Sunny Home Sweet Home: My Lavender Room and The Terrace

Selamat hari Selasa!

Hari ini saya kangen cerita tentang interior rumah lagi. Udah lama banget kayaknya dari sejak terakhir cerita tentang interior rumah di sini, apalagi yang mendetail tentang satu ruangan. Padahal sebenarnya setelah saya sampe bikin kategori khusus untuk interior rumah, saya udah berniat untuk sering-sering nulis tentang interior rumah di sini dan pengennya bisa banyak cerita secara mendetail tentang satu ruangan. Tapi ternyata, niat tinggal niat. Sejauh ini saya baru dua kali nulis khusus tentang satu ruangan. Pertama tentang ruang main anak, kedua tentang ruang keluarga. Selebihnya, paling ada soal framed wall art sama photo gallery di tangga, plus cerita-cerita lain yang cuma selewatnya aja (semua post dalam kategori interior rumah, bisa dibaca di sini yaa….).

Makanya, hari ini saya kangen banget nulis tentang rumah lagi dan kali ini yang mo saya cerita adalah ruangan yang penuh dengan warna kesukaan saya, yaitu ungu.

Yang udah lama ngikutin blog saya mungkin tau kalo saya suka banget sama warna ungu dan sukanya bukan hanya semusim aja. Saya udah suka ungu dari sejak remaja dulu tanpa saya tau alasannya apa, pokoknya suka aja kalo liat warna itu dan sukanya pun yang sukaaa banget.

Tapi sesuka-sukanya saya sama ungu, anehnya saya gak pernah suka lho liat rumah yang cat luarnya berwarna ungu. Gak tau deh, di mata saya kok aneh liat cat rumah warna ungu. Beberapa bulan lalu kami ngecat rumah, suami pun iseng-iseng nawarin untuk ganti warna hijau di depan dengan warna ungu, dan saya langsung menolak. No way. Saya senang ungu, tapi khusus untuk rumah, saya lebih suka jika ungu hanya jadi aksen saja untuk interior. Yah, ini soal selera pribadi ya dan saya bukannya yang sedang bilang kalo orang yang ngecat bagian luar rumahnya dengan warna ungu berarti punya selera yang buruk, sekali lagi ini hanya selera pribadi saya saja 🙂 .

Dari sejak awal beli rumah ini, saya memang udah bilang sama suami kalo pengen bagian ruang tamu bertema ungu yang dicampur dengan warna minimalis lainnya yaitu abu-abu, cream ato putih, dan hitam. Suami sih setuju banget dengan keinginan saya itu.

Yang jadi kendala untuk interior ruang tamu kami ini adalah ukurannya yang kecil. Kecil banget. Kecil sangat….hehehe….

Saking kecilnya, kami sampe perlu waktu cukup lama untuk berpikir gimana caranya ngisi ruangan ini supaya gak tampak terlalu kecil dan sempit tapi tetap bisa berfungsi sebagai ruang tamu yang nyaman baik untuk tamu maupun untuk kami yang menerima tamu di rumah. Awalnya sempat terpikir untuk hanya sediain satu sofa saja di situ. Tapi kalo kayak gitu tentu kurang nyaman untuk ngobrol, karena posisi duduk antara kami dan tamu tidak saling berhadapan. Akhirnya kami putusin untuk taro satu sofa dengan tiga dudukan di situ plus dua buah stool yang akan jadi tempat kami duduk ketika menerima tamu di ruangan ini.

Setelah sepakat dengan jumlah tempat duduk di situ, kami sempat nyari-nyari sofa dan stool yang cocok baik dari segi model, warna, ukuran (ini nih yang penting banget karena ukuran ruangnya yang sangat terbatas), juga tentu lah ya dana. Berkali-kali kami bolak-balik toko meubel dan gak nemu yang pas. Akhirnya kami pun ngambil keputusan (yang sebenarnya emang udah direncanain sejak awal sih, keluar masuk toko cuma buat nyari referensi aja..hehehe) untuk mesan sofa dan stool dari tukang langganan kami, yaitu mas Ujang.

