I’m In My Comfort Zone And I’m Happy!

Pagi ini, saya ingin bercerita tentang kehidupan saya sebagai ibu bekerja.

Gak kok, ini bukan untuk membandingkan antara ibu bekerja atau ibu yang tinggal di rumah, working mom or stay at home mom or working at home mom,Β yang semuanya tentu adalah full-time mom, emangnya ada apa half-time mom? Jadi ibu itu bukan profesi yang bisa ada penuh waktu atau paruh waktu, baik kita lagi deket atau gak dengan anak kita, ya kita tetep aja ibunya. Mau anak kita dimandikan oleh kita sendiri ataupun oleh pengasuh anak kita, ya status kita tetep ibunya…. Perkara siapa yang ngerawat anak kita, siapa yang nyuapin, siapa yang nina-boboin, siapa yang ngajarin membaca, siapa yang nyusuin, siapa yang membesarkan, siapa yang ini, siapa yang itu, semuanya adalah perkara yang berbeda. Siapapun yang melakukannya tidak lantas membuat kita bisa melepaskan status kita ataupun orang lain sebagai ibu, ibu tetap lah ibu, bagaimanapun kondisinya. Suatu penghargaan, sekaligus tanggung jawab yang sangat besar bagi setiap ibu πŸ™‚

Saya ibu bekerja dengan jam kerja di kantor dari jam setengah delapan pagi sampai jam empat sore, kalo lagi puasa gini jam kerjanya terpotong setengah jam karena jam pulang menjadi jam setengah empat…yippiiieee…. Dilema sebagai ibu bekerja, sama seperti ibu-ibu yang lain juga saya alami. Terutama soal sedih ninggalin anak di rumah dan soal kebergantungan pada kehadiran pengasuh anak di rumah. Tapi meski ngadepin dilema, saya tetep bahagia.

Bahagia karena tak pernah melewatkan setiap tahap perkembangan anak saya. Senyum pertamanya, penglihatan pertamanya, tengkurap pertamanya, angkat kepala pertamanya, guling-guling pertamanya, merangkak pertamanya, langkah pertamanya, kata pertamanya, dan semua tahapan perkembangan yang ia lalui, I was there, watched him with my own eyes and I didn’t just hear about his new development from his nanny, he even learned everything with me…

Bahagia karena sejak ia lahir hingga sekarang, belum pernah sekalipun ada satu malam di mana ia harus tidur tanpa saya….

Bahagia karena meski bekerja saya bisa memberikan ASI untuk anak saya, eksklusif sampai 6 bulan, lalu lanjut hingga usianya 2 tahun 7 bulan. Bisa menyiapkan sendiri MPASI untuk anak saya dan melalui semua tahapan ‘coba-coba makanan’ bersama anak saya.

Bahagia karena tiap pagi saya bisa bangun subuh, langsung turun ke dapur, masak untuk sarapan serta makan siang dan malam untuk seluruh keluarga. Setelah itu bangunin anak, main bentar sama dia agar mood-nya bagus, lalu meninggalkannya bersama pengasuhnya untuk sarapan sementara saya sendiri mandi dan bersiap-siap, berdandan rapi untuk ke kantor, I dress up so well just like I’ve never been dealing with smoke in my kitchen :P. Ada yang bilang jadi ibu bekerja itu gak enak, karena tiap pagi musti kejar-kejaran dengan waktu, tapi saya rasa hampir semua ibu apapun statusnya kejar-kejaran juga dengan waktu di pagi hari. Apalagi kalo anak-anak sudah sekolah. Keknya itu hal yang biasa deh, lagian kalo kata saya, segala kerempongan dan kejar-kejaran waktu di pagi hari itu justru bikin hidup lebih hidup πŸ˜›

