Jangan Panggil Cina

Bukan ke saya jelas. Karena meski oma saya berdarah Tionghoa, tapi tidak akan mungkin ada orang yang bisa sebegitu hebatnya bisa tahu soal itu hanya dengan melihat muka saya. Udah cerita pun orang masih suka gak percaya, saking gak ada satupun bagian dalam wajah ini yang bisa menunjukkan kalo oma saya memang bermarga Oey. Lebih mudah kayaknya buat saya ngaku punya keturunan India. Orang pasti akan langsung percaya, meski itu tidak benar sama sekali. Gak ngaku aja udah banyak orang yang bilang muka saya mirip dengan artis-artis India yang suka tampil di antv akhir-akhir ini. Saya sendiri heran, karena perasaan kalo saya bercermin, saya gak pernah liat muka yang kepantul di situ ada India-Indianya. Tapi yah, sudahlah, selama masih disama-samain dengan artis cewek, maka saya bisa tenang. Kalo tiba-tiba ada yang bilang saya mirip dengan Salman Khan, nah baru lah saya harus panik…hihihihi….

Judul di atas adalah seruan buat kita semua supaya berhenti menggunakan kata ‘cina’, baik untuk teman-teman kita sesama warga negara Indonesia yang adalah keturunan Tionghoa, maupun untuk menyebutkan nama negara Tiongkok.

Mungkin udah banyak yang tau kan ya kalo sejak tahun 2014 udah keluar Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor 06 tahun 1967 yang mana dalam SE tahun 1967 itu mengatur tentang penyebutan nama negara Republik Rakyat Tiongkok menjadi Republik Rakyat Cina. Gak cuma itu, SE tahun 1967 itu juga mengatur supaya warga keturunan mengganti namanya (yang biasanya terdiri dari tiga kata) dengan nama Indonesia sebagai upaya asimilasi. Di tahun 2014, akhirnya pak SBY mengeluarkan keputusan untuk mencabut SE itu dan nama Tiongkok akhirnya kembali digunakan untuk menyebutkan nama negara Republik Rakyat Tiongkok serta Tionghoa kembali digunakan untuk menyebutkan nama etnisnya. Hal ini sesuai dengan harapan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok yang memang berharap digantinya istilah Cina demi pemulihan hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok.

Waktu keputusan presiden itu keluar, saya sebenarnya kurang ngerti juga kenapa kok harus diganti-ganti gitu? Pikir saya mungkin cuma nama Tiongkok dan Tionghoa terdengar lebih mandarin ketimbang Cina. Maklum, saya kan gak tau sejarahnya…hehe… Nah, karena saya gak tau alasan penggantian itu, jadi dalam keseharian saya pun masih sering menggunakan kata Cina baik untuk merujuk ke nama negaranya maupun ke etnisnya. Ya abis udah kebiasaan sih yaaa….

Sampai satu kali dalam khotbah di ibadah minggu, Mushi (pendeta) sempat menyelipkan pesan untuk berhenti menggunakan kata ‘Cina’ yang mana dalam pesannya itu dijelaskan kenapa penggunaan kata Cina itu sebaiknya (dan malah harus) dihindari.

Jadi ternyata, sejarahnya tuh begini.

Jaman dulu, waktu Indonesia menjalin hubungan kerjasama dengan negara Tiongkok, sebenarnya yang digunakan dalam dokumen resmi kenegaraan adalah Tiongkok dan Tionghoa. Namun sayang, setelah kejadian 30 September 1965 yang ditengarai diprakarsai oleh aliran komunis yang berhubungan dengan Tiongkok,  di Indonesia pun terjadi aliran anti Tiongkok dan warga keturunan Tionghoa. Sedih ya, yang berbuat siapa, yang kena imbasnya siapa. Padahal warga keturunan Tionghoa banyak perannya juga dalam memperjuangkan kemerdekaan 😦

Setelah kejadian itu, diajukanlah rancangan yang melarang penggunaan istilah Tiongkok dan Tionghoa dan diganti dengan istilah Cina yang digunakan pada masa penjajahan Jepang. Rancangan itu kemudian diresmikan pada tahun 1967. Sejak tahun 1967 itulah nama Tiongkok berubah menjadi Cina dan warga keturunan Tionghoa disebut orang Cina atau Cino.

