Tentang Media Sosial

Menjelang pilpres dan lagi musim piala dunia gini, media sosial sepertinya tambah rame aja dan kalo buat saya sih tambah menarik untuk disimak, hehe…  Saya yang biasanya jarang banget buka-buka FB, sekarang kalo ada waktu jadi suka ngeliat news feed cuma dalam rangka penasaran apa aja yang ditulis ato di-share sama temen-temen tentang pilpres ato tentang piala dunia. Di instagram juga gitu, jadi rajin nge-explore foto dengan tag yang ada hubungannya sama pilpres.

Kalo soal pilpres, biasanya media sosial tambah rame sehabis ada debat capres seperti yang semalam itu. Debat antar capresnya boleh udah diketok palu selesai, tapi debat antar pendukungnya masih akan terus berlanjut bahkan lebih heboh dan tajam ketimbang capresnya sendiri. Seruuu!! Hahahaha… sekali lagi, buat saya semua itu menarik buat disimak, tapi saya hanya terbuka untuk menyimak kampanye positif dan negatif, bahkan jika itu adalah kampanye negatif terhadap capres yang saya dukung. Kampanye negatif itu kan isinya kekurangan terhadap capres tapi disertai dengan fakta dan bukti yang akurat, ya jelas saya harus baca dong karena saya harus tau juga apa aja sih kelemahan dari capres yang saya dukung.

Prinsip saya, yang sekarang ini jadi capres bukanlah teman, sodara, bapak, apalagi suami saya. Yang jadi capres ini adalah orang-orang yang saya gak kenal sama sekali, saya cuma tau tentang mereka dari pemberitaan di mana-mana, tapi gak pernah sekalipun saya berhubungan langsung dengan mereka apalagi pernah makan atau ketawa-ketiwi bareng mereka. Nah, karena pada dasarnya saya gak kenal, jadi saya harus tau sebanyak-banyaknya tentang mereka sebelum benar-benar menetapkan pilihan di bilik suara tanggal 9 Juli nanti. Saya harus tau keunggulan mereka. Dan harus lebih banyak tau tentang kelemahan mereka, supaya saya yakin bahwa kelemahan capres yang bakal saya pilih memang bisa saya terima dan tolerir. Gak ada manusia yang sempurna dan saya juga gak menaruh harapan di tangan bakal presiden itu, harapan hanya saya taro ke dalam tangan Tuhan saja, harapan bahwa Tuhan berkenan orang yang nanti terpilih adalah yang memang benar-benar mau dan mampu membawa perubahan yang baik untuk bangsa ini.

Saya juga harus baca berita sebanyak-banyaknya supaya yakin bahwa orang yang akan saya pilih gak cuma bisa berorasi, jago ngomong, pintar bikin janji, tapi gak punya kapabilitas dan kemauan untuk benar-benar membawa perubahan yang baik untuk bangsa ini. Kalo hanya pintar ngomong dan menawarkan janji, gak usah jadi capres, semua orang juga bisa…. Saya mesti yakin kalo program-program yang direncanakan oleh capres itu memang benar-benar bisa dilaksanakan dan bukan cuma program mengawang-awang yang entah bagaimana bisa diimplementasikan. Seperti kemarin, salah satu capres bertekad untuk berani menganggarkan berapapun demi pendidikan, termasuk dengan mengalihkan subsidi listrik ke pendidikan. Yes, bener banget, listrik gak perlu disubsidi banyak-banyak dan seperti yang capres itu bilang, subsidi bisa diturunkan dengan menekan biaya produksi listrik (yang artinya bukan melulu dengan meningkatkan TDL). Yes bener lagi, karena selama ini subsidi listrik tinggi dan perusahaan petir empot-empotan karena biaya produksi yang tinggi sehingga harga jual dan biaya produksi gak seimbang.

Saya juga harus bener-bener menelisik track record capres yang mo saya pilih, supaya saya yakin bahwa orang ini memang gak punya masa lalu yang kelam, sebaliknya dia memang bisa jadi role model buat anak-anak saya kelak, orang yang semangatnya pantas ditiru, orang yang kejujurannya pantas dijadikan teladan.

