See The Big Picture

Media sosial akhir-akhir ini memang rame sekali ya.

Sebelum-sebelumnya rame sama dukungan capres, kampanye, saling jelek-jelekin, black campaign, dan sebagainya.

Saat pemilu, rame dengan foto-foto habis nyoblos.

Begitu selesai nyoblos, rame sama quick count, apalagi karena hasilnya yang beda-beda dan ada stasiun yang kekeh dengan hasil surveinya yang beda sendiri.

Gak sampai di pemilu presiden, jagad media sosial pun kemudian diramaikan dengan serangan Israel terhadap Gaza. Tiba-tiba news feed penuh dengan gambar-gambar mengerikan dan hujatan serta kutukan terhadap Israel.

Saya gak mau bahas soal pilpres.

Saya juga gak mau bahas soal perang Israel dan Palestina.

Saya cuma mau bahas tentang orang-orang yang kalo saya bilang berlagak pintar dan berlagak pahlawan. Tanpa pake cek dan ricek, begitu dapat info, dapat berita, dapat gambar, langsung nge-share dan langsung ngasih kesimpulan bahkan langsung ngasih komen bernada kutukan, padahal sebenarnya dia sendiri gak tau apa-apa. Ya gimana mo tau, isi beritanya aja gak dia baca secara komplit, tapi udah langsung nge-share dan langsung menghakimi.

Inget waktu musim kampanye kemarin, dengan seenaknya orang menyebar kabar fitnah, dan tambah miris melihat nama agama dibawa-bawa di situ.

Inget juga waktu heboh pemilu di Hongkong, si Rosalinda menyebar kabar bahwa telah terjadi kecurangan. Si Veronika menyebar kabar bahwa kecurangan itu bohong, fitnah belaka, dan sebenarnya kericuhan itu sudah diatur. Gak terlalu masalah sebenarnya kalo hanya sekedar men-share. Tapi gak bijak rasanya kalo udah langsung ngambil kesimpulan trus mengumpat salah satu pihak, hanya berdasarkan pada satu berita yang dia baca saja. Padahal dia sendiri bukan saksi mata, bukan juga pihak yang bertanggung jawab, bukan juga korban, tapi kok malah koar-koar di media sosial seolah-olah dia tau bener semuanya.

Inget juga waktu rame soal quick count, sementara yang lain mempermasalahkan kredibilitas lembaga survei, ada pula beberapa pihak yang malah menyebar isu kemana-mana kalo stasiun tivi yang menayangkan hasil quick count itu harus dipidanakan karena melanggar UU Pilpres. Padahal ya pemirsa, kalo aja kita mau meluangkan diri untuk banyak membaca, banyak cari info yang bermutu, maka kita akan tau kok kalo pasal yang melarang proses hitung cepat dan penyebaran hasilnya itu sudah dibatalkan oleh MK sejak bulan April lalu. Berita tentang itu sebelum pilpres ini lumayan rame diberitain kok, tapi ya di media-media yang emang bahasannya serius, bukan di media yang isinya fitnah doang. Lagian logikanya aja, kalo emang benar itu melanggar hukum, lah kok malah tata caranya diatur dan disepakati bersama KPU? Tapi ya memang agak susah ngomong soal logika sama orang yang tujuan hidupnya bukan mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran diri sendiri atas kebencian yang ditebarnya.

 Saat heboh tentang serangan Israel ke Gaza, begitu banyak yang nyebar foto mengerikan anak-anak yang terbunuh, hujan peluru, dan sebagainya.

Padahal sebagian besar dari foto-foto yang beredar itu adalah foto-foto lama, tapi si penyebar menulis seolah-olah itu adalah foto terbaru, terkini, dan terupdate dari Gaza. Padahal juga sebagian dari foto-foto itu tidak dapat dibuktikan kebenarannya, bahkan ada yang sudah lama sekali terbukti sebagai sebuah kesalahan.

Contohnya foto seorang tentara yang lagi nginjek anak kecil, lengkap dengan senjata laras panjang AK-47 ditodongkan ke si anak.

