When Samosir Meets Krones : Menyatukan Budaya Itu Gak Gampang!

Berhubung masih dalam suasana anniversary dan pas pula beberapa waktu lalu dapat inspirasi tulisan dari miss Leony, maka hari ini saya pengen cerita ah tentang gimana persiapan pernikahan kami dulu yang menurut saya gak bisa dibilang gampang mengingat ada dua latar budaya yang musti disatukan dan dikompromikan saat itu.

Mungkin udah pada tau kan ya kalo saya dan suami tuh berasal dari tempat yang berbeda…

Sebenarnya sama-sama dari Utara sih, tapi satunya dari utara di Sumatera sementara yang satunya lagi dari utara Sulawesi :D. Memang masih di seputaran Indonesia aja, gak pake nyebrang ke negara atau benua lain, tapi ya bok, biar kata masih saudara sebangsa dan setanah air tapi bukannya mudah mengkompromikan perbedaan budaya di antara kami.

Tau kan, adat Batak itu ketat bukan main, termasuk soal pernikahan. Ditambah pak P adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga simatua (mertua), jadi tentu sejak dia masih kecil pun orang tuanya sudah menaruh banyak impian termasuk harapan dia meneruskan sistem peradatan Batak di keluarga besar mereka, salah satu caranya tentu dengan mencari jodoh yang sesama Batak juga. Harapan bahwa dia mencari jodoh yang sesama Batak itu bahkan disampaikan secara langsung saat pertemuan keluarga besar sebelum dia berangkat ke Palembang untuk pertama kalinya. Epicnya, tau gak apa yang jadi pesan salah satu kerabatnya di depan seluruh keluarga besarnya ke dia?

Nanti kalau kau pulang, bawalah kemari boru Batak untuk jadi pendampingmu, ya amang. Janganlah pula setelah kau sudah di rantau sana, tiba-tiba kami dengar sudah kau bawa pulang boru Manado ke sini untuk kau jadikan istrimu.

Jederrr!!

Waktu itu sih kami belom jadian yaa…lha wong waktu itu saya masih belum ngerasa kenal sama dia. Tapi waktu itu dia kan udah naksir saya ya, jadi pas dibilangin gitu dia langsung kaget, trus dalam hatinya ngomong, “Bah, kok bisa amangboru ini membaca isi hati ku???” 😆

Mungkin saat itu si amangboru cuma asal aja nyebut boru Manado, tapi jutru karena cuma asal nyebut itu makanya tambah heran, kok bisa pas gitu ya? Hihihihi….. Ah, memang jodoh itu gak kemana 😛

Makanya, waktu pertama kali pak P menyampaikan ke orangtuanya tentang hubungan kami, orangtuanya langsung kaget lah. Kecewa pasti ada. Tapi karena mereka sayang banget sama anak laki-laki sasada (tunggal) mereka, dan karena mereka tau kalo anaknya ini gak mungkin ngambil keputusan yang asal-asalan saja, maka mereka kemudian menyetujui hubungan kami. Tapi persetujuan itu tidak datang sendirian tanpa disertai harapan-harapan lain selanjutnya.

Kalo harapan bahwa calon menantu mereka meskipun bukan boru Batak tapi mau belajar tentang kebudayaan Batak, itu sudah pasti.

Begitu juga dengan harapan bahwa si calon menantu akan bisa melaksanakan peran sebagaimana mestinya seorang parumaen (menantu perempuan) di tengah keluarga besar.

Tapi harapan itu gak hanya berhenti di situ saja.

Mereka kemudian berharap, bahwa mengingat ini adalah pernikahan dari anak laki-laki satu-satunya yang mana itu berarti setelah ini mereka gak akan lagi menikahkan anak laki-laki, maka seluruh prosesi pernikahan akan mengikuti adat Batak!

Itu artinya mereka berharap bahwa pemberkatan pernikahan dilangsungkan di Medan untuk kemudian selanjutnya langsung diikuti dengan pesta adat.

FYI, dalam budaya Batak, lazimnya pernikahan itu dilangsungkan di tempat pengantin pria. Pesta di tempat pengantin perempuan biasanya justru dilangsungkan sebelum pernikahan, yaitu saat martupol (pertunangan). Contohnya eda (ipar perempuan) saya yang paling tua, keluarga suaminya kan tinggal di Duri, Riau, maka martupolnya dilangsungkan di Medan sementara pemberkatan dan pesta adatnya diselenggarakan di Duri.

Nah, inilah salah satu hal yang kemudian sempat menjadi pertentangan di antara kami.

