Christmas 2016: Mencoba Dae Bak, Korean BBQ Resto di Medan

Tepat di tanggal 31 Desember, suami dapat undangan menghadiri salah satu acara pergantian tahun. Sebenarnya dari awal suami udah agak malas-malasan karena buat kami yang namanya pergantian tahun itu harus dilewatkan bersama keluarga. Tapi karena gak enak sama yang ngundang, jadilah kami memutuskan untuk datang ke situ sekitar jam setengah 8 sampai kurang lebih jam 9 malam supaya paling gak masih bisa bertemu sebentar dengan yang ngundang tapi sekaligus masih tetap punya banyak waktu bareng keluarga menanti pergantian tahun. Tapi ketika jam setengah 8 kami tiba di lokasi, acara yang katanya dimulai sejak pukul 7 malam itu ternyata belum juga dimulai. Kami masih berusaha menunggu sampai hampir jam setengah 9 dan belum ada tanda-tanda acara akan dimulai. Bahkan yang ngundang sendiri pun belum datang. Ya sudah deh, suami langsung mutusin untuk cabut dari situ dan nawarin saya untuk makan malam dulu sebelum pulang. Suami juga menyerahkan ke saya buat milih mo makan apa dan di mana.

Awalnya saya bingung mo makan apa tapi kemudian teringat dengan cerita orang kalo resto masakan Korea di Medan itu jauh lebih lumayan dibanding yang ada di Palembang. Saya carilah lokasi resto masakan Korea yang terdekat dengan lokasi kami saat itu dan akhirnya nemu satu resto yang termasuk recommended, yaitu Dae Bak. Resto ini terletak di jalan Timor, tepatnya di komplek Jati Junction.

Tak ada hubungannya sama cerita memang, kecuali bahwa inilah outfit yang saya pakai malam itu...hehehe
Tak ada hubungannya sama cerita memang, kecuali bahwa inilah outfit yang saya pakai malam itu…hehehe

Tiba di Jati Junction, kami lihat cukup banyak kendaraan yang parkir di depan resto ini. Rame nih kayaknya. Sempat was-was kalo tempatnya penuh dan harus ngantri lama. Untung saja begitu kami masuk udah ada satu meja yang akan kosong jadi kami bisa langsung dapat meja tanpa perlu menunggu lagi. O ya, untuk masuk ke resto ini terbilang unik karena pengunjung harus tekan tombol yang ada di samping pintu supaya pintu kacanya bisa terbuka. Tar kalo udah terbuka kita akan langsung mendengar sapaan Annyeonghaseyo yang gak saya perhatiin apakah dari mesin ataukah dari suara staf di sini. Oleh salah satu staf, kami diarahkan ke lantai 2 di mana tersedia tempat untuk lesehan ala Korea, dan saya bersyukur sekali karena meja yang kosong adalah yang pakai kursi, saya gak suka lesehan soalnya.

Interior dari tempat ini gak terlalu yang Korea-Korea banget. Biasa aja menurut saya, walaupun memang tempatnya terlihat cukup nyaman. Paling ya berasa Korea-nya karena mereka muter lagu-lagu Korea dan di TV-nya ditayangkan drama Korea juga, waktu itu yang mereka tayangkan adalah Cheese In The Trap, sebuah drama lama menurut saya *suombong, mentang-mentang tahun ini super aktif ngikutin drakor :mrgreen: * .

Setelah lihat-lihat buku menu, kami kemudian memutuskan untuk memesan LA Galbi (Korean BBQ Ribs dengan potongan ribs-nya ala L.A (info dari Wikipedia)), Bibim guksu (cold noodle), dan minumnya Maesil Cha (Korean plum tea) .

O ya, waktu pesen LA Galbi, stafnya nanya, dagingnya mau dipanggangin sama chef di dapur atau mau panggang sendiri di meja (tempat manggang memang udah disediakan di setiap meja). Jelas aja saya langsung memilih untuk dipanggangin aja di dapur. Ogah lah ya udah makan di luar trus harus masak sendiri lagi, huehehehe…. Gak sih, alasannya bukan itu, saya cuma gak mau aja rambut dan badan jadi bau asap πŸ˜€ .

Maeshil Cha. Menurut saya rasanya enak, tapi kata suami biasa aja, padahal memang beneran enak kok :D
Maeshil Cha (Rp 22.000). Menurut saya rasanya enak, tapi kata suami biasa aja, padahal memang beneran enak kok πŸ˜€
Bibim guksu. Mie-nya dingin memang dan ini baru pertama kalinya kami makan mie yang memang sengaja disajikan dingin gini. Enak juga ternyata.
Bibim guksu (Rp 70.000). Mie-nya tipis dan dingin memang. Baru pertama kalinya kami makan mie yang memang sengaja disajikan dingin gini. Enak juga ternyata.

Untuk LA Galbi-nya sendiri tidak disajikan sendiri saja, melainkan bersama side dish yang kalo gak salah terdiri dari 10 macam.

Side dish untuk LA Galbi
Side dish untuk LA Galbi

Di salah satu sajian side dish-nya itu juga terdapat Kimchi. Saya sih suka. Suami yang gak suka, katanya rasanya aneh. Sepertinya di sini memang benar menyajikan masakan Korea secara otentik jadi ya gitu deh, cita rasa makanannya bisa jadi kurang cocok untuk sebagian orang Indonesia. Selain Kimchi, juga ada Jangjorim (yang tampak seperti daging suwir itu). Rasanya enaakk dan untuk yang satu ini suami juga suka.

LA Galbi
LA Galbi (Rp 240.000, karena disajikan dengan berbagai macam side dish, maka gak heran kalo harganya cukup tinggi)

Di atas itu adalah LA Galbi, sang bintang di makan malam kami hari itu.

Rasanya gimana?

Puji Tuhan, nikmat banget sodara-sodara! Apalagi kalo dimakan dengan menggunakan daun selada sebagai pembungkusnya, wuuiiihh.. super sedap lah pokoknya. O ya, buat yang sering nonton drama, pasti sering liat kan orang Korea makan daging dengan dibungkus daun selada, nah saya tiap kali liat itu rasanya langsung ngiler. Kok kayaknya enak banget yah. Pengen banget deh nyobain yang kayak gitu. Syukurlah kemarin bisa makan seperti itu dan rasanya memang bener-bener enak. Saking kalapnya makan, saya sampai lupa minta pak suami buat fotoin saya makan daging ala-ala drama Korea. Baru keinget setelah dagingnya udah habis dan seladanya udah tandas…wkwkwkwkw…. Ya sudahlah, direkam di ingatan aja kalo gitu πŸ˜€ .

Puji Tuhan, kami bisa keluar dari Dae Bak Korean BBQ Restaurant ini dengan perut kenyang yang pas dan hati puas. Terjawab sudah rasa penasaran saya terhadap masakan Korea semacam LA Galbi yang selama ini sering bikin saya ngiler. Di Palembang sebenarnya sudah ada beberapa resto Korea, tapi belum ada satu pun yang bisa saya rekomendasikan enak. Yang umum kayak Bibimbap aja kurang enak, jadi males kan nyoba menu yang lain. Aih, kapanlah Dae Bak ini dibuka di Palembang ya, yakin deh saya bakal sering mencet tombol pintu itu πŸ˜€ .

Iklan

12 thoughts on “Christmas 2016: Mencoba Dae Bak, Korean BBQ Resto di Medan

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s