Love Comes Softly, After Marriage

Setelah kemarin cerita tentang yang ngilu-ngilu, sekarang pengen cerita yang manis-manis aaahh….

Kali ini pengen cerita tentang film-film yang bertema arranged marriage alias forced marriage alias without-love marriage.

Tema film seperti ini adalah salah satu tema film yang saya suka. Biasanya kalo lagi nyari-nyari film yang pengen ditonton trus nemu sinopsis film yang nyangkut-nyangkut ke soal beginian (asal bukan film setipe Siti Nurbaya yang mana ceweknya cantik sementara suaminya udah tua bangka ya), maka udah hampir dipastikan bahwa itu film bakal masuk dalam daftar buat saya tonton.

Nah, so far ada beberapa film yang berkisah tentang orang-orang yang menikah tanpa cinta tapi kemudian dalam perjalanannya, seperti yang udah bisa diprediksi, mereka kemudian saling jatuh cinta.

Iya, memang rata-rata predictable banget, tapi kalo mo ngarepin sesuatu yang twisted, pake mikir lama, penuh konflik, serta penuh ketegangan, maka jangan nonton film romance kayak ginian.

Setiap genre film atau tontonan ada tujuan dan kekhasannya masing-masing. Target audience-nya pun beda-beda. Tinggal kita aja sebagai penonton yang menempatkan diri sesuai dengan itu. Harapan yang kita beri dalam sebuah film pun harusnya sesuai lah dengan genrenya. Jangan ngarepin pohon mangga berbuah apel, jadi jangan pula ngarepin ada intrik mematikan dalam sebuah film sweet romance 🙂

Love Comes Softly (2003)

Sumber gambar dari sini

 

Sejak nonton film ini, maka ketika ingat soal film yang berkisah tentang pernikahan yang awalnya tanpa cinta, maka saya akan langsung teringat pada film ini.

Ini film udah lama, keluar di tahun 2003, dan mengambil setting pada tahun 1800-an. Inilah yang pertama kali bikin saya tertarik untuk nonton film ini.

Yes, saya memang tertarik banget dengan kehidupan di Amerika pada tahun 1800-an, mungkin karena terpengaruh semasa kecil dulu saya suka sekali dengan kisah Little House On The Prairie yang juga mengambil setting pada masa yang sama. Masa di mana orang-orang masih berkelana jauh untuk membuka lahan baru sekaligus mematoknya sebagai tempat tinggal. Masa di mana orang-orang masih mengerjakan semuanya sendiri, bikin rumah, bikin perabot, beternak, berkebun, dan semua-muanya sendiri….termasuk bikin mentega yang bikin saya terkagum-kagum saat membaca cerita Laura tentang bagaimana dia membuat mentega dan bagaimana ruang-ruang bawah tanah dulu dijadikan tempat penyimpanan makanan agar lebih awet.

Masa-masa itu mungkin sebenarnya adalah masa yang sulit. Perjalanan jauh yang ditempuh bukannya mudah. Ancaman karena kondisi geografis, kriminalitas, dan cuaca selalu mengancam di setiap jalan. Begitu sudah menemukan tempat untuk tinggal pun, mereka masih harus berjuang menjadikan tanah yang didiami subur dan masih harus berusaha bertahan menghadapi kondisi alam yang tidak menentu yang bisa saja menghancurkan kerja keras selama satu tahun penuh. Tidak mudah, bahkan bisa dibilang sulit sekali. Namun jika membaca cerita tentang bagaimana orang bertahan hidup dan pada akhirnya berhasil, tidak hanya bertahan namun juga merasakan sukacita dalam kesederhanaan dan perjuangan, itu bener-bener mengaliri semangat di diri saya.

Karena ketertarikan pada masa itu lah, maka ketika saya melihat film Love Comes Softly ini di daftar film yang berlatar tahun 1800-an dan ditambah dengan informasi yang saya baca bahwa film ini disutradarai oleh Michael Landon Jr. (anaknya Michael Landon, pemeran Pa dalam serial televisi Little House on the Prairie), seketika itu juga film ini langsung menarik perhatian saya.

Love Comes Softly diangkat dari novel karangan Janette Oke dan merupakan film pertama dari rangkaian seri selanjutnya: Love’s Enduring Promise, Love’s Long Journey, Love’s Abiding Joy, Love’s Unending Legacy, Love’s Unfolding Dream, Love Takes Wing, dan Love Finds a Home. Selain ke-7 sekuelnya, ada juga 2 prekuel film ini yaitu Love’s Everlasting Courage dan Love’s Christmas Journey.  Kesemua film itu bagus dan layak banget ditonton (orderly ya, kalo nontonnya loncat-loncat tar gak paham ceritanya gimana 😀 ), tapi yang sesuai dengan tema kita pagi ini hanya Love Comes Softly ini.