Bukan hanya karena kebiasaan yang berlaku di Manado adalah justru sebaliknya yaitu di mana pernikahan itu lazimnya dilakukan di tempat pengantin wanita, tapi terutama karena harapan dan impian dari saya dan orang tua saya.

Sebagai anak cewek yang kebanyakan nonton film putri-putrian dan telenovela, sejak kecil saya udah selalu bermimpi, nanti kalo nikah pake baju pengantin putih berslayer panjang lengkap sama kerudungnya *biar momen you may kiss the bride-nya makin cihuy…hihihihi*. Pokoknya pemberkatan pernikahan dengan pake gaun putih berslayer macam putri-putri itu udah gak bisa diganggu gugat deh, udah impian sejak kecil itu dan kapan lagi coba saya bisa mewujudkan impian itu kalo  bukan pas hari pernikahan saya sendiri? Saya kan cuma bakal menikah sekali seumur hidup, jadi gak akan ada kesempatan kedua buat saya mewujudkan cita-cita mulia nan indah itu!

Namun lebih dari sekedar impian menikah dengan gaun putih berslayer panjang, sejak dulu pun saya sudah tau apa yang ingin saya berikan bagi papa dan mama di hari pernikahan saya, yaitu mewujudkan harapan mereka yaitu anak-anak perempuannya menikah di tempat kami agar kesannya seperti yang memang diambil baik-baik untuk menjadi istri dan menantu orang lain. Masak mereka harus melepas saya di tempat orang lain? Gak seru itu dan jelas mereka sama sekali tidak mengharapkan itu terjadi di pernikahan putri mereka! Saya harus dilepas oleh orang tua dari rumah sendiri dan karenanya si calon suami harus menjemput saya dari rumah orang tua saya, bukannya dari tempat lain.

Yah gitu deh, cuma untuk persoalan tempat menikah aja sempat bikin suasana jadi gak enak.

Masing-masing orang tua punya harapan yang mana harapan itu sama sekali gak bisa dipersalahkan, karena toh harapannya bukan yang muluk-muluk juga.

Dan memang benar, seperti kata Leony juga, persiapan pernikahan tuh butuh yang namanya KOMUNIKASI. Bukan komunikasi yang sekedarnya, tapi benar-benar percakapan serius dengan kepala dingin dan dada yang lapang.

Kami berdua mengawali komunikasi soal tempat pernikahan ini di antara kami berdua dulu. Dan jangan sangka mudah rasanya untuk memberanikan diri bicara soal ini. Perkara gimana selanjutnya hubungan kami ditentukan dari hasil pembicaraan ini.

Apa yang akan terjadi seandainya kami gak sepakat? Mustikah akhirnya kami kalah dan kemudian putus hubungan? Ataukah jika kami akhirnya nanti menemukan kesepakatan, akankah kesepakatan itu dapat diterima dengan baik tanpa menyakiti orang tua? Dan jika sampai harus ada orang tua yang tersakiti, akankah kami tetap merasa bahagia menjalani pernikahan ini?

Saat itu, cuma dengan memikirkannya aja saya udah ketakutan setengah mati.

Tapi gimana lagi, gak mungkin juga cuma didiam-diamkan aja kan?? Trus kapan kami nikahnya kalo pembicaraan soal ini dihindari terus??? Apa mau pacaran selamanya???

Puji Tuhan, pak P juga tipikal orang yang gak suka memperlama dan memperpanjang masalah, yaiyalah, dia juga kan pengen cepet-cepet bisa meminang saya..hihihihi…

Maka akhirnya setelah beberapa minggu hidup dalam khayalan, tiap ketemu ngomong soal masa depan pernikahan namun masih menghindari kenyataan yang ada bahwa untuk mencapai masa depan itu ada persoalan masa sekarang yang perlu diselesaikan, jadi juga kami berdua ngobrol serius soal teknis pernikahan kami. Tepatnya, soal di mana pemberkatan pernikahan kami akan dilangsungkan.

Semua kemungkinan kami bahas. Apa yang kami inginkan. Apa yang orang tua harapkan. Risiko yang mungkin terjadi juga kami bahas termasuk langkah-langkah mitigasinya (macam yang lagi bikin kajian risiko buat project aja 😛 ). Pokoknya gitu deh. Semua-mua dibahas dan bikin capeeekkk!!

Kek manapun yaaa….yang namanya anak pengen bisa ngebahagiain orang tuanya. Pengen di momen yang paling istimewa ini memberikan yang terbaik untuk orang tua.

