Our May The 1st

Cerita ini tadinya saya rencanain mo ditulis di hari Senin malam. Tapi apa daya, pas malamnya ternyata saya udah kecapean banget dan bawaan pengen segera istirahat aja. Jadilah batal nulis di hari itu. Trus di hari Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat saya tenggelam dalam kesibukan ngurus keluarga dan rumah, ngurus kerjaan di kantor, juga ngurusin hobi (baca: nonton drama Korea :mrgreen: ). Akhirnya baru sekaranglah ada kesempatan untuk cerita di sini.

Kami hanya di rumah aja sepanjang hari Senin yang notabene di kalender ditandai dengan warna merah itu. Namun meski begitu, saya tetap bangun subuh buat masak.

Lagi libur kok mesti bangun subuh. Kenapa?

Karena hari ini rencananya saya mo ngurusin tanaman-tanaman di rumah. Ada yang mo dipindahin letaknya. Ada yang mo dikasih rumah baru. Ada yang mo dirapikan. Ada yang mo dibersihkan. Juga ada yang mo diusir hamanya.

Sengaja bangun dari subuh supaya sebelum jam 7 kerjaan rutin di rumah untuk saya dan si mbak (baca: masak, bersih-bersih rumah, ngasih makan anak, mandiin anak) udah kelar dan kami udah bisa leluasa ngurusin tanaman-tanaman itu.

Meski tanaman di rumah gak banyak dan taman kami juga kecil, tapi ternyata lumayan juga ya pemirsa, kami kerja dari pagi dan baru kelar setelah hampir lewat tengah hari. Capeeekk… Tapi bahagiaaa banget ngeliat taman udah lebih rapi karena tanaman yang gondrong udah dipangkas, tanaman-tanaman dalam pot tidak lagi terlihat berdesak-desakan, dan letak tanaman juga terlihat lebih pas dibanding sebelumnya.

Salah satu contoh yang kami kerjain adalah si Sansevieria Cylindrica alias tanaman Lidah Mertua Silinder yang mana menurut salah satu temen saya, diliat dari bentuknya tanaman ini lebih cocok disebut Tanduk Mertua ketimbang Lidah Mertua 😀 .

Tanaman ini dulunya dikasih sama salah satu kolega di kantor yang tau kalo saya termasuk penyuka tanaman. Suatu hari beliau tiba-tiba nelpon saya di ruangan buat ngasih tau kalo beliau punya sesuatu buat saya yang sekarang masih ada di dalam mobilnya. Saya diminta turun ke parkiran. Saya turuti lah ya, orang mo dapat rejeki ini..hehe… Dan begitu bagasi mobilnya dibuka, ternyata tadaaaa…ada si Sanseviera Cylindrica berdiri anggun di dalamnya.

Si Sanseviera Cylindrica waktu pertama kali nyampe di rumah

Puji Tuhan, seneng pake banget dihadiahkan tanaman secantik itu. Puji Tuhan juga tanamannya di rumah tumbuh cukup subur. Semakin hari semakin tambah tinggi, cabangnya bertambah, dan lama kelamaan kemudian bertunas sampe akhirnya berdesak-desakan dalam pot 😀 .

Cabang bagian tengah yang tadinya masih kecil dan pendek, ternyata terus bertumbuh bahkan menjadi cabang yang paling tinggi
Kondisi terakhir si Sanseviera Cylindrica yang udah mengeluarkan 2 tunas, potnya sempit kakaaakk 😀

Ternyata memang ya, gak hanya manusia aja yang harus belajar mandiri. Tapi tanaman juga. Apalagi kalo tempatnya sempit, hidup berdesak-desakan itu tentu saja tidak ideal. Karena itulah kedua tunas yang baru itu saya pisahkan. Masing-masing dikasih rumah sendiri-sendiri. Kurang enak apa coba hidupnya? Ga perlu ngapa-ngapain dikasih rumah segala *ini apaan?? 😀 *  .