Sayangnya, kampanye negatif terhadap capres yang saya dukung tuh sedikiittt sekali beredar di dunia maya, kebanyakan atau kalau boleh saya bilang sebagian besar adalah kampanye hitam yang gak jelas juntrungannya dari mana asalnya dan bukti-buktinya juga apa mana ada yang tau. Nah, untuk yang jenis kampanye terakhir itu, saya dadah bye-bye aja, ogah untuk nyari tau dan ogah banget juga untuk nanggepin walo gak akan langsung serta merta bikin saya meng-unfriend si friend yang menyebar kampanye hitam itu. Saya baru akan unfriend kalo dia memang sudah terbukti secara kasar menggunakan isu SARA dan atau seperti yang baru saja terjadi semalam, saya langsung meng-unfriend teman yang pake nama binatang untuk menghina salah satu capres. Kalo yang kayak gitu sih buat saya udah terlalu kasar dan saya gak mau berhubungan sama orang yang kasar dan gak tau sopan santun kayak gitu. Saya terganggu dengan statusnya yang pake bawa-bawa nama binatang, karena itu saya langsung memutuskan hubungan dengan yang bersangkutan.

Bersyukur, hampir semua yang akhirnya musti saya unfriend adalah orang-orang yang gak pernah benar-benar jadi teman saya, bisa dibilang cuma sekedar saling tau aja, jadi ya gak ada rasa yang gimana-gimana ketika harus meng-unfriend mereka. Bersyukur juga karena itu artinya teman-teman saya di media sosial yang memang adalah teman saya adalah orang-orang yang cukup terbuka pikirannya. Beda pendapat boleh, beda harapan boleh, beda selera boleh, tapi yang penting tetap ada batasannya dalam mengungkapkan pendapat. Mau gak mau, suka gak suka, yang namanya etika dan moral itu tetap menjadi batasan kita dalam berperilaku, berkata-kata, dan mengetik-ngetik, hehe…. Dunia ini gak cuma milik kita aja. Ada orang lain yang sama-sama hidup di dunia ini, karena itu gak bisa kita berlaku atau berkata-kata seenaknya, apalagi sampe menyebarkan hal-hal yang bisa menimbulkan rasa sakit dan ketersinggungan pihak lain. Pilpres itu memang penting, karena bagaimanapun siapa yang nantinya akan duduk di kursi kehormatan di istana negara nanti akan mempengaruhi kehidupan kita ke depannya, entahkah jadi lebih baik, sama  aja, atau lebih buruk. Tapi sodara dan teman juga tak kalah penting. Malah lebih penting kalo saya bilang. Jangan sampe karena pilpres trus hubungan antara sodara atau teman jadi renggang. Inget lho, bagaimanapun sodara dan teman itu nomor satu. Presiden mah nomor dua.

Nah, itu soal capres. Soal piala dunia juga gak kalah serunya untuk disimak. Apalagi kalo ada match seperti Belanda vs Spanyol beberapa hari lalu….huwaaa…itu ramenya bukan main. Epic banget soalnya! Hihihihi… Sodara-sodara saya di Belanda tuh bukan main hebohnya merayakan kemenangan Belanda di sosial media, ya walaupun saya aslinya ngedukung Jerman tapi ikut seneng juga lah karena darah Belanda pun masih mengalir di saya…hihihihi… Iyaaa ngaku, sejak kecil pilihan saya di piala dunia yang hanya dua itu, Jerman atau Belanda, bukan didasari oleh hasil analisa terhadap cara bermain mereka atau bukan juga karena suka sama salah satu atau beberapa pemain mereka, tapi murni hanya karena darah Jerman dan Belanda yang diturunkan dari papa ke saya. Rasanya seperti mengkhianati darah sendiri kalo sampe ngedukung negara lain…hihihihi….

Nah, udah berpanjang-panjang cerita soal pilpres dan piala dunia, padahal aslinya saya kepengen cerita soal media sosial.

