Uptime

Dalam Diklat kemarin, saya sempat mendapat pengetahuan baru tentang Meta Coach dan Uptime yang dibawain oleh salah seorang instruktur. Sebenarnya materi kemarin jelas bukan tentang Meta Coach, tapi berhubung sang instruktur yang tahun depan sudah bakal pensiun itu merupakan satu dari sedikit Meta Coach yang ada di Indonesia, maka dalam pengajarannya, beliau menyinggung-nyinggung juga soal hal ini.

Saya gak akan bahas soal Meta Coach, secara saya cuma tau kulit luarnya aja, bahwa fokus penting dalam Meta Coaching itu adalah pengembangan diri seseorang mulai dari dirinya sendiri. Nah, seorang Meta Coach itu menggali informasi dari dalam diri kliennya salah satunya dengan menerapkan Uptime.

Uptime inilah yang membuat saya tertarik.

Menurut sang instruktur, ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam Uptime ini:

  1. Dengarkan saat mendengarkan
  2. Lihatlah saat melihat
  3. Rasakan saat merasakan

Kedengerannya lucu ya, ya namanya juga lagi dengerin sesuatu ya jelaslah yang dilakukan adalah mendengarkan. Kalo lagi ngeliat ya jelas kita ngeliat. Begitu juga dengan saat lagi merasakan sesuatu.

Tapi ternyata, manusia terutama manusia dewasa bisa dibilang jarang sekali berada dalam kondisi Uptime ini.

Lho….kok bisa???

Jadi gini ceritanya sodara-sodara.

Dalam kepala manusia terdapat dua hal.

Hal pertama adalah lensa/filter berpikir. Hal kedua adalah data historis yang tentu aja isinya adalah berbagai rekaman kejadian atau pengetahuan yang kita terima sebelumnya.

Nah, manusia dewasa itu kecenderungannya adalah ketika kita sedang mendengarkan atau melihat atau merasakan, kita memblok diri kita sendiri oleh karena data historis dalam kepala kita. Ketika kita melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu, logika dan persepsi kita bermain-main dan melakukan penilaian terhadap hal-hal yang sedang kita lihat, dengar, dan rasain berdasarkan data historis di kepala kita.

Karena itu, ketika misalnya kita melihat seseorang sedang memegangi perutnya, kita langsung berpikir bahwa orang itu pasti sedang sakit perut, karena data historis di kepala kita mengatakan itu.

Ketika kita sedang bercerita dengan teman, sadar gak bahwa saat kita lagi dengerin dia bercerita, sebenarnya pikiran kita melayang ke mana-mana. Bukan karena kita gak berkonsentrasi dengan apa yang diceritakannya, tapi karena otak kita sedang berusaha menilai apa yang teman kita katakan atau justru sedang menilai orang itu sendiri. Daripada berkonsentrasi pada apa yang lagi diceritain temen kita, pikiran kita justru sibuk menilai salah atau benarnya atau justru sedang berpikir bagaimana pengalaman kita mengenai hal yang dibicarakan itu supaya nanti orbrolannya bisa nyambung….

Atau misalnya ketika kita sedang mendengarkan sebuah ceramah, sering kita merasa kalo kita lagi berkonsentrasi terhadap ceramah itu, tapi sebenarnya yang kita lakukan adalah sedang menilai si penceramahnya, ya soal penampilannya, cara dia ngomong, atau bahkan soal latar belakangnya…

Trus apa yang kayak gitu salah?

Ya salah atau gaknya tergantung dari sudut pandang kita melihat sih.

Namun yang pasti, otak kita akan lebih banyak menerima pengetahuan dari luar ketika kita berada dalam kondisi Uptime πŸ™‚

Tau gak, kenapa bayi begitu cepat bisa belajar dan menerima stimulus dari luar?

Itu karena bayi dan anak-anak lebih sering berada dalam kondisi Uptime πŸ™‚

Bayi dan anak-anak kecil, isi kepala mereka tidak dipenuhi oleh data historis dan mereka sedang berusaha menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya mengenai lingkungan sekitarnya, karena itu mereka selalu berkonsentrasi pada stimulus yang diberikan. Mereka membuka seluruh indera mereka selebar-lebarnya supaya mereka bisa menerima stimulus dari luar. Konsentrasi mereka gak pecah pada hal-hal lain. Alam pikiran mereka juga gak bermain-main dengan bermacam hal. Mereka murni hanya berkonsentrasi pada apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan πŸ™‚

Memang banyak sekali contoh yang bisa kita ambil dari bayi dan anak-anak yah…. Makanya Tuhan Yesus aja bilang supaya manusia bisa memiliki iman seperti anak kecil yang memang pikirannya masih murni, belum banyak terkontaminasi, dan karena itu lebih mudah dibilangin dan dikasih tau ketimbang orang dewasa yang kalo ditegur atau dikasih tau ini-itu, malah logikanya bermain kemana-mana….yang kemudian berujung pada kekeraskepalaan. Giliran kalo kita menilai orang lain, rasanya kok ya diri kita yang paling bener sendiri dan kemudian bisa dengan mudahnya menghakimi orang lain sebagai pendosa…

Nah, gunanya untuk berada dalam kondisi Uptime ini, salah satunya dalam dunia pekerjaan. Tentunya salah satu tugas atasan adalah menjalankan Coaching, Mentoring, dan Counseling kepada bawahan yang seharusnya dilakukan kapan saja selama bekerja.

