Dari Etika Hingga ke Dyesebel dan She Was Pretty, Berakhir di Gaudeamus Igitur

Udah lama gak cerita yang ringan-ringan di sini. Pagi ini sebenarnya saya berencana mo nulis resep Durian Muffin di sini, tapi trus kepikiran mo nulis yang lain gara-gara di TV kembali lagi pagi ini rame sama sidang itu tuh…yang etika catut mencatut itu…hehe…

Gara-gara sidang itu, dari sejak minggu lalu ada tontonan yang menarik banget di TV. Lumayan ya pemirsa, tontonannya bikin aneka rasa dalam hati. Mulai dari gemes hingga geli sampe ngakak sendiri. Apalagi kalo abis nonton trus baca-baca segala macam tulisan orang tentang #pertanyaanMKD di Twitter, asli deh gak mungkin gak ngakak…hihihihi… Hari ini katanya si terlapor ya yang mau disidang. Trus kabarnya sidangnya mundur ke jam 1. Yah mari dilihat bersama bakal kayak apa sidangnya dan terutama seperti apa hasilnya nanti. Mari doakan saja semoga hasilnya nanti memuat prinsip keadilan ya pemirsa. Amiiinn….

Nah, selain sidang itu, akhir-akhir ini juga ada beberapa tontonan yang lagi suka saya ikuti.

Pertama adalah sinetron dari Filipina yang judulnya Dyesebel.

Sumber gambar dari sini

Ini sebenarnya kejebak aja sih dan aslinya saya gak ngikutin dari awal. Ini cuma gara-gara TV di ruangan aja yang selalu nyala kalo pagi. Awalnya saya juga hanya karena penasaran, karena perasaan kok somewhere, somehow, sometime, saya pernah denger nama Dyesebel. Begitu dilihat, ternyata ceritanya tentang puteri duyung dan merupakan dongeng dari Filipina. Ingatan saya pun langsung melayang ke sekian tahun silam, ketika masih SD, rasanya pernah nonton film dari Filipina yang juga bercerita tentang putri duyung.

Begitu saya cari di internet, ternyata benar, judul film lampau itu juga sama, yakni Dyesebel. Ah, ternyata ingatan saya tidak salah. Gimana jalan cerita di film itu saya sendiri sebenarnya sudah gak terlalu ingat. Yang pasti intinya tentang putri duyung bernama Dyesebel yang kemudian jatuh cinta pada manusia. Sayangnya di film itu seingat saya ending-nya menyedihkan karena akhirnya Dyesebel meninggalkan cintanya dan kembali ke laut. Nah, kalo di sinetron ini saya gak tau deh bakal berakhir seperti apa, saya juga gak tau apakah bakal betah nontoninnya, mengingat jumlah episodenya ada 90. Dari jumlah episodenya aja udah malesin ya, kebanyakan dan kepanjangan….hehehe…. Cuma sampe sekarang sih masih betah aja tiap hari nonton. Lumayanlah biar ada yang seger-seger diliat sembari kerja. Kalo aktingnya sih ya lumayanlah, yang pasti gak katro kayak pemain sinetron Indonesia. Sayangnya karena di-dubbing, jadi kualitas akting pun terlihat menurun. Trus kalo dari teknik pembuatannya sendiri, masih kurang sana-sini dan banyak detil yang tidak diperhatikan. Tapi tetep, masih jauuhh lebih enak dilihat ketimbang sinetron kita 😛 . Bagian paling menakjubkan adalah bagaimana mereka membuat ekor ikan di setiap duyung terlihat begitu indah, nyata, dan menyatu. Sayangnya karena ditayangkan di TV kita, jadilah bagian dada para putri duyung dikabur-kaburin…lagi-lagi, bikin keindahannya jadi jauh berkurang..hehe…

Sumber gambar dari sini
Sumber gambar dari sini

Tontonan kedua yang lagi saya suka adalah She Was Pretty.

Sumber gambar dari sini

Nontonnya sih bukan di TV kantor, tapi di rumah. Ini juga aslinya kejebak dari hasil promosi anak-anak di kantor. Jadilah ikut-ikutan nonton. Eh, ternyata dramanya bagus, yah, namanya juga Korea ya, jarang lah ada dramanya yang tak layak tonton. Asiknya, suami juga mau ikutan nonton drama ini dan buat saya itu keuntungan yang besar banget.

