Di Sini Susahnya Mempertahankan Integritas

Di tengah suasana liburan ini (yes, sampai sekarang saya memang masih liburan ๐Ÿ˜› ), saya pengen nulis sesuatu yang agak serius dan berat dikit. Jarang-jarang banget kan ya nulis tentang yang berat-berat gini. Ini soalnya tadi barusan ngobrol dengan mertua tentang persoalan integritas ini.

Kenapa ngomong soal ini? Itu karena dalam kerjaan suami, hampir tiap hari berhubungan dengan pengujian terhadap integritasnya dan baru saja kami membahas soal ini dengan mertua.

Sebenarnya sih integritas itu luas banget yah. Gak hanya ada dalam lingkup pekerjaan, tapi di hampir semua aspek kehidupan, kita bisa menemukan hal-hal yang dapat menunjukkan sejauh mana kita sanggup hidup berintegritas. Di jalan, kejujuran kita teruji ketika kita sanggup tetap taat menunggu sampai lampu lalu lintas menyala hijau meskipun puluhan kendaraan lainnya dengan nyantainya melewati lampu merah itu (di hampir semua tempat di kota Medan terjadi kayak gini nih….sepertinya lampu lalu lintas itu cuma asesoris doang di pinggir jalan -___-” ). Dalam pergaulan, integritas kita juga bisa teruji ketika kita mampu memberikan teguran yang nyata dan tidak hanya bisa ngomong kasak-kusuk di belakang aja. Dalam mendidik anak, kita juga harus jujur dan adil…gak bisa kita mengharuskan dia begini dan begitu sementara di belakangnya kita mengingkari semua nasihat yang kita berikan. Ngajarin anak gak boleh buang sampah sembarangan, padahal kalo lagi gak bareng anak seenaknya ngelempar bekas bungkus makanan ke luar jendela mobil.ย Ngedidik anak untuk taat aturan, padahal sendirinya suka seenaknya mencari celah untuk melanggar hukum. Sok iyes banget memagari anak untuk gak punya akses ke sesuatu yang bersifat p****o, tapi sendirinya doyan ngedownload yang gak-gak masuk ke gadget. Dan seterusnya. Dan selanjutnya.

Begitulah, integritas itu sangat luas dan seharusnya menjadi budaya dalam setiap aspek kehidupan. Namun kali ini yang mau saya omongin adalah soal integritas dan kerjaan suami. Kalo soal kerjaan saya mah gak usah diomongin, tantangan terkait integritasnya gak yang sedramatis yang dialami pak suami. Ya, soalnya kalo pak suami kan sehari-harinya berhubungan dengan stakeholder, sementara kalo saya mah setiap jam yang dihadapin ya mesin server dan bahasa pemrograman, hehe….

Sering saya dengar orang bilang kalo mempertahankan integritas itu memang tak mudah, apalagi kalau sudah berhubungan dengan duit. Kenapa tak mudah? Ya karena memang sudah sifat manusia kan, cinta sama duit. Apalagi kalo udah terdesak kebutuhan….. kebutuhan apapun itu, termasuk kebutuhan nyenengin istri biar gak dicerewetin dan gak dicemberutin, maka mau itu duit halal ataupun gak, ya sudah lah diterima saja. Apalagi kalo uang itu diberikan tanpa kita minta-minta dan dengan embel-embel sebagai ucapan terima kasih…wedeww….langsunglah diterima, tanpa mikir kalo bisa saja hal itu juga adalah bagian dari gratifikasi yang melanggar hukum.

Duit itu memang mempesona sampai bikin banyak orang tak tahan dengan hidup penuh integritas. Tapi kalo kata kami sih, dari pengalaman yang sudah-sudah (yang dialami pak suami tentu, bukan saya ๐Ÿ˜€ ), mempertahankan integritas justu titik paling beratnya bukan di situ.