Nah, seringkali CMC itu tak berjalan sebagaimanamestinya, karena sang atasan sibuk sendiri selagi bawahannya ngasih laporan atau lagi menceritakan hal yang penting. Sibuk sendiri di sini bisa dalam bentuk sambil sibuk nanda-tanganin berkas, sambil nerima telpon, atau sambil ngetik. Akibatnya apa yang disampaikan bawahan gak bener-bener nyampe. Boro-boro mo ngasih jalan keluar yang pas, ngerti permasalahannya aja gak. Makanya gak heran kalo banyak bawahan yang saat keluar dari ruangan atasan, bukannya berwajah cerah ceria karena nemu solusi, malah mukanya mengkerut karena tambah pusing *yang kayak gini jangan sampai terjadi pada saya, Tuhan…. πŸ˜€ *

Buat saya pribadi, selain berguna untuk menjalin komunikasi yang baik di dunia pekerjaan, juga berguna banget untuk diterapkan dalam pola didik anak. Saya jadi tambah sadar, kalo dalam menghadapi anak saya harus berkonsentrasi penuh sama dia, sama apa yang diceritakannya, atau sama apa yang dilakukannya. Anak saya akan bertambah besar, saya pengen dia ngerasa nyaman ketika bercerita dengan saya…jangan sampai dia ngerasa ragu bercerita karena tahu selagi dia bercerita saya akan sibuk memikirkan apakah yang dilakukannya itu salah atau benar. Saya harus bisa menggali informasi sedalam-dalamnya dari dia, supaya saya tau apa yang diinginkan. Atau kalaupun dia melakukan hal yang salah, saya harus bisa menggali penyebab dia melakukan hal itu. Ini supaya kesalahan yang sama bisa dihindari di kemudian hari…

Tapi sejujurnya, sama sekali gak mudah untuk berada dalam kondisi Uptime itu. Pengalaman pribadi sih, karena udah terbiasa membuat penilaian terhadap apa yang saya lihat dan dengar, setiap ngeliat atau ngedengerin sesuatu ya yang saya lakukan adalah sibuk menilai dan berpersepsi….hehehe…. Susah ya bok melatih otak untuk hanya berkonsentrasi pada stimulus dari luar tanpa terpengaruh oleh data historis yang ada di kepala tentang stimulus itu. Dan saya juga yakin, kita gak bisa selalu dan selamanya berada dalam kondisi Uptime, karena toh apa yang dikatakan oleh data historis di kepala kita dalam banyak hal sangat berguna juga.

Cuma paling gak, ketika ada orang yang datang untuk curhat, siapapun itu, entahkah anggota tim kerja, entahkah temen, orang tua, suami, anak…Β saya bisa ingat untuk mendengarkan dengan baik dulu dan jangan langsung membuat penilaian. Kalo bisa biarkan orang yang curhat itu yang akhirnya membuat penilaian terhadap dirinya atau perbuatannya sendiri, sehingga kesadaran itu memang datang dari dalam diri sendiri.

Understand this, my dear brothers and sisters! Let every person be quick to listen, slow to speak, slow to anger (James 1:19)

Ini jelas bukan kondisi Uptime…wong sama-sama saling ngomong gitu πŸ˜›
and this one also is definitely not an example of uptime condition πŸ˜›

 

Iklan

55 thoughts on “Uptime

    1. Nah itu dia…aku cari-cari kok ya gak ada, Ky….itu membuktikan betapa aku jarang berada dalam kondisi uptime itu πŸ˜›

    1. Iya jeng..diusahain konsentrasi pada hal-hal yang dia lakukan dan bicarakan, bukannya malah sibuk menilai atau sibuk ini-itu πŸ˜€

    1. Iya jeng…susah benerrrr…katanya seorang Meta Coach aja butuh latihan sampe bertahun2 baru bisa terlatih dengan uptime ini πŸ˜€

  1. wah seru banget trainingnya.

    emang keliatannya simple sih yah … dengarkan saat mendengar. tapi sering banget kita gak aware saat kita diajak omong org lain. Apalagi dgn gadget ditangan, kadang orang diajak ngomong malah perhatiannya gak ke lawan bicara malah ke gadget.