Love Comes Softly bercerita tentang Marty Claridge (Katherine Heigl) yang baru pindah ke daerah barat bersama suaminya Aaron Claridge (oliver Macready). Mereka pasangan suami-istri muda dengan impian besar untuk membangun kehidupan baru penuh kesejahteraan di daerah barat. Setelah perjalanan yang panjang, mereka akhirnya menemukan tanah yang sesuai dengan impian mereka untuk didiami.

Sayang sekali, keesokan paginya Aaron mengalami kecelakaan ketika sedang berkuda dan langsung meninggal. Tertinggallah Marty sendiri, tidak punya tempat tinggal, tidak punya tujuan, dan tidak bisa kembali ke tempat asalnya karena musim dingin akan tiba sebentar lagi sementara kereta yang bisa membawanya kembali ke daerah timur baru akan datang setelah musim semi tiba. Yang lebih menyedihkan adalah karena saat itu, Marty sedang hamil muda.

Dalam kondisi tidak punya siapa-siapa. Marty sangat beruntung karena beberapa penduduk yang tinggal di wilayah yang sama mau ikut membantu memakamkan suaminya. Tak cuma itu, salah seorang di antara mereka yaitu Clark Davis (Dale Midkiff) bahkan menawarkan perlindungan untuk Marty.

Penawaran dari Clark, seorang duda beranak satu, bukan sederhana.

Dia menawarkan agar Marty tinggal di rumahnya dan dia akan membantu ongkos Marty untuk pulang ke daerah asalnya nanti saat kereta wagon datang pada musim semi berikutnya.

Sebagai gantinya, dia meminta Marty menikah dengannya. Bukan untuk kebutuhan Clark, tapi supaya Marty bisa memberi pengaruh ‘kewanitaan’ kepada putri Clark, Missie (Skye McCole Bartusiak) yang terlalu tomboi.

Tidak punya pilihan yang lebih baik, Marty menyetujui tawaran Clark.

Setelah menikah, mereka tidak benar-benar tinggal bersama dalam satu bangunan rumah. Marty tinggal di rumah induk bersama Missie, sementara Clark tinggal di bangunan lain di sebelah rumah induk itu.

Pernikahan mereka awalnya berjalan sangat kaku. Marty yang masih berduka, mengalami kesulitan menghadapi situasi baru terutama pada orang-orang asing yang kini berbagi kehidupan dengannya.

Clark juga mengalami kesulitan untuk menyenangkan Marty sekaligus mengusahakan agar Missie bisa membuka hati untuk Marty.

Dan si kecil Missie pun, yang masih terus terbayang akan kenangan tentang ibu kandungnya, merasa sangat sulit menerima kehadiran Marty.

Namun seiring waktu berjalan, kecanggungan, kekakuan, dan ketakberterimaan akhirnya mencair di antara mereka dan mereka pun mulai merasa seperti sebuah keluarga. Marty dan Clark akhirnya menyadari bahwa mereka saling mencintai dan Missie juga akhirnya menemukan seorang ibu baru yang penuh kasih.

Film ini….gimana ya saya ngomongnya? Agak sulit mendeskripsikan apa yang saya rasakan saat nonton dan bahkan setelah film ini berakhir. Yang terus terngiang di benak saya adalah, “how can it be so sweet???

Dengan jalan cerita yang begitu sederhana, pemain yang bukan pemain bintang, dan bukan keluaran Hollywood, film ini benar-benar luar biasa.

Jalan ceritanya sederhana, tapi sama sekali bukan murahan. Sebaliknya, kesederhanaannya justru membuat film ini amat sangat layak ditonton oleh seluruh keluarga. Banyak pesan terkandung di dalamnya dan kesederhanaan menjadi kekuatan film ini.

Para pemainnya bukan pemain bintang (yang saya tau cuma Katherine Heigl secara dia ini udah ngetop sejak jaman Roswell dulu) doang, tapi akting semua pemainnya luar biasa bagus!

Yang bikin saya heran, biasanya saya malas nonton film kalo yang jadi aktor pemeran utamanya kurang ganteng (saya ngerasa Fifty Shades of Grey gak bagus salah satu faktornya ya karena itu, aktornya kurang ganteng…hahahahaha), tapi pas nonton film ini, meski Dale Midkiff bukan termasuk ganteng dan usianya pun terlihat sudah sangat dewasa, tapi mau gak mau saya jatuh cinta dengan karakternya. Matanya seolah menyiratkan banyak hal meski tanpa dialog pun, dan saya juga suka dengan sikap tenang yang ditunjukkannya ketika menghadapi segala macam situasi.

