If Only I Could Turn Back Time…

Beberapa bulan yang lalu, dalam sebuah ibadah Minggu yang kami hadiri, pendeta yang membawakan khotbah mengatakan hal yang kira-kira seperti ini, “Kepada bapak dan ibu yang sudah menikah dan terutama buat yang sekarang hadir bersama suami atau istrinya, saat ini saya minta Anda menoleh ke samping, lalu lihat lekat-lekat pasangan Anda kemudian tanyakan dalam hati, jika saat ini Anda diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengembalikan waktu yang telah lewat, tanpa memikirkan tentang anak-anak serta keluarga Anda, hanya perasaan Anda sendiri, apakah Anda masih bersedia menikah dengan pasangan yang kini ada di samping Anda?”

Waktu itu, seperti biasa, saya hadir dalam ibadah di Gereja bersama suami.

Saya pun menoleh ke arah dia yang juga sedang melihat ke arah saya.

Seperti permintaan pak pendeta, saya juga bertanya dalam hati. Apa yang akan saya lakukan jika waktu bisa berputar kembali? Setelah melewati waktu hampir 8 tahun bersama dia, akankah saya masih mau kembali dipinang olehnya dan sama-sama menjadi teman seumur hidup?

Pernikahan penuh dengan kejutan bukan? Dan saya bisa memastikan bahwa sebaik apapun seseorang merasa mengenal kekasihnya, tetap tak akan sebaik pengenalan yang didapat setelah menikah.

Sejujurnya, ketika memutuskan menikah dengan dia, saya merasa bahwa dia adalah “the one“, hanya karena saya tau pasti dia sangat mencintai saya, saya juga mencintai dia, kami berdua seiman dan sama-sama Kristen, dia orang yang baik, terlihat bertanggungjawab, punya pekerjaan yang baik, sepertinya punya masa depan, dan keluarga kami saling menerima satu sama lain.

Tapi sebesar apa cinta dia ke saya dan sedalam apa cinta saya ke dia, hanya bisa saya tau seiring waktu berjalan dalam pernikahan kami.

Begitu juga dengan iman kami. Apakah memang kami adalah pasangan yang seimbang dalam iman ataukah sebaliknya yang satu memang memegang teguh iman dalam Kristus sementara yang lain hanya berstatus beragama Kristen saja, hanya bisa terungkap setelah kami melewati badai demi badai dalam bahtera pernikahan kami.

Dia orang yang baik dan bertanggungjawab? Bakal sebaik apa? Bakal sebertanggungjawab apa? Ah, ternyata yang terlihat sewaktu pacaran belum tentu menentukan seperti itulah dia sebagai suami dan bapak.

Lalu tentang masa depan. Yang seperti apa yang dia tawarkan? Benarkah semanis janjinya ketika pacaran? Sekali lagi, hanya perjalanan waktu yang bisa menunjukkan.

Dan tentang keluarga kami yang saling menerima, yah namanya juga baru kenal, yang terlihat tentulah lebih banyak yang baik-baik saja. Seiring waktu ya gak tau deh bakal seperti apa nanti jadinya.

Jujur, saat itu saya tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal seperti di atas. Yang ada dalam hati hanya keyakinan bahwa memang kami berdua jodoh dan sudah dalam rencana Tuhan kami berdua bertemu, jatuh cinta, kemudian menikah. Hidup adalah misteri dan apa yang akan terjadi saya tidak tau…

dulu….

tapi sekarang, paling tidak saya sudah semakin tau. Tentang dia. Tentang kami berdua.

Kembali lagi ke pertanyaan di atas, jika waktu bisa dibalikkan, akankah saya masih mau menetapkan hati memilih dia?

Masih maukah saya delapan tahun yang lalu sibuk mengurus segala keperluan pernikahan kami yang alamak musti berjalan selama 3 minggu berturut-turut karena perbedaan budaya?

Masih bersediakah saya menjalani kesibukan di tanggal 08 Maret 08 itu? Pagi-pagi sudah bangun dan berias, deg-degan menanti kedatangannya untuk menjemput saya ke gereja?

Dan masih maukah saya bersedia mengikat janji sehidup semati dengannya di hadapan Tuhan?

Ya gak usah nanya ke kedalaman hati lama-lama sih. Sebentar aja saya udah tau jawabnya.

Seandainya saya bisa membalikkan waktu, saya akan tetap memilih dia dan hanya dia 🙂

Hari ini, usia pernikahan kami genap 8 tahun, dan saya masih terus merasa beruntung Tuhan memilihkan dia untuk saya. Dia sahabat yang setia, kekasih yang luar biasa, suami yang sangat baik, kepala keluarga yang bisa jadi teladan, bapak yang bertanggungjawab.

Dia punya kekurangan tentu, tapi saya juga punya, karena itu kami berdua sama-sama berproses menjadi lebih baik untuk masing-masing kami. Kami nyaman satu sama lain, mensyukuri keberadaan satu sama lain, dan bahagia karena hubungan indah di antara kami.

Saya dan suami lumayan sering membahas hubungan kami berdua.

Saya pernah tanya ke dia, apa yang akan terus membuat seorang suami terpesona dengan istrinya dan terus merasa beruntung memiliki istrinya. Secara pribadi, saya berpikir hampir tak mungkin suami terus terpesona karena tampilan fisik istrinya sebagaimana dulu dia terpesona saat pertama bertemu.