  2. memang bener ya Lis kalau ada yg curhat sebaiknya didengarkan sampai selesai, karena kadang orang curhat juga cuma minta didengarkan , tapi kadang memang yg jadi pendengarnya langsung melayang layang ya memberikan penilaian
    πŸ™‚

  3. TFS ya jeng…

    Terkadang ketika dituntut berkonsentrasi, otak kita malah sibuk memikirkan hal lain terutama kalo bertemu dg orang baru pasti di saat dia bercerita, kita sibuk merangkai kata2 yang akan dilontarkan biar percakapannya nyambung πŸ™‚

    1. Hihi..iyah, aku juga sering begitu…akibatnya kita lebih berkonsentrasi pada pikiran kita sendiri ketimbang apa yang kita denger πŸ˜€

  4. komenku td kok gak ada?

    tfs ya lis. emg bener org dws sk bermain dgn pikirannya dan diperlebay dgn sinetron zoom in zoom out, hehe

    kl aja itu uptime, mkn di pikiran bu Agustine adlh…nih org cantik bgt ya! hehehe…uptime luk!

    1. Komentarmu yang sebelumnya ternyata masuk spam Luk hihihi…

      Jiaaahhhh…itu mah bukan uptime, Luk…tapi thanks ya ..hihi..

  5. Dipikir-pikir benar juga ya, jika kita mengikuti suatu presentasi atau ceramah lebih banyak kita menilai pribadi pembicaranya, cara menyampaikan, pakaiannya, dll padahal yang lebih penting seharusnyalah kita fokus ke materi yang diberikannya.
    Terima kasih Mb infonya. Sukses selalu… πŸ™‚

    1. Iya Uda, kita seriiinggg banget kayak gitu, akibatnya apa yang kita terima dari si pembicara justru gak optimal masuk ke otak kita πŸ™‚

      Terima kasih kembali yaa πŸ™‚

  6. Hmm…jadi kalo ada yang ngasih presentasi di sore hari, terus mataku lurus ke arahanya, manggut-manggutin kepala sementara isi kepalaku bilang ‘ buruan, mau cepet pulang nih…’, itu berarti aku gak dalam kondisi uptime ya, Lis ? *polos*

    1. Itu gak uptime pake B, Ndah..alias gak uptime Buanget…hihihi… Tapi emang kita seringnya kayak gitu sih ya πŸ˜€

  7. oo gitu yaa..baru tau deh istilah uptime.
    kalo diliat dari pengertiannya, berarti aku juga bukan tipe orang yang uptime πŸ˜€

    rada susah konsentrasi disatu titik. Maunya ngelakuin banyak hal dalam satu waktu..;p

    1. Samaaa…aku juga susah banget untuk Uptime..udah kebiasaan multi tasking yooo… Tapi musti belajar sih, terutama kalo ngadepin anak dan suami πŸ™‚

  8. betul sekali nih sharingnya mba.. seneng saya bacanya.. banyak dari kita yang sudah dewasa tidak pernah sukses melakukan uptime dengan definisi yang sudah dijelaskan itu..

    ah mau praktekin ah.. terima kasih ya

    1. Syukurlah kalo senang bacanya, hehe… Saya juga seneng banget dapat materi tentang uptime kemarin itu. Walo susah dipraktekkin, tapi berguna banget….

      Moga berhasil yaa πŸ™‚

    1. Iya bener banget…anak-anak tuh karena selalu uptime, jadi cepat banget meniru sesuatu, makanya kita harus selalu kasih contoh yang benar ke mereka…

  9. Kapan-kapan ditulis dunk Jeng, cara-cara latihan uptime..Benar-benar menarik nih..Sebab selama ini, kalau menerima informasi baru, langsung disaring sendiri oleh sejarah saya πŸ™‚

    1. Nah..itu dia mbak, aku juga gak tau gimana caranya biar bisa uptime. Si instruktur juga gak ngasih tips trik nya…beliau cuma bilang, pokoknya kalo pengen uptime, kita musti berkonsentrasi pada apa yang sedang kita dengar, lihat, atau rasakan πŸ˜€

      1. Oh ya.. bagus, saya masih asli dari onan runggu , Op.Rajanatarus, no. 14 berarti parumaen , simatuamu mungkin saya kenal karena mungkin seusia dgn saya, kalo boleh saya tau nama mertuamu siapa, kalo kalian masuk punguan samosir disini , mungkin kenal Ama Lusi Samosir tahun ini almarhum, kamilah itu , saya termasuk pengurus Samosir.Saya baca-baca blognya kayaknya banyak waktu utk menulis ya dan berbakat. ok, keep it proceed. GBU

      2. Horas, amang!

        Mertua saya MP Samosir alias Op. Rajamin, amang, tinggalnya di Jalan Sering. Nanti coba ku tanya ke amang simatuaku ya… Senangnya bisa ketemu sama amang di sini πŸ™‚

        God bless u too, amang πŸ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s