Sekilas diliat, kok ya sadis amat ya…bener-bener biadab tuh tentara.

Sekilas diliat, memang rasanya merobek-robek rasa kemanusiaan…

Tapiii…

Begitu kita liat gambar komplitnya.

Ternyata oh ternyata, itu adalah salah satu scene teatrikal dalam sebuah demonstrasi di Bahrain bulan Desember tahun 2009 (sumbernya dari sini).

Emang sih sejak awal liat saya juga udah gak percaya, apalagi kalo dibilang itu adalah tentara Israel. Sejak kapan seragam israel bentuknya kayak gitu. Trus itu, manusia-manusia bersandal jepit di belakangnya tuh pada ngapain?

Ternyata benar, itu gambar bohongan. Itu aksi demonstran. Bukan aksi sungguhan tentara yang lagi ngebunuh (atau sedang mengancam jiwa) anak-anak.

Saya menulis ini bukannya tidak prihatin terhadap konflik antara Israel dan Palestina yang sudah berlangsung sejak awal abad ke-20 pun (atau malah sejak akhir abad ke-19). Saya prihatin. Benar-benar prihatin atas nama kemanusiaan, terhadap semua perang dalam bentuk apapun. Saya juga berdoa kok untuk perdamaian di sana, sebagaimana saya berdoa untuk keamanan dan kedamaian negeri ini.

Saya gak membela tentara Israel. Sama seperti saya gak akan memihak tentara Hamas.

Sekali lagi, saya tidak akan setuju dengan perang dalam bentuk apapun.

Tapi fenomena yang terjadi yang saya lihat di tengah kondisi akhir-akhir ini adalah betapa mudahnya orang menyebar sesuatu tanpa mengecek dulu dan tanpa berpikir bahwa sebenarnya dia sedang menyebar kebencian. Iya kalo orang yang baca adalah orang yang pikirannya terbuka dan cerdas sehingga gak gampang termakan isu, nah kalo yang baca adalah orang yang luas pikirannya gak lebih luas dari nyebar isu itu, bakal kayak gimana jadinya? Kapan damainya kalo pihak-pihak yang sebenarnya gak tau apa-apa pun turut memanas-manasi?

Sebenarnya adalah lebih bijak jika semua informasi yang kita terima bisa kita saring dan cari kebenarannya dulu sebelum kita sebar kemana-mana. Apalagi dengan era teknologi seperti sekarang ini, kita tinggal buka google, trus nyari artikel yang disertai fakta yang bisa dipercaya. Nyari gambar dengan teknologi google juga kan udah gampang banget sekarang. Tinggal diliat, itu artikel atau gambar sumbernya jelas ato gak, kalo ternyata infonya cuma dari twitter semua, mending tahan diri dulu untuk nyebar deh, karena info-info yang beredar di media sosial sungguhlah banyak yang tidak bisa dipercaya. Daripada kita asal-asalan nyebar, kasian pihak-pihak yang secara langsung gak langsung jadi dirugikan akibat penyebaran berita yang tidak benar. Kalo pun pada akhirnya kita gak bisa membuktikan kebenarannya, sepertinya diam adalah pilihan yang lebih baik. Gunanya cek dan ricek dulu gini, selain kita jadi tidak bersalah menyebar isu yang tidak benar, pengetahuan kita juga jadi bertambah.

Selain itu, yang saya lihat adalah betapa isu agama itu begitu mudahnya dibawa-bawa dalam persoalan yang sebenarnya gak ada hubungan sama sekali dengan agama. Contoh saat kampanye pilpres kemarin. Haduh, itu isu agama bukan main terangkatnya, dan begitu banyak orang yang termakan oleh isu agama ini, begitu banyak juga orang yang seenaknya nyebar-nyebar persoalan agama tanpa mikirin perasaan orang lain yang baca. Padahal dia gak tau kalo lagi dimanfaatkan karena sebenarnya semua cuma demi kepentingan politik doang.

