Tentang Media Sosial

Sebenarnya udah lama pengen nulis tentang ini, tapi ketunda-tunda terus karena memang waktu buat nulis akhir-akhir ini tuh sempit banget, hingga kepengenan itu menguap begitu saja. Sampe akhirnya kemarin, saya dan suami nontonin video di facebook yang isinya tentang bule yang ngomel-ngomel sendiri tentang kehidupan di Jakarta dan sedikit banyak juga menyinggung tentang media sosial dan kebiasaan orang yang cenderung pengen eksis terus di segala media sosial.

Saya sih bukan mau ngomongin si bule. Bukan juga mengiyakan apa yang dia omongin. Kalo mo jujur malah sebenarnya rada aneh juga sama si bule itu. Terlepas dari apakah yang dia omongin itu bener ato gak, tapi ngapain juga dia ngomel-ngomel tentang gadget dan media sosial kemudian direkam pake gadget dan di-upload ke media sosial juga? Sama aja boong kan? Apa bedanya itu dengan orang yang upload foto lagi makan di resto? Sama aja karena pengen orang laen tau apa yang lagi dilakuin kan? Dan orang juga pada akhirnya banyak yang bisa nontonin dia karena punya gadget dan bisa buka sosial media kan?

Ngomongin media sosial, saya sendiri termasuk salah satu penggunanya. Media yang aktif saya pake adalah blog dan facebook. Selebihnya tutup buku. Bukan karena anti, tapi karena ngerasa gak perlu aja. Saya butuh blog untuk ngedokumentasiin pemikiran saya dan aktivitas keluarga saya. Saya butuh facebook untuk saling kabar-kabari dengan keluarga dan teman-teman yang memang saya kenal. Meski aktif, tapi saya bukannya yang aktif-aktif banget dan hampir gak pernah upload foto di saat kejadian. Kalo mo pake istilah orang-orang, hampir semua foto yang saya upload adalah termasuk #latepost. Itu karena saya kalo foto-foto memang tujuannya untuk dokumentasi bukan untuk ditaro di facebook. Jadi ketika misalnya lagi maen bareng anak-anak, ada gaya mereka yang lucu atau ada kepintaran baru mereka yang saya liat, tentu aja saya langsung ambil hp/kamera buat rekam atau foto. Tujuannya ya itu, untuk dokumentasi. Setelah itu kemudian pas lagi gak ngapa-ngapain trus liat-liat foto ato video mereka lalu terpikir untuk upload ya baru saya upload.

Saya sering banget denger orang bilang kalo media sosial itu penuh dengan kemunafikan dan kebohongan. Apa yang di-upload, apa yang diceritakan, itu semua belum tentu sedemikian adanya. Apa yang terlihat baik dan wah dalam foto atau status, belum tentu se-wah itu kenyataannya. Yang terlihat langsing, kinclong, dan bersih di facebook belum tentu sebagus itu.

Orang bilang media sosial itu penuh kepalsuan.

Mungkin benar.

Jika hanya dilihat dari content-nya atau dari apa yang di-upload.

Mungkin memang benar apa yang terlihat begitu sempurna di media sosial, pada kenyataannya tidak sesempurna itu. Tapi siapa yang salah? Yang punya account kah? Atau orang yang menilai? Kalo menurut saya sih yang salah adalah orang yang menilai, karena menurut saya adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir hidup orang lain sempurna. Masih hidup di dunia, mana ada sih yang sempurna? Kalo pun yang ditampilkan hanya yang baik-baik aja, ya trus kenapa? Dia juga belum tentu kan karena dalam rangka pengen dianggap sempurna? Orang kan beda-beda dan itu hak masing-masing juga. Apa yang mo ditampilkan, apa yang mo disimpen, ya pilihan serta hak masing-masing orang. Mau ditampilkan yang palsu-palsu juga, ya udah sih terserah dia juga. Makanya yang ngeliat juga musti bijak lah. Kalo sekiranya gak sreg ya udah gak usah diliat-liat, apalagi jaman sekarang di facebook gampang kan, kalo gak suka tinggal di-unfollow, urusan pun selesai. Gak usah mesti sampe iri atau nyinyir. Ngapain nyinyirin urusan orang. Mo dia pamer, mo dia ngeluh, mencak-mencak, lebay, segala macamnya ya urusan dia. Kalo memang kita ngerasa perlu orang itu ditegur ya tegur. Kalo perlu dikuatkan ya dikuatkan. Kalo perlu dipuji ya dipuji. Kalo perlu saran ya dikasih saran. Kalo gak perlu diapa-apain ya udah didiemin aja. Urusan kelar.

