Mari, Terbuka Bicara Dengan Anak Tentang Ini….

Udah dari dulu saya tau kalo pendidikan s*ks untuk anak sejak dini itu penting banget dan dari dulu juga saya tau bahwa bukan jamannya lagi sekarang ini untuk menganggap tabu membicarakan dengan anak tentang s*ks sebagai fakta penting dalam kehidupan ini.

Saya tau, tapi bukan berarti sejak dulu saya sudah siap untuk itu.

Kalo hanya tentang seputaran anggota-anggota tubuh, mana yang bisa diekspose dan mana yang harus dilindungi, beda perempuan dan laki-laki, sentuhan seperti apa yang harus ditolaknya, serta menyebut organ vitalnya dengan nama sebenarnya yaitu p*nis, maka bagi saya masih tak terlalu sulit dan tak jadi pergumulan.

Tapi ketika berbicara soal fakta tentang bagaimana kehidupan tercipta, maka itu adalah bagian yang cukup sulit untuk saya. Maklum lah ya, saya sendiri berasal dari keluarga yang cukup konservatif yang tidak pernah secara terbuka dan terang-terangan membicarakan soal s*ks, terutama pada bagian inti yaitu proses paling penting yang harus dilakukan untuk menghasilkan bayi dalam perut ibu. Orangtua saya tidak pernah membicarakan tentang hubungan laki-laki dan perempuan secara terang-terangan seperti itu. Seiring saya besar, akhirnya saya mengetahui dengan sendirinya misteri itu. Bukan dari orangtua, tapi pertama kali tau tentang itu dari teman-teman di SD. Waktu itu saya masih kelas 2 SD ketika pertama kali mendengar teman saya berbicara tentang itu.

Setelah akhirnya punya anak sendiri, banyak hal dalam perkembangannya yang saya tunggu-tunggu. Tak sabar liat dia lahir, bisa tengkurap, duduk, merangkak, berjalan, hari pertama sekolah, dan sebagainya. Tapi saya gak pernah ingat merasa tak sabar untuk membicarakan tentang hubungan s*ks pria dan wanita dengan anak saya. Seperti yang saya bilang, saya tau itu penting, tapi bukan berarti saya sudah siap untuk itu.

Ketidaksiapan saya juga salah satunya disebabkan oleh rasa bingung dengan apa yang harus saya katakan pada anak saya dan sejauh apa saya harus berbicara terang-terangan dengan dia. Yang mengesalkan, dari banyak referensi yang saya baca, mereka hanya bilang bahwa orangtua harus terbuka tentang s*ks pada anak dan harus bisa menjelaskan dengan kalimat sederhana yang bisa dipahami anak ketika anak mulai bertanya dari mana bayi berasal. Pertanyaan pentingnya buat saya, kalimat sederhana yang bisa dipahami anak itu seperti apa??? Sayangnya, tak ada satu pun literatur yang saya baca yang bisa memberikan contoh dengan konkrit. Malesin.

Karena dulu saya tidak siap, maka ketika di usia 3 – 4 tahun si abang mulai bertanya dari mana bayi berasal, saya hanya bilang kalo bayi berasal dari Tuhan. Tuhan yang naro benih bayi di perut mama, benih itulah yang kemudian tumbuh dan berkembang jadi anak bayi hingga siap dilahirkan. Penjelasan yang yah, memang pada dasarnya benar sih, tapi saya tau tak akan cukup menjawab rasa penasaran si bocah. Makanya gak heran kalo setelah itu dia masih suka nanya pertanyaan yang sama, gimana bayi bisa ada di perut mama?

Sampai kemudian suatu hari, tak sengaja saya melihat iklan buku berjudul Mom & Her Son yang ditulis oleh Dr. Kevin Leman di buku Renungan Harian. Seketika, ada ketertarikan yang besar sekali untuk membeli buku itu, waktu itu simply ketertarikannya because I am a mom and I do have two sons.

Maka jadilah, buku itu saya beli dan puji Tuhan, pada akhirnya saya benar-benar bersyukur karena telah memutuskan untuk membeli buku itu!

Tidak saja hanya karena buku itu membuka banyak sekali hal dan membuat saya semakin sadar tentang besarnya pengaruh yang bisa seorang ibu berikan pada anak laki- lakinya (dibanding ke anak perempuan) yang mana pengaruh itu jauh lebih besar dari apa yang bisa diberikan oleh seorang ayah, tapi juga karena buku itu bisa menjawab apa yang selama ini masih menimbulkan kebingungan dan keraguan saya mengenai pembicaraan tentang s*ks dengan anak.