Kalo cuma sekedar apa mau kami aja, maka akan dengan mudah semuanya kami kompromikan (errr…maksudnya kompromi sih dia yang ngikutin keinginan saya…hihihihi). Tapi persoalan kan gak segampang itu, ada perasaan orang tua yang dipertaruhkan di sini.

Sampai akhirnya setelah sekian minggu persoalan ini bolak-balik kami bahas, sampai juga kami di sebuah kesepakatan bulat.

Pemberkatan pernikahan akan dilangsungkan di Manado.

Kenapa begitu?

Baiklah, saya ceritakan sedikit.

Jadi gini ya pemirsa, kebiasaan yang umum terjadi di lingkungan Batak adalah pesta adat dilangsungkan di hari yang sama dengan pemberkatan pernikahan. Nah, karena saya bukan boru Batak, maka sebelum pernikahan kami diadatkan, saya harus menjalani upacara Paboruhon (pengangkatan boru untuk diberikan marga Batak).

Nah, seperti yang saya bilang, karena pemberkatan dilakukan pada hari yang sama dengan upacara adat, maka berarti sebelum pemberkatan pun upacara paboruhon itu sudah harus diselenggarakan.

Itu artinya, ketika menjalani pemberkatan pernikahan, maka di mata keluarga besar, saya sudah punya orang tua yang lain selain orang tua kandung saya yang mana pada saat pemberkatannya nanti, yang akan berperan sebagai orang tua tidak hanya papa dan mama yang melahirkan dan membesarkan saya, tapi juga bapak dan mamak yang baru saya kenal setelah saya mengenal pak P.

Bisa kebayang gak itu perasaan orang tua saya gimana?

Sudahlah putri mereka harus menikah di tempat lain dan dijemput bukan di rumah mereka, eh begitu di pemberkatan pernikahan yang menjadi inti dari upacara pernikahan itu sendiri mereka harus berbagi peran dengan orang lain.

Meski mungkin setelah itu akan ada resepsi di Manado, tapi kan tetap rasanya beda yaaa….karena upacara pernikahan bukan tentang resepsi, bukan juga tentang adat, tapi tentang penyatuan dua insan di hadapan Tuhan.

Karena memikirkan itulah, maka pak P kemudian mengambil keputusan bulat, bahwa pemberkatan akan dilangsungkan di Manado untuk kemudian diikuti dengan upacara adat di Medan yang mana itu artinya Paboruhon dapat dilakukan setelah pemberkatan pernikahan.

Setelah kami sepakat, barulah kami menyampaikan itu ke orang tua masing-masing.

Kalo saya sih gak susahlah menyampaikan itu ke orang tua. Paling saya cuma pastikan aja ke mereka, bahwa mereka ok dengan saya yang nantinya akan diberi marga Batak. Papa dan mama sih ok-ok aja, toh bagaimanapun, marga apapun yang akan disematkan ke saya, saya akan tetap jadi anak perempuan mereka yang cantik, pintar, baik hati, dan tidak sombong *kemudian yang baca muntah*.

Si pak P tuh yang butuh mempersiapkan diri untuk ngomong ke orang tuanya. Kalo soal itu sih saya gak mau turut campur deh…hihihihi…biar dia yang ngadepin sendiri.

Saya gak tau yaaa…gimana teknisnya dia menjelaskan semua ke orang tuanya, yang pasti yang saya tau kemudian adalah bahwa orang tuanya setuju dan segera mengatur waktu untuk datang ke Manado dalam rangka melamar saya sekaligus meresmikan hubungan kami dalam pertunangan!

Puji Tuhan….puji Tuhan…puji Tuhan….

Waktu dikabarin soal itu, saya yang tadinya berpikir bakal loncat-loncat kegirangan, eh gak taunya saya malah nangissss…

Terharu rasanya oleh kebaikan Tuhan….

Dan terharuuuuu oleh hati calon simatua saya yang begitu lapang, yang begitu pengertian, dan begitu penuh kasih…

Kalau mereka mau egois, mereka bisa saja gak setuju, mereka bisa saja ngasih pilihan: kalian menikah secara Batak di Medan atau tidak sama sekali.

Tapi puji Tuhan, bukan itu langkah yang mereka ambil.

Mereka memilih apa yang terbaik untuk anak mereka.

Sampai saat saya tulis ini pun, saya masih tetap berterima kasih pada mereka untuk keputusan mereka 7 tahun yang lalu itu.

Puji Tuhan, proses selanjutnya pun dilancarkan oleh Tuhan.

Tanggal 18 Mei 2007, keluarga simatua saya datang menemui saya dan orang tua di Manado. Proses lamaran gak berlangsung ribet, malah yang terasa bener adalah suasana santai dan kekeluargaan yang langsung erat terjalin.