Begitu juga dengan konflik Israel-Palestina ini. Oh pleaseeee…konflik di sana itu adalah konflik wilayah, bukan konflik agama. Janganlah termakan isu yang gak-gak, janganlah menghubungkan perang perebutan wilayah ini dengan konflik agama. Kasian agama, jadi kambing hitam terus.

Perluaslah pengetahuan kita, supaya kita juga bisa melihat secara lebih luas dan tidak buru-buru menghakimi serta mengutuk. Kalau kita memang cinta damai, maka belajarlah untuk tidak mudah terpengaruh oleh isu. Kalau kita memang cinta damai, maka jadilah pembawa damai, bukan penebar kebencian.

Be able to put ourself in other people’s shoes and see the big picture, that will help us to be a better person.

Iklan

40 thoughts on “See The Big Picture

  1. setuju….intinya adalah jangan mudah terpancing dengan isu isu sensitif seperti itu..bener banget pahami akar permasalahan, cari tahu, tambah wawasan biar ktia terjebak….saya juga kurang setuju dengan kata kata yang bernada hujatan, bahkan dengan menyebutkan nama binatang dan sebangsanya…..

  2. setuju mba lisa, memang kita harus pinter2 menyaring informasi yang diterima, jangan sampe setiap informasi dimakan bulet2 trus di sharing ke orang lain yang belum tentu kebenarannya

    1. Iya, jgn smpe terjebak. Mikirnya sedang menegakkan kebenaran, padahal jgn2 malah sbnrnya sedang menyebar fitnah

  3. Bener banget Mbak, kita jgn cepet terpengaruh isu yg belom ada bukti yg bener2 nyata 🙂

    Mknya aku skrg jarang posting atau sekedar update status di socmed, takut kepancing jd mendingan merhatiin dan ngikutin diam2 aja berita2 yg ramai di luar sana.

  4. Setuju mba. Fenomena sosial media saat ini, orang cenderung malas mengerti masalah secara komprehensif. Cuma dimengerti setengahnya aja, tapi klo dikasih tau yg bener, kadang2 mereka lebih galak dan ngotot 🙂 berasa paling tau

    1. Iya, aku juga pernah ketemu orang yang bahasannya di luar konteks mulu, males dah kalo ngomong ato ngasih tau orang yang kayak gini

  5. Setuju lis.. Emang kita pasti prihatin ya sama masalah Israel Palestina, tp kalo sampe trus nyebar2in foto palsu buat manas2in sih itu kebangetan banget dah. Dan emang gw juga palingsebel ama orang yg suka sharing2 foto atau berita yg gak bener…

    1. Iya Man, prihatin banget itu sudah pasti. Tapi dalam keprihatinan kita, ya masak kita harus share info2 yang gak bener sih

  6. setuju banget mbak, kadang saya lihat kebanyakan orang jadi korban info berlebihan dari sosmed tanpa di filter dulu benar apa tidak tiba tiba BM, tiba2 semua peduli gaza, tiba2 semua minta donasi dan kumpulkan.. ibarat pepatah ” jangan sampai membuang garam ke laut, sedang di mangkok sendiri garamnya tak ada” coba lihat lebih dekat kondiri negeri kita sendiri.. malah di kawasan terdekat saja ada ibu2 kena kanker payudara stadium 4 dan rumah sekelilingnya tajir2 semua tapi yang bantu tak ada…. sedih deh. yang beginian gak dijadikan euphoria buat nolong. Seperti kata mbak, saya juga kok berdoa dan peduli dan anti perang, kita berharap pihak yang berwenang ya PBB bisa menyelesaikan…………. dan berharap perang segera usai…….