Kalo cuma soal duit, itu bisa dilawan dengan selalu berdoa sama Tuhan supaya hati kita selalu diberi rasa cukup untuk semua berkat yang sudah Tuhan kasih agar gak lagi kepikiran pengen itu, pengen ini, padahal udah gak sesuai dengan kemampuan. Bukan berarti kami udah jadi manusia paling suci yang gak butuh duit yah, sebagai manusia tetaplah kami butuh duit. Hanya saja kalau godaannya cuma duit, dalam nama Tuhan Yesus bisa ditengking jauh lah itu, dan kalau harus menolak pemberian duit hampir tak ada risiko sosial yang harus kita tanggung sebagai konsekuensinya.

Nah, tapi ada aspek lain yang justru sangat memberatkan perasaan, yaitu ketika sudah berhubungan dengan RELASI. Tampak sederhana, namun sebenarnya kalau kita tidak dikasih hikmat khusus dari Tuhan, maka bisa saja terjebak dalam rasa tidak enak atau kasihan yang justru menggiring pada perbuatan tak jujur.

Memang sih ya tak semua karena rasa tak enak. Ada juga yang kemudian melanggar integritas karena relasi ini atas dasar cari aman. Karena yang ‘minta tolong’ adalah pihak-pihak tertentu yang dapat membongkar atau mem-blow up kesalahan masa lalu (atau bahkan masa kini), maka ya sudah, mari manfaatkan saja kedudukan dan jabatan sekarang untuk ‘menolong’ mereka. Kalo yang beginian sih, jelas-jelas memang sudah ada yang salah dengan nuraninya ๐Ÿ˜€

Tapi kalo di luar hal tersebut di atas dan murni oleh karena persoalan relasi yang bikin kita berada pada situasi seperti makan buah simalakama, nah itu yang terasa berat. Bahkan kalo kata suami sih, maha berat lah. Konsekuensinya bisa-bisa dibenci dan dikutuk keluarga sendiri seumur hidup!

Saya kasih contoh yang pernah dialami suami, yang mana contoh ini hanyalah satu di antara sekian banyak pengalaman pak suami.

Alkisah pada suatu hari, saat suami masih bertugas di Kantor Area Palembang, yana mana salah satu kerjaan di bidang yang dibawahinya adalah penertiban penggunaan tenaga listrik (yang itu lho…yang ngerazia orang yang nyuri listrik ๐Ÿ˜€ ), tersebutlah salah satu timnya di lapangan menemukan pencurian listrik di sebuah rumah. Begitu ditelusuri, ternyata sang pemilik rumah adalah masih kerabat dengan kami. Memang sudah agak jauh sih. Tapi ompung kami dan ompungnya masih tetanggaan di kampung, jadi ya kalo dalam lingkungan Batak, hubungannya itu adalah SUPER DEKAT!

Begitu si pemilik rumah mengetahui kalo rumahnya terkena operasi penertiban penggunaan tenaga listrik ini, langsunglah dibilangnya dengan logat Batak kental, “Bah…bos kalian itu sodara dekat aku, manggil lae dia ke aku. Poltak Samosirnya kan namanya? Aku ini itonya istrinya. Tanyalah ke dia, jangan berani-berani kalian putus rumahku ini, langsung ku laporkan kalian semua ke dia!”

Sehabis diomongin gitu, mau gak mau tim yang di lapangan itu langsung ngehubungin suami di kantor dan cerita soal itu.

Mungkin posisi suami gak akan terlalu berat, kalo saja seandainya orang itu hanya mengada-ada kenal dengan suami. Karena tau suami orang Batak maka langsung ngaku-ngaku kenal. Kalo kayak gini sih, suami bakal bisa dengan perasaan ringan langsung bilang, “Halah…gak kenal saya dengan dia. Lanjutkan aja operasinya!’

Tapi masalahnya sekarang, orang itu gak mengada-ngada. Beliau memang masih keluarga dan dari kedudukan di adat masih hula-hula (pihak yang dihormati) kami. Saya memang memanggil beliau Ito, yang berarti saudara laki-laki. Setiap kali mertua mengadakan acara di Medan, maka orang tua dari beliau itu, rela jauh-jauh datang dari kampung ke Medan demi menghadiri perhelatan yang diadakan mertua. Dan untuk melengkapi kedekatan, ketika pertama kali suami datang ke Palembang, beliau itulah yang menjemput dan tentu saja suami kemudian menginap di rumahnya…………………………………….

KOMPLIT!