Makin ke sini, media sosial tuh makin banyak aja ya jenis dan jumlahnya. Ada untuk blogging, social networking, micro-blogging, multimedia, dan sebagainya. Untuk jelasnya, mungkin gambar di bawah ini bisa mewakili jenis-jenis sosial media dan contoh-contoh social networking sitesnya yang sering dipake akhir-akhir ini.

sumbernya dari sini yaaaa.... http://www.cite.co.uk/the-different-types-of-social-media/
sumbernya dari sini yaaaa…. http://www.cite.co.uk/the-different-types-of-social-media/

Lucunya ya, saya mendapati bahwa jenis boleh banyak. Situsnya boleh beraneka ragam. Tapi sebenarnya isi temannya ya itu-itu aja…hihihihi…seenggaknya itulah pengalaman saya sendiri dan hasil pengamatan pada teman-teman yang lain juga. Dan lebih lucu lagi, saya mendapati bahwa sering colek-colekan, komen-komenan, senggol-senggolan di gak hanya satu media tapi juga di media lain-lainnya ternyata sama sekali gak menjamin bahwa si A yang sering sahut-sahutan dengan si B memang benar-benar kenal dan benar-benar akrab dengan si B.

Inilah penyebab saya jadi malas untuk mengeksplor atau untuk menggunakan media sosial selain dari yang saya sudah pakai sekarang dan karenanya menyingkirkan media yang saya rasa gak ada gunanya saya pake kalo toh teman saya di situ cuma yang itu-itu aja. Bukan artinya bosen berhubungan sama teman yang itu-itu juga, tapi kalo kita udah bisa nyaman connected di satu media, buat apa lagi terkonek di banyak media lainnya kalo toh nantinya yang bakal dibahas ya itu-itu juga, malah bikin pusing kalo menurut saya yang gak pengen terlalu banyak menggunakan waktu untuk berlama-lama di media sosial. Pada dasarnya saya hanya pengen, ada hal-hal yang berbeda yang bisa saya dapatkan dengan menggunakan satu situs media sosial. Kalo gak tipenya yang berbeda, maka temannya yang berbeda, karena itu saya kemudian mencoret beberapa SNS dari daftar media sosial, termasuk di antaranya twitter dan path.

Twitter, karena meski saya udah lama sekali punya account di sini dan pernah pake juga, saya akhirnya mendapati kalo isi twitter saya ya hanya teman-teman yang itu-itu aja. Irisan dari teman blog dan facebook. Dan soal 140 karakter itu…haduh, terlalu sedikit buat saya yang demennya cerita panjang lebar. Kalo harus cuap panjang-panjang dan membagi cuapan itu dalam beberapa post, buat saya rasanya buang waktu. Path, karena jumlah temannya terbatas, tar saya sendiri yang bingung siapa yang mo saya pilih untuk jadi teman di path *macam yang ngetop aja*. Lagipula, semua yang saya taro di media sosial adalah hal-hal yang sifatnya umum, kalo butuh privasi, mending gak usah saya share ke mana-mana.

Dan saya hampir saja mencoret instagram, sebelum akhirnya saya mendapati keunggulan apa dari instagram yang bisa jadi daya tarik buat saya. Kalo cuma untuk sekedar share photo atau video pake filter-filter, ah saya bisa ngelakuinnya di facebook (kalo mau pake filter ya tinggal pake photo filter tools) atau youtube (buat video). Kalo untuk keep in touch sama teman-teman di dunia maya, ya masih bisa lah lewat blog atau lewat media lainnya. Tapi ada satu hal yang gak bisa saya lakukan dengan media lainnya, yaitu berbagi momen atau minat dengan orang yang gak saya kenal lewat hashtag-nya. Dengan fiturnya ini, saya bisa asik sendiri menikmati foto atau video pendek orang-orang yang gak saya kenal yang pas lagi pake tag yang sedang menarik minat saya. Ujung-ujungnya akhirnya saya bisa ‘berteman’ dengan orang yang gak ada dalam daftar teman saya di blog maupun facebook. Dunia baru. Menyenangkan.