Pada usia berapa anak sudah bisa dijelaskan tentang bagaimana ayah dan ibu membuat bayi?

Siapa yang harus menjelaskannya dan bagaimana caranya?

Dan lalu bagaimanakah dampaknya ke anak? Amankah untuk kejiwaannya?

Puji Tuhan, dengan membaca buku itu, satu per satu pertanyaan saya terjawab sudah.

Jadi pemirsa, di buku itu bilang bahwa anak sudah bisa dijelaskan tentang hubungan laki-laki dan perempuan kapan saja ketika dia sudah mulai bertanya dari mana bayi berasal. Bahkan dibilang, jika sampai usianya 9 tahun dan anak belum pernah bertanya, maka orangtua harus mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan itu.

Orangtua yang mana? Papa atau mama?

Selama ini saya selalu mengira kalo udah paling pas papa yang menjelaskan untuk anak laki-laki sementara mama menjelaskan untuk anak perempuan, karena itu adalah pembicaraan pribadi. Teringat saya dulu waktu dapat haid pertama, yang kemudian ngajak saya bicara adalah mama saya.

Tapi ternyata yang seperti itu kurang tepat. Ibu punya pengaruh yang sangat besar untuk anak laki-laki. Sebaliknya, ayah memberikan pengaruh yang luar biasa untuk anak perempuan. Keterbukaan pembicaraan tentang s*ks antara dua gender yang berbeda akan semakin menanamkan pada anak bahwa s*ks bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. Lagipula. pembicaraan soal ini tidak hanya akan terjadi ketika anak kecil saja, tapi justru harus semakin mendalam seiring anak besar. Nantinya anak laki-laki akan mengalami mimpi basah, saat itu seorang ibu harus bisa menjelaskan ke anaknya tentang konsekuensi ‘kedewasaan’ si anak dan karena ibu adalah perempuan maka ibu juga yang paling tau bagaiamana seorang perempuan ingin diperlakukan secara hormat. Jika ibu telah memiliki keberanian untuk terbuka sejak dini dengan anak laki-lakinya, maka anak tidak akan merasa terlalu canggung lagi untuk membicarakan mengenai mimpi basah dan bahkan tentang pacaran dengan ibunya. Dr. Kevin bilang bahwa saran yang bisa diberikan oleh seorang ayah tentang bagaimana perempuan ingin diperlakukan tidak akan pernah sebaik saran yang bisa diberikan seorang ibu, lagi-lagi ya karena ibu adalah perempuan yang tentu saja ngerti banget lah ya gimana perasaan perempuan itu.

Jadi oke, kesimpulannya adalah saya harus memiliki keberanian untuk menjelaskan ke si abang gimana caranya bayi bisa ada dalam perut ibu. Kalau keberanian itu saya miliki, maka itu adalah langkah awal mengajak si abang (dan si adek juga nanti) untuk mau terbuka membicarakan hal seputar s*ks dan hubungan pria-wanita dengan saya.

Trus apa yang harus saya bilang untuk menjawab pertanyaan sesederhana pertanyaan bagaimana bayi hadir itu?

Buku itu bilang ya gak usah mikir yang susah-susah apalagi mencari kalimat sederhana yang katanya bisa dimengerti oleh anak. Kasih tau aja. Perempuan punya v*gina. Laki-laki punya p*nis. Untuk membuat bayi, p*nis harus dimasukkan ke dalam v*gina perempuan. Begitulah cara papa dan mama membuat bayi. Titik. Selesai.

Trus dampaknya ke anak nanti gimana? Tidakkah itu akan membuat dia berpikir yang tidak-tidak dan belum pantas?

Ternyata sama sekali tidak, saudara-saudara. Sebaliknya, keterbukaan orangtua menjelaskan hal itu ke anak akan menanamkan pemikiran ke anak sejak dini bahwa dia bisa membicarakan apa saja dengan orangtuanya! S*ks adalah hal yang sifatnya sangat pribadi. Jika yang itu saja bisa dibicarakan dengan orangtua, maka apa lagi yang tidak bisa dibicarakan? Ke depannya, hal ini akan memberikan dampak luar biasa besar ketika semakin banyak pengaruh dari luar yang masuk ke diri anak.