Di situasi seperti itu, melanjutkan operasi penertiban listrik di rumahnya tentu akan menimbulkan masalah.

Risikonya dia bisa marah besar ke suami, yang mana persoalannya tak hanya akan berhenti sampai di kota Palembang aja, tapi akan terdengar sampai di Medan dan bahkan sampai ke Pangaribuan sana. Tak hanya akan jadi cerita sampai haiย ini saja, tapi sampaiย kiamat pun maka itu akan jadi dongeng tak berkesudahan di setiap pertemuan adat.

Belum lagi ditambah dengan beban moral dalam diri suami. Keluarga sendiri masak sih tidak bisa dibantu?? Di mana hati nurani, di mana rasa saling tolong menolong?? Dan kalau dalam posisi seperti ini, gak bisa jabatan itu membantu keluarga, mau ditaro di manakah muka orang tua di Medan di hadapan keluarga besar di sana??? Katanya punya anak yang tekenan-nya bisa bersuara, tapi kok sama keluarga sendiri tak bisa pake kuasanya???

Tapi kalau ditolong, penemuan oleh tim di lapangan itu diputihkan…maka bukankah ada persoalan panjang lainnya yang dipertaruhkan??

Kinerja perusahaan, uang negara, motivasi kerja para tim di lapangan, track record pribadi….semuanya dipertaruhkan.

Jika diputihkan maka uang negara raib, memang mungkin gak seberapa untuk kasus itu, tapi kalau yang itu bisa diputihkan maka tentu akan banyak kasus lain yang juga akan terputihkan.

Dan lebih parahnya lagi, itu akan jadi demotivasi untuk para tim di lapangan. Udah susah-susah nentuin target operasi, udah mempertaruhkan nyawa saat menjalankan operasi…eh si bos seenak-enaknya aja nyuruh kasus itu dilupakan. Ya sudahlah, mari kita kerja asal-asalan aja, biar gak capek dan sakit hati. Belum lagi kalau mereka kemudian berpikiran, “Kalau bos aja bisa nakal, kenapa kita gak???”

Belum lagi soal track record pribadi. Saya dan suami selalu yakin, bahwa integritas adalah salah satu kompetensi terbesar yang bisa kita berikan pada perusahaan. Kita harus berkarya, itu memang benar. Tapi bagaimanapun tak dapat dipungkiri, bahwa dengan adanya karya kita atau tidak, perusahaan ini akan tetap berjalan. Dan point yang lebih penting lagi, adalah bahwa karya tanpa integritas, sama saja dengan kosong. Tak ada artinya. Sebaliknya, orang yang berintegritas pasti adalah orang yang bisa menghasilkan karya, karena tak ada orang berintegritas yang sanggup makan gaji buta! Karena itu, satu saja kesalahan kecil yang melanggar integritas yang kita lakukan, maka itu akan sangat mencoreng kompetensi kita. Kita akan dinilai sama dengan orang lainnya yang sanggup memanfaatkan posisi untuk kepentingan pribadi.

Dalam kondisi seperti itu, mungkin ada yang berpikiran. Ya sudah, jalan tengah saja. Operasi tetap dilanjutkan, tapi kita yang bayar dendanya.

Ok, itu mungkin perbuatan baik.

Tapi apakah itu benar? Apakah itu mendidik?

Dari pengalaman, bahkan orang yang sudah pernah membayar denda pun, tapi karena sudah terbiasa dan sudah tau celahnya mencuri listrik, maka mereka bisa mengulangi perbuatannya.

Belum lagi, pada beberapa orang, kami temui ada kecenderungan merasa bahwa ketika mereka ditolong, maka itu adalah kewajiban dari yang menolong dan bukan karena kemurahan hati. Apalagi jika pertolongan tersebut adalah berupa hepeng alias duit. Karena itu, ada orang-orang yang sekali ditolong, maka terus menerus mereka menjadikan kita seperti sapi perah. Bukan soal rejeki yang dikuatirkan, karena Tuhan pasti akan menggantikan semuanya. Tapi apa gunanya kita menolong orang tanpa mendidiknya? Tidakkah itu sama saja dengan membiarkan dia tetap berada pada lubang yang sama? Bukankah bagi mereka yang terperosok masuk ke dalam lubang harus ditolong dengan cara diberikan tali agar mereka dapat berusaha naik dan bukannya hanya dengan melemparkan makanan dan minuman enak untuk menyamankan situasi mereka dalam lubang itu? Bukankah kasih itu tak hanya untuk sesuatu yang tampak lahiriah saja melainkan harus menyentuh sampai ke dalam batin?