Bahagia karena tiap pagi bisa nganterin Raja hingga ke beranda sekolahnya dan menunggunya hingga ia dengan bahagia masuk ke dalam kelas. Bahagia karena bisa hadir dalam parents meeting yang diadain sebulan sekali *walo kadang gak hadir karena saya lagi rapat penting di kantor*, bisa mendampingi Raja dalam setiap event yang diadain oleh sekolahnya, tak pernah berhalangan untuk mengambil rapor Raja dan berbicara panjang lebar dengan gurunya. Soal menjemputnya kembali, ah, kadang bisa, seringnya gak bisa. But it would never be a problem for me and Raja, because he knows that only in a few hours ahead I’ll be there, at home again, with him

Bahagia karena setiap hari selalu ada quality time dengan anak saya. Yes, I do my just-good-old-quality-time, no phones, no gadget *kecuali kamera ding, buat motoin dia…wkwkwkwk*, no work…just me and him. I can say I 100% focus on him, because I know it is what matters most for him. We do lots of things: learning, playing, crafting, watching, reading, or just simply talking. Saya bahagia, Raja juga bahagia. He knows, I always have time for him

Yes, I know I’m a very lucky working mom.

Bekerja di kantor yang mau mengerti dengan kondisi sebagai ibu, jaman Raja masih kuat menyusu, saya bisa ngatur waktu untuk pulang ke rumah setiap jam istirahat untuk memerah ASI, menyusui Raja atau menyuapi makan siangnya. Hal itu juga tentu didukung karena saya tinggal di kota yang sekalipun ada macetnya tapi masih bisa lah ditolerir hingga perjalanan pulang pergi saya tidak perlu memakan waktu begitu lama, belum pernahlah kejadian saya nyampe rumah ketika anak udah bobo pulas di malam hari, wong nyampe rumahnya aja biasanya masih sore kok πŸ˜€

Ketika saya harus lembur sampai lewat jam 8 malam, saya bisa pulang dulu ke rumah untuk menjemput Raja agar dia bisa ikutan lembur bersama saya.

Ketika Raja sakit, atasan gak akan menghalang-halangi saya untuk minta ijin (tanpa cuti) agar bisa menemani Raja.

Atasan juga mau mengerti ketika saya memilih untuk jarang dinas keluar kota karena mikirin Raja, karena setiap kali dinas saya harus memboyong Raja. Saya pernah menolak dinas ke Thailand, karena waktu itu Raja masih terlalu kecil, 3 bulan aja belum, masih beresiko lah untuk bawa dia kemana-mana. Puji Tuhan kantor ngerti dan eh malah saya dikasih kesempatan kedua untuk dinas dengan tujuan yang sama namun lokasinya diganti ke Singapura yang mana kesempatan kedua itu diberikan saat Raja sudah berumur 10 bulan dan amat sangat memungkinkan untuk dibawa jalan-jalan.

Saya ibu yang bekerja di luar rumah, tapi kebanyakan tugas sebagai ibu, puji Tuhan masih bisa saya lakukan.

Meski dengan banyak konsekuensi. Di kantor saya terpaksa harus menarik diri dari pekerjaan yang bisa membuat saya lembur berkepanjangan atau yang mengharuskan saya dinas ke sana-sini.Β Saya akui, yang kayak gini membuat saya kurang optimal dalam pekerjaan, tapi setiap pekerjaan yang bisa saya tangani akan saya usahakan untuk dikerjakan dengan sepenuh hati, kalo perlu melampaui target.

Dan Tuhan tau betul memang kebutuhan saya.

Ketika saya ngerasa takut harus ‘kehilangan’ pekerjaan di kantor, Tuhan mengatur agar tetap ada project untuk saya dan tim kerjakan, yang membuat saya bisa tetap optimal dalam pekerjaan. Bahkan sekarang, dengan implementasi proyek-proyek kantor pusat macam SAP and the gank, kerjaan bagian sistem informasi di unit seperti tempat saya ini akan lebih ke pengembangan sistem penunjang yang mana itu berarti akan cukup banyak yang bisa dikerjakan oleh saya dan tim.