Tapi tentu aja gak bisa semudah itu kelar. Namanya di dunia, baik maya maupun nyata, tipikal manusia mah banyak. Cara orang nanggapin juga ada terlalu banyak macam jenis. Itulah serunya di dunia ini..hahaha…

Tapi di balik semua yang kata orang banyak kepalsuan itu, pernah gak sih terpikir kalo sebenarnya media sosial itu punya kemampuan meng-capture kepribadian manusia seasli-aslinya bahkan lebih asli dari apa yang bisa terlihat di dunia nyata.

Aktivitas kita di media sosial, apa yang kita upload, apa yang kita tulis, sering justru menggambarkan diri kita secara lebih nyata.

Sebagai contoh, orang lain meski kenal di dunia nyata, mungkin gak akan tau kalo si A hobi masak jika bukan karena foto-foto hasil masakan yang si A upload di account media sosialnya.

Atau si B, perempuan berumur dua puluhan yang terlihat biasa-biasa dan normal-normal saja di kantor, ternyata begitu kenal di media sosial, baru ketahuan lebaynya bukan main.

Atau si C, di dunia nyata sih biasa yah, sama atasannya yang beda agama juga dia nunduk-nunduk mengiyakan apapun yang dikatakan bos. Eh ternyata begitu liat apa yang dia share di media sosial, baru ketahuan ternyata penganut paham chauvinisme agama.

Atau si D, terlihatnya sih cerdas dan banyak tau. Nah kok, ternyata demen dikit-dikit nge-share berita yang gak jelas juntrungan dan asalnya.

Atau si E, keliatannya pendiam dan tampak selalu ragu mengungkapkan apa yang dia pikirkan. Tapi ternyata di dunia maya begitu gencar mengkritik pemerintahan yang lagi berlangsung.

Atau si F, dari penampilan serta pembawaan jauh dari tampang tukang bully. Eh ternyata kalo di dunia maya bisa gitu ngasih komen bernada menghina yang pedesnya ampun deh lebih pedes daripada sambalado dan dilakukan secara beramai-ramai pulak.

Atau si G, dari penampakan terlihat garang dan berwibawa banget. Tapi ternyata di account media sosialnya penuh dengan kata-kata puitis.

Atau si H, si I, si J, yang kalo diteruskan gak bakal selesai-selesai.

Masih inget orang yang pernah menghina bapak presiden Jokowi yang mana kata penghinaannya mengandung unsur SARA terutama agama? Saya pernah baca, istrinya ketika diwawancarai juga gak nyangka kalo suaminya bisa mengeluarkan kalimat seperti itu. Itu artinya apa? Di dunia nyata itu orang gak akan berani mengeluarkan kalimat seperti itu meskipun telah terlintas di benaknya. Tapi media sosial memberikan dia sarana untuk mengeluarkan apa yang dia pikirkan.

Pernah tau juga kan orang yang pernah membunuh PSK yang mana ternyata dia kenal dengan PSK tersebut lewat twitter dan ternyata itu orang punya dua account twitter. Yang satu untuk hidup normal. Satunya lagi untuk hidup yang entah arahnya ke mana itu. Itu artinya apa? Kepribadian ganda dia di dunia nyata yang tak diketahui orang, tetap akan terbawa ke dunia maya.

Atau sering gak liat orang rame-rame nge-share foto yang terlihat agak aneh sedikit kemudian rame-rame juga menghina orang atau foto tersebut? Itu menunjukkan apa? Itu artinya manusia ini memang banyak yang sebenarnya punya bakat mem-bully. Di dunia nyata mungkin bakat nge-bully itu gak berani dikeluarkan, tapi di dunia maya mereka ngerasa bebas mengekspresikan bakat itu.