Yang jadi Missie, Skye, juga aktingnya bagus. Dapat banget lah kesannya sebagai anak perempuan kecil yang berusaha menyembunyikan rasa kehilangannya lewat sikap nakal sekaligus mandirinya 🙂

Dan yah, Michael Landon Jr. sepertinya adalah sutradara yang bagus. Papanya pasti bangga banget sama dia, karena berhasil bikin film (gak cuma ini aja namun sequel lainnya dalam Love Comes Softly the series) yang membangkitkan kenangan akan serial yang dibintangin oleh papanya dulu namun dengan kualitas yang tidak kalah baiknya.

Pokoknya film ini saya suka…suka…suka banget! Film ini menenangkan dan senang rasanya karena masih bisa menemukan film berkualitas tapi tanpa kekerasan, teror, dan adegan dewasa di dalamnya 🙂

The Magic of Ordinary Days (2005)

Sumber gambar dari sini

Kalo Love Comes Softly mengambil latar di tahun 1800-an, maka di film ini kita agak maju dikit ke tahun 1900-an tepatnya di masa Perang Dunia II.

The Magic of Ordinary Days diangkat dari novel karangan Ann Howard Creel dengan judul yang sama. Bercerita tentang Olivia Dunne atau Livvy (Keri Russel), wanita muda cantik dengan cita-cita serta impian tinggi yang melakukan kesalahan hingga hamil di luar nikah bersama Edward, prajurit muda yang sedang dikirim untuk berperang. Malu dengan kondisi anaknya, bapaknya Livvy yang adalah pendeta kemudian mengirim Livvy ke sebuah kota kecil di bagian tenggara Colorado.

Livvy dikirim ke sana bukan hanya untuk menyepi agar lingkungan mereka tidak tahu dengan kondisi kehamilannya, tapi juga untuk menikah dengan Ray Singleton (Skeet Ulrich) seorang pria pendiam dan kesepian yang tinggal sendiri di tanah yang sangat luas yang memiliki peternakan dan perkebunan. Tempat tinggal Ray lumayan jauh dari para tetangga sekitar karena tanahnya memang luas sekali.

Sebelum mereka menikah, Livvy sempat bertanya ke Ray kenapa Ray mau menikah dengannya. Ray hanya menjawab, bahwa ketika dia mendengar tentang kondisi Livvy dari pendeta yang ikut membantu bapaknya Livvy mencarikan pasangan untuk Livvy, dia hanya berpikir bahwa ini mungkin saja adalah jalan Tuhan buat mereka berdua meski dia belum pernah mengenal Livvy sebelumnya. Livvy juga bertanya apakah Ray yakin akan bisa menyayangi anaknya kelak ketika lahir. Ray menjawab mantap, bahwa ia akan menyayangi anak itu.

Pernikahan mereka berdua berjalan kaku. Tidur di kamar yang terpisah dan hampir jarang ngobrol berdua. Apalagi Livvy pun masih menaruh harap pada Edward dengan masih mengirimkan surat untuk Edward tanpa menceritakan kondisi bahwa kini dia sudah menikah. Namun bagaimanapun, pelan-pelan mereka mulai menyesuaikan diri dengan situasi di antara mereka. Livvy yang anak kota, mulai belajar memasak dan mengurus rumah. Dia juga mulai bergaul dengan para pekerja di perkebunan Ray yang kebanyakan adalah para tawanan Jepang.

Usaha dari Ray juga terlihat banget, apalagi dia pelan-pelan mulai sayang sama Livvy. Sangat sayang sampe bela-belain mo bikinin Livvy kolam renang karena Livvy bilang dia sangat suka berenang. Ray juga sampe belajar lagi lagu anak-anak yang dulu sering dia dengar katanya supaya dia bisa menyanyikan lagu itu buat anak mereka nanti.

Hari-hari yang mereka lalui dalam ketenangan dan kesederhanaan pada akhirnya berbuah manis. Sempat ada konflik terkait dengan pekerja Jepang,  kakaknya Livvy yang tiba-tiba datang dan ikut campur, serta Ray yang kemudian mengetahui bahwa Livvy masih berusaha menghubungi Edward dan tidak menyampaikan ke Edward kalau dia sudah menikah. Namun pada akhirnya, toh mereka berdua bersatu juga. Hari-hari biasa yang penuh ketenangan akhirnya membawa kebahagiaan buat Livvy.