Trus apa masalahnya dengan istilah Cina?

Ternyata oh ternyata, saya baru tau dari khotbah Mushi itu, kalo istilah Cina mengandung arti yang meremehkan dan berarti kecil. Jadi orang kalo disebut Cina, berarti adalah orang rendah/orang kecil.

Oalah… Saya denger itu ya kaget. Sumpah, baru tau dan baru kepikiran pantas aja kenapa ada lemon yang berukuran kecil disebut dengan lemon cina -__-“

Selama bertahun-tahun istilah Cina udah begitu melekat. Bahkan yang keturunan Tionghoa pun udah biasa aja nyebut dirinya orang Cina atau Cino tanpa ngerasa yang gimana-gimana. Dari apa yang kemudian saya baca, memang warga keturunan Tionghoa jaman dulu sebenarnya tersinggung dengan istilah Cina yang diberikan ke mereka, tapi seiring waktu, generasi berganti generasi, istilah Cina pun menjadi melekat dan jadi sulit untuk dilepaskan. Akhirnya yang warga keturunan Tionghoa pun jadi terbiasa dengan istilah itu tanpa menyadari dan tau bahwa artinya sungguh sangat tidak baik bahkan cenderung melecehkan. Bahkan setelah keputusan presiden tahun 2014 keluar pun, teman-teman keturunan Tionghoa masih tetap menggunakan istilah Cina dalam kesehariannya.

Setelah tau itu, saya pun berhenti menggunakan istilah Cina. Sesuai anjuran Mushi, memang warga keturunan pun adalah warga negara Indonesia, tapi etnis asal kan gak bisa dilepaskan begitu aja karena langsung tak langsung itu juga yang membentuk diri kita. Dengan berhenti menggunakan istilah yang merendahkan, maka seenggaknya itu menunjukkan penghargaan pada etnis sendiri. Apalagi, pada kenyataannya memang istilah Cina itu suka digunakan untuk hal yang berbau diskriminatif.

Saya teringat seorang teman yang bilang ke saya bahwa dia gak pernah mau anaknya masuk ke sekolah negeri, karena pengalaman dia dulu, masuk ke sekolah negeri dan selalu dipanggil “Cino…Cino..” gitu dan dia pun sering denger temennya ngomong gini, “Dasar Cino…pelit!”. Rasanya gak enak dan tersinggung sekali, bikin dia gak betah di sekolah. Dia gak mau anaknya ngalamin yang kayak gitu, jadi mending disekolahin ke swasta aja yang menurut dia lebih toleran dan tidak menganggap ‘lain’ kehadiran warga keturunan Tionghoa. Itu pengalaman dia pribadi sih, gak tau kalo yang lain ngalamin yang kayak gitu juga. Kalo dulu di sekolahan saya, rasanya gak pernah ada teman etnis Tionghoa yang ngalamin hal kayak gitu, ya soalnya isi sekolahnya juga emang kebanyakan etnis Tionghoa jadi kalo ada yang nekad manggil Cina, yang noleh ratusan anak dong. Saya juga gak tau apakah yang kayak gitu masih kejadian di hari gini, semoga sih gak lagi lah yaaa….

Harapannya dengan pelan-pelan kita membiasakan diri tidak menggunakan istilah Cina lagi, maka teman-teman kita yang keturunan Tionghoa juga akan semakin terbebas dari stigma negatif oleh karena penggunaan istilah itu. Dampak terakhirnya, adalah kerukunan antar etnis yang semakin terjalin dengan baik di negara kita tercinta Indonesia ini. Itu harapan kita semua, ya kaaann?