Saya teringat pengalaman saya sendiri, sejak dulu saya tak pernah berpikir bahwa saya bisa membicarakan soal s*ks dengan orangtua, salah satu penyebabnya adalah kenyataan bahwa mereka tidak pernah menjelaskan ke saya ‘fakta penting terjadinya kehidupan’ itu sejak awal. Saya tau sendiri, dari teman kemudian dari pelajaran-pelajaran di sekolah. Ketika kemudian mama ngajak saya bicara secara pribadi saat saya mendapat haid pertama, tanggapan saya hanya, “Oh ya, aku udah tau ma….”. Meski saya dekat dengan papa dan mama, tapi dalam hati saya selalu tau bahwa ada hal-hal yang tidak boleh menjadi bahan pembicaraan antara orangtua dan anak. Bersyukur, dalam perkembangan saya selanjutnya hampir tidak ada pengaruh buruk yang masuk perihal s*ks itu, sehingga saya pun aman-aman aja. Tapi masa depan anak-anak kan saya gak tau ya, bagaimana pergaulan mereka nanti dan seberapa besar dampaknya untuk anak saya juga gak tau. Mending dari awal saya mempersiapkan mental mereka dan saya sendiri. Yang pasti saya ingin anak-anak terbuka dengan orangtuanya dan sejak awal mereka merasa pasti bahwa mereka bisa membicarakan apapun dengan kami.

Usia abang ini adalah usia yang cukup kritis. Dia sudah masuk Sekolah Dasar. Jika saya jaman dulu aja udah mulai dengar teman membicarakan soal hubungan laki-laki dan wanita di usia kelas 2 SD, maka apalagi di jaman sekarang ini? Saya gak mau si abang duluan tau dari temannya, karena jika demikian maka sedikit banyak akan merusak komunikasi di antara kami. Saya mau si abang tau dari kami sendiri, sebagai langkah awal memberikan keyakinan padanya bahwa dia bisa membicarakan apapun dengan kami. Suatu hari nanti dia akan mengalami mimpi basah, suatu hari nanti dia akan jatuh cinta, suatu hari nanti dia akan memilih seorang perempuan untuk dijadikannya pacar… Saya tidak mau ada kecanggungan di antara kami berdua ketika saya mengajaknya bicara tentang hal-hal pribadi yang dia rasakan. Karena itu saya harus mulai sekarang, gak boleh ditunda-tunda lagi.

Puji Tuhan, Tuhan tidak membiarkan saya menunggu lama. Hanya selang sehari setelah saya membaca buku Mom & Her Son itu, si abang tiba-tiba kembali menanyakan soal bagaimana bayi hadir ke saya. Yap, waktunya akhirnya tiba juga. Saya harus berani, gak boleh mundur lagi.

Saya kemudian jelasin ke si abang. Untuk membentuk bayi, perlu ada sel sperma dan sel telur. Sel sperma ada di dalam tubuh laki-laki, sementara sel telur ada di dalam tubuh perempuan. Untuk bisa membuat bayi, sel sperma harus ditransfer supaya bisa bertemu dengan sel telur.

Gimana cara transfernya? P*nis milik laki-laki harus dimasukkan ke dalam v*gina milik perempuan.

Sehabis menjelaskan itu, saya diam. Deg-degan menunggu tanggapan si abang selanjutnya sekaligus merasa tak percaya dengan diri saya sendiri. Eh, bener ya aku udah menjelaskannya ke si abang?

Si abang juga saat itu diam sejenak, kemudian dia ngomong, “That’s weird… I can’t imagine…

Hahahahahaha…

Baguuusss…itulah tanggapan yang ingin saya dapat. Kenapa? Karena itu berarti dia memang belum terkontaminasi oleh informasi apapun dari luar soal s*ks. Gak apa nak, sekarang masih bingung dan berasa aneh, nanti seiring abang besar, abang akan mengerti dan papa serta mama akan membantu abang untuk mengerti serta memahaminya dengan cara yang benar untuk kebaikan abang sendiri.

Puji Tuhan, langkah awal yang sukar itu akhirnya bisa saya lewati. Legaaa…rasanya. Dan bener lho, ketika saya sudah bisa menjelaskan soal hal itu, rasanya seperti ada tembok dalam diri saya sendiri yang runtuh dan saya jadi merasa bahwa ya, saya sudah siap membicarakan hal-hal pribadi selanjutnya dengan anak-anak saya. Semoga, itu juga dirasakan oleh si abang dan Kiranya Tuhan berkati agar kedepannya selalu ada keterbukaan di antara kami. Dunia sudah berubah semakin jahat, pengaruh-pengaruh buruk semakin banyak, karenanya sejak awal anak-anak harus kami persiapkan. Sekali lagi, kiranya Tuhan memberkati semuanya..