Keuntungan pertama, karena suami ikut nonton jadi saya gak bisa sesuka hati nonton seluruh episode sampe pagi karena ada dia yang batesin dan nyuruh-nyuruh tidur ketika jam udah hampir menunjukkan jam 10 malam. Waktu nontonnya pun liat-liat kondisi, gak bisa terus-terusan. Pokoknya jadi banyak aturan deh. Jadilah, udah dari sejak Jumat nonton, sampe sekarang baru sampe episode 9. Kalo saya nonton sendiri tanpa supervisi pak suami mah, nonton drama Korea 16 episode, gak mungkin lah bisa lebih dari dua hari. Cepat, tapi ngorbanin banyak hal, terutama waktu tidur…hehehe… Untunglah dengan supervisi pak suami, saya nontonnya jadi gak bablas dan tentunya jadi tak ada yang dikorbanin.

Keuntungan kedua, karena saya berharap agar tingkat keromantisan pak suami bisa lebih meningkat…hihihihi… Sungguh, buat saya bagus juga kalo cowok sekali-sekali nonton drama korea yang genre-nya komedi romantis, biar jadi agak-agak romantis dikit…hehehe… Yah, semoga aja ya pemirsa, suami saya memang bisa jadi lebih romantis lagi setelah nemenin istrinya nonton drama Korea 😀

She Was Pretty sendiri ceritanya tentang dua sahabat bernama Kim Hye Jin dan Ji Sung Joon yang berteman sejak mereka masih kecil. Saat masih kecil itu, Kim Hye Jin adalah gadis yang cantik dan diidolakan oleh semua anak cowok. Sebaliknya, Ji Sung Joon adalah anak cowok bertubuh gendut, berkacamata, dan rada penakut. Meski yang satu cantik dan satunya jelek, tapi mereka berdua berteman akrab dan bahkan saling jatuh cinta.

Sumber gambar dari sini
Sumber gambar dari sini

Sayangnya Ji Sung Joon kemudian diajak bapaknya pindah ke Amerika. Mereka kemudian berpisah namun tetap saling komunikasi via surat. Namun komunikasi mereka putus setelah bapaknya Kim Hye Jin bangkrut dan mereka pindah ke rumah lain yang lebih kecil. Dalam kemiskinan, Kim Hye Jin pun kehilangan banyak hal, termasuk kecantikannya.

Tahun-tahun berlalu, setelah mereka gede, mereka bertemu lagi dalam kondisi yang kini terbalik.

Ji Sung Joon berubah dari anak laki-laki gendut dan penakut, menjadi cowok ganteng berkharisma. Sementara Kim Hye Jin dari gadis cantik dan modis, menjadi wanita berpenampilan buruk.

Di situlah dramanya mulai. Ji Sung Joon gak lagi mengenal Kim Hye Jin, dan Kim Hye Jin pun tak percaya diri mengakui dirinya di depan Ji Sung Joon, hingga meminta temannya Min Ha-ri buat berpura-pura jadi dirinya.

Meski begitu, namanya jodoh gak kemana ya, ternyata Kim Hye Jin kemudian bekerja di kantor sebuah majalah di mana wakil pemimpin redaksinya adalah Ji Sung Joon. Dan di kantor itu juga Kim Hye Jin bertemu dengan Kim Shin-hyuk (diperanin sama Siwon nih 😀 ), sehingga lengkaplah sudah seluruh pemeran membentuk kisah cinta segi empat khas drama Korea…hehehe…

Sumber gambar dari sini

Sejauh ini, sepanjang nonton suami saya gak banyak protes, soalnya dia juga memang mengakui kalo drama produksi Korea itu biasanya dibikin dengan serius makanya hasilnya bagus dan jauh dari kata norak. Seandainya dia saja ajak nonton Dyesebel, beuh…udah bisa itu dibayangkan, dia gak akan betah nemenin bahkan hanya untuk 5 menit sekalipun 😀

Oh ya, seperti biasanya di drama Korea yang suka pake ponsel satu jenis semua, di She Was Pretty juga semua pemeran menggunakan ponsel yang sama, kali ini yang mereka pake adalah si Galaxy Note 5…huehehehehe…

Terakhir, yang mo saya cerita adalah tentang Gaudeamus Igitur.

Pada tau kan dengan Gaudeamus Igitur?

Yang tau tentu tau pasti kalo itu bukan judul drama melainkan judul lagu yang biasa dinyanyiin saat penerimaan mahasiswa baru dan saat wisudaan…hehehe…

Saya mau cerita tentang ini gara-garanya baru tadi pagi saya akhirnya tau apa arti lagu itu. Dulu waktu masih kuliah, saya hanya tau kalo lagu berbahasa latin ini adalah lagu kebangsaan para mahasiswa yang mana hal itu terlihat jelas pada lirik, “vivat akademia, vivant professores”, jadi dalam benak saya udah pasti lah isinya gak jauh-jauh dari soal pendidikan dan kemahasiswaan.