Dalam kondisi yang seperti itu, suami akhirnya memilih untuk memerintahkan agar operasi tetap dilanjutkan…………………….

Kerabat yang terkena operasi itu kemudian sama seperti pelanggan lainnya yang tidak terima, diundang datang ke kantor oleh pak suami. Kasusnya diperiksa, alat-alat bukti dicek, hingga suami yakin kalo ini memang murni pelanggaran (prosedurnya memang begitu, alat bukti yang dibawa ke kantor memang harus diperiksa sebelum surat tagihan atas pelanggaran dikeluarkan). Setelah ok sip semuanya, si kerabat tersebut diajak ngomong baik-baik oleh pak suami dan untuk meringankan denda atas pelanggaran yang dia lakukan, maka dia diberikan kesempatan untuk mencicil, yang mana itu memang sesuai dengan aturan.

Ada perasaan tidak enak tentu sebagai keluarga dekat. Tapi itulah harga yang harus dibayar.

Mama mertua ketika tau soal ini pun sempat protes dengan sikap pak suami. “Kenapa harus begitu? Kenapa gak bisanya dibantu, amang? Mamakpun seringnya kalau ada apa-apa, minta tolong sama keluaga kita yang ada posisinya.”

Jawaban suami kemudian hanya, “Itulah integritas mak, gak bisa kita tegas pada orang yang tak kita kenal, tapi lemah pada saudara kita.”

Memang bukan salah mama mertua ketika berpikiran seperti itu. Beliau yang terbiasa berada dalam lingkungan adat Batak, sehari-harinya berhadapan dengan sikap saling tolong menolong. Tentu beliau tak akan berpikir jauh soal kerugian negara, kinerja perusahaan, dan sebagainya. Beliau hanya tau bahwa ‘menolong’ kerabat adalah perbuatan yang baik dan patut dilakukan.

Tak semua orang, meski sering mendengar tentang integritas, tapi paham apa artinya. Bahkan ada hamba Tuhan yang saya tau yang menceritakan sendiri tentang sesuatu hal yang buat kami sudah melanggar hukum dan sudah termasuk KKN, namun beliau masih menganggap bahwa itu adalah hal yang patut dilakukan.

Bagi orang yang tak paham, integritas memang samar, seolah-olah seperti sesuatu yang berada pada daerah abu-abu dan ada double standard yang bisa diterapkan di situ. Tapi bagi orang yang paham, integritas itu adalah sesuatu yang mutlak penerapannya. Karena ketidaksamaan persepsi ini, maka akan selalu ada pertentangan antara yang paham dan yang tidak ketika sebuah sikap jujur dan adil harus diambil.

Itulah kenapa buat kami titik paling berat dalam mempertahankan integritas adalah ketika sudah berhubungan dengan relasi, karena tekanan kemudian bisa datang dari mana saja bahkan termasuk dari orang tua kandung sendiri. Kita bisa dianggap jahat, sombong, sok berkuasa, dan tak berguna di hadapan saudara. Hubungan dengan teman bisa-bisa putus. Atasan pun bisa membenci kita sebenci-bencinya karena sikap tak bisa berkompromi dari kita.

Sekali lagi saya bilang, kasus di atas hanya satu contoh dari sekian banyak yang dihadapi suami. Kadang relasi yang dihadapi bukan keluarga, tapi dengan pihak-pihak lain yang tak perlu lah saya sebutkan di sini. Seringย saya kasian liatnya, tapi hanya Tuhan yang bisa selalu kami andalkan. Doa saya selalu untuk dia supaya selalu diberi hikmat, bisa mengambil keputusan yang tepat dan mampu mengkomunikasikan penjelasan atas keputusan itu. Saya juga selalu berdoa, supaya orang-orang yang berhubungan dengannya dan merasakan dampak dari keputusan yang dia buat, diberikan hati oleh Tuhan untuk mau memahami.