Ketika saya ngerasa stuck setelahΒ memutuskan untuk menolak kesempatan promosi sampe bikin surat penolakan resmi segalaΒ *yang waktu itu sempat bikin saya dipanggil oleh salah satu atasan, beliau tidak setuju saya bikin surat resmi seperti itu karena akan merugikan karir saya ke depan…dan waktu itu dengan baik-baik saya bilang ke beliau, saya senang bisa bekerja tapi bagaimanapun saya akan memprioritaskan keluarga*, tiba-tiba saya diberikan promosi yang sesuai dengan keinginan saya: promosi tanpa mutasi.

Tuhan baik sekali, memberikan begitu banyak keberuntungan buat saya dan yah, sekarang ini saya berada pada zona nyaman saya. Belum ingin pergi dari sini karena situasi saat ini mendukung peran saya sebagai ibu sekaligus pekerja. I know life begins at the end of our comfort zone, but this is where I live, this is my life, I don’t need any other life… You may say I’m just afraid to take a new chance, but not, it’s not fear, it’s just convenience πŸ™‚

Saya juga tidak akan mendustai diri sendiri bahwa saat ini saya tetap memilih bekerja karena masih perlu sekali menyokong ekonomi keluarga. Tidak. Dengan penghasilan suami sebenarnya kami masih bisa hidup layak. Bahkan banyak juga di sini yang penghasilannya lebih kecil dari saya namun bertindak sebagai tulang punggung keluarga.

Saya masih tetap bekerja karena masih menikmati semua kondisi nyaman ini, segala kesibukan dan rutinitas setiap harinya. Mengantarkan anak ke sekolah, bekerja di kantor, lalu pulang mendapati anak yang berlari mendapati saya sambil bilang, “I love you, mammaku!”.

Saya menikmati bisa berpenghasilan sendiri dan tetap bisa mengurus keluarga, tetap dekat dengan anak saya, tetap jadi orang yang dicari dan diharapkannya ketika ia terjatuh atau sakit atau sedih, dan jadi salah satu dari dua orang yang paling senang dipeluk dan diciuminya di mana satu orang lainnya adalah papanya.

Saya masih tetap bekerja karena belum ada kondisi yang memaksa saya untuk berhenti….

Dan saya ingin tetap bisa begini. Saya yakin, Tuhan mengerti dan karenanya apapun yang akan terjadi di depan, Tuhan pasti akan memberikan banyak keberuntungan lain untuk saya…

Dan oh ya, saya juga sedang nyaman dengan pergaulan saya sekarang termasuk di dunia maya ini, karena sejauh ini teman-teman saya meski datang dari berbagai latar belakang, tapi gak pernah saling menghakimi mengenai status masing-masing baik lewat komentar maupun lewat tulisan sendiri di blog. Malah saya sering banget saling berbagi dengan teman-teman saya ini, tak peduli apapun status masing-masing.Β Bukankah itu adalah hal yang sangat baik? Daripada kita saling menghakimi dan terus mencari manakah yang lebih baik: working mom, stay at home mom, working at home mom, mending kita saling mendukung saja, saling berbagi tentang pengalaman masing-masing, agar kita bisa sama-sama saling mengingatkan ketika ada hal mengenai perkembangan anak yang terlupa oleh kita. Bukankah kita sama-sama masih dalam proses belajar untuk menjadi ibu bagi anak-anak kita? Kalo masih sama-sama belajar mending gak usah saling senggol kan, saling bantu aja agar kita bisa maju bersama. Bagi saya, apapun pilihan yang kita jalani sekarang, segala konsekuensinya akan kita tanggung sendiri dan hasil akhir perjuangan kita nanti akan terlihat pada anak-anak kita πŸ™‚

I’m a working mom, and I’m happy!

PS:

Saya sebenarnya sedang gak sabar nih nungguin jam makan siang. Hari ini saya ada lunch date lagi sama suami, yupe, dia lagi di sini sekarang. Doain agar lunch date kali ini lancar yaaaa…jangan kacau lagi kayak kemaren…hihihi…

Iklan

74 thoughts on “I’m In My Comfort Zone And I’m Happy!