PS:

  • Sebenarnya saya ngambil resiko besar dengan menuliskan ini di sini. Tapi saya yakin ini berguna untuk orangtua lainnya, jadi ya gak apalah, saya ambil aja resiko itu.
  • Kapan-kapan saya akan tulis sendiri tentang buku Mom & Her Son itu, bener lho, berguna banget untuk para ibu yang punya anak laki-laki!
  • Saya pakai tanda ‘*’ untuk kata s*ks, p*nis, dan v*gina, bukan berarti karena menganggap kata-kata itu tabu untuk diucapkan atau dituliskan, tetapi karena saya hanya menghindari search term yang aneh-aneh masuk ke blog ini.
Iklan

21 thoughts on “Mari, Terbuka Bicara Dengan Anak Tentang Ini….

  1. aku menunggu ringkasan bukunya ya mbak lissa. karena aku juga ibu dari dua anak laki-laki. dan pikiran kita sama. aku pikir yang paling memberi efek lebih terhadap perkembangan anak laki-laki adalah ayah -kebetulan ayahnya jauh di lahat sana. pulang seminggu sekali :(. ternyata malah ibu ya. baiklah, berarti aku harus belajar lebih. semangat!!!

  2. Hi mba, salam kenal. Ahh, ini informasi berguna banget mba. Sayapun sudah mulai berpikir harus bagaimana nantinya menjelaskan ya kalau anak saya bertanya. Thank God sharingnya mba jadi masukan baik buat saya.

  3. ahahaha betuuul pas ngomong sama anak lempeng kayaknya lega karena emang anak anak pikirannya bersih ya jadi mereka terima itu sebagai fakta. Tapi soal mimpi basah bapaknya ajalah yang ngajarin Lis hahahaha kan dia yang ngalamin ihik

  4. salut sama mama satu ini…, makasih infonya mbak… sangat berguna sekali, yang kemarin azka sudah nanyak ke saya… dengan jawaban yang sama juga dengan mbak lisa yang pertama itu.. “dari Tuhan”…

  5. Thanks Lis for sharing this. Memang harus sedini mungkin ya nyiapin anak buat sex education ini. Inget jaman gw dulu yang pasti ditutup-tutupin dan dimarahin kalo udah nyerempet ke sana. Thanks sharingnya Lis πŸ™‚

  6. Ooooo begini caranya… Kira kira kalau untuk anak perempuan harusnya sama lah ya, penjelasannya…. Bisa dicontek nih.. Selama ini kalau Fira nanya juga jawabanku pun kurang lebih sama… Dikasih sama Allah… Tks Lis….

  7. Anak saya 3 tahun kak tapi sudah tanya kenapa bisa ada adik bayi di perut mama.. Waktu itu saya pikir usia segitu belum nangkep dijelaskan secara ilmiah, dan saya sangat ga siap utk jawab, jadi saya jawab karena memang harus lewat perut dulu dia tumbuhnya… Next saya mau jelasin kayak kak Lisa..

  8. Wah tfs ya… jadi pengen cari bukunya. Dulu aku punya pengalaman gak enak diomel2in sama pembaca buku yg aku edit karena meloloskan kalimat ayah harus memasukkan penisnya ke vagina ibu untuk bisa membuat bayi. Pengalaman traumatis dan habislah aku saat itu, diomelin pembaca ya diomelin bos. Habis itu gak berani lagi meloloskan yg kyk gitu. Padahal malah yg betul begitu ya. Jadi curcol.

  9. Terima kasih Jeng Lis sharing yang sangat bermanfaat bagi kami pembaca blog ini. Bahagianya abang mendapat penjelasan sederhana dari mama bijaksana. Salam

  10. wah.. penjelasan yg terbuka sekali.. hahaha.. hebat.. aku ga tau udah berani blm jelasin itu smua, rasanya menunggu wkt anak akil baliq deh.. xixixi… ( eh tapi klo komunikasi sex yg ringan2 sih udah pernah jadi pembicaraan), memang bener kok.. udah ga bs dianggap tabu lg ttg pendidikan sex dari usia dini. Trims sharingnya πŸ˜€

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s