Puji Tuhan, di tengah segala hal yang harus dihadapinya, hingga kini semua dapat terselesaikan dengan baik dan orang yang terkena dampaknya akhirnya bisa paham…dan hey, jangankan si kerabat yang kena operasi penertiban itu, bahkan preman yang pernah mau nusuk suami pun kiniย bisa selalu jabat tangan erat setiap ketemu dengannya! Haleluya!

Kiranya Kristus memberkati suami terus, sampai ke depannya nanti supaya bisa selalu dikasih kemampuan mempertahankan integritasnya. Tuhan menempatkan dia di perusahaan pelayanan publik seperti ini yang mana dia harus sering berhadapan dengan ujian terhadap integritas, tentu karena Tuhan ingin menggembleng dia (dan saya tentu sebagai istrinya yang cantik dan cakap iniย #kemudianditabokkabellistrik) agar jadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.

Apa yang dialami suami membuat kami amat sangat menghargai orang-orang di sektor publik yang sanggup mempertahankan integritas di tengah kuasa yang mereka miliki. Dan sungguh merasa sedih ketika orang-orang yang mau bekerja itu, yang sudah mempertaruhkan perasaan mereka demi apa yang disebut integritas, tapi tetap masih dihina di sana-sini. Orang-orang yang menghina itu tak pernah tau bagaimana berada di posisi seperti mereka. Kalau suami aja yang baru di level segini udah sering ngadepin hal yang bikin berat perasaan, apalagi mereka. Tapi yah begitulah manusia, lebih suka protes tanpa tau proses apalagi paham progress.

Dan memang jauh lebih mudah jadi orang yang dikenal baik ketimbang jadi orang benar. Kalo mau dikenal baik, cukup sering bagi-bagi (entahkah duit, jabatan), maka pasti akan banyak orang yang bilang kita baik dan pengagum kita pun akan banyak…meskipun yang mereka kagumi sebenarnya adalah apa yang kita punya bukan siapa diri kita sebenarnya. Tapi kalo mo jadi orang benar, kita musti siap dicaci, dianggap tak berperasaan, bahkan jahat. Kalau sudah begitu ya, tinggal sabar saja dan terus berdoa. Tuhan tak pernah menutup mata dan semua pasti akan indah pada waktunya ๐Ÿ™‚

Demikianlah pemirsa, obrolan berat kita di tengah malam ini, hehe… Saya sebenarnya sudah mau tidur, tapi masih nunggu pak suami yang masih lagi asikย dengan bapak mertua, saya dengar mereka ngobrol seru tentang politik, tentang adat, tentang masa muda bapak mertua, dan tentang prinsip-prinsip dalam hidup. Mereka banyak ngomong dalam bahasa Batak sebenarnya, tapi eittss….jangan salah, meski lidah ini masih kaku tapi telinga ini sudah fasih menerjemahkan hampir semua kata dalam Bahasa Batak ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Ok deh, bapak-bapak dan ibu-ibu, yang sudah bobo saya ucapkan selamat bermimpi. Yang masihย baru mo tidur seperti saya, ya saya ucapkan selamat bobo ๐Ÿ˜€

Iklan

46 thoughts on “Di Sini Susahnya Mempertahankan Integritas

  1. Lisaaaaa hahahahaha akuuu sungguuuh mengerti hal iniii hahaha. Dan dri awal sesungguhnya itu bikin kami nggak mau penempatan Medan *grin*. Di Bandung aja orang bisa nyari si Tamba-br Purba kalo ada perlu soal urusan kantor zzzzz. Di Palembang aja masih ketemu ya sama org batak ahahaha aku kebayang kalian di punguan dibilang “oh soal listrik? minta tolong aja sama ‘pasangan listrik’ itu,” Kebayang nggak sih Lis,kalo kalian di PLN Medan hahahaah Meski dibilang pulang kampung, lebih murah segalanya dsb dst, kalaupun ke sana maunya promosi doang udah gitu pindah lagi ihik karena oh karena, di mana-mana bisa jadi sodara. Berada di punguan marga yang sama aja berasa sodara kan. Sukur aje skrg PBB nggak di pajak lagi kecuali pbb pertambangan. Sampe skrg aja kalo ada sodara yg pengen complain soal pbb langsung keinget sama ‘pasangan pajak’ dan protes ke kita kenapa bla bla bla. PBBnya naik nggak mau, eh giliran mau jual rumah maunya ngikutin harga pasar, bayar pajak maunya harga njop. Uhuk yeee…