Film ini indah, seperti judulnya, situasinya memang dibuat quite and calm. Akting para aktor juga bagus, jauh lah dari khas TV movie yang aktingnya kebanyakan rata-rata doang. Skeet Ulrich gak ganteng, tapi karakter yang dia mainkan bikin saya suka. Saya juga suka dengan karakter Livvy yang memperlakukan semua orang dengan rasa menghargai dan hormat, bener-bener contoh yang baik. Dan oh ya, selain akting mereka bagus, baju-baju, make-up, serta tatanan rambut Livvy di film ini juga baguusss…salah satu hal yang bikin saya sekarang tiap hari pake lipstick merah ya gara-gara Livvy ini…hihihihihi…

Film ini mengajarkan bahwa siapa saja bisa melakukan kesalahan. Bahwa yang direncanakan dan dicita-citakan bisa saja tidak tercapai bahkan hancur berantakan oleh karena kesalahan itu. Namun hidup toh tidak berhenti. Kasih Tuhan apalagi, tidak pernah berhenti. Sebuah kehancuran bisa saja menjadi gerbang untuk impian selanjutnya yang lebih besar lagi.

The Mirror has Two Faces (1996)

Sumber gambar dari sini

 

Kalo film ini mungkin sudah banyak kali ya yang nonton secara ini film lumayan ngetop juga. Saya nontonnya juga udah lamaaa banget, tapi jadi inget lagi gara-gara film ini lumayan sering diputer ulang di HBO Hits kalo gak salah. Yang di TV gak pernah saya tonton lagi sih, meskipun setiap inget film ini saya tau kalo film ini bagus dan lumayan romantis.

Bercerita tentang Rose Morgan (Barbra Streisand) seorang pengajar literatur Bahasa Inggris di Columbia University, yang pemalu dan masih tinggal bersama ibunya meskipun usianya sudah terbilang ‘tua’. Rose ini punya saudara perempuan bernama Claire yang akan menikah untuk ketiga kalinya, kali ini bersama Alex, mantannya Rose. Tau soal itu, Rose makin down dan makin merasa bahwa cinta kian menjauh dari dirinya.

Gregory Larkin (Jeff Bridges) adalah seorang pengajar matematika di Columbia, sedang mencari hubungan dengan wanita berdasarkan intelektualitas bukan fisik. Dia kemudian bikin iklan di koran untuk nyari perempuan yang mau menjalin hubungan seperti itu dengan dia.

Claire, yang membaca iklan itu kemudian menghubungi Gregory atas nama Rose. Kemudian dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, Gregory dan Rose berkencan dan memutuskan untuk menikah…tanpa cinta.

Akhirnya udah bisa ditebak lah ya, dari yang tadinya tanpa cinta akhirnya malah si Gregory jatuh cinta mati ke Rose.

A Marriage of Convenience (1998)

Nah, sekarang kita maju lagi dua tahun setelah The Mirror has Two Faces. Kali ini, saya gak yakin kalo banyak yang tau sama film berjudul A Marriage of Convenience.

Sumber gambar dari sini

 

Film ini bercerita tentang Christine (Jane Seymour) seorang wanita karir yang sukses yang akhirnya harus melepaskan pekerjaannya setelah kematian adiknya yang meninggalkan seorang anak bayi yang terlahir premature. Tadinya Christine tidak berencana untuk membesarkan anak itu, namun rasa sayang yang tumbuh akhirnya membuat dia memutuskan untuk mengurus keponakannya yang diberi nama Kevin itu. Ayah anak itu sendiri tidak diketahui keberadaannya oleh Christine.

Christine membesarkan Kevin dengan baik tanpa menyembunyikan kenyataan dari Kevin, meski begitu Kevin tetap memanggilnya, mom.

7 tahun kemudian, di suatu hari di kota Sacramento, seorang pengusaha sukses dan kaya bernama Mason Whittney secara tak sengaja melihat lukisan di sebuah galeri yang dia tau dilukis oleh mantan kekasihnya bernama Shelly. Penasaran dia pun mencari tahu tentang Shelly dan kemudian tau bahwa Shelly sudah meninggal dan bahwa lukisan itu dijual oleh keluarga Shelly.

Tak lama berselang, Christine akhirnya mengetahui bahwa ternyata selama ini ibunya telah menyembunyikan surat Shelly yang akan ditujukannya kepada ayah Kevin. Surat itu berisi pengakuan Shelly tentang kehamilannya dan tentang sakitnya. Dalam surat itu juga Shelly memberikan pilihan kepada laki-laki itu untuk membesarkan anak mereka atau menyerahkannya pada keluarga Shelly.