    1. Amiiinn….semoga perang di sana lekas usai ya. Memang miris rasanya melihat anak2 yang jadi korban gara2 penguasa terus keukeuh dengan perang rebut wilayah ini. Tapi itu dia, balik2 lagi apapun yg kita sebar mending dicek n ricek dulu

  7. Iya betul Allisa, jgn sampe dimanfaatin sama orang yg punya kepentingan tertentu secara gratis #ujungnya matre. Dan bener bgt, ilangin kebiasaan malas dg hanya baca judul doang, isi artikelnya ga dibaca

    1. Iya mbak, kapan itu ada yg share soal perbandingan perlindungan anak di gaza dan di israel dan lgs blg kalo itu adalah bukti kekejaman israel. Padahal gak baca klo di berita itu dikasih tau, anak2 di israel terpaksa dibikinkan bunker sama pemerintahnya buat mereka belajar dan bermain dan anak2 itu jg cerita tiap hari bunker mereka diserang sama roket dari gaza. Sungguh sayang anak2 di gaza gk dpt perlindungan yang sama yang akhirnya turut jadi korban 😦

  8. Iyo lis… Heiran sama orang2 yg gampang kemakan isu begitu.. Jaman udah canggih gini kok ngga makin pinter cari informasi, tetep logikanya ngga dipake.. -_-“

  9. ngomong sama orang yang belum apa-apa udah menganggap dirinya sendiri paling bener itu useless mbak lissa. kita mau ngomong berbusa-busa pun ya mental lagi karena orangnya sudah menutup pikiran. itu kelemahan kita. gampang banget diprovokasi. wajar aja ya belanda jajah 350 tahun cuma pake devide et impera. aku juga kadang gemes banget deh. udah sok paling pinter, ga mau cari tau pula.ikutan grrr…

    1. Uwowww…dikau bener banget, pantes lah yaaa dulu itu mereka pke devide et impera di sini, krn masy kita mmg banyak yg gampang terprovokasi 😦

    2. bener bener bener aku baca komen Vivi ini bilang beneeer. bahkan kadang kita kasih tau berita yang benerpun, malah dialihkan ngomongin yang lain. Kok ya jadi kita capek sendiri ya, kadang aku mau cuek aja trus mikir, ih nanti dia dengan beritanya yang salah itu trus ngasih tau ke anaknya dan anaknya jadi bersikap sama seperti itu kan kesian yaaa. Sekarang aku juga makin berusaha rajin pilah info, meski itu yg menyenangkan hati sekalipun. Mending capek sebentar duluan daripada belakangan nyesel

      1. itulaah ndang, suka jadi serba salah gak sih? kalo gak ditegor tar beritanya terus nyebar kemana-mana dan makin banyak org yang salah paham, tapi kalo ditegor kita suka capek sendiri ngadepin orang yang ngeyel. Barusan kejadian di aku, jadi orang itu baca blog ini ttg post ku yang ini, trus malah makin gragas naro foto2 korban yang ya ampun…mengerikan sekali trus pake capslock nulis, “ayo mo bilang lagi ini cuma aksi teatrikal demonstran???”. Helloooo…aku kan gak bilang klo semuanya cuma foto rekayasa doang, tapi ADA SEBAGIAN yang foto rekayasa, dan karena itu kita harus bisa pilah pilah informasi, dan lagi ya…sebenarnya gak etis banget kali naro foto korban kayak gitu, malah jatohnya gak menghormati kan 😦

  10. Betul mbaa, jgn asal nyebarin mesti tau dl sumbernya dari mana valid apa engga…aniwe utk gbr2 bocah gaza yg terluka2 iyg tersebar dan selalu di unggah di path/medosis lain sll aku skip deh, ngga kuat liatnya 😦 mendg lsg aksi nyata aja doain or bantu semampu kita

    1. Sama Dian, justru saking prihatinnya kita, sampe gak sangguuupp kalo liat para korban itu. Dan mmg gak etis menurut aku nampilin foto2 kayak itu. Sebagai manusia (apalagi kita yang ibu ya), cukup dengar satu anak atau balita jadi korban aja hati kita udah sedih, tanpa perlu liat fotonya pun, kita pasti udah prihatin banget 😦