Sebagai penutup, berhubung pembukaannya udah pake foto sendiri, jadi ditutupnya pake foto sendiri lagi aaahhh…. Bedanya kalo yang di atas dilihat dari sisi kanan, yang bawah ini dilihat dari sisi kiri. Yah, dilihat dari sisi manapun saya tau saya memang cantik. Ya soalnya saya cewek sih, gak mungkin kan saya ganteng? 😛

 Selamat pagi, selamat hari Rabu, serta selamat hidup rukun dan damai yaaaa…. 🙂

Iklan

58 thoughts on “Jangan Panggil Cina

  1. Wah ngomongin tionghoa..kangen kampung 🙂
    Di Bangka, penduduknya setengah pribumi dan setengahnya lagi tionghoa, tapi kami (pribumi) bisa hidup rukun dengan Tionghoa.

  2. Panggilan itu sampai sekarang masih ada yang manggil begitu. Kalo saya lebih baik panggil namanya aja, nama orang maksudnya. Waktu kerja di salah satu perusahaan, teman saya sering membuli (sebenarnya hanya bercanda) dengan menyebut “dasar Padang.” Karena saya memang orang Padang gak mungkin toh saya membantah dengan mengaku Batak, haha…

      1. Italy jg nyebutnya cina ya? Baru tau…*kurang pengetahuan* hahahahaha

        Tp gk tau ya gmn hubungan tiongkok sama italy, yg pasti sama indonesia mmg tiongkok keberatan jg pke cina, Er, dan mereka minta disebut dgn RRT alias Republik Rakyat Tiongkok

  3. Kalo saya sih nyebut “china” bukan ke orang. Tapi kalo lagi shopping terutama kalo lagi traveling. Suka pengen tau ini tank top di uniqlo atau coat di zara..ini…”made in china” or “made in vietnam”…maklumin kalo yg “made in china” biasanya lebih mahal..😁😁😁

    1. Kalo China sbnrnya gak apa-apa, asal bacanya seperti orang bule baca bkn dibaca jadi Cina 😀

      Tadinya katanya indonesia mo tetep pake RRC, dengan C adalah China. Tapi takutnya orang sini tetap bacanya jadi cina, makanya akhirnya supaya aman diganti jadi Tiongkok aja

  4. Selama org ngomong kata Cina tp tidak dalam kondisi meledek, aku sendiri gak masalah. Misalnya gini… eh lu Cina mana ya? Cina Jawa apa Cina Medan? Nah kayak gitu kan ngga dlm konotasi meledek. Jd ya santai2 aja. Sama aja kayak kita org keturunan sendiri membedakan org keturunan atau mainland, kita sebutnya yg dr mainland kan Cina Daratan n gak masalah sm sekali at least buatku n temen2.

    Kalo aku liat km sih gak ada wajah keturunan Tionghoa sama sekali Lis. Malah lebih kuat Batak-nya drpd Manado-nya hahaha. Ketularan suami.

    1. Iya Le, aku jg suka nanya gitu sih, “Kamu cina mana?” yah, dulu sih ngerasa gk kenapa2 krn toh kan aku pke kata itu bkn utk maksud yg gmn2. Cuma skrg stlh udah tau artinya, aku jd enggan sendiri pke kata cina lagi 😀

      Hahahaha..iya yah? Kalo gitu aku mmg berasimilasi dgn sempurna yaaa 😀

      1. Kemarin saya jalan2 di sekitar Jl. Braga di Bandung, tiba2 mata saya melihat papan nama bertuliskan Oey, langsung teringat postingan ini. Itu nama kedai kopi. Jangan2 masih saudaraan sama Mama 2R 😉

  5. Dulu waktu sd temen sd suka main ke rumah dan bnyk yg manggil2 “singkek… singkek ” dgn nada ngejek gitu, kesian temenku itu… yg pasti stop deh diskriminasi soal sara ya, mertua angkat alias om suami jg org thionghoa dan dia lebih “jawa ” ketimbang kita, pinter nembang, nyanyi jawa dan ngomongnya medok bgt hehehe.