  1. walah lis.. .baru aja kemaren ini ngobrolin mirip2 gini ama bokap nyokap gua.
    gua kan suka merasa ‘kurang’ dengan kondisi kerjaan dan karir gua sekarang ini. rasanya gitu2 terus, gak naik2.

    tapi bokap nyokap gua ngingetin kalo gua harus bersyukur. karena gua punya banyak waktu buat keluarga, bisa deket anak, sempet begini sempet begitu…

    ya iya juga ya… hahaa. gua emang orangnya suka kurang bersyukur sih.. πŸ˜€

    1. Hihihi..iya ya Man, kadang emang kalo liat orang lain yang udah begini dan begitu kok rasanya kondisi di sini masih ‘kurang’, padahal kalo mo dipikir-pikir belum tentu juga yang kita rasa lebih asik itu memang lebih asik πŸ˜€

      Bener tuh Man, kondisi kamu malah menurut ku udah oke banget lah. Tinggal dan kerja di luar negeri, udah bisa hidup mapan banget di sana, bisa jalan ke sana ke mari, daaann…tentu aja tetep deket sama anak-anak, itu yang gak akan bisa terbayar oleh apapun juga πŸ™‚

  2. Iya, Lis. Setiap saat aku juga merasa diberikan tempat kerja yang comfort. Kecuali yang satu itu. Tapi kemudian aku yakin diberikan-Nya aku tempat kerja seperti itu untuk bisa mensyukuri tempat kerja yang aku punya kemudian.
    Menurut aku, bagaimana anak itu terbentuk bukan semata karena faktor Working Mom ato SAHM, WAHM whatever, melainkan dari pribadi dan karakter antara ibu dan anak.

    1. Iya ya Ndah, sebenarnya semua yang Tuhan ijinkan terjadi buat kita supaya kita bisa lebih mensyukuri segala sesuatu ya…

      Iya memang, mau apapun status kita, yang penting berusaha ajalah untuk jadi yang terbaik demi anak kita..

  3. Oalahhh jeng….aku pengen nangiiissss…semua terwakili olehmu….

    Semua yang kurasakan ada disini…(gak perlu bikin postingan sendiri dong hahahah πŸ˜€ ) secara kemaren dan weekend kemaren mendadak mellow…

    Peluk jeng Allisa erat2….
    Aku terharuuuuu… πŸ™‚

    I’m a working mom, and I’m happy! —> Like this !!!! and me too… πŸ™‚

    1. Peluk Pungkyyyyy…..

      Ini membuktikan bahwa gimanapun kondisi kita, sebenarnya yang namanya ibu itu yang kita rasain mirip2 kan jeng, semua pengen dan berpikir gimana bisa memberikan yang terbaik untuk anak…makanya kita harus saling dukung karena yang kita rasain sama…

      Of course, you’re one of the happy working moms, everyone can see it in your smile πŸ˜‰

  4. Bok, itu eyelinernya dimata bawahnya pake apaan sih? hihihihi maap..bener2 salah fokus deh ini.. smudgeproof ga? Akika lagi cari2 yang ga luntur kalo kena aer wudhu.. πŸ˜€

    1. JIahhh jeng desi malah ngomongin eyeliner…kekekeke πŸ˜€

      Eh iya jeng Allisa, itu eyelinernya pake apaan? hahhaha πŸ˜€

    2. Udah jawab lewat whatsapp, tapi jawab lagi deh di sini… Itu TBS, itemnya nendang kaaannn? Dan jelas tahan air dooonngg πŸ˜€

  5. mantap nih…. setuju sekali dengan tulisan ini… pertama kagum dengan ASI yang 2 tahun 7 bulan. Dan yang membuat lebih kagum adalah sambil bekerja.