Waktu pertama kali pak P dan mertua datang ke rumah....they were sooo happy as we were :)
Waktu pertama kali pak P dan mertua datang ke rumah….they were sooo happy as we were 🙂
Karena sejak awal gak ada gontok-gontokan soal pernikahan anak-anaknya, maka kedua bapak ini pun akrab bener sampe sekarang. Itu foto diambil waktu terakhir mereka ketemuan di rumah kami saat Ralph lahir. Sama-sama hobi ngobrol, sama-sama doyan ngopi, sama-sama suka maen catur, dan sama-sama demen....ngerokok! -____-"
Karena sejak awal gak ada gontok-gontokan soal pernikahan anak-anaknya, maka kedua bapak ini pun akrab bener sampe sekarang. Itu foto diambil waktu terakhir mereka ketemuan di rumah kami saat Ralph lahir. Sama-sama hobi ngobrol, sama-sama doyan ngopi, sama-sama suka maen catur, dan sama-sama demen….ngerokok! -____-“

Gak ada itu pembicaraan terkait sinamot yang bikin ribet dan berbelit-belit, karena orang tua saya sudah jelas sejak awal, gak mau ada istilah mahar-maharan atau uang beli atau semacamnya, karena buat mereka putri mereka ini tak ternilai harganya. ‘Mahar’ yang mereka harapkan cuma kasih sayang dari keluarga besar calon suami saya agar saya dapat diterima dengan baik dan diperlakukan dengan penuh kasih oleh mereka. Thanks pa, ma….thank you because you always make me believe that I am priceless in your hearts….

Di tanggal yang sama, 18 Mei 2007, kami bertunangan…

DSC03425

Dan proses selanjutnya puji Tuhan berjalan sangat lancar dan memang kerasa banget kok ketika yang bersatu hati gak cuma dari sepasang insan aja tapi juga dari kedua keluarga besar, maka semua-muanya diberkati Tuhan dan semua jadi indah, melebihi apa yang kami bayangkan…

Tanggal 8 Maret 2008, pernikahan kami diberkati di Gereja Kristus Manado (yang gedungnya pada serba ungu!) sekitar pukul 3 sore dan malamnya diadakan resepsi di Manado Grand Palace Convention Hall (yang dekorasinya juga bertema ungu, hidup ungu deh pokoknya! 😀 ).

Seperti yang pernah saya ceritain di sini, di sana,  dan di situ, saya menikah sesuai dengan apa yang saya impikan. Pake gaun putih berslayer panjang, dijemput dari rumah orang tua saya, dan menikah di Gereja tempat saya dan keluarga bergereja 🙂

DSC_5069-r

Puji Tuhan, keluarga besar suami merasa sangat puas dengan pernikahan kami di tanggal 8 Maret itu. Simatua bahkan bilang, “syukurlah ada dibikin pesta kayak gini di sini ya, jadi bisa juga kami rasakan kayak mana rasanya resepsi yang model begini” *kan ceritanya simatua saya seumur-umur cuma pernah ngerasain pesta dan resepsi ala Batak aja :D*.

Tanggal 15 Maret 2008, dilangsungkan upacara paboruhon dan saya resmi menyandang status boru Siregar sejak saat itu…

Selesai upacara paboruhon...
Selesai upacara paboruhon…

Tanggal 22 Maret 2008, pesta adat pernikahan kami dilangsungkan…

DSC_0010-r

suasana gedungnya...
suasana gedungnya…

Dan setelah melihat proses berlangsungnya pesta adat kami, maka kami (terutama saya sih), ngerasa tambah bersyukuuurrrr karena kami sudah diberkati dalam status saya yang belum bermarga Siregar, karenaaaa….dalam pesta adat itu, seperti yang sudah kami tau sebelumnya, orang tua saya mendapatkan peran di posisi kedua setelah orang tua angkat saya, karena ya memang dalam lingkungan Batak yang diakui sebagai orang tua saya kan adalah bapak dan mamak angkat saya itu.