Tapi tetep yaaa…gimana pun juga, ujung-ujungnya yang paling sering saya pake ya balik-balik lagi ke facebook dan blog.

Orang mungkin banyak yang udah gak nyaman pake facebook dan kemudian meninggalkan media ini. Tapi kalo saya gimana coba gak berasa nyaman kalo dengan facebook saya tetap bisa berbagi cerita, foto, dan video dengan keluarga besar dan teman-teman di dunia nyata yang sekarang agak susah untuk secara nyata bertemu dengan mereka. Daftar teman di facebook saya kebanyakan adalah orang-orang yang memang saya kenal di dunia nyata yang mana meskipun saya menikmati berteman dengan teman baru di dunia maya tapi saya tetap ingin berhubungan dengan mereka yang memang saya kenal secara nyata keberadaannya. Karenanya saya gak ragu untuk nge-share foto saya di instagram ke facebook atau kembali nge-post foto dari blog ke facebook. Karena banyak sekali teman di facebook yang gak pake atau gak follow instagram saya dan saya yakin banyak juga di antara mereka yang mungkin tidak baca blog saya. Dan hey, saya juga menemukan, bahwa kalau kita ingin tau gimana pribadi seseorang di dunia nyata, mengintip facebooknya bisa memberikan lebih dari informasi yang kita butuhkan…hehe…

Salah satu hal yang sebenarnya bikin facebook agak berkurang kenyamanannya adalah notifikasinya itu. Sekali kita komen di tempat orang, maka setiap ada yang komen di tempat itu kita dapet notifnya. Makanya ini dia yang bikin saya malas komen di status atau foto kakak saya, ya abis yang komen di tempat dia selalu banyak sih…hahahaha… Kalo soal ini sih instagram yang lebih bikin nyaman ya, gak banyak-banyak notif, selama kita gak dicolek-colek 😀

Dan soal blog, ah gak usah ditanya lagi. Inilah media yang paliiinnggg bikin nyaman. Tak terkatakan lah nyamannya pake blog ini. Rasanya bisa puas nulis. Bisa puas nge-share foto. Bisa puas cuap-cuap. Bisa puas juga baca cerita teman. Puas pokoknya, hehe….

Punya blog, facebook, dan instagram, rasanya sudah cukup buat saya. Ketiganya mewakili dunia yang berbeda. Almost totally different, meskipun tetap saja ada teman-teman yang masuk dalam irisan ketiga dunia itu. Gak apa, selama masih ada perbedaannya, selama bukan hanya itu-itu saja yang saya temui, maka saya masih bisa merasa nyaman.

Itulah cerita saya tentang media sosial dan dikit-dikit nyerempet ke soal pilpres dan piala dunia…mohon dimaafkan jari jemari yang cerewet ini yaaa…kalo udah ngetik suka keterusan…hihihihi…. Jangan diambil serius, karena ini hanya pendapat pribadi. Kalo teman-teman sendiri, media sosial apa yang paling bikin kalian nyaman?

Iklan

34 thoughts on “Tentang Media Sosial

  1. setujuuu aku sukaaa blog. SUKA SEKALI. Ah aku suka nulis apapun kapanpun. Tapi kmrn Edi kasih pandangan soal postingan di blog yg soal rutinitas sehari-hari dan foto mending di private (selama ini hanya yg pribadi aku dan Edi kuprivate…di diary pribadi di file laptop aja ahahaha aku agak parno meski private di blog takut tetiba keluar hiiiiiy ngeri akuuu) ini lagi ngulik ngulik gimana ya baru nanya Tyke. Twitter buat info cepat, lalu lintas dsb dan IG buat rekam jejak *bahasa pilpres*. I love pictures, apalagi yg moment to moment. Fesbuk aku sebenernya gak lagi Lis, bener bener jaraaang kuupdate tapi sejak jadi ketua Parents Council di sekolah Ephraim, aku diminta aktif di fesbuk tp ujungnya tetep kalo ada apa-apa ke….grup ajah lah bu-ibuuu.