Gak jelas apakah ini si induk bersama dua anaknya. Ataukah si mertua bersama dua menantunya. Yang mikir juga tambah gak jelas. -__-“

By the way, salah satu cabang induknya itu ada yang menguning, kayaknya karena saking panasnya cuaca di sini beberapa bulan terakhir ini (sering sampe 39 derajat celcius lhoo…..sereemm!!). Apalagi tanaman ini letaknya di halaman belakang yang bermandikan sinar matahari. Gak hanya manusia yang ada batas ketahanannya. Tanaman juga punya…hehe.. Aslinya tanaman ini termasuk kategori tahan panas, tapi ternyata bila panasnya mendera terus menerus dengan intensitas yang cukup tinggi, maka akhirnya tanaman ini ‘kalah’ juga meski sering disiram sekalipun. Ya sudahlah gak apa-apa, setelah ini letaknya yang harus lebih diperhatikan supaya gak benar-benar terjemur sinar matahari terik. Semoga juga dengan udah dipisah-pisah, masing-masing bisa tumbuh lebih subur lagi 🙂 .

Selain ngurusin si Lidah Mertua, kami juga memangkas beberapa tanaman yang mulai gondrong dan mencabut rumput-rumput liar di halaman depan.

Salah satunya adalah si Pohon Brokoli.

Sebenarnya memangkas dedaunan pohon ini bisa dibilang udah jadi kerjaan rutin paling lama dua minggu sekali, karena memang dedaunannya cepat sekali gondrong. Katanya sih memang semakin sering dipangkas, maka akan semakin subur juga daun-daunnya.

Dulunya waktu pertama kami beli, Pohon Brokoli ini masih kayak gini.

Kurus, kecil.

Tapi sekarang udah kayak gini…

Rimbun yak. Asik liatnya. Walo harus rajin-rajin dipangkas biar bentuk daunnya gak gondrong berantakan kemana-mana 😀 . Well, sesuatu yang bagus itu memang selalu butuh harga untuk dibayar 😀 .

Selanjutnya, kerjaan lain yang kami lakukan adalah mengusir hama semut dari tanaman Kamboja yang saya tanam di pot di depan teras. Tanaman Kamboja ini usianya hampir seumuran si abang. Udah lama banget tanaman ini ngikut kami, dari sejak di Rumah Kencana hingga di Rumah Cendana sekarang ini. Tanaman ini aslinya rajin sekali berbunga, apalagi tau kan ya, matahari di Palembang lumayan terik sinarnya, cocoklah sama Kamboja yang butuh banyak sinar matahari supaya rajin berbunga.

Nah, udah beberapa bulan terakhir ini si Kamboja diserang hama semut. Semutnya bukan semut sembarangan, melainkan semut merah yang kalo ngegigit tuh sakitnya bukan main. Saya pernah dua kali kena gigitan semut yang bersarang di tanaman Kamboja itu dan dua-duanya sampe jadi bisul. Karena kuatir anak-anak bakal kena gigitannya juga, saya sampe tiga kali nyuruh si mbak untuk nyemprotin si Kamboja pake obat nyamuk semprot. Setiap kali habis disemprot, semut-semutnya memang gak keliatan lagi, tapi itu hanya bertahan beberapa hari aja, setelah itu semut-semut itu pada berdatangan kembali. Mungkin karena sarangnya ada di dalam tanah yang gak bisa ketembus sama obat nyamuk semprot. Sedih, soalnya gara-gara disemprot pake obat gitu, daun-daun si kamboja jadi  berguguran setelah sebelumnya malas berbunga karena digerogoti oleh semut-semut merah yang nakal itu 😦 .

Masalah dengan Kamboja inilah yang sebenarnya jadi latar belakang kenapa saya memilih libur hari buruh kemarin untuk ngurusin tanaman. Udah gak tahan rasanya tiap ke teras berhadapan dengan pemandangan koloni semut merah di pot, di tanah, di dahan, bahkan sampai ke ujung ke dedaunan Kamboja itu. Sejak beberapa hari sebelumnya saya dan si mbak memang sudah berencana untuk membereskan masalah semut itu, karenanya di hari minggu sore saya sempatkan untuk beli tanah di tempat jual tanaman di dekat rumah.

Selain mempersiapkan tanah, kami juga perlu mempersiapkan keberanian. Karena pastinya udah terbayang sebanyak apa kumpulan semut di dalam tanah dan di bawah pot itu.

Dan benar saja, sewaktu tanamannya mo dicabut keluar dari tanah, semut-semut merah di dalamnya langsung keluar buanyak sekali. Apalagi sewaktu tanahnya kami bongkar….hiiiyyy…aslilah, bikin merinding disko liatnya. Tapi semerinding apapun kami, tekad tetaplah tekad. Dengan keberanian dan kegeraman penuh, isi pot itu kami bongkar. Semut-semut pun jadi tak berdaya setelah kami hujani obat anti serangga dan siraman deras air.

Pot yang tadinya berisi tanah dengan sarang semut di mana-mana itu kemudian kami cuci bersih.

Tak hanya itu, si Kamboja juga saya cuci bersih mulai dari setiap ujung daunnya hingga ke akar-akarnya sampai semua bebas dari semut beserta sarang telurnya.

Bersiiihh sampe ke akar-akarnya. Kalo liat Kamboja ini rasanya sedih banget, karena bonggolnya udah besar sekali tapi daun-daunya kecil dan bunga pun hampir gak ada. Semua gara-gara semut. Kenapa sih semut-semut itu menyerang tanaman kesayangan saya ini dan bukannya hanya berbaris di dinding saja menatap curiga orang yang sedang menanti pacarnya??? #eh??

Setelah semua sudah bersih, pot itu kembali saya isi dengan tanah yang baru kemudian si Kamboja kembali kami tanam di situ.

Sudah segar dengan tanah yang baru

Semoga ya, setelah ini si Kamboja gak lagi bermasalah dengan semut atau hama apapun itu. Ada sih teman yang kasih saran untuk taburin kapur anti semut yang ditumbuk halus supaya semut gak datang. Ada juga yang kasih saran untuk sekalian aja pake pestisida khusus semut. Yah, kita lihatlah nanti bagaimana ya, yang pasti harapannya setelah ini si Kamboja (dan tanaman-tanaman yang lain juga) gak bermasalah lagi dengan persoalan hama seperti kemarin itu dan juga semoga setelah ini si Kamboja mau rajin berbunga kembali seperti dulu. Amiinnn….

Selain kerjaan-kerjaan di atas, kami juga ada mindah-mindahin tanaman. Ada yang dituker-tuker potnya. Ada yang dipindah letaknya saja.

Si Rain Lily alias Bunga Kucai yang dapat tempat baru.

Punya koleksi tanaman di rumah itu memang menguntungkan, karena cukup dengan mengubah letak tanaman aja udah bisa bikin perubahan suasana di rumah, karena itulah kegiatan mindah-mindahin tanaman itu lumayan sering saya lakukan.

Contohnya adalah si Tanaman Dollar ini.

Tanaman Dollar

Waktu pertama kali dibeli, Tanaman Dollar ini saya letakkan di tangga kayak gini.

Tanaman Dollar itu yang berada di urutan kedua dari bawah

Keputusan saya naro tanaman di tangga seperti itu dapat protes dari pak suami. Dia gak suka liat tanaman di tangga kayak gitu, katanya mengganggu…hehe… Iya juga sih 😀 . Setelahnya si Tanaman Dollar sempat diletakkan di tempat teduh di halaman belakang sampai kemudian membesar sebelum kemudian saya pindahkan ke ruang aktivitas anak-anak dan kemudian dipindahkan lagi ke area tangga…hehe…

Kemarin, si Tanaman Dollar ini kembali lagi saya pindahkan.

Masih tetep di area tangga sih, tapi jadinya di atas rak sudut kayak gini.