Sampai tadi pagi, adek saya ngirimin pesan di WA yang mana isi pesannya itu adalah mengartikan kata per kata dalam lagu Gaudeamus Igitur, dan saya pun terkejut membaca artinya. Oalah, ternyata lagu itu gak melulu bercerita tentang pendidikan. Penasaran, saya cari di Wikipedia soal lagu itu, dan ternyata arti yang dikirimkan oleh adek saya itu benar adanya.

Berikut saya tuliskan di sini arti dari lagu Gaudeamus Igitur itu.

Gaudeamus igitur

Gaudeamus igitur
Mari kita bersenang-senang
Juvenes dum sumus.
Selagi masih muda.
Post jucundam juventutem
Setelah masa muda yang penuh keceriaan
Post molestam senectutem
Setelah masa tua yang penuh kesukaran
Nos habebit humus.
Tanah akan menguasai kita.

Ubi sunt qui ante nos
Kemana orang-orang sebelum kita
In mundo fuere?
Yang pernah hidup di dunia ini?
Vadite ad superos
Terbanglah ke surga
Transite in inferos
Terjunlah ke dalam neraka
Hos si vis videre.
Bila kau ingin menjumpai mereka

Vita nostra brevis est
Hidup kita sangatlah singkat
Brevi finietur.
Berakhir dengan segera.
Venit mors velociter
Maut datang dengan cepat
Rapit nos atrociter
Merenggut kita dengan ganas
Nemini parcetur.
Tak seorang pun mampu menghindar.

Vivat academia!
Panjang umur akademi!
Vivant professores!
Panjang umur para pengajar!
Vivat membrum quod libet
Panjang umur setiap pelajar
Vivant membra quae libet
Panjang umur seluruh pelajar
Semper sint in flore.
Semoga mereka terus tumbuh berkembang.

Vivant omnes virgines
Panjang umur para gadis
Faciles, formosae.
Yang sederhana dan elok.
Vivant et mulieres
Juga, hidup para wanita
Tenerae, amabiles
Yang lembut dan penuh cinta
Bonae, laboriosae.
Jujur, pekerja keras

Vivant et res publica
Hidup negaraku
et qui illam regit.
Dan pemerintahannya.
Vivat nostra civitas,
Hidup kota kami,
Maecenatum caritas
Dan kemurahan hati para dermawan
Quae nos hic protegit.
Yang telah melindungi kami.

Pereat tristitia,
Enyahlah kesedihan,
Pereant osores.
Enyahlah kebencian.
Pereat diabolus,
Enyahlah kejahatan,
Quivis antiburschius
Dan siapa pun yg anti mahasiswa,
Atque irrisores.
Juga mereka yang mencemoh kami

Benar kan, ternyata tidak melulu tentang pendidikan kan? Sekilas malah sepertinya lagu ini kok intinya mengajak anak muda untuk hidup hepi-hepi ya? Gak heran kalo ternyata malah ada yang menganggap lagu ini berisi ajakan bagi para anak muda untuk hidup dalam hedonisme.

Padahal sih sebenarnya kalo liriknya dibaca baik-baik ya gak gitu juga ya. Lagu ini memang mengajak anak muda untuk memiliki hidup yang bersemangat namun sekaligus mengingatkan bahwa hidup ini hanya sebentar saja 🙂 .

Sebenarnya lagu ini juga adalah bentuk perayaan dan merupakan ucapan selamat para mahasiswa untuk dirinya sendiri yang telah melewati tahun-tahun belajar yang penuh kelelahan dan kesukaran. Sebuah perasaan yang bisa banget dimengerti, karena memang kuliah itu capek ya pemirsa, dan bener deh begitu sudah lulus tuh, rasanya legaaaa bukan main 😀

Yah begitulah, meski lagu itu tak ada hubungannya lagi dengan hidup saya sekarang, tapi rasanya senang juga karena akhirnya setelah sekian tahun saya bisa tau juga apa artinya lagu itu.

Di sisi lain, kejadian ini bikin saya bertanya-tanya tentang level keingintahuan saya. Selama ini saya selalu berpikir bahwa saya orangnya punya rasa keingintahuan yang cukup besar karena itu demen banget membaca berbagai macam hal, sehingga akhirnya membuat beberapa orang di sekeliling saya bilang kalo saya punya pengetahuan yang luas sekali.