    1. Nah Ndang, pengerja di gereja yang aku singgung di atas itu, ya ceritanya adalah soal pajak juga…hihihi…jadi ceritanya dia manfaatin koneksinya ke org di kantor pajak buat bantu ngurangin pajak usaha anggota jemaatnya, dalihnya….sesama saudara seiman harus saling tolong menolong -_______-”

      Dan iyes, kebayang itu kalo kita tugasnya di Medan. Di sini aja udah banyak ‘sodaranya’, apalagi di medan, seprovinsi ituah sodara kita..ahahahaha

  2. salut sama bapak poltak! hebat dah…
    emang susah ya kalo udah urusan sama keluarga kayak begini. tapi hebat lho bisa tetep mempertahankan integritas dan tetep bisa membina hubungan baik sama keluarga. salut! ๐Ÿ™‚

    1. Thanks Man ๐Ÿ™‚

      Makanya ya, aku salut banget sama orang-orang seperti Ahok. Susah banget ada di posisi dia, berusaha jadi orang tanpa kepentingan dalam dunianya yang penuh kepentingan. Dan prihatin, udah kayak gitu pun tapi masiiihhh aja dia dihina-hina orang.

  3. bahas integritas langsung deh ingat kantor…wah hebat ya papa nya Raja… luar biasa.. bisa bersikap profesional dikerjaan dengan tantangan berat kayak gitu……………….

    1. Semua memang karena Tuhan, Sit…kalo dipikir-pikir, kami juga suka heran sendiri…kok bisa yah itu orang akhinya bisa nerima dan ngerti? ๐Ÿ˜€

  4. Jadi orang benar itu lebih ruwet ya Jeng, jauh lebih mudah jadi orang baik, tinggal bayar soalnya. Kalau jadi orang benar tak bisa dibayar, harus ngelakoni ..Selamat meneruskan liburan ๐Ÿ™‚

  5. Lis, kasusnya yg dialami sodaramu itu pernah kualami, alias PLN juga. Tp kalo aku kasusnya malah aku dikerjain sm org PLN gara2 aku renov rumah. Hehehe. Didenda 12 juta dengan alasan yg ngga masuk akal (dia bilang pemakaian mendadak jadi sedikit, nyolong) padahal pemakaian kami sedikit krn berbulan2 renovasi rumah ya jelas listrik kepakai sedikit.

    Akhirnya aku penuhi tuh dtg ke kantor PLN, dimana pas aku dtg sekretaris kepalanya malah lagi main solitaire, karyawan seabrek2 pada jam kerja sedang nonton infotainment, makan gorengan dan merokok di saat kami ingin menghadap dan melecehkan kami. Bahkan saat kami bertemu dengan pimpinan, pimpinannya malah melecehkan aku dengan bilang: masak penampilan kayak ibu bayar duit segini aja susah?

    Aku sangat kecewa dengan pelayanan saat itu. Aku konfirmasi ke kontraktorku kenapa tiba2 orang PLN bisa seperti ini. Ternyata saat kontraktor mau pindahkan meteran listrik karena renov, ada org PLN sendiri yg dateng nawarkan bantuan plus minta uang jasa. Jadi ini akal2an. Mau gak mau aku hrs pake ‘relasi’ dan kontak ke kawanku yg ayahnya petinggi PLN, karena kasusnya udah gak beres. Aku tungguin aja deh. Gak brapa lama alias bbrp mgg kemudian petugas PLN dateng ke rumahku. And guess what, meteranku diganti yg baru dan kinclong, dan orangnya say sorry krn dulu ada pegawai nakal yg bongkar meteran. Haishhhh…. itu back in 2010 sih.