Lihat posisi berdiri saat akan memberikan ulos, papa mama saya berdiri di belakang bapak-mamak angkat saya...
Lihat posisi berdiri saat akan memberikan ulos, papa mama saya berdiri di belakang bapak-mamak angkat saya…
yang pertama kali berbicara adalah bapak dan mamak angkat saya (mereka adalah tulang (paman dari pihak ibu) suami yang paling bungsu...
yang pertama kali berbicara adalah bapak dan mamak angkat saya (mereka adalah tulang (paman dari pihak ibu) suami yang paling bungsu…
Mereka pula yang pertama kali memberikan ulos untuk kami. Dan mereka yang berhak memberikan Ulos Hela untuk kami...
Mereka pula yang pertama kali memberikan ulos untuk kami. Dan mereka yang berhak memberikan Ulos Hela untuk kami…
Papa dan mama saya mendapatkan giliran bicara yang kedua...
Papa dan mama saya mendapatkan giliran bicara yang kedua…
Dengan melihat mama saya dan mendengar papa saya berbicara aja udah mo bikin saya nangis saat itu...
Dengan melihat mama saya dan mendengar papa saya berbicara aja udah mo bikin saya nangis saat itu…
Ulos yang mereka berikan pun bukanlah ulos hela,hanya ulos dengan status ulos biasa....
Ulos yang mereka berikan pun bukanlah ulos hela,hanya ulos dengan status ulos biasa….

Dan setelah semua proses itu berlangsung, saya kemudian mewek! Bener-bener mewek di depan orang banyak, macam anak kecil nangis. Jelek banget jadinya muka saya! Hihihihi

tuh...jelek banget kan nangisnya???hihihihi
tuh…jelek banget kan nangisnya???hihihihi

Saya nangis oleh karena dua hal. Karena sedih melihat orang tua saya di posisi kedua, sekaligus lega karena hal itu bukan terjadi di momen pemberkatan pernikahan kami…

Gak ada yang bisa disalahkan saat itu, gak juga karena simatua saya tega pada orang tua saya, tapi semua memang harus seperti itu dalam aturan adat.

Bagaimanapun, untuk pernikahan kami, demi bisa mengkompromikan perbedaan di antara kami, maka tak terelakkan, jiwa besar itu dibutuhkan…dan dalam hal ini, jiwa besar itu ternyata harus datang dari orang tua…demi kebahagiaan anak-anak…

Itu pelajaran buat kami.

Terima kasih banyak buat orang tua dan simatua saya. Mereka orang-orang yang hebat dan selalu penuh kasih, sampai kapanpun gak akan bisa terbalas lah yaaa apa yang sudah mereka buat untuk kami sedari kecil hingga sekarang.

Inget ini jadi bikin saya ngerasa bersalah, terutama sama simatua, karena sampai hari ini pun saya masih kurang banget menjalankan peran sebagai boru Batak dan parumaen mereka. Persoalan adat masih banyak gak ngertinya. Di perkumpulan adat suka gak aktif…hikkss…. Memang masih perlu banyak belajarnya saya ini dan semangat untuk itu musti terus dipompa…

Yah, demikianlah pemirsa cerita saya di hari ini. Sedikit banyaknya semoga bermanfaat, apalagi buat yang nanya-nanya tentang proses pernikahan campur antara orang Batak dan orang Minahasa. Maaf gak bisa dijelasin sampe ke detil-detilnya (apalagi kalo mo diceritain tentang gimana membuat keluarga besar mengerti tanpa ngomong gini-gitu, itu mah saya gak paham, karena simatua saya yang benar-benar mengambil peran di situ), tapi pokoknya yang paling penting 2 hal: komunikasi dan jiwa besar, yang mana semuanya bisa asalkan ada kasih yang besar di dalam hati semua orang yang terlibat, terkait, dan tersangkut (apaalah ini) di dalamnya….

Selamat hari Kamis, semua!

Iklan

69 thoughts on “When Samosir Meets Krones : Menyatukan Budaya Itu Gak Gampang!

  1. Oo begitu yah klo orang batak nikah sm laen daerah *manggut2*
    Selama ini aku tau nya cuma tradisi batak tok krn sahabat ku batak dan aku ikutin proses nya dari awal smpe akhir dan ituuu bikin aku pusing hahahaha
    Secara yah buat ku nihhhh, ribet benerrrr hahahaha

    Btw setuju sm katanya Arman tuh, mesti banyak dikompromikan biar ga ada miskom 🙂

  2. Lisaaaaa ahahahaha aku selalu salut sama yang mau masuk ke keluarga batak, karena menurutku tantangannya besar. Tapiiii sama seperti di keluarga manapun, selama suami sebagai kepala keluarga bisa menjalankan perannya, biasanya jalannya lebih ‘mudah’. Hihihi komentar soal boru Menado sih itu seriing kudengar karena biasanya orang Batak bakal napsir napsir sama boru Menado yang ketjeh ketjeeeeh ahahahah

    1. Hahahahaha…mo pingsan aku baca komenmu ini Ndang…iya ya? cowok batak suka naksir sama cewe manado ya? Untunglah pak Edi tetep naksir sama boru Batak ya ndang? hihihihi