Laki-laki itu bernama Mason Whittney.

Christine kemudian mengirimkan surat itu ke Mason yang langsung menyambut dengan antusias. Beberapa kali dia datang mengunjungi Kevin dan Kevin pun langsung memanggil Mason dengan sebutan dad. Hingga akhirnya Mason dan Christine berbenturan pada masalah hak pengasuhan anak.

Di pengadilan, mereka berdua dianjurkan oleh sang hakim untuk menuruti ide Kevin: mom and dad should get married.

Dan yah, menikah lah mereka. Christine dan Kevin pindah ke rumah Mason yang mewah dan besar di Sacramento. Tak lama berselang, mereka pun jadi suami-istri seutuhnya 🙂

Film ini gak ada traillernya, di YouTube cuma ada full movie-nya doang, jadi kalo mo nonton silakan aja langsung ke YouTube ya 😀

Memang sih jalan cerita film ini Cinderella banget yah dan sepertinya tipe cerita yang cuma kejadian di film doang, tapi lumayan manis lah dan gak bikin waktu 1,5 jam buat nonton jadi sia-sia 🙂

Loving Leah (2009)

Sumber gambar dari sini

Film ini bercerita tentang Jake Lever (Adam Kaufman) seorang cardiologist yang tinggal di Georgetown. Dia sudah punya pacar bernama Carol yang juga adalah dokter di rumah sakit yang sama. Suatu kali, Jake bermimpi didatangi oleh kakaknya, Benjamin yang adalah seorang Rabi. Di mimpinya itu kakaknya bilang kalo mereka berdua baik-baik saja.

Jake, yang masih bingung dengan mimpi itu tiba-tiba menerima telepon dari mamanya yang mengabari kalo Benjamin sudah meninggal. Jake kemudian langsung menuju Brooklyn tempat Benjamin tinggal dan akan menjadi tempat Benjamin dimakamkan. Pada upacara pemakaman itu, Jake baru mengetahui kalo ternyata Benjamin pergi dengan meninggalkan seorang istri yang masih sangat muda bernama Leah (Lauren Ambrose).

Karena Benjamin dan Leah belum punya anak, maka sesuai tradisi Yahudi Jake seharusnya menikahi Leah demi meneruskan keturunan abangnya (levirate marriage). Jake menolak dan karenanya dia dan Leah harus melangsungkan upacara bernama halitza untuk meresmikan penolakan Jake menikahi Leah.

Dalam upacara itu, tiba-tiba Jake berubah pikiran setelah mendengar kata-kata Rabi yang bilang bahwa dengan menolak menikahi janda abangnya itu berarti dia menyangkali keberadaan abangnya. Keraguan Jake makin menjadi setelah dia melihat Leah mengenakan kalung yang sama dengan yang diberikan Benjamin ke Jake. Ingatannya akan masa lalu mengingatkan Jake betapa besar rasa sayang di antara dia dan abangnya.

Jake pun memohon waktu untuk berbicara lagi dengan Leah dan upacara dihentikan dulu untuk sementara. Jake pun menawarkan ke Leah agar mereka menikah untuk kebaikan masing-masing. Jake tidak sanggup jika harus mengucapkan sumpah menyangkali keberadaan abangnya, sementara Leah ingin hidup independen dan ingin kuliah, sesuatu yang hampir mustahil dia lakukan jika terus tinggal bersama ibunya.

Leah akhirnya setuju.

Dia dan Jake kemudian menikah. Leah pindah ke Washington dan tinggal bersama Jake.

Hubungannya dengan Jake hampir sama seperti dua saudara aja. Jauh dari mesra, apalagi karena Jake lebih sering sibuk di rumah sakit dan masih berhubungan dengan Carol. Leah pun menyibukkan diri dengan kehidupan baru dan persiapannya untuk kuliah.