    Eh aku kok malah curhat soal PLN. Hahahaha. Salut buat Poltak. Seandainya saja dari atas sampai bawah semuanya punya integritas, kasus yg aku alamin juga ga akan terjadi.

    1. Itulah Le, kalo soal pembenahan, memang buanyak sekali yang perlu dibenahi di dalam sini, makanya nyambung kan ya kalo aku bilang di level apapun Tuhan tempatkan kami maka kami harus bisa jadi teladan, supaya paling gak orang-orang yang kami bawahi bisa pelan-pelan berubah mind setnya.

      So sorry about your case, Le. Tapi ke depannya untuk menghindari hal yang sama terjadi lagi, jika mau renovasi rumah dan perlu adanya pemindahan meteran, maka sebaiknya menghubungi PLN secara resmi, karena sebagaimana yang tercantum dalam surat perjanjian jual beli tenaga listrik antara PLN dan pelanggan, pelanggan tidak boleh memindahkan meteran listrik yang adalah properti PLN, hanya pihak PLN (lewat kontraktor resmi yang ditunjuk) yang bisa memindahkan meteran listrik di rumah pelanggan.

  6. Hebat ya pak Poltak….
    susah bener emang menjaga integritas *pecut diri sendiri…
    semoga kita selalu dijaga Tuhan dari hal-hal yang mendatangkan kerugian/ kesia-siaan bahkan murka-Nya.

    Tapi aku setuju banget sama mbak lis, jadi orang baik itu emang lebih mudah daripada jadi orang bener. Mungkin dengan menjadi orang bener kita gak disukai banyak orang, tapi yang penting kita disukai Tuhan.

    1. Hooh…jadi orang baik bikin kita disenangi orang, tapi kalo jadi orang benar belum tentu bisa diterima oleh orang lain ๐Ÿ˜ฆ

  7. Mbak Lisa, aku sama suami juga pasangan pekerja untuk negara, aku di pengawasan jasa perbankan dan suami malah auditor. Sampai sekarang gak pernah tercetus menggunakan Name Tag kami untuk mendapatkan fasilitas apapun, kecuali waktu kita pernah dipalakin sama orang instansi pemerintahan, suami baru ganas marah jangan bohongi aku, uang itu masuk Kas PNBP resmi atau kantong sendiri hahahaha.

    Tapi yang bikin kesal malah beberapa kerabat malah mengira nama (dan jabatan) kita bisa dibawa-bawa. Misalnya ada kerabat yang punya masalah administrasi di Bank, ujung-ujungnya bawa nama aku ke orang Bank padahal aku gak tahu atau ada kerabat lainnya mengira dengan Name Tag suami saya, kami bisa bolak balik masuk jalan tol tanpa bayar hahahahaha. Gak apa-apa kami dibilang pelit atau gak suka membantu, bahkan kartu renang atau jatah rumah istirahat punya kantor pun aku tolak kalau mau dipinjam sama bukan pegawai. Tapi integritas harus dimulai dari yang kecil, aku sama suami cuma takut kecil-kecil jadi terbiasa nanti tergelincir. Mau gak mau menjaga integritas adalah meminta perlindungan Yang Di Atas, semoga pekerjaan yang kita lakukan selalu dilindungi-Nya.

    Salut buat Pak Poltak!

    1. Bener, semua dimulai dari yang kecil-kecil. Kalo kita udah longgar krn nganggap itu cm hal sepele, nanti malah jadi terbiasa, sampe yg besar pun kita anggap sepele.

      Semangat buat dirimua dan suami yaaa…semoga apapun bagian yg Tuhan beri dlm pekerjaan kita, dpt membuat kita berkontribusi (meskipun tampak kecil) dalam perubahan yg baik bagi bangsa kita. Amin.

  8. salut banget sama bang Poltak dan kak Allisa !
    emang iya jaga integritas tuh susah banget, I know the struggles,,
    kadang utk hal2 kecil aja kita tergoda, gimana dengan hal besar yg menyangkut kepentingan byk org..
    kadang hal ini juga yg menghalangi pilihan karir, agak takut masuk dunia pemerintahan dgn segala godaannya ๐Ÿ™‚ jadi konsultan pajak aja banyak yg mau sogok sampe aku kabur dari sana.. ga berani lagi aku kerja di lahan basah

    1. Hooh Mey, kerja di lahan basah perlu sikap jujur dan tegas. Kalo kita cm bs jujur tanpa bs tegas ya susah juga…kejujuran kita akhirnya akan kalah.