      1. akupuuun bersyukur ahahahah aku pernah nanya soal cewek cantik Lis, jawaban dia std “ah kalo cuma nyari cewek cantik mah gak ada habisnya, di atas langit masih ada langit,” waktu itu aku merefer ke cewek cewek Bandung yang juga sejuta topan badai kece kecenya

      2. Ahahahahahaha…jawaban pak Edi diplomatis ya Ndang, khas orang Batak kali’…hihihihi

  3. Selalu salut sama eda ini,yg lebih ‘nrimo’ dan’ngertos’ persoalan ‘perbatak’an ketimbang eik yg udh lah dr lahir jd boru batak…
    #renungan wkwkwkwkwk semangat,nnti bang raja dpt org batak,adk ralph mendapati boru menado-campur bule ya…. *requestpemirsah* –kemudian melengos pergi—

    1. Hahahaha..ya da, itu simatuaku udah sebaik itu masak ku sia2kan? hihihihi…tapi aku juga masih banyak gak ngertinya edaaa..huhuhuhu

  4. oalaaaah ribeet bangeet ya ternyataa…
    tapi syukurlah semua berjalan lancar ya Lis… ;))

    btw, bener2 deh foto si bang P miriiiippp Raja banget yaa..jiplakan bangettt hihihi

  5. kok abis baca ini aku yang terpikir adalah.. banyak juga ya prosesi pernikahannya.. apa kmu ngga cape lis?

    tapi ya memang untuk bisa menyatukan perbedaan di butuhkan komunikasi yang benar dan juga jiwa yg besar..

    btw waktu lamaran kmu langsiingg banget sampe pangling aku liatnya 🙂

    1. Iyaaa Ke, prosesinya banyak dan panjang. Capek sih sebenarnya, tiga minggu berturut2 acara terus, tapi ya mo gimana lagi..yg penting dibawa hepi aja, hehe…

      Hahahaha…waktu lamaran itu aku beratnya gak ada 44 kilo, Ke..kurus keriinngg 😀 😀

    1. emang pernikahan Batak tuh rada ribet ya, tapi ya demi cinta bersatu, kita hadapi saja semua keribetan itu..hihihihi

  6. Ikutan terharu, Mbaaaak.. Banyak kendala yang keliatan susah untuk diselesaikan ya, karena menyangkut adat. Syukurlah berakhir dengan bahagiaaa.. :’)

    Oh ya, aku pernah dikasihtau sama kawan ku yang boru Tobing tentang sinamot ini. Agak-agak ngeri ya harganya.. Heheh..

    Btw, duduk tegak gitu ngga pegel tuh, Mbak? :p

    1. Hahahaha..sinamot itu kalo gak sepakat, bisa2 rencana pernikahan bubar lho 😀 😀

      Pegeelll…tapi dari kecil diajarin mama, kalo pake kebaya musti duduk tegak, hihihi…jadi udah kebiasaan kalo pake kebaya mesti duduk tegak 😀

  7. Wah lisss salut deh aku. Bener yang dibilang mak sondang,kamu hebat punya nyali masuk dikeluarga batak. Aku yang batak aja ngerasa ribet banget..ya tapi musti ttp ikut aturan sih ya. Dan emang bener lis kita2 orang batak tuh sering dinasehati utk para lelakinya “buat ma boru batak i, unang lak tu boru manado ho da!” ( ambilah boru batak, jangan sampe ama boru manado ya) soale orang manado kan kece2 (maklum dulunya pacaran n always kesengsem ama cowo2 manado LOL….seriiusssss!!!)
    Anyway bener yg kamu bilang..ttg komunikasi n jiwa besar. Kalo ga ada yg mau ngalah…pasti endingmya perang dunia ke 4 ;)))
    Brarti aku manggil eda lah ya lis,.soale suamikukan siregar :))))

    1. Aaakkkkk…..hormat hula-hula lah aku kalo gitu, gak berani lagi aku manggil nama atau pake sebutan “kamu”..hihihi… Maaf ya eda, aku gak tau soalnya…hihihihi

      Jadi si ito Siregar apa, da? Kalo kami Siregar Dongoran…

      Oalah, jadi dulu pernah pacaran sama orang manado toh da? hihihihi…memang orang manado itu kece2 sih..hahahaha *dilempar sendal*

      1. Yahhhhh omakni Raja ini..resmi bangetttt..aku yang batak aja ga gitu2 amat kok lis…..ihihi santai aja deh gpp kok aku ttp dipanggil nama….(Seriussss) 😀