    Yes…. kita harus bahagia…. to be a mother… karena kalau di rumah tertekan juga tidak baik…

    ini tidak ada good and badnya… semua sama saja.. tergantung diri sendiri dan menjalaninya..

    1. Sekarang ini udah banyak sekali ibu2 yang meski bekerja tapi bisa berhasil memberikan ASI untuk anak, bersyukur sekarang informasi begitu mudah didapat sehingga ibu2 bisa dibekali pengetahuan tentang manajemen ASI meski tak bisa selalu bersama anak..

      Setuju bangett…gak ada yang salah, gak ada yang benar, tergantung kita bagaimana menyikapi dan menjalani. Thanks yaa πŸ™‚

  6. Ehmm…biarpun belum kenal lama di dunia maya, aku mau sok tau ahhh…

    Aku yakin semua berkah dan kemudahan yang kamu dapatkan dari Tuhan itu karena kamu baik Lis, selalu bersyukur, positif thinking sama orang (buktinya kamu ga sensi/jd over defensif sama org2 yang biasanya suka memandang negatif working mom) πŸ™‚

    Seperti juga aku, yakin deh kalo banyak orang juga terinspirasi tulisan2-mu, nah karena secara tidak langsung orang lain banyak terbantu, makanya Tuhan kasi ‘imbalan’ setimpal juga *cukup segini dulu deh mujinya, jgn sampe orgnya jd ke GR-an* πŸ™‚

    Sama ma Desi, gimana sih caranya bisa dandan cantik gitu?!sumpah seumur2 aku belum pernah pake eyeliner sendiri, mbayangin makenya kok jd takut keculek ya?(apa sih bahasanya?)

    1. Nah lho, segitupun aku udah ke-GR-an lhooo….wkwkwkwkwk..Thanks ya Fit πŸ™‚

      Kalo terlalu sensi, bisa-bisa aku bawaannya jadi be-te dan kemudian malah balik mencecar, sementara aku maunya ngerasa bahagia dan sama sekali gak mau nyakitin orang lain, jadi daripada terlalu mikirin apa kata orang mending aku menghitung-hitung alangkah banyaknya berkat Tuhan dalam hidupku dan hal itu selalu ampuuhh bikin aku ngerasa bahagia, karena ternyata udah dihitung2 pun berkat Tuhan tetep aja gak bisa kehitung πŸ˜€

      Dandan cantik tuh sebenarnya gampang, Fit, bener deh. Eyeliner TBS tuh mudah banget kok pakenya karena ujungnya runcing tapi gak tajam, jadi gak usah takut bakal nyakitin mata kita πŸ˜‰

  7. like thissssssssss…..
    hmm …aura kebahagiaannya sampai sini..dan saat membacanya saya mengerti dan mantuk mantuk..*halah bahasanya..ada beberapa yang saya rasakan juga..bersyukur..walaupun saya masih bekerja..yang mana bersyukur tempat kerja saya mendukung emak emak…..seperti saya ini..ijin cuti dan lain sebagainya…terus beban kerja…lembur dan training yang semuanya masih acceptable istilahnya untuk saya tetap sama kinan…..saya juga blom pernah melewatkan satu malam tidur tanpa kinan…berusaha sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik sebisa mungkin..untuk hak haknya….memperhatikan dan memotivasi perkembangannya..meskipun kadang saya bukan pertama yang melihatnya melakukan kepintaran melakukan sesuatu…*yah karena itu tadi karena kita bekerja 10 jam lebih..jadi setelahnya baru dapat laporan dan melihatnya langsung…tetap saja itu membahagiakan…..semoga kita bisa menjaga amanah yang telah dititipkan kepada kita…yaitu anak ini..:)
    btw..bang raja bikin lingkaran dari evamat puzzle yah..hehehe tos dulu….ayo bikin istana bang raja…bangunan bertingkat…:)
    thanks jeng..mencurahkan isi hati yang sebagian besar juga dirasakan emak emak bekerja…

    1. Iya jeng, kalo mo diinget-inