Kampung Kapitan

Kalo datang ke Palembang, apalagi jika baru pertama kali ke bumi Sriwijaya ini, orang biasanya akan diajak untuk melihat Jembatan Ampera yang memang adalah icon di kota ini dan biasanya orang akan diajak untuk menikmati kuliner di restoran-restoran yang dibangun di sekitar jembatan dan berada tepat di pinggir sungai Musi.

Restoran yang paling terkenal hingga saat ini adalah River Side. Terkenalnya bukan karena masakannya,Β tapi karena view dari resto itu yang memang menghadap langsung ke Jembatan Ampera, jadi kalo mau makan sekalian foto-foto dengan latar Jembatan Ampera memang udah pas banget kalo ke resto ini.

Tapi, belakangan ini muncul restoran lain yang sepertinya mulai menyamai ketenaran River Side, namanya adalah Kampung Kapitan yang mana lokasinya berada di kawasan Pecinan di Pelembang yang namanya tak lain tak bukan adalah Kampung Kapitan juga.

Jadi ceritanya nih, saat jaman penjajahan oleh Belanda dulu, di antara tiap-tiap komunitas saudagar (China, India, Arab), Belanda mengangkat satu orang sebagai Kapitan yang mungkin fungsinya sama kayak ‘ketua adatnya’ kali yah, yang mana penunjukannya itu berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial, alias yang dipilih adalah orang yang paling kaya. Nah, karena yang dipilih adalah orang yang paling kaya, maka biasanya peninggalannya banyak, soalnya namanya jaman dulu, itu rumah kan gede-gede dan dibangunnya gak sembarangan jadi sampe sekarang pun rumah mereka masih ada. Untuk Kapitan Arab, udah pernah saya liput jejak peninggalannya di sini. Untuk komunitas Tionghoa sendiri, jejak peninggalan mereka berada di Kampung Kapitan ini.

Sejujurnya, saya belom pernah secara khusus datang ke Kampung Kapitan untuk menikmati peninggalan sejarah Tionghoa jaman dahulu kala di kota ini……..

Satu-satunya alasan saya (dan keluarga) datang ke sini adalah untuk……….makan! :mrgreen:

Kampung Kapitan Restaurant ini seperti yang saya bilang tadi letaknya adalah di Kampung Kapitan yang beralamat diΒ Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1. Nama alamatnya pake Ulu, karena memang letaknya di Seberang Ulu. Saya jelaskan dikit buat yang belum pernah ke Palembang, jadi Sungai Musi itu membelah kota Palembang menjadi dua bagian, Ilir dan Ulu, yang mana kedua bagian itu dihubungkan oleh Jembatan Ampera. Jadi, untuk daerah di sebelah Ilir alamatnya pada pake Ilir-Ilir-an semua, sementara yang di Seberang Ulu ya pake Ulu-Ulu-an, hehe.. Kalo pernah nonton The Great Gatsby, nah Ilir dan Ulu ini ibarat West Egg dan East Egg gitu deh…hadap-hadapan langsung tapi terpisah oleh perairan. Restoran River Side yang saya sebut di atas terletak di sebelah Ilir sementara Kampung Kapitan ini di Ulu, dan posisi keduanya adalah berhadap-hadapan, jadi tinggal kita yang milih mo menikmati suasana di Sungai Musi dan Jembatan Ampera dari sebelah mana πŸ˜€

Kami, kerja dan tinggal di daerah Ilir. Jadi kalo mo ke Kampung Kapitan ini kami harus nyebrang melewati Jembatan Ampera, trus setelah turun dari jembatan musti muter balik ke arah tepi Sungai Musi alias ke daerah 7 Ulu ini, nanti ketemu simpang 3, ya udah tinggal belok ke kiri aja dari situ udah keliatan tulisan Kampung Kapitan-nya.

Restoran ini lumayan besar, bentuknya memanjang dan memang tepat sekali berada di tepi sungai Musi. O ya, di restoran ini juga ada dermaganya, jadi selain lewat jalan darat kita juga bisa pake transportasi air untuk ke restoran ini. Caranya dengan pergi ke dermaga Benteng Kuto Besak yang ada di sebelah Ilir, nanti dari situ bisa naik ‘ketek’ alias perahu kecil buat nyebrang ke dermaga Kampung Kapitan ini.

Sejujurnya, kami baru sekali sih ke Kampung Kapitan ini..hihihihi…itu pun tanpa direncanain sebelumnya.

Jadi kan ceritanya Sabtu kemarin sehabis jemput suami yang baru pulang dinas dari Bandara, di jalan pulang tiba-tiba suami ngajak makan di luar. Mikir-mikir mo makan di mana, keingetanlah saya sama Kampung Kapitan ini, soalnya beberapa hari sebelumnya kami makan malam di River Side dan ngeliat ke arah Kampung Kapitan ini kok nampak lebih asik ya suasananya, jadi penasaran pengen ke sini juga. Nah, mumpung suami ngajak dinner di luar kan, ya udah mari kita coba jajaki restoran ini πŸ˜€

Ini waktu di jalan mo jemput suami ke bandara
Ini waktu di jalan mo jemput suami ke bandara

Begitu kami nyampe, ternyata suasananya lagi rame, karena lagi ada acara farewell salah satu bos salah satu bank trus pas pula lagi ada rombongan para Putra-Putri Sriwijaya, ditambah lagi karena mungkin pas malam minggu jadi saya bisa ngeliat beberapa pasang orang yang lagi pacaran dinner di situ. Iyes, suasana malamnya memang lumayan romantis, jadi pas lah buat ngajak pacar ke sini, kami sendiri berhubung bawa anak-anak (dan si sus juga!) jadi cukup puas dengan berandai-andai…..coba kalo resto ini udah ada sejak jaman kami pacaran dulu πŸ˜€ . Β Lucky us, meski lagi rame tapi kami masih bisa dapat tempat duduk yang nyaman sekali, karena pas berada di pinggir, jadi bisa puas-puasin nikmati suasana pinggir sungainya. Puji Tuhan juga, cuaca malam itu lumayan enak…karena di pinggir sungai jadi jelas berangin, tapi gak yang sampe berangin bikin kedinginan gitu, anginnya bertiup sepoi-sepoi saja…sejuk!