Tapi kalo saya ingat-ingat sendiri, sebenarnya gak gitu juga sih, karena salah satu buktinya adalah kejadian lagu Gaudeamus igitur itu. Saya udah tau lagu itu dari dulu, tapi gak pernah penasaran atau kepengen tau artinya apa. Kalo keingintahuan saya besar, harusnya udah dari dulu dong saya bertanya-tanya itu lagu artinya apa?

Saya membayangkan, seandainya itu terjadi pada si abang, dia pasti akan segera bertanya keseluruhan arti dari lagu itu dan saya tidak akan dibuatnya tenang sebelum bisa memberikan jawaban yang pasti ke dia.

Jadi saya sebenarnya tak punya keingintahuan yang besar seperti si abang yang dikit-dikit bertanya. Itu apa? Ini apa? Sampe yang ditanyain pusing sendiri. Kapan hari gak sengaja dia ngeliat tabel periodik unsur Kimia. Dan sejak hari itu hidup saya hampir tidak tenang, karena hampir tak ada hari yang terlewati tanpa dia nanya-nanya soal unsur-unsur Kimia, nomor atom, dan segala simbolnya. Ah anakku, tak tau kah dirimu bahwa meski mama ini anak IPA tapi tak pernah jatuh cinta pada pelajaran Kimia? Punya anak seperti si abang, di satu sisi bahagia dan bersyukur, tapi terkadang memang merepotkan juga…hihihihi…

By the way, ini tulisannya sebenarnya gak ada intinya ya. Gak heran kalo judulnya juga gak jelas entah apa. Tapi gak apalah, kadang saya kangen memang nulis cerita-cerita random kayak gini 🙂

Selamat hari Senin buat semua yaaa…

Iklan

23 thoughts on “Dari Etika Hingga ke Dyesebel dan She Was Pretty, Berakhir di Gaudeamus Igitur

  1. Kalo yang sidang catut mencatut itu gw cuma tahan lima belas menit nontonnya. Mending baca timeline twitter aja Lis. Huehehe.
    Btw jadi kebayang betapa dubbing dan sensor yang dipaksain menghancurkan di Dyesebel deh Lis. Hihihi.
    Kalo menurut gw drakor bisa jadi sarana memupuk keromantisan juga kok. Sesekali gw ama Bul nonton. Hihihi.
    Soal lagunya. Setuju. Lagunya juga ngingetin akan masa depan. Gak melulu tentang hedonisme. Kalo ada yang ngartiin gitu sih ya bisa-bisanya aja.

    1. Hihihi..iya Dan, sebenarnya malesin yaa..gemes sendiri nontonnya. Ada beberapa momen yang bikin pengen lemparin gelas ke TV, tapi inget itu TV sendiri jadi batal deh..hahahaha

      Bener banget Dan, sensor dan dubbingnya ngancurin banget. Sayangnya itu sinetron gak ada di youtube, padahal kalo pake bahasa asli pasti lebih enak ditonton.

      Lagian drakor tuh gak melulu menye2 kan Dan, biasanya banyak komedinya juga jadi buat cowok masih bisa lah dinikmati 😀

  2. Waduh, jauh bgt Dyesebel sama sinteron Duyung made in Indonesia. Yg buatan kita, special effectnya……. Ckckkc…. Nggak bisa dibilang SPECIAL sama sekali, hahaha….. #parah

      1. Haduh, iya..itu kenapa mereka bisa bikin sinetron senorak itu ya? Aku heran deh Tyk perasaan kok kita sama Filipina masih lebih maju kita, tapi kok mereka bisa bikin sinetron yang seenggaknya lebih serius penggarapannya dari kita ya?

  3. Aku udah finish nonton she was prettynya dong Lis… Hahahhaa
    Wkatu itu tiap kamis ama jumat nungguin updetan drakornya yg diputer di korea tiap rabu ama kamis. Berasaaa banget sebelnya karna pnasaran dan ga sabar pengen liat kelanjutannya.
    Untung berakhir hepi ending ini drakor.. Hihihihi

  4. owalaaahhh baru tau artinyaaa itu lagu gaudeamus igitur. sama, dulu kok ga kepikiran cari tau artinya ya. Serasa keren aja nyanyiin lagunya dg syahdu dan penuh wibawa, kesannya resmiiiii dan formal banget. hahaha….

  5. Kalo yg sidang etika etiket an ., ngelirik aja ogah apalagi nonton.. Si abang saya kunci in di ruang tv biar suara orang yang berantem ndak kedengeran dikamar.. Kalo drakor .. Wah tqu .. Mau nyari dvd nya., nontok disc 1 dan langsung disc terakhir..😝😝 dan makin pengen ganti note 5…

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s