Namun pada akhirnya cinta sejati di antara mereka muncul dan mereka berdua akhirnya mengetahui bahwa Benjamin telah memberikan hadiah yang sangat besar bagi mereka, yaitu keberadaan mereka berdua masing-masing 🙂

Film ini manis sekali, chemistry di antara Jake dan Leah dapat banget dan kalo dari yang saya baca-baca memang semua upacara dalam film ini sesuai dengan tradisi Yahudi jadi itu artinya si pembuat film emang bener-bener bikin riset tentang tradisi Yahudi itu sendiri sebelum bikin film ini. Untuk ukuran TV movie, film ini memang layak disebut Hallmark Hall of Fame 🙂

Arranged (2007)

Sumber gambar dari sini

Film ini tidak hanya berfokus pada pernikahan yang diatur yang harus dialami oleh dua guru muda cantik di sekolah negeri di Brooklyn, tapi terutama pada persahabatan di antara keduanya. Persahabatan yang tak biasa karena mereka berdua datang dari latar belakang yang berbeda, dan bertentangan, meski ternyata mereka punya persamaan juga…….. Pada akhirnya persahabatan mereka membuat masing-masing dapat menjalani nasib yang udah ditentukan mengenai perjodohan mereka masing-masing. Tak cuma itu, mereka kemudian menyadari (sebagaimana pesan dalam film ini), bahwa persahabatan dapat melintasi perbedaan dalam bentuk apapun….

Gak pengen cerita banyak soal film ini, karena lebih baik ditonton sendiri. Bagus banget lho. Jalan cerita dan aktingnya mempesona. Bikin nangis, bukan pada kisah cintanya, tapi pada persahabatan mereka  🙂

Seuntai Impian Sunyi/ Fantasies Behind the Pearly Curtain/Yi Lian You Meng

Kaget gak sih tiba-tiba ada kisah Mandarin di daftar ini? Hihihihihi…

Jadi begini pemirsa, sebenarnya cerita ini pertama kali saya baca di novel karangan Chiung Yao, waktu saya masih imut-imut duduk di bangku SMP. Inget kan jaman itu banyak sekali drama Mandarin yang diangkat dari novel Chiung Yao yang ditayangin di channel TV kita. Nah, Seuntai Impian Sunyi ini tidak termasuk dalam drama yang ditayangkan di TV sini itu.

Nah trus?

Ya gak apa-apa.

Saya cuma pengen bilang, meski dramanya gak ditayangin di sini, tapi novelnya dijual di Gramedia dan mengingat saya demen sama novel kan ya jadi saya beli lah novel itu.

Ceritanya tentang dua kakak beradik Luping dan Celing. Luping adalah gadis cantik, berpembawaan tenang dan sopan, serta sangat cerdas. Luping adalah idola buat siapa saja.

Sebaliknya, Celing adalah anak bungsu yang pembangkang. Berpakaiannya asal-asalan, ngomongnya juga suka ngasal. Paling parah, Celing bahkan tidak lulus masuk ke universitas.

Meski begitu, mereka berdua saling menyayangi dan meski mereka berbeda, mereka ternyata punya satu kesamaan: sama-sama menyukai Chu Lian, teman mereka sejak kecil.

Tadinya Celing berpikir bahwa Chu Lian juga menyukai Luping, tapi ternyata Chu Lian justru jatuh hati pada Celing. Satu kali, dalam perjalanan pulang dari kantor, Chu Lian yang sedang membonceng Luping dengan motornya dengan maksud membawa Luping ke suatu tempat buat ngasih tau ke Luping kalo dia sebenarnya suka sama Celing, justru mengalami kecelakaan. Chu Lian gak kenapa-kenapa, tapi Luping harus diamputasi kakinya.

Singkat cerita, keadaan itu membuat Chu Lian akhirnya melamar Luping.

Patah hati, Celing kemudian menerima lamaran Fei Yunfan, seorang pengusaha restoran yang sudah berusia 38 tahun. Yunfan ini adalah adik dari rekan bisnis papanya Celing. Yunfan tidak hanya punya usaha restoran di kota tempat mereka tinggal, tapi juga punya usaha di Eropa dan Amerika. Orang kaya banget lah pokoknya. Dia sebenarnya sudah jatuh hati ke Celing sejak pertama mereka ketemu.

Awalnya orang tua Celing gak setuju karena Yunfan ini terkenal playboy, tapi akhirnya setuju juga sih (ya kalo gak setuju, novelnya abis cerita dong).

Setelah menikah, Yunfan membawa Celing ke Roma. Awalnya di kota, tapi kemudian dibawa ke villa di pedesaan. Setelah cuaca Roma mulai dingin, Yunfan membawa Celing ke San Fransisco. Celing bener-bener dimanja lah, sampe kemudian akhirnya pelan-pelan dari yang tadinya suka berpenampilan asal-asalan, bersama Yunfan, Celing berubah menjadi wanita modis dan amat cantik.

Satu hal yang selalu dibuat Yunfan di setiap rumah mereka (iyes, rumahnya banyak), adalah di kamar tidur mereka Yunfan selalu membuatkan curtain yang terbuat dari manik-manik…….