Media sosial memang menyediakan sarana untuk orang mengekspresikan diri yang mana pada akhirnya memang benar-benar menangkap kepribadian orang tersebut. Tak peduli mau seperti apa pun kita berusaha mencitrakan diri kita, pada akhirnya diri kita yang asli akan bisa terbaca juga di situ. Semakin aktif. Semakin mudah terbaca.

Satu contoh saja. Mau mencitrakan diri sebagai seorang ibu yang berdedikasi serta sibuk dengan segala urusan anak dan rumah? Silakan saja. Tapi tingkat keaktifan di media sosial sudah bisa menggambarkan sesibuk apa kita sebenarnya.

Di atas semuanya, aktivitas manusia di media sosial memang sungguh menggambarkan bahwa manusia pada dasarnya ingin terkenal. Ingin bisa dilihat oleh orang. Paling tidak oleh lingkungan di mana dia berada. Kalo yang satu ini sih manusiawi, meski sering disangkal.

Karena banyak hal yang tak bisa tergambar di dunia nyata tapi bisa terjabarkan di dunia maya itulah, maka makin ke sini makin banyak perusahaan yang kalo mo rekrut orang akan minta link ke social media account orang tersebut. Dari situ perusahaan bisa tau yang mana yang pantas direkrut dan mana yang tidak.

Kalo sudah gitu, yang mana sih yang sebenarnya palsu?

Yang kita tampilkan di dunia nyata atau di dunia maya?

Jawabannya sih ya….

Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang…

Hahahahahaha…

Pada dasarnya memang banyak sekali orang yang sungguh menganggap bahwa hidup ini panggung sandiwara, hingga di mana saja dia berada selalu saja berusaha bersandiwara, tanpa sadar bahwa sebaik apapun dia memainkan peran, karakter aslinya akan selalu bisa dibaca orang dan akan tetap muncul juga entahkah di maya ataukah di nyata 🙂

PS:

Saya pernah juga nulis tentang media sosial dengan judul yang SAMA di sini…hahahaha…miskin judul memang saya ini. Tapi walopun judulnya sama, subjek bahasan juga sama, tapi kontennya tetep beda kok..hehe…

Iklan

32 thoughts on “Tentang Media Sosial

  1. Setujuuu banget sama post ini. Pengguna medsos mesti siap dengan segala kelebayan para pengguna medsos lain. Intinya toleransi. Tapi itulah jadi muncul haters atau tmn yg komen gak penting. Teteplah ya walopun di dunia maya, etika tetep dijaga.

  2. Setuju banget sama postingan mba Lisa. Semua orang bebas aja kok mainan medsos,asal ada aturannya,sopan santun dijaga. Jadi walau postingan alay bin lebay harus tetap sopan yes 😛

    *ikutan goyang bareng rumput*

  3. Soal apa yang kita mau taruh di socmed itu sebenernya cerminan dari image yang kita build. Whether it is fake or it is real, intinya seperti itulah kita kepingin dilihat orang. Org post sesuatu, pasti ada intensi tertentu, minimal mereka tau kalo itu bakalan dilihat orang jadi biasa awarenessnya lebih tinggi terhadap apa yg mau diperceive oleh orang lain. And unfortunately, lots of people worked to hard to create the image that they want others to perceive. Selalu ada 2 sisi soal socmed, sama seperti orang berpakaian kelewat seksi yang lewat di tengah pasar. Kalau cowok ngelihat matanya melongo, yang salah cowoknya, atau karena berpakaian gak pada tempatnya? Buat cowoknya mau memalingkan muka juga gak semudah itu, soalnya semua terpampang nyata…. *ala syahrini hahahaha*

    1. Kalo sampe harus kerja demikian kerasnya buat bangun image di dunia maya rasanya mmg terlalu ya Le, gak kebayang kalo diri sendiri ngelakuin itu pasti capek banget padahal ujung2nya useless juga…