    1. Kalo FB aku kayaknya bakal tetep pake, Ndang, secara ya itu, banyak kontak sama keluarga besar dan temen-temen lama via FB ini. Kalo blog, pergaulannya ya pada umumnya cuma antara sesama blogger aja…

  2. aku lebih seneng ngeblog + IG doang sih. kalo twitter suka baca2 aja tapi jarang. Sejak kerja lagi baru deh semuanya lebih dipelototin karena ngaruh ke kerjaan hehe. Dipikir2 ngurus account socmed ini melelahkan juga

    1. Bangeeett! Makanya gak deh kalo harus buka akun di mana-mana, capek ngurusnya dan bikin habis waktu 😀

  3. Edaaaaa….. bolehkah kita tos dulu? Ini baru aja mau kubahas. Tapi ga sedetail ini. Aku baru aja left group WA angkatanku jaman SMA…. simple alasannya aku selalu tergoda liat hp pdhl ada kerjaan dunia nyata yg mau aku kerjain. Path aku tutup sejak 2 bulan lalu. Males krna aku dah mulai sering buka2 dan enjoy path. Udah lama pake path tp jarang update. Pas nyadar bbbrpa bulan terakhir kok jd enjoy? Akhirnya 2 bln lalu aku tutup.pathnya sebelum terlalu jauh menyukainya. Halahhh macam betul aja ya bahasanya. Twitter masih ada tp jarang ditengok. Capek kebanyakan akun sosmed 🙂
    Skrng IG dan WP aja plus FB yg aktif. Fb sayang ditinggalkan banyak kenangan di album foto 🙂

    1. Aku juga pernah bikin akun path, cuma dalam rangka pengen tau aja apa sih isinya. Tapi setelah buka gak pernah ditengokin sampe aplikasinya ku uninstall dari hp 😀

  4. hmmmmm….lis….diawal2 postingan ini kok kayaknya berat banget sampe ngomongin pilpres….wkwkwkwkwkw….

    aku lho punya blog doang aja ngurusnya susah apalagi punya banyak medsos yang lain…..yang ada cuma bikin akun doang tapi ga ada isinya,,,,wkwkwkwk 🙂 *miris ingat akun IG yang sampe lupa passwordnya*

    1. Hahaha…ya abis, lagi seru-serunya tuh media sosial gara2 pilpres 😀 😀

      Hihihih…iya ya Ky, blog aja jarang update coba 😀

  5. saya cukup bbm, whatsapp, twitter gak pernah dipake, fb, path, IG jarang juga, itu aja yang saya pakai..yang lain gak sanggup lagi… 24 jam waktu sehari gak cukup untuk saat ini apalagi nambah2 smeua sosmed ini diurusin ampunnnn dehhhhhh

    1. Hahahaha..beneeerrr…24 jam buat ngurusin yang nyata aja suka gak cukup yaa, manalah lagi bisa dipake buat ngurusin yang maya 😀

      1. Iyaa…salut juga, tapi gak kepikiran untuk ngikutin jejak orang yang bisa aktif terus di media sosial, gak sanggup soalnya..hihihi

  6. fb ku aktif banget mbak lisa. fungsinya sama cuma mantengin newsfeed sama ol shop. haha..jarang update status juga (krn takut disalahgunakan) dan semua foto di fb ku private (demi keamanan bersama) karena aku kan temenan dgn banyak OLshop (ketauan suka belanja. hihi..) trus IG juga aktif (lagi-lagi demi mantengin OLshop), twitter jarang, dan untuk temen2 biasanya aku lebih suka WA. lebih enak aja buat sharing. kalau blog buat cerita hari-hari (atau misah misuh. hehe..) yang ga mungkin diceritakan di FB. cheers..