Mereka kemudian jatuh cinta dan happy ending sampai di situ?

Oh tentu tidak semudah itu.

Ada konflik lah yang terjadi karena perasaan Celing yang masih bimbang apalagi karena perceraian Luping dan Chu Lian.

Cuma memang pada akhirnya ya bahagia juga. Yang memang saling mencintai tetap mencintai, yang tanpa cinta pada akhirnya harus memilih jalan masing-masing 🙂

Pertama kali baca novel ini waktu SMP dulu, saya langsung terbayang pada sebuah film Indonesia yang pernah saya tonton waktu kecil. Perasaan kok ceritanya sama persis dengan cerita di novel ini. Waktu itu sempat nanya sama mama, tau gak tentang film yang ceritanya begini..begini…begini, eh si mama juga gak inget. Ya udah, saya pikir mungkin cuma khayalan saya aja.

Tapi kemudian, bertahun-tahun setelahnya (eciyeh), tepatnya belum lama ini ketika saya kembali membaca novel itu, bayangan yang sama kembali terlintas. Saya ingat adegan-adegan dalam film Indonesia itu yang artinya saya gak berkhayal. Film itu benar-benar ada.

Saya cari lah di Google. Berhubung gak tau judul, jadi nyari berdasarkan sinopsis. Segala macam rangkaian sinopsis saya coba, hingga kemudian ketemulah saya dengan film yang saya cari.

Gak hanya satu.

Tapi dua.

Rahasia Gadis dan Surat Undangan.

Keduanya keluar di tahun yang sama, yaitu tahun 1975.

Novel Chiung Yao terbit pertama kali di tahun 1938 dan diangkat ke layar kaca dalam film Yi Lian You Meng pada tahun 1974.

Ok sip. Jadi mungkin bisa disimpulkan ya kalo kedua film Indonesia itu kemungkinan besar diadaptasi dari film mandarin yang sudah keluar sebelumnya di 1974. Semoga aja memang adaptasinya legal ya. Sayang aja kalo gak, secara dua film Indonesia itu bagus ceritanya (ya iyalah, kisah asilnya dari novel Chiung Yao ya emang bagus 😀 ). Cuma lucu aja, keluarnya kok dalam satu tahun gitu…jadi ketahuan banget kan kalo ide ceritanya gak asli 😦

Oh ya, novel ini juga pernah diangkat dalam drama di tahun 1996. Seperti yang saya bilang di atas, gak ditayangin di Indonesia, ya emang gak layak tayang juga menurut saya.

Dramanya jelek (walopun masuk dalam top 10 drama Chiung Yao yang paling ngetop), trus yang jadi Yunfan gak ganteng (pemain yang sama tuh dengan yang jadi pemeran utama di Putri Xinye), udah gitu dialognya terlau panjang-panjang dan tak ada satupun yang saya paham karena saya nonton versi bahasa Mandarin dan tanpa subtitle bahasa Indonesia…hahahahaha..tapi tetep lho saya tonton itu 48 episode sampe habis…kurang niat apa coba? Adakah yang bisa segila saya? 😆

Yah gitu deh, kadang saya kalo emang udah niat suka bikin hal yang tak terduga dan bikin suami geleng-geleng kepala. Yah sudahlah, karena itu dirimu mencintaiku kan pak suami? Karena banyak hal dari diriku yang merupakan kejutan untukmu…kekekekekek…

=====================

Itulah 7 kisah dalam daftar saya. Akhir-akhir ini sering ngomongin soal film ya di blog ini. Ya karena memang saya hobi sekali nonton. Rasanya pengen cerita banyak, tapi waktu juga yang membatasi…hehehe…

Teman-teman suka juga gak dengan tema film kayak gini? Film apa aja yang udah pernah ditonton?

Iklan

49 thoughts on “Love Comes Softly, After Marriage

  1. Walaupun belum pernah lihat semua tu film,akhirny bisa lihat yang Love Comes Softly pas jam istirahat hihiiii… nyentuh bgt…., tq mama raja… seneng bgt sama film” yang ginian…..

  2. Allisaa Thanks banget info filmnya. Belum ada satupun yang aku tonton. Jadi musti berburu nih. Penasaran semua. Apalagi yang terakhir tentang persahabatan yang tidak mengenal perbedaan.