Dia pun bilang begitu. Laki-laki menyukai misteri dan secara fisik seorang istri bukan lagi misteri untuk suami. Tapi dia bilang, meski begitu, seorang istri akan tetap mempesona bahkan bertambah pesonanya oleh kelembutan hatinya.

Lembut hati yang seperti apa?

Sikap yang lemah gemulai?

Kalo pesonanya dari situ, udah bisa dipastikan saya udah lama gugur…hahahaha..

Lembut hati itu berarti mau dengerin dan saling mendengarkan, gak offensive ketika dikasih tau, juga mau ngerti kondisi suami.

Suami saya bilang, banyak temannya yang selingkuh karena terlalu sering terjadi bantah-bantahan dalam pernikahan. Suami bilang begini, istri langsung offensive bilang begitu. Suami mengharap begini, tapi istri gak terima. Akhirnya suami jadi malas ngasih tau dan akhirnya ketika menemukan teman bicara yang lebih nyaman, dia pun selingkuh. Dan yah, memang benar kan, pembicaraan dalam tahap pacaran tuh selalu manis dan indah, begitu juga ketika PDKT mau selingkuh…hehehe…. Yah, memang gak selalu karena alasan ini sih. Banyak juga yang selingkuh karena emang udah dasarnya mata keranjang 😛

Setelah cerita begitu, suami kemudian balik tanya ke saya, apa yang membuat istri betah bersama suaminya?

Saya bilang, istri akan betah, salah satunya kalo si suami selalu merasa beruntung memiliki dirinya dalam hidupnya. Kalo suami selalu merasa beruntung memiliki si istri, maka dia akan terus berusaha menjaga istrinya dan gak akan mungkin disia-siakan. Akan dijaganya, akan dilindunginya, akan diperhatikannya, dan akan terus berusaha dibahagiakannya. Saya juga cerita ke dia, istri banyak yang selingkuh, faktor utamanya karena itu. Dia ngerasa suaminya gak ngerasa beruntung lagi memiliki dia. Perhatian yang diharapkan pun tak didapatkannya lagi, akhirnya ya itu, dia nyari perhatian deh dari orang lain. Seenggaknya begitulah yang saya dengar dari pengalaman beberapa teman.

Lalu bagaimana dengan kami?

Puji Tuhan, sampai sekarang masih bahagia dan nyaman satu sama lain.

Perjalanan ke depan masih panjang dan perjuangan kami berdua dalam pernikahan ini pun masih banyak. Hidup akan tetap jadi misteri dan pernikahan akan tetap selalu penuh kejutan.

Tapi saya percaya, jika kami bisa menjaga hubungan kami, tetap terbuka seperti sekarang ini, dan terutama jika Tuhan Yesus selalu hadir di antara kami, maka apapun itu pasti bisa kami lewati. Sebagaimana yang pernah kami perbincangkan, kami berdua sama-sama berharap agar pernikahan kami bahagia, bukan karena keluarga yang kami miliki, bukan juga karena anak-anak, tapi karena memang hubungan indah di antara kami berdua.

Amin….

Buat suami saya yang terkasih, yang tersayang, dan yang tercinta, selamat hari jadi pernikahan yang ke-8 yaaaa…. I loved you once, I love you now, and I will love you forever!

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya.

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Efesus 5:22-31

PS:

Tujuan pak pendeta bertanya seperti di atas adalah sebagai bahan refleksi, sekaligus mengingatkan setiap pasangan bahwa penyesalan bisa saja datang, karena itu selalulah berusaha membuat pasangan bahagia agar tidak menyesal telah bersama kita 🙂

Iklan

45 thoughts on “If Only I Could Turn Back Time…

  1. happy anniv ‘da !!! kiranya keluarga terus menjadi kesaksian ya dimana pun berada. semakin banyak pasangan kristen yg sdh melupakan nilai luhur dr sebuah pernikahan, kiranya tdk demikian dg hubungan eda dan ito ya. Tuhan berkati kalian ! 🙂

  2. Tulisan yang bagus mbak, mengingatkan juga.
    Suka yg bagian apa yang akan terus membuat seorang suami terpesona dengan istrinya dan apa yg membuat istri makin betah dengan suaminya, jawaban2nya betul sekali mbak aku setujuu.
    Dan setuju sekali, kalau pengenalan yg sebenarnya adalah saat setelah menikah, Kadang sedih kalau dengar cerita dari teman2 yg mengalami hal bbeda saat pacaran dg stlh menikah, stlh menikah keluar sifat aslinya, KDRT, pemalas, suka bohong, bikin gemes pokoknya.

    Sekali lagi happy anniversary ya…

    *fotonya cantik dan ganteng, mb Allisa nampak langsing bgt he…

  3. Selamat ulang tahun pernikahan mbak allisa. Yang penting saling jujur aja sejak pacaran sampai nikah biar keduanya belajar untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Soalnya kalo udah merasa tidak nyaman dengan pasangan biasanya akan mulai melirik yang lainnya.

  4. Happy Anniversary Mba Lisa 🙂
    Smg kebaikan dan berkat selalu menyertai Mba skluarga.

    #btw selisih 1 hari ya Mba aku tgl 9 Maret 2001 en hari ini bisa dipastiin bakal dirayain org2 seEndonesia :v

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s