Untuk sofa kami pesan warna cream. Tadinya sempat mau yang putih, tapi setelah liat-liat bahan dan warna, akhirnya saya tetapkan mau warna cream aja, karena kesannya tetap clean seperti putih tapi lebih hangat dan warnanya bisa ‘muncul’ karena dinding belakangnya berwarna putih juga.

Urusan sofa kelar, kami kemudian mikirin soal meja. Karena di tempat mas Ujang gak bisa bikin meja yang modelnya minimalis, maka kami pun nyari-nyari dengan pilihan utama tempat nyari adalah Informa (di sini belum ada Ikea, jadi yang paling ‘kece’ baru ada Informa aja…hehe). Dan bukannya gampang lhooo nemu meja yang bisa sesuai untuk ukuran ruang tamu kami itu, gak heran kalo sempat berbulan-bulan itu ruang tamu cuma ada sofa dan stool doang tanpa meja…hehe… Sampe akhirnya produk meja yang pas untuk ruang tamu mungil kami itu hadir di Informa. Ih, seneng banget rasanya pas liat itu meja, karena baik bentuk dan ukuran pas…pas banget dengan ruang tamu kami.

Saat pertama beres, penampakan ruang tamu kami adalah seperti ini.

Penampakan ruang tamu kami waktu pertama ketemu meja yang sesuai...hehe
Penampakan ruang tamu kami waktu pertama ketemu meja yang sesuai…hehe

Dari gambar di atas bisa dapat bayangan kan betapa kecilnya ruang tamu kami…hehe… Untunglah kami bukannya yang sering nerima tamu dan kalo pun ada tamu paling jumlahnya juga gak banyak. Dan di atas itu adalah meja yang saya maksud. Pas banget kan bentuknya. Ramping memanjang, persis seperti bentuk ruang tamu kami 😀 .

Karena sejak awal udah pengen memberi tema ungu di ruangan ini, maka stool yang kami pesan adalah yang berwarna ungu (walo di gambar di atas kayaknya jadi agak merah gitu ya, sepertinya karena cahaya matahari). Begitu juga dengan karpet, kami beli yang berwarna ungu dengan aksen abu-abu supaya nyambung dengan warna gorden. Selain itu untuk hiasan bunga juga saya pilih yang berwarna ungu.

Di samping kanan sofa ada hiasan bunga sudut dan di samping kirinya ada round end table yang di atasnya ada bunga serta foto-foto.

Trus udah puas dengan ruang tamu ini?

Tentu tidak.

Saya masih belum ngerasa pas dengan kehadiran end table di sisi kiri sofa itu. Buat saya model dan bentuknya gak pas. Selain itu saya juga masih pengen taro lukisan di atas sofa. Dan saya juga masih belum ngerasa puas kalo tidak ada tanaman hidup di ruangan ini.

Tanaman hidup.

Saya suka sekali dengan tanaman hidup dalam ruangan. Buat saya, sesederhana apapun tanaman itu tapi kehadirannya akan bisa langsung ngasih kesegaran dalam ruangan.

Dan butuh waktu bagi saya untuk mencari tanaman hidup yang sesuai juga nyari end table yang lebih cocok dibanding end table yang bulat seperti yang di atas itu. Selain itu kami juga lama banget baru bisa nemu lukisan untuk di atas sofa yang klik dengan hati saya.

Memang nyarinya sih gak yang keburu-buru yah, santailah pokoknya liat-liat baik yang di offline maupun di online. Kalo ada waktu dan lagi pengen ya liat-liat.

Sampe akhirnya saya nemu tanaman Peace Lily di http://jualtanamanhias.net/ . Seneng banget waktu nemu tanaman ini karena saya tau kalo jenis tanaman ini adalah yang paling cocok diletakkan dalam ruangan karena butuh sinar matahari yang sedikit dan berguna banget membersihkan udara dalam ruangan. Sudah gitu bentuknya pun cantik. Cocok untuk ruangan modern dan minimalis.

My Peace Lily....
My Peace Lily….