      Thanks ya Mey.

  9. salut banget sama bang Poltak dan kak Allisa !
    emang iya jaga integritas tuh susah banget, I know the struggles,,
    kadang utk hal2 kecil aja kita tergoda, gimana dengan hal besar yg menyangkut kepentingan byk org..
    kadang hal ini juga yg menghalangi pilihan karir, agak takut masuk dunia pemerintahan dgn segala godaannya ๐Ÿ™‚ jadi konsultan pajak aja banyak yg mau sogok sampe aku kabur dari sana.. ga berani lagi aku kerja di lahan basah

  10. Saluuut sama suaminya Mba Allisa. Emang masalah per-relasi-an ini yang paling susah ya. Apalagi kalo udah sama marga atau masih kerabat di kampung gitu.
    Semoga keluarga Mba Allisa selalu dilindungi Tuhan ya.. ๐Ÿ™‚

  11. hebat mbak (terutama) pak suami. bisa konsisten menjaga integritas di tengah hiruk pikuk duniawi gini. semoga aku dan suami pun bisa tetap menjaga integritas yg sudah kami bangun selama ini. kuncinya emang Tuhan dan Keluarga yang saling support satu sama lain. kalau ga, wah bisa bubar jalan.

    1. Yes, kuncinya mmg Tuhan, kalau bukan Tuhan yg kasih hikmat dan menjaga, mustahil sbg manusia bs konsisten menjaga integritas.

      Semoga kerjaanmu dan suami jg sll diberkati Tuhan yaa

  12. Jeng Lis, logatnya tuh serasa lahir dan besar di Medan hehe
    Integritas mulai dari dalam dan lingkungan kecil kita. Kiranya Tuhan menjaga Abang Poltak Samosir untuk tetap memelihara integritas dalam kasih. Ikutan belajar dari postingan ini. Salam

    1. Hehehe…karena tiap hari ngobrol sama mertua jdi terikut-ikutlah logat Batak ini bu Prih ๐Ÿ™‚

      Amin, terima kasih doanya bu Prih ๐Ÿ™‚

  13. Hi Kak Lisa,
    Salam kenal.
    wah.. salut banget sama suami kakak, emang yg namanya integritas sulit untuk di jalanin, tapi saya yakin pasti perlindungan Tuhan akan tetep ada untuk kakak dan sekeluarga. hehe..

    btw. ulang tahun kita sama lohh. tanggal 28 oktober.. hehe.. kalo kata movie ‘so close’ orang yg ulang tahunnya tanggal 28 itu orang yg cerdik dan hebat. hahaha. *maaf ya, jadi ga penting*

  14. Hai Lisa.. salam kenal… aku sering baca-baca tulisanmu di blog ini tapi malu untuk komen….halah….
    Tulisan kamu yg ini asli keren banget…. salut luar biasa sama suamimu….
    sebagai orang Batak, aku paham banget posisi beliau yang pasti sulit ketika berhadapan dengan Batak-Batak lain yang di satu sisi sifat kekeluargaannya memang sangat tinggi tapi sayangnya terkadang jadi disalahgunakan… tentu gak semua begitu ya… tapi memang aku pun terkadang menghadapi situasi seperti itu… tapi belum pernah mengalami seperti yang dialami suamimu… aku bener-bener salut dan jadi terinspirasi… mudah2an suatu saat ketika menghadapi situasi seperti itu bisa ingat solusi yang dipilih Pak Poltak ๐Ÿ™‚
    Integritas memang harus nomer satu dimanapun kita berada….
    Tuhan memberkati kita selalu…. Amin.

  15. Morning da, izin share artikelnya ya da.
    Bagus banget isinya, byk pelajaran positif yg bisa diambil. Sayang kalau ngga di share ke temen2 & handai taulan, hehehe….

    Many thanks eda, good day ya

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s