IMG_00000060-r

Mari, kita nikmati suasana malam ini :)
Mari, kita nikmati suasana malam ini πŸ™‚

O ya,Β nama restoran ini boleh aja mengadopsi nama daerah lokasinya, tapi arsitektur dan desain interiornya sendiri sama sekali tidakΒ mengadopsi warisan budaya Tionghoa itu. Interiornya sendiri sepertinya bertema garden, lantainya dilapisi rumput sintetis lengkap dengan tanaman rambat sintetis pada tiang dan penyangga atap, juga terdapat dua ruangan kaca jadi terlihat seperti rumah kaca gitu.

Itu lho, rombongan yang lagi jalan di belakang itu adalah rombongan para putra-putri sriwijaya
Itu lho, rombongan yang lagi jalan di belakang itu adalah rombongan para putra-putri sriwijaya

Pelayanannya sendiri lumayan bagus. Pegawai-pegawainya ramah dan sigap melayani para tamu. Pesanan pun datangnya gak terlalu lama.

Rasa makanannya sendiri gimana? Ehm……yah, kalo jujur sih sebenarnya standar yah. Bukan yang enak-enak banget gimana gitu, tapi juga gak yang gak enak banget juga. Eh tapi kalo kata sus yang mesen Tom Yam Goong, rasanya sih katanya gak enak, keasinan kata si sus..hihihi… Saya sendiri mesennya Pindang Iga, suami mesennya Sop Iga Kapitan. Raja? Nasi goreng aja pesenannya..oalah nak, nak, jauh-jauh ke sini kok ya mesennya nasi goreng…mana harganya lumayan pulak, nasi goreng isi telur doang harganya 45ribu. Sambal? 20ribu aja pemirsa…hihihihi…. Tapi ya udah lah, yang penting bisa nikmatin suasana yang enak di sini…walopun tetep ya, sepertinya ke sini cuma buat sekali-sekali aja, kalo pas ada keluarga yang datang misalnya, kalo sering-sering mah bisa bangkrut kita πŸ˜€ πŸ˜€

Makan selesai, kami gak langsung pulang…ya sayang lah, mari kita foto-foto dulu πŸ˜€

IMG_00000106-r IMG_00000099-r

Iklan

35 thoughts on “Kampung Kapitan

  1. aku juga suka makan di resto pinggir laut/sungai gini, yg ada air2nya deh jd sejuk pemandangannya.. meskipun sering harganya lebih mahal sih, itung2 beli suasana dan tempatnya hehe.. kalo di pinggir pantai paling enak seafoodnya karna seger2 semua πŸ˜€

    1. Hihihi..iya, di river side tuh memang makanannya standar bangeeett. Paling yang agak enakan tuh cuma Tom Yam seafoodnya aja. Tapi hampir sama sih, di Kampung Kapitan juga bukannya yang enak2 banget makanannya, jadi mungkin memang mahalnya di suasana doang πŸ˜€

  2. emang restoran beginian yg dijual suasananya aja yah! makanannya sering gak enak.. padahal klo enak kan combo mantap banget haha

  3. lagi hits ya kampung kapitan disana? belum prnh kemari, dulu blm ada soalnya hehehe..
    aahh jd kangen plembang. keluarga papaku tinggal di daerah ulu πŸ™‚ Betuull klo mudik ke palembang pasti diajakin sodara main ke jembatan ampera, semacam wajib hukumnya gitu deh πŸ˜€

  4. saya pernah ke Palembang tahun 2011 deh kayaknya apa yang pertama saya pengen foto ke jembatan Ampera..sama ada tuh stadium buat persiapan PON waktu itu yaa.lupa namanya …trus ke Mall nya.. trus kemana lagi deh lupa…

    1. Namanya stadion Gelora Sriwijaya, waktu PON dulu cuma ada stadionnya aja, tapi utk SEA Games baru dibangun yang lain-lainnya lagi dan jadi lebih menarik lagi tempatnya.

      Kalo ke Palembang memang hampir gak ada objek wisatanya, makanya di sini mall selalu penuuhh…soalnya tempat rekreasi warga ya rata2 ke mall

      1. ohh gitu ya…benar tuh GOR sriwijaya deh aku sempat foto foto disana waktu itu persiapan SEA GAMES juga kayaknya deh… dah 3 tahunan lalu sih

  5. Beli suasana Sungai Musi berlatar Jembatan Ampera seraya makan bareng keluarga. Terima kasih Jeng, Palembang semakin menggoda untuk dikunjungi. Salam

  6. makan disini emang beli suasana ya mbak. padahal harganya bisa sampe 3 kali lipat resto lain. aku biasanya ngajakin anakku main di deket restorannya waktu sore hari. lumayan bisa liat ampera dan kapal lewat. kalau di bkb, jarak pandangnya kejauhan. kasian anak-anak susah liat kapal.

  7. Boleh juga ya. Saat orang pada sibuk memakai nama asing, ini malah pakai istilah lokal dan bersejarah pula. Sudah tempat OK, ada benderanya lagi. Sayang harganya lumayan angker.. πŸ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s