    1. ahahaha..aku malah suka mendelete account olshop, capeekk liatnya, bikin bolak balik ngeluarin token soalnya.. 😀 😀

  7. Fb ku cuma kepake buat main game doank, Mbaaak.. Hihihi.. Mana lah isinya banyakan bule-bule ya, jadi ngga ada berita tentang capres. Paling yang bikin nyesek tuh Spanyol kalah dari Belanda. Huhuhu.. *nangis di pojokan*

    Btw, banyak yang demen maen IG yah.. Jadi penasaran.. 😛

  8. wah aku malah sejak pilpres males liat facebook lis,
    isinya black campaign semua, kalo dibaca satu-satu bisa bisa malah golput 😀
    kalo aku sekarang sukanya instagram soalnya belum banyak yg main IG di kantor,
    kalo di FB isinya bos-bos semua, malu kalo keliatan alay nya hahaha

  9. ama FB gak pernah suka dari dulu sampe sekarang. jadi gak punya FB. kadang2 aja ngecek lewat FB nya esther.

    twitter dulu suka tapi sekaragn tergeserkan sama IG. hahaha. lebih suka IG dan twitter isinya cuma link postingan IG doang sekarang. 😛

    tapi tetep blog is number 1 dong. 😀

    1. Tingkat kesukaanku sama FB masih lebih rendah ketimbang blog, Man. Tapi gimanapun FB nih susah banget buat ditinggalin 😀 😀

  10. Sekarang ya apa ya kalo giweh. Semuanya jarang ditengokinn… Huehehehehe. Palingan juga fb akhir-akhir ini dan sama juga untuk lihat kampanye pilpres. Mihihihi. Paling nyaman blog emang tapi-tapi-tapi-tapi… *kebanyakan alesan trus ditendang kuda*

  11. hehehe…dulu saya suka sok jadi polisi di pilpres ini…soalnya gerah euy liat temen-temen koq jadi pada “evil” begitu ya. yg masih terbuka pikirannya mau dikritik, tapi yg sudah membabi buta malah gw suka diserimpit balik. jadi akhirnya nyerah deh…ngabisin waktu…yg kira-kira udah terlalu lebay dan kasar diunfriend aja.

    koq kayaknya sopan santun sudah dinomor seratuskan gara-gara pilpres ini. saya sih masih sangat-sangat-sangat percaya hanya kebaikan dan cara yang baik yang akan membawa kebaikan juga. Sayang niat baik para calon pemimpin itu jadi butek karena tim hore-horenya.

    Sebenernya saya juga masih dlm zona swing voter, masih mencari-cari calon terbaik.

    Btw…kalo saya sih masih cupu di semua sosmed. kalo blogwalking suka, tapi kalo nulis…masih..masih susah euy, kadang lucunya apa yg mau saya tulis…begitu jadi tulisan koq lain hasilnya. Buahahaha *ini malah curcol…

    1. Iyaaa…kalo udah fanatik mah susah, gak bisa lagi tuh diomongin. Padahal yang jadi capres juga sodara bukan, temen bukan yak 😀

      Kalo aku udah netapin pilihan. Tapi ya itu, sebelom bener-bener netapin pilihan ku pelajari dulu si capresnya seperti apa.

      Hahaha..aku juga seriinngg kok begitu. Tulisan ini nih salah satu buktinya 😀

  12. dari semua socmed aku yang paling awet ya ngeblog…ga pernah bs ke lain hati. FB twitter ga aktif, mau coba2 yg lain kayak path, instagram kok ya males

  13. Pilpres kali ini emang lebih panas dibanding sebelum2nya yaa…dan emg di FB itu parah bgt perangnya, masing2 pendukung jagoin capres pilihanya…sampe nyinyir2an ..trus aib2 masing2 capres bertebaran dimana2 …hadeeeh

    1. Sebenarnya kalo ‘aib’ disertai fakta dan bukti sih gak apa lah yaaa…kan sebagai calon pemimpin negara ini kita musti tau betul track recordnya seperti apa, gak bisa kan cuma tau yang baik2 nya aja sementara untuk kelemahannya kita tutup mata 😀

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s