      Betul Le, segala sesuatu dari dunia ini bisa dilihat dari dua sisi, tinggal tergantung mau liat dari sisi mananya. Soal cewek pake baju kelewat seksi trus diliatin cowok, yah itu udah jadi resiko lah ya. Tapi tetep adalah kejahatan dari si cowok kalo sampe gara2 baju seksi si cewek diperkosa. Begitu juga di medsos kalo ada yang demen curhat kelewatan, tentu udah jadi resikonya kalo kemudian orang yang baca jadi kepo dengan issue yang lagi dia hadapi. Tapi gak bener rasanya kalo kemudian yang baca jadi nyinyirin itu orang yang demen curhat, yang mana nyinyir dan nyindirnya di medsos juga. Kalo gak suka kan tinggal gak dibaca aja, gak usah digituin 😀

  4. sepakat banget mbak. Tadinya agak “geram” juga dengan teman yang sering ngeluh sibuk banget ngurus rumahnya, lha di timeline, setiap sekian menit dia update status. Terus saya kasih komen deh, agak “miring” gitulah, karena saya kan tahu keseharian dia gimana. Langsung deh dia nggak pernah ngeluh lagi sama saya, pindah ngeluhnya ke orang lain 🙂

    1. Aku juga ada kenalan kayak gitu mbak, dan setiap kali dia update status pasti ada hashtag #supermom-nya 😀 . Saya sih baca ketawa aja, soalnya kebayang diri sendiri kalo lagi sibuk di rumah kok gak kepikiran ya buat buka2 fb trus update status 😀

  5. setuju setuju. klo udah mulai sensi sama postingan users/teman2 lain, ya brati it’s time for me to cut back social-media-ing (alias mengurangi/berpuasa). fokusnya di nulis ttg diri sendiri aja, hehehe. gak usah baca2 tulisan/postingan orang lain dulu.

  6. Edaaaa…hahahahah setuju banget tuh yg bagian #supermom sibuk urus anak dan rumah critanya padahal update sosmed. Hahaha… kalau kata temenku…sesibuk2nya harus teteup update status…wakakaka…yah tereserahlah ya tapi ga usah pakai hestag #supermom segala. Hihi

  7. Gw setuju banget sama yg lu bilang itu masalah penilaian yg ngeliat juga. Emang di balik pencapaian pasti ada perjuangan dong ya. Gak ada yg instan. Jd kalo org posting Ttg pencapaian doang ya emang mesti tau kalo di balik itu pasti ada effort nya.

    Kalo gw sih as long as kita posting nya gak merugikan atau menipu org ya biarin lah org mau menilai apa ya. Suka suka mereka mau menilai. Suka suka kita juga mau posting hahaha

    1. Setuju banget Man. Dibalik semua kesenangan pasti ada susahnya dong ya. Dibalik pencapaian, ya tetep lah ada usaha di balik itu. Sering usahanya juga lumayan sulit buat kita, dan aku sering ngalamin saking sulitnya sampe gak tau mo ceritainnya gimana dan ketika diceritain pun karena ceritainnya setelah yang sulit itu lewat, maka bahasanya pun jadi ringan hingga mungkin akhirnya yang baca nganggap itu mudah2 aja…Padahaall..ahhh..sudahlah..hihihi..

      Iya Man, suka2 kita mau posting ttg apa, toh yang diceritain juga keadaan sebenarnya dan bukan dalam rangka maksud dianggap gimana2. Biarkan aja orang mo berasumsi kemudian berkomentar berdasarkan asumsinya sendiri, yang penting kita asik2 aja dan gak ganggu orang 😀

  8. Setuju sama isi postingan ini. Kalau gak suka tinggalkan aja atau gak udah di liat. Rempong bgt sampe ngerasa jd terganggu ya hehe. Cuman aku emang milih posting yg happy2 aja deh, kalau yg gak happy disimpen dalam
    Lemari hhee

  9. setuju. saya secara pribadi lebih ga perduli mau org post apa, mau lebay melambay dll. yang jd masalah kan kalo mulai nyinyir2an ya mba hehehe lah FB punya kita. twitter punya kita. terserah masing2 mau diapain,

  10. Iya kak. Emang bener medsos itu penuh kepalsuan. Tp bener juga kalo lewat medsos kita bisa tau siapa dia sebenarnya hahaha.
    Saya sekarang udah off sosmed kak. Males. Isi2nya bikin nyesek hahaha. Jadi ditinggalin aja deh

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s