Akhirnya, Hari Itu Tiba Juga….

=====================

Hari di mana si sus resmi berhenti bekerja di tempat kami dan pulang kembali ke kampungnya di Lampung. Semalam, si sus udah berangkat pulang ditemani suaminya. Sedih sih sebenarnya karena si sus yang udah cukup lama bekerja di tempat kami udah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Si sus juga sedih harus berhenti karena dia juga ngaku bahagia kerja di tempat kami dan ngerasa sayang kehilangan gaji bulanannya πŸ˜…. Tapi ya mo gimana lagi, kehamilannya udah makin besar, udah 7 bulan, jadi memang gak memungkinkan lagi untuk bekerja di tempat kami. Selesai melahirkan juga dia masih belum tau apa bisa kerja lagi ato gak karena anaknya sekarang udah dua dan orangtuanya mulai kewalahan mengurus anaknya yang pertama.

Dibanding kondisi sebelumnya, memang sekarang ini si sus udah lebih tenang kalo pun gak bisa kerja lagi karena suaminya sejak pertengahan tahun lalu udah kami carikan kerjaan di Palembang lewat relasi yang dimiliki pak suami. Puji Tuhan bisa dapat perusahaan yang bisa dipercaya, bisa kasih fasilitas BPJS Kesehatan serta Ketenagakerjaan, bisa ngasih gaji dengan taraf UMR, dan terutama mau menerima suami si sus yang pendidikannya hanya sampai kelas 1 SD. Puji Tuhan.

Rencananya untuk berhenti bekerja udah diutarakan dari sejak si sus ngomong jujur ke saya tentang kehamilannya. Sebenarnya waktu itu dia berat ngomongnya. Bukan takut saya marah, dia tau saya gak akan mungkin marah. Tapi dia takut kalo setelah dia ngomong maka saya akan segera memberhentikannya karena gak tega mempekerjakan orang hamil…hehehe… Setelah si sus ngomong jujur, akhirnya kami berdua sepakat bahwa dia akan berhenti bekerja setelah kehamilannya masuk 7 bulan, alias di bulan Januari ini.

Bersyukurnya, si sus ini orangnya cukup bertanggungjawab, karena itu bahkan sebelum dia ngomong ke saya soal kehamilannya itu, dia udah berusaha nyari salah satu keluarganya yang mau kerja di rumah kami. Puji Tuhan bisa dapat, namanya mbak Yati, yang kini sudah bekerja di tempat kami selama kurang lebih 3 bulan. Kerjaan si mbak Yati sendiri lebih ke bersih-bersih rumah serta bantu jagain adek, sementara untuk masak-masak tetep dikerjakan oleh saya. Udah terbiasa dan udah ngerasa enak bangun pagi jam 3, jadi pola sibuk di pagi hari itu gak ingin saya ubah πŸ™‚ .

Dan akhirnya, bulan demi bulan pun lewat sejak si sus bicara tentang kehamilannya ke saya, hingga bulan Januari tanggal 17 itu tiba. Waktunya buat si sus untuk pergi. Sedih rasanya. Apalagi si adek, sempet nangis lho dia waktu si sus pamit. Kasian ya…soalnya si sus udah bantu ngurus adek sejak adek baru lahir, jadi otomatis di antara mereka juga udah ada rasa dekat 😦 .

Selamat jalan ya sus, kalau Tuhan berkenan masih bisa bertemu lagi di lain waktu πŸ™‚ .

=====================

Dan kemarin, kami sedih bukan saja karena si sus pulang kampung. Tapi lebih lagi karena per hari kemarin, suami resmi ‘pindah’ ke Sumatera Utara.

Ceritanya berawal di tanggal 28 Desember lalu, sehari setelah kami tiba di Medan. Sekitar jam 4 sore, suami bangunin saya yang lagi tidur siang bareng anak-anak. Waktu itu suami bilang ada yang penting yang mau diomongin. Dari raut mukanya yang serius, saya udah tau kalo ini bukan main-main. Ternyata dia baru saja terima telepon dari GM, disuruh segera ke kantor pusat di Jakarta karena tanggal 29 Desember, alias keesokan harinya, akan ada pembagian SK dan dia jadi salah satu penerimanya. GM bilang kalo dari isu yang berhembus, pak suami akan menerima SK sebagai Manajer Area.

Waktu denger itu saya cuma bisa terdiam nahan diri untuk gak nangis. Cuma kami yang tau betapa pak suami selama ini berusaha menghindar untuk jadi Manajer Area, bahkan waktu fit & proper test untuk jabatan Manajer Area sekitar 2 tahun yang lalu, suami bilang sama pengujinya kalo andaikan bisa meminta, dia lebih memilih untuk gak jadi Manajer Area. Mungkin aneh buat sebagian pegawai di perusahaan ini, tapi bagi kami tak ada yang lebih indah daripada kebersamaan. Toh jabatan suami sebagai Deputi Manager di Kantor Wilayah selama 3 tahun terakhir ini sama kok levelnya dengan jabatan Manajer Area, paling yang membedakan adalah tunjangannya saja karena bagaimanapun sebagai Manajer Area yang memimpin unit tentu memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi. Tapi ya apa artinya juga tunjangan naik tapi kami jadi dua dapur lagi dan untuk bertemu pun butuh biaya yang gak sedikit?

Asli, sedih banget rasanya denger kabar itu.

Mana kami belum tau lagi suami bakal jadi Manajer Area di mana karena memang sifatnya masih rahasia banget.

Tanggal 29 pagi, suami berangkat dari Medan ke Jakarta. Terganggu banget deh liburan kami saat itu…hikks….

Jam 3, suami masuk ke ruang pertemuan dan baru menjelang jam 6 sore SK dibagikan dan itu pun belum bisa dibuka karena masih menunggu Dirut. Menjelang jam 7 malam baru Dirut masuk dan suami pun akhirnya bisa tau di mana dia ditempatkan.

Segera setelah SK-nya dia buka, suami langsung ngabarin saya yang sedang deg-degan nunggu kabar di Medan bareng kakak ipar dan mertua bahwa dia ditempatkan sebagai Manajer Area… Nias!

Duh Tuhan.

Yang langsung terbayang oleh saya adalah jaraknya yang jauh, yang gak memungkinkan kami untuk sering-sering bertemu.

Bener-bener deh, pengen nangis waktu denger itu. Tapi masih saya tahan-tahan dan masih terus berusaha bilang terpujilah nama Tuhan, apa yang sudah Tuhan atur itu pasti baik adanya. Iya, saya memang meyakini apa yang saya ucapkan di depan mertua dan kakak ipar itu, tapi sebagai manusia bagaimanapun ada rasa sedih jika harus terpisah secara jarak dari pasangan hidup.

Saat itu, mertua dan kakak ipar mencoba menguatkan serta menghibur saya sambil cerita bahwa sekarang ini Nias tidak lagi ‘sejauh’ dulu, apalagi sejak pak Joko Widodo jadi presiden dan Menkumham juga adalah putra Nias. Daerah yang merupakan pulau di Samudera Hindia itu semakin ke sini semakin banyak perkembangannya dan sekarang pun beruntungnya bandara di Nias sudah melayani penerbangan ke Medan sebanyak 6 kali dalam sehari.Β  Untung. Masih untung. Meski tetap menyedihkan.

Sehabis ngobrol dengan mereka, saya pamit ke atas untuk mandi.

Dan di kamar mandi, air mata saya tumpah!

Saya tau dan paham sekali kalo Tuhan pasti punya maksud mengijinkan suami ditempatkan di Nias. Saya mengerti kalo Tuhan mau suami saya jadi berkat untuk unit dan masyarakat di sana. Saya juga yakin Tuhan yang akan bikin kami bisa melewati semua ini dan Tuhan juga yang akan memberkati pekerjaan suami saya di Nias.

Tapi di momen itu, saya cuma ingin nangis.

Kebayang suami sendirian lagi tanpa kami. Kebayang kami menjalani hari-hari tanpa pak suami. Kebayang anak-anak yang selama ini deket banget sama papanya dan kemudian harus bertemu sesekali saja. Kebayang kamar kami yang pasti akan terasa sangat kosong tanpa suami tidur di sebelah saya.

Dan semua itu terjadi secara tiba-tiba, rasanya kami tak diberikan waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi kabar itu.

Karena itu saya cuma ingin nangis, supaya setelahnya saya bisa lebih lega.

Puji Tuhan, keluar dari kamar mandi saya memang sudah merasa lebih plong. Sudah lebih siap rasanya menghadapi apa yang harus dihadapi.

Esok harinya tanggal 30 Desember suami balik ke Medan.

Tanggal 6 Januari kami pulang ke Palembang.

Tanggal 9 Januari suami kembali bertolak ke Medan karena ada rapat dan harus dia hadiri dengan status jabatan yang baru.

Tanggal 12 Januari suami terbang ke Nias untuk perkenalan dan orientasi di sana.

Tanggal 13 Januari suami pulang ke Palembang.

Dan kami hanya punya waktu 4 hari bersama sebelum suami harus kembali terbang ke Medan dan lanjut ke Nias.

Cepat. Cepat banget semuanya berlalu.

Saya sendiri masih kadang berpikir apa ini mimpi ya? Benar ya kami sekarang gak sekantor lagi? Benar ya sekarang kami harus terpisah sedemikian jauhnya?

Tapi suami bilang ke saya, kalau saya sudah seperti itu, lekas-lekaslah berdoa minta dikuatkan oleh Tuhan dan minta sukacita lagi dari Tuhan, karena Tuhan pun mau anak-anakNya menghadapi apapun dalam hidup ini dengan sukacita. Suami bilang, yakin saja dia hanya sebentar saja di Nias, dia pun akan berusaha bisa pindah lagi ke Palembang, doakan saja agar Tuhan berkenan untuk itu. Biarlah semua yang harus dijalani ini bisa berlalu dengan sukacita dan kemenangan. Jangan biarkan semuanya berlalu dengan sungut-sungut…

Makin dekat dengan waktu untuk berpisah…

Dan iya, saya pun mau semangat menjalaninya, supaya suami juga bisa semangat karena sebenarnya justru dia yang paling berat menjalani ini…

Kemarin, dia saya antarkan ke bandara. Sedih banget pas mau pisah, gak terkatakan lah pokoknya perasaan yang ketika sadar kalo perpisahan udah di depan mata. Udah lama soalnya sejak terakhir kami LDR-an dan dulu pun terpisahnya bukan yang sejauh ini. Anak-anak juga sedih, abang sampe nangis-nangis, tapi puji Tuhan tetap bisa mengerti πŸ™‚ .

Detik-detik mau pisah nih…sedih, tapi terus berusaha semangat. Kalau dilihat baik-baik sebenarnya bisa terlihat sih kalau mata kami di foto ini agak-agak bengkak πŸ˜…

Selamat bertugas di tempat yang baru ya pak suami. Teruslah semangat dan siaplah selalu menjadi berkat buat kepulauan Nias. Yakin dan percaya, Tuhan akan atur waktu yang terbaik untuk kita bersama kembali. Amin.

4 tahun kami bisa bersama di Palembang, itu adalah kemurahan Tuhan. Ketika suami harus kembali ditempatkan jauh dari istri dan anak-anaknya, itu juga tetap adalah kemurahan Tuhan. Karena itu, kemurahan Tuhan yang sama yang akan membawa kami berkumpul bersama lagi. Amin.

9 respons untuk β€˜Akhirnya, Hari Itu Tiba Juga….’

  1. Duh makin ke bawah bacanya mataku makin berkaca-kaca.
    Klo aku pas dtinggal suami tgs ke luar kota meski hanya 3-5hari itu aja rasanya udh gak karuan, tp aku yakin mb Allisa jauuh leubih kuat dr aku.
    Semangat yaa, semoga papa RJT cpt pindah ke Palembang lg.

  2. duuuh kirain cuma aku saja yang harus LDR-an sama suami, ternyata kamu juga yaa lis 😦 memang sedih banget, karena kita biasanya kan setiap hari selalu bertemu, walaupun kalau suamiku itu cuma numpang tidur doang di Palembang πŸ˜›
    semoga papanya abang dan adek cuma sebentar aja di nias, dan bisa balik lagi ke palembang dengan jabatan baru, Aamiin. dan semoga selama LDR-an, jeng Allisa dan suami diberikan kekuatan serta kemudahan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik buat kita. *hugAllisa

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s