  11. Saya sebenernya miris sekali melihat foto anak2 korban perang itu…sampai-sampai gak tega dan gak pengen lihat, tapi..klo saya bilang seperti itu di sosmed (terutama FB) pasti saya akan di bully dengan mengatakan saya kurang sensitif lah..pro inilah..pro itulah..padahal yang saya maksud cuma masalah etis tidaknya mengunggah foto2 yang mengandung unsus sadisme, seperti yang ditulis mas Kristupa ini http://www.fotografer.net/forum/view.php?id=3194607805
    Semoga kita lebih pintar menyikapi situasi2 di dunia digital dan global ini.
    🙂

    1. Yup bener banget, kalo kita ngomong kayak gitu, pasti dibilang gak manusiawi…pdhl saking manusiawinya kita sampe gak sanggup liat yg spt itu…denger kbrnya aja udah sedih banget rasanya, apalagi klo liat gambarnya..

      Dan bener, itu gk etis sbnrnya

  12. Lis kmrn ada temen di fb yang bilang dripada share foto foto korban begitu, mending tindakan nyata kirim ke rekening yg udah jelas. eh ada yg gak setuju dan (ibu-ibu juga) bilang “gimana kita bisa tau kalau nggak liat fotonya’ dan aku juga mikir, apa harus ngeliat foto ya buat ngerasain sakitnya? i mean, bayangkan aja anak kita sendiri sakit flu aja kita bisa spanneng, ya jelas berjuta kali juga mendengar anak-anak jadi korban, di PIHAK MANAPUN, dengan ALASAN APAPUN. Dan jadinya kesannya si temen ini disalah-salahin, padahal menurutku, penyebaran foto nggak ebrtanggung jawab begitu nuansanya lebih cenderung provokasi dan menebar kebencian, daripada menggugah untuk turun tangan. Yang paling aku syangkan kalau yg begitu orang berpendidikan , dan jadi sedih lah yg berpenididikan aja males buat klarifikasi berita, gimana yang nggak berpendidikan? pasti lebih gampang dihasut kan.

    1. sabar mak…
      tenang tenang….
      yang pasti kita aksi DOA buat perdamaian disana
      aksi DOA juga buat hasil 22 Juli
      ada dana lebih ya kita donasikan
      kita ngajak gak diikutin ya sutra…
      terus kalo dihina-hina….aku malah suka….

      edisi pemilu dari legislatif sampai pilpres sampe quick count lanjut gaza bisa memfilter teman2 di sosmed bagaimana sebenarnya karakter mereka termasuk kualitas pendidikan mereka
      siap2 delcont 😀

      1. Aku tenang dan sabar kok da, cuma gak tahan aja liat foto2 para korban, gak terbiasa soalnya melihat sadisme. Gak perlu dikasih liat fotonya pun aku sudah prihatin sekali dengan kondisi anak2 di sana.

        Beneerr..hahahaha…aku udah banyak unfriend dan unfollow selama pilpres dan perang ini 😀

    2. Bener banget Ndang, rasa manusiawi kita gak perlu digugah dengan foto2 mengerikan itu. Cukup dengar kabar pun sudah bikin kita turut prihatin dan turut mendoakan perdamaian di sana.

  13. Setuju.. dan sangat setuju kalo disana itu yang terjadi sebenarnya adalah konflik wilayah, bukan konflik agama…
    Eh, aku udah lama banget ternyata nggak nge blog n gak komen2 ya.. aku lanjut baca2 blog mu lagi yaakkk….

    1. Iyes Enno…makanya kita di sini mendoakan dan membantu saja yaaa, gak usah share sesuatu yang justru memprovokasi dan menciptakan perpecahan di sini.

      Iya nih, dikau kemana aja sih? 😀

  14. Isu agama memang isu yang paling sensitif dan manjur untuk mempengaruhi ma. Kebanyakan orang juga kalau disenggol isu agama, langsung marah aja, bener tuh gak cek n recek. Mknya saya paling gak suka tuh nerusin broadcast2 gak jelas. Yang ngebroadcast juga belum tentu paham 😀

    1. Hooh Bun, orang biasanya ngebroadcast cuma untuk rame2in aja, drpd dibilang gak peduli, apalagi klo pake pesan-pesan macam share if you care…

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s