, jadi ngomongnya gak judes” πŸ˜€ πŸ˜€

      Udah lama banget berarti dia ngajar ya Man

  2. Profisiat buat Abang Raja yg berhasil melewati tahapan sulit ini. Angkat jempol tuk mama DuoR yg sungguh bijak. Mendapat pelajaran sangat berharga membaca postingan ini. Trima kasih Jeng Lis.

  3. Ternyata gak cuma nyontek resep tapi aku juga mesti nyontek cara mendidik anak juga nih.

    Stephen ini aku lihat langsung bareng warna pas nyanyi di resepsi anak tetangga di JCC. Keren suaranya 😍

  4. Aku pernah punya pengalaman serupa juga Lis, waktu SMP pelajaran seni rupa (menggambar) yang mana gurunya emang pinter gambar sedangkan daku itu ga bisa dan ga bakat. Waktu itu sang guru bilang gambarku seperti gambaran anak TK di depan kelas 😦 perasaan sedih dan kesel campur jadi satu.
    Sampe2 waktu mau masuk SMA, aku lebih milih SMA yang jauhan daripada yang deket rumah karena si guru itu pindah ke SMA itu (padahal kakak & adikku sekolah disitu) … biarlah masuk SMA lain daripada trauma lagi.
    Semoga abis ini Raja tetep semangat ya main pianonya πŸ™‚

    1. Dan yang ngalamin kayak gini gak cuma satu dua kan. Gak sedikit anak2 yang tadinya percaya diri, bisa mengungkapkan pendapat, tapi kemudian berubah jadi suka ragu2 mengemukakan pendapat di depan umum karena waktu di sekolah kalo salah jawab, tanggapan dari guru justru bikin anak merasa malu 😦

      Makasih yaaa

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s