Tadinya di atas rak sudut itu hanya ada bunga plastik sama foto-foto aja. Pikir-pikir kayaknya lebih cocok kalo tanaman hidup aja yang ditaro di situ. Jadilah saya pilih si Tanaman Dollar ditemani dua Sirih Gading yang tadinya saya letakkan di halaman belakang. Trus sudut sebelahnya yang tadinya ditempati oleh Tanaman Dollar kemudian digantikan oleh salah satu Lidah Mertua. Cantik juga kan jadinya? Hehe…

Karena ngurusin tanaman-tanaman ini, hari itu saya baru mandi setelah lewat tengah hari, karena aslinya yang dikerjain jauh lebih banyak daripada yang saya ceritain di sini. Trus sore hari bahkan sampe malamnya masih ada lagi yang saya kerjain, salah satunya karena ternyata di halaman belakang ada tanaman lagi yang dijadikan sarang oleh koloni semut tapi baru ketahuan sekarang. Sebel deh. Daripada tanggung, ya udah saya bereskan aja masalah dengan semut itu. Seperti si Kamboja di atas, tanahnya saya ganti lalu potnya dicuci bersih sebelum tanamannya ditanam kembali.

Malamnya, sehabis mandi dan ngerasa seger lagi, saya pun berencana untuk nyantai sehabis makan malam. Selonjoran di sofa, nyalain TV, dan saya mendapati berita soal pembakaran karangan bunga di Jakarta oleh pendemo yang katanya mewakili kaum buruh. Oke, setelah seharian yang saya kerjakan adalah mengurus tanaman, mendapati berita seperti itu tentu saja jauh dari apa yang saya inginkan karena hanya membuat saya merasa sedih.

TV kemudian saya matikan, lalu naik ke atas di mana anak-anak setau saya tadi sewaktu saya tinggal ke bawah, yang satunya lagi ngerjain PR dan yang satunya lagi main. Oh iya, sedari pagi saya kerja, kedua anak ini cukup manis. Mereka gak ada ganggu, sebaliknya saat bisa, mereka juga ikut bantuin. Sambil main-main tentu..hehe… Apalagi kalo bantuinnya udah yang berhubungan sama air..wuiihh…semangat banget ituuu! 😀 .

Ini sewaktu saya makan siang. Mereka berdua nemenin sambil cerita tentang banyak sekali hal 😀

Waktu saya naik ke atas itu, jam udah menunjukkan pukul 8 malam lewat. Pengennya istirahat sambil selonjoran aja di kamar.

Tapi tau-tau saya mendapati pemandangan ini.

FYI, sebelum saya turun sehabis mandi tadi, pemandangannya belum separah itu. Ampun deh, kelakuan si adek, dalam waktu gak sampe sejam aja mainan-mainan bisa bergelimpangan ke mana-mana.

Saya baru mo nyuruh si adek untuk mulai beres-beresin mainannya, karena saya bawaannya udah pengen tidur.

Tapi ternyata saya dapati dia udah duluan ketiduran 😀 .

Seharian itu dia memang gak ada tidur siang, karena keasikan ikutan rame saya kerja, jadi yah gitu deh masih jam delapan malam dia udah ngantuk banget sampe ketiduran di kamar papa – mamanya kayak gitu.

Tinggallah saya yang kemudian menerima nasib, sebelum bisa beristirahat harus ngeberesin semua mainan yang diberantakin oleh si adek. Untunglah dibantu oleh si abang, jadi bisa lebih cepat kelar, dan akhirnya saya pun bisa benar-benar beristirahat. What a day 🙂 .

 

Iklan

5 thoughts on “Our May The 1st

  1. Salam kenal Mbak Allisa 🙂
    Tanamannya bagus deh, aku pernah mencoba untuk menanam tanaman di rumah, tapiiiiii semuanya pasti mati semua. Lain dengan mamiku yang bertangan hijau, kalo aku kayaknya tangan dingin tuh tanaman semuanya mati. Sekarang lagi coba pelihara kaktus kecil di meja kantor, semoga nggak mati juga 😀
    Mariska.

  2. waaaw suka banget sama postingannya kali ini mbak… aku gak pernah berhasil merawat tanaman di rumah… suka banget deh liat tanamannya, semua tumbuh sehat dan subur…

  3. Setelah baca postingan ini jd tau ada tanaman yg namany pohon brokoli/gak cuma sayur aja ya ternyata nama brokoli, ada yg namanya pohon dollar, pohon rupiah ada gak ya? 😀😀
    Trs jadi tau jg nama lain tanaman kucai

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s