  6. Konon katanya kakekku keturunan Cina, karena beliau meninggal ketika Bapakku masih balita. Fotopun tak ada, hanya tau dari cerita saja. tapi di aku cuman ngendap kulit doang, lumayanlah dapat bersihnya hehe

    Aku baru tau tentang cerita ini Allisa. Thanks for sharing

  7. Salam kenal Mbak Allisa.
    Waaaaahhhh sama Mbak, ibu saya juga berdarah tionghoa dan bermarga oey lho. Namanya oey sun hai…tapi nama itu sekarang sudah dipensiun berganti nama indonesia. Kalo cerita dari ngkong (alm) dulu, beliau sempat mengalami jaman dimana harus bayar pajak tiap tahun krn belum diakui sebagai orang indonesia (wni). Padahal ngkong lahir dan besar hingga akhir hayatnya di indonesia. Benar2 kisah yg memilukan

    1. Waahhh…ternyata kita sama2 keturunan Oey 😀

      Iya, memilukan sekali itu. Aku juga pernah baca di mana gitu, bahkan dulu banyak atlit kan yang meski udah menyumbangkan jasa untuk negara tapi tetep gak diakui sbg warga negara 😦

  8. dulu aku suka bilang orang chinesse dibanding orang cina…bukan bermaksud sok keinggrisan..lebih enak didengernya aja ngono loh… eh ga taunya ternyata emang artinya jelek yaa…
    iya ih Lisa mirip artis India gitu loohh… ihiiyyyyy…dari idungnya Lis..mancung bgt … 😀

  9. Foto pembuka maupun penutupnya keren Jeng, pastinya warga Indonesia hehe..
    Terima ksih Jeng sharingnya, ajakan saling menghargai. Salam

  10. Tapi aku tengok Mbak Manado banget loh. Huahahah.. 😀 *dikeplak*

    Temen ku banyak yang Tionghoa, Mbak.. Mereka emang cenderung tertutup sih karena takut dibully trus dikatain Cina.. Ah, aku baru tau arti Cina yang sesungguhnya 😦

  11. Nice info 😀 Wah saya malahan baru tahu kalau ada Surat Edaran yang mengatur tentang Cina.
    Tapi kayaknya di sini istilah Cina sudah melekat merujuk ke sesuatu yang berbau negara tirai bambu (China/Tiongkok).

    Publik juga sudah terbiasa menyebut orang keturunan Tionghoa dengan sebutan orang Cina. Juga disini sudah terbiasa menyebut negara Republik Rakyat Tiongkok dengan sebutan negara Republik Rakyat Cina atau malah singkatnya dengan menyebutnya Cina. Bahkan produsen-produsen dari negeri tirai bambu tersebut juga dalam memasarkan produknya di Indonesia mereka juga sering men-cap produknya dengan “China, Made in China.

    Orang Indonesia terkenal ramah, dalam menyapa orang etnis Tionghoa pun terbiasa dengan mengatakan Cina. Contoh : Wah, dandanan rapi emang mau kemana Ci ?. Nah sudah terbiasa menggunakan kata Cina.

    Homonim tentang kata “Cina”
    Kata Cina memiliki lebih dari satu arti (meskipun sama dalam penyebutannya baik tulisan atau pengucapannya). Kata Cina bisa berarti negara Republik Rakyat China, dan juga bisa berarti merujuk pada orang yang berasal dan/atau memiliki keturunan Tionghoa.

    Tetapi untuk penyebutan di media masa di Indonesia, sepanjang pengetahuan saya sekarang sudah menyebutkan Tiongkok untuk penyebutan negeri panda tersebut. Sementara itu di media massa Indonesia juga sekarang menyebut Tionghoa untuk menyebutkan perihal etnis Tionghoa (etnis dari negara Tiongkok). Walaupun begitu masih ada beberapa yang tetap masih menyebutkan istilah Cina, China.

    Salam Kenal 🙂 terima kasih

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s