Tanaman ini berbunga, warna bunganya putih. Sayang, selama di rumah kami, dia baru sekali saja berbunga, kayaknya mungkin karena kondisi ruangan masih sering bermandi cahaya matahari sementara jenis tanaman ini akan lebih sering berbunga dalam ruangan yang cenderung gelap. Tapi meski begitu, saya gak terpikir untuk mengganti tanaman ini atau memindahkannya ke tempat lain, karena tempatnya cocok di sini, dan ruangan ini pun cocok untuknya.

Setelah bertemu dengan Peace Lily itu, saya juga ketemu dengan end table yang dalam sekali liat aja langsung ngerasa pas sekali.

Funika Meja Serbaguna
Funika Meja Serbaguna

Liat deh gambar di atas itu trus bandingkan dengan coffee table hitam di depan sofa, bentuknya mirip kan? Saya juga suka sama warnanya yang putih karena semakin bikin ruangan ini terlihat terang dan bersih. Selain bisa sebagai tempat meletakkan si Peace Lily, meja ini juga bisa berfungsi sebagai tempat taro majalah dan koran. Setelah meja ini ketemu, meja bulat yang lama kemudian saya pindahkan ke area tangga 🙂 . O ya, meja itu merknya Funika dan saya beli dari Matahari Mall.

Trus sekarang untuk lukisan di atas sofa. Ini lagi, nyarinya lamaaa banget. Berkali-kali liat berbagai macam lukisan tapi gak nemu-nemu juga dengan yang klik di hati saya. Klik dalam artian begitu saya liat langsung suka dan langsung pengen bawa pulang. Kami gak pengen terburu-buru, karena itu, sebelum nemu yang pas dinding di belakang sofa itu kami biarkan polos begitu saja.

Sampe akhirnya, beberapa waktu yang lalu, ketika jalan-jalan di Informa, saya melihat lukisan bunga Lavender yang mana begitu saya liat lukisan itu, hati ini langsung terasa sangat adem. Lebih adem lagi karena suami juga suka. Langsunglah lukisan itu kami bawa pulang dan besok paginya kami pasang di atas ruang tamu kami, hingga saya pun akhirnya bisa bilang, welcome to my Lavender room….

My Lavender Room
My Lavender Room

Dibanding dengan penampakan sebelumnya (seperti yang terlihat pada foto pertama di post ini), tentu saya jauh lebih suka melihat ruang tamu kami yang sekarang karena sudah lebih komplit dengan furniture dan pernak-pernik yang lebih pas.

O ya, pot untuk pajangan bunga di atas meja juga saya ganti. Tadinya kan seperti yang terlihat di gambar sebelumnya, potnya berwarna coklat, dan saya gak suka karena  kehadiran warna coklat di ruangan ini seperti beda sendiri. Dulu itu demi supaya warna pot itu ada temennya, saya sampe naro pajangan warna coklat di atas coffee table itu yang mana akhirnya sesuai perkiraan, pajangan itu cuma nyempit-nyempitin aja, kalo ada tamu kudu disingkirkan biar ada tempat untuk naro cangkir dan cemilan buat tamu 😀 .

Potnya sekarang sudah saya ganti dengan warna putih, kemudian di atas mejanya dikosongkan biar gak perlu pindah-pindahin pajangan lagi kalo ada tamu datang.

Purple…purple…purple

Selain perubahan-perubahan di atas, saya juga bikin perubahan minor lainnya tapi ngaruh ternyata ke penampakan keseluruhan ruangan ini. Perubahan itu adalah arah meja coffee table di depan sofa. Awalnya saya memposisikan meja itu seperti menghadap ke dalam, sekarang saya ubah jadi menghadap ke luar, sehingga arahnya lebih nyambung dengan end table di samping sofa dan juga ngasih kesan yang lebih welcome.

My Lavender Room in the early morning (kurang lebih jam 6 pagi ini. Jam segitu aja di ruangan ini udah cukup terang yah...)
My Lavender Room in the early morning (kurang lebih jam 6 pagi ini. Jam segitu aja di ruangan ini udah cukup terang yah…)

Trus sekarang dengan begini apakah sudah puas?

Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya puas sih. Kalo boleh sebenarnya saya pengen pajangan tanaman tinggi di samping kanan sofa itu diganti dengan lampu dengan cahaya temaram, supaya kalo malam lampu utama ruang tamu ini bisa dimatiin dan yang nyala cuma lampu temaram itu aja, pasti kesannya lebih hangat serta romantis….hehe… Yah, nantilah kalo nemu lampu yang sesuai dan klik di hati. Untuk sekarang ini, mata saya udah cukup termanjakan melihat warna kesukaan saya jadi tema utama dalam ruang tamu kami…

Love…love…this room so much! Ini foto diambil sekitar jam 10 pagi. Terang benderang ya 😀

Trus karena lagi ngomongin soal ruang tamu, saya juga mau cerita dikit tentang teras  depan karena tempat ini juga jadi tempat kami nerima tamu. Kadang tamu datang gak duduk di dalam, tapi hanya duduk di luar. Apalagi kalo yang datang adalah temennya pak suami dan cuma satu orang. Biasanya sih mereka lebih milih ngobrol di teras daripada di dalam rumah.

Our terrace
Our terrace

Di teras depan kami hanya ada dua round stool dan satu round coffee table. Seadanya banget karena memang teras kami juga ukurannya kecil. Tapi segitu pun udah sesuai kebutuhan kok karena memang bukan ditujukan untuk duduk banyak orang di situ 🙂 . O ya, itu round table aslinya kami beli untuk ruang tamu kami lho. Dulu belinya waktu masih bingung nyari meja yang pas buat ruang tamu, trus liat meja itu entah kenapa mikirnya bisa cocok. Eh, begitu ditaro di depan sofa, ternyata asli gak cocok! Bentuknya gak pas, tinggi pun gak sesuai. Akhirnya karena gak cocok di ruang tamu, meja itu pun kami pindahkan ke teras trus kami cariin stool yang sesuai dan ketemu! Stool-nya warna hitam biar sesuai dengan warna pagar dan batu alam di dinding sebelah kiri teras. Mejanya juga pas berwarna putih, sama dengan warna kusen pintu dan jendela 🙂 .

Di atas meja saya taro pajangan yang udah sejak dulu ada, yaitu pajangan rumah khas Batak yang kami beli waktu bulan madu di pulau Samosir dulu. Selain itu juga ada pajangan guguk yang di lehernya tergantung papan bertuliskan “Welcome”, dan terakhir ada tanaman hidup yang masih termasuk keluarga Lidah Mertua.

Saya sengaja lho naro Lidah Mertua di sini, supaya kalo ada tamu suami yang ngerokok, maka udaranya bisa langsung dibersihkan oleh si Lidah Mertua ini…hehehehe…. Tapi sejauh ini sih hampir jarang ada tamu kami yang merokok. Ada beberapa, tapi biasanya karena suami gak ngerokok, jadi mereka juga berusaha nahan diri untuk gak ngerokok selama berada di rumah kami 😀 .

Begitulah pemirsa, cerita saya tentang ruang tamu dan teras di rumah kami. Senang, karena rasa kangen bercerita tentang rumah bisa terobati di hari ini 🙂 .

Iklan

27 thoughts on “Sunny Home Sweet Home: My Lavender Room and The Terrace

  1. suka banget kak dengan ruang tamunya.. padahal gambar yang pertama menurut saya udah oke banget, tapi setelah didandani lagi, lebih bagus lagi yah hasilnya..

  2. Bagus banget Liiis ruangannya. Jadi kebayang bagaimana bersih, rapi dan cerianya suasana rumah. Itu kombinasi warna ruang tamunya keren abis. Apa karena gw demen warna ungu juga ya? Hahahaha.

  3. Rumahnya nyaman Lis, kita kemarin waktu summer sempet pergi ke Lavender Field…cantiknya persis seperti di lukisan yang di atas sofa itu. Nanti semoga kalo sempet nulis di blog yah 😛

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s