  3. baca ini mengingatkan saya pada film india yg judulnya Dhadkan, ini sinopsisnya mbak : Alkisah seorang gadis cantik dan kaya, yakni Anjali (Shilpa Shetty) bertemu dengan seorang pemuda tampan namun miskin, Dev (Sunil Shetty). Dapat ditebak bahwa mereka jatuh satu sama lain tanpa mempedulikan latar belakang mereka yang berbeda bagai langit dan bumi. Jalinan cinta antara Anjali dan Dev sangat mendalam sehingga mengikat janji hidup semati. Sayangnya niat Dev untuk menikahi Anjali ditolak mentah-mentah oleh keluarga Anjali. Sebab selain Dev berasal dari keluarga miskin, juga merupakan anak haram.

    Tidak heran jika orang tua Anjali tidak sudi menikahkan putrinya dengan pemuda miskin dan tidak jelas asal usulnya semacam Dev. Apalagi Anjali telah dijodohkan orang tuanya dengan seorang pemuda kaya, Ram (Akshay Kumar). Kemarahan dan sikap Dev yang disebabkan penolakan orang tua Anjali membuat hubungan cinta Dev dan Anjali mengalami masalah. Akhirnya Anjali pun setuju menikahi Ram sehingga membuat Dev pun hancur hatinya. Selain pada saat bersamaan, ibu Dev yang disayanginya meninggal dunia. Semua pukulan hatinya membakar hati Dev sehingga mendorongnya membuktikan bahwa seorang pemuda miskin dapat berubah menjadi orang kaya.

    Sementara itu, walau Anjali bersedia menikahi Ram, tetap berusaha menjaga kesucian cintanya kepada Dev sehingga bersikap dingin dan kaku kepada suaminya. Namun Ram yang bersifat tenang, sabar dan penuh kasih sayang dalam menghadapi istrinya sehingga lama kelamaan Anjali pun luluh dan jatuh cinta kepada Ram. Beberapa waktu kemudian, akhirnya Dev dengan tekad sangat kuat berhasil mewujudkan keinginannya yakni menjadi orang kaya. Dalam perjalanan Dev untuk menjadi orang kaya, ada seorang wanita cantik yang selalu berada di sisinya, Sheetal (Mahima Chaudhary). Wanita tersebut sangat mencintai Dev, tetapi tidak mendapat balasan. Dev kemudian kembali datang dalam kehidupan Anjali dengan satu tujuan untuk menghancurkan rumah tangga mantan kekasihnya dan merebut kembali pujaan hatinya.

  4. Kalo temanya seperti diatas, Full House masuk gak Lis? Di India ada tuh Rab Ne Bana Di Jodi, yang maen Sharukh Khan (Lisa pasti gak suka hahaha) Ceritanya ada cewek yang mau nikah, tapi tunangannya meninggal dlm kecelakaan di hari pernikahan mereka. Karena shock, si ayah cewek tsb meninggal juga. Sblm meninggal, dia titipkan putrinya pada teman baiknya, dia juga menyuruh si teman baik menikahi putrinya. Yg terjadi kemudian si teman baik tadi berusaha mendapatkan hati si cewek tadi sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Ceritanya lucu dan seru sekaligus romantis. Sekali-kali dong lihatnya jgn film hollywood aja Lis hihihi…

  5. Wah kak Allisa luar biasa bikin review filmnya, jadi pengen nonton film2 itu 🙂 anyway bisa cari di mana ya kak? Kayaknya banyak film2 lama ya?

  6. Hum Dil De Chuke Sanam. film India dg cerita yg sama. dlm perjalanan mencari kekasih si istri utk mempersatukan mereka, cinta itu bersemi. pake kecelakaan2x dl jg sih. kalau gak ada kecelakaannya kayaknya gak seru ya. hahahaha …

      1. kl suka film india, tonton deh. bagus. meskipun agak kurang suasana romantisnya. tp kl gak suka india, jgn. capek sama nyanyinya. hahaha …

  7. hallo Mbak Lis, sekian lama jadi silent reader, di posting ini jadi komen gara” novel Chiung yao itu. LOL. Novel yang itu ada versi drama modernnya sih, mungkin bs dicari judulnya dreamslink. Yang main lumayan ganteng, dan yah overall OK lah. Btw, novelnya sekarang masih ada gak ya?

  8. Wow, Jeng Lis beralih ke reviewer film hehe…. setelah menikmati yang ngilu menonton yang manis semakin indah ya, dan pesan merawat serta mengusahakan kemanisan dalam keseharian.
    Salam manis Jeng

  9. kalo postingan kali ini, nyerah deh, ga ada satupun yang pernah kutonton. jadi penasaran sama loves come softly nih, aku suka katherine Heigl, apalagi di film Life as we know it, keren 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s