        Suami Siregar Silali dari Muara……

        pacaran ama orang manadonya 4 tahun bok!!! melekat dihati banget deh itu dulu. Hahahaha
        Belom lagi cem2an or kecengan plus yang HTS ….rata2 manado…ohhhh cintaku pada pria manado sih udah luntur,,,tapi ama makanannya teteuppp JUARA DIHATIKU *brb* *nyari lalampa, ayam woku, balapis* 😀

      2. Hahahaha…secara diriku ini kan bukan boru Batak aslinya, eda, jadi kalo bukan dengan cara berusaha menjunjung budaya kita, maka dgn cara apa lagi baru aku bisa disebut boru Batak? Kalau yg mmg sudah aslinya Batak kan mo kek manapun jg tetaplah udah Batak 😀 😀

        Hahahaha…makanan manado juga udah meluluhkan hati amangbao-nya da 😀

        salam lah buat si ito ya da 🙂

  8. Salam kenal ya Mbak. Saya. Silent reader blog mu ini lho. Berubung baru baca sya lahap semua halaman demi halaman blog mu. Sy belajar bagaimana rumah tangga, mengurus anak, pembantu dan juga berhadapan dgn mertua.
    Tulisan yg ini bnr2 bikin sy mengingat lagi betapa ajaib Tuhan Yesus ya. Dl suami saya awal berpacaran jg bukan kristen. Mertua sy sgt baik, mrk mengijinkan anaknya ikut jd kristen demi menikah dgn sy.
    Kalau Mbak pny PR untuk belajar adat Batak, nah PR saya nih membimbing iman suami supaya ga melorot.
    Sukses terus ya Mbak. Sesibuk apa pun nulis ya Mbak, supaya sy bisa belajar dan belajar terus dr Mbak.

    1. Makasih yaa…udah baca2 blog ini..

      Wah, kalo yang beda budaya aja udah ribet, apalagi yang beda keyakinan…syukurlah sekarang sudah jadi satu iman ya, terus semangat membimbing suaminya supaya terus dalam kasih Kristus yaaa…God bless u!

      1. Bukan ribet lagi mbak. Waktu kami blg mau nikah digerja mertua bkg tunggu diluar gereja aja.alamakkkk macam mana bs ada pemberkatan nikah tanpa ortu di dlm gereja. But akhirnya stlh dirayu2 plus mgkn ga enak sm besan (papa saya) akhirnya mertua masuk juga. Weleh2…
        Amien, siap Mbak! Saya harus siap mewartakan injil dr org terdekat.

      2. Iyaaa..bisa kebayang itu ribetnya gimana. Syukurlah semua sudah baik2 aja yaa…. Ya dan amin untuk doa2mu buat suamimu yaa 🙂

  9. Wadoooww… ternyata perjuanganmu dengan Pak P dulu begitu berat ya…. Bener banget … semuanya harus diselesaikan dengan Komunikasi, dan kesampingkan ego biar ketemu jalan keluar yang terbaik…

  10. terharu bacanya karena memang kebesaran hati orang tua itu luar biasa yah.. adat batak dan adat manado itu kan terkenal sama2 kuat.
    salam kenal mbak 🙂

    1. Kalo di manado sih gak ada adat2 yang gimana2, cuma ya itu, harapan orang tua susah dikesampingkan..

      salam kenal juga yaa 🙂

  11. kunjungan balik 🙂
    waaah seruuuu banget pesta nya ya, walopun acara menurut adat itu ribet, tapi kalah sama seru2nya.

    semoga banyak hikmah yaa buat double-R ke depannya 🙂

  12. Pemahaman dan penghayatan Jeng Lis akan budaya Batak sungguh membanggakan hati simatua.
    Indahnya penyatuan budaya yang berawal dari komunikasi dan kebesaran hati orang tua. Menginspirasi banget Jeng, saya belajar jadi orang tua dari postingan ini. salam

  13. hati yang penuh kasih dan berjiwa besar…. bikin terharu banget baca kata-kata itu berulang-ulang, sampai berkesimpulan dimana ada hati yg penuh kasih dan jiwa besar pasti disana ada kemudahan dari Tuhan.. ih keren ya.. *kemudian update status fb 🙂
    Pelajaran untuk saya yg juga beda budaya dengan misua, dan memang gak gampang, kudu banyak-banyak iklas.. ridho…

  14. Nah kalo sekarang gimana Mama Raja ?? Fine – fine aja kan yaaa……membaca postingan ini…rasanya kok ya campur aduk, tapi intinya tetep aja hepi bawaanya …

  15. wah jeng photonya papa raja masih jaman muda…duh pantesan nieh meluluhkan hati jeng allisa 🙂 *waduh kok malah koment photonya baiklah menyimak tentang menyatukan 2 budayanya

    1. Rata2 keknya memang gitu ya, dilaksanakannya di tempat pengantin wanita, di Batak aja yang sedikit beda kebiasaannya…

      Iya, itu tamu2 adat, gak boleh ada yang ketinggalan diundang 😀

  16. Lisss…. MAKASIH MAKASIH udah membagikan cerita ini. Ini cerita yang menurutku luar biasa banget dalam menunjukkan pentingnya sebuah komunikasi di antara pasangan calon suami istri, dan juga komunikasi antara anak dan orang-tua. Menurutku, semua hal ini bisa terjadi, karena kedua anak dekat dengan orang tua-nya masing-masing sehingga mereka bisa kompromi dan bisa sehati. Langgen dan bahagia selalu ya Lis.

    1. Makasih juga Leonyyy…karena udah ngasih ide buat nulis, hehe…

      Bener, antara anak dan orang tua memang harus deket biar komunikasi lancar ya…

  17. Hebat mbaaaaa, aku sama suami yg sesama jawa aja heboh.
    Nah ini 2 suku 2 pulau yg berbeda, hebaaaaaaaaaattt kamu mbaa :””””””’)
    eh samaan aku jg nikahnya 2008, happilly ever after ya papa-mama duoR

    1. Aiihh..kita tos dong ya, sesama janur kuning melengkung di 2008 😀 😀

      Makasiihh..happily ever after for you too yaaa

  18. oooh ternyata Raja itu mirip papa-nya yaa, tapi kulitnya ngikut mamanya *Loss Focus 😛
    waw, kedua orang tua kalian memang berhati besar yaa, tidak menuruti ego-nya masing2. btw itu di foto pertunangannya kamu tampak langsing sekali jeng 🙂

  19. wow.. mata saya berkaca2 membaca tuLisan ini… krn mirip dngn saya jaLani, tp bedanya, mba happy ending.. 🙂 nice share mba..

  20. Salam kenal,
    Saya juga memiliki kesamaan dgn cerita di atas. Cuma bedanya kalo cerita di atas masih memiliki kesamaan satu sama lain dalam hal agama. Dan perbedaan lain saya yg laki” dari manado kalo calon saya yg asli batak cuma udh lahir d jkt.
    Walaupun udh lahir lama d jkt, org tua nya masih sangat kental dgn budaya batak.
    Mungkin di lain kesempatan saya mohon saran dari mba.
    Salam , torang samua basudara.
    Kalo boleh lewat email ya mba. Kali aja dpt pencerahan mba. Amin
    Makasih sebelumnya.

  21. shalom ka Allisa… Salam kawanua ka hehe…
    iseng-iseng googling “pernikahan batak” eh keluar blog kk. dan cerita kk ini sangat menginsparasi. thanks anyway.
    aku posisinya sama bgt dgn cerita kk ini.
    aku pengen sharing lebih byk ka. apalagi ttg penentuan tempat Pemberkatan Nikah. Pusiiinggg… ga selesai2 mikirinnya ka. mungkin kk bisa ngasih pencerahanan sedikit nih ka.
    aku rencana bulan september ini. sementara sepakatnya kita pemberkatan di Medan.
    tapi setelah aku baca blog kk tambah bulat utk aku pertimbangkan lagi.
    terus masalah biaya2nya ka… kk kalo masih ingat kira2 dulu itu brp biaya nya ya ka? hehe…

    oiya, salam kenal ya kk…
    ditunggu balsan komentarnya… GBU…

  22. wah krennn….. saya juga punya persoalan yg agak rumit saat ni.. dimana kami kedua belah pihak berasal dari suku yang berbeda… saya batak dan cowok saya manado tapi sama2 kristen dan sma2 dari keluarga yang terbilang masih kurang mampu.. ingin melangsungkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius tapi gak tau mau gmna.. karena dulu cwo saya bilang adatnya mengikukti adat batak.. tapi berhubung dia adalah hanya anak tunggal jadi saya bingung… curhat ni yehhh.. heheheh… btw slamat ya kk atas berkat Tuhan yang begitu melimpah ke keluarga kakak… semoga kedepannya terberkati teruuuuusssss.. amin

    1. Wah, kebalikan dengan kami ya 😀

      Semoga bisa nemu jalan tengah yaaa…alangkah lebih baik kalo cowoknya mau ngikutin adat Batak, karena adat Batak lebih kental daripada adat di Manado.

      Makasih doanya yaaa dan sekali lagi semoga kalian juga bisa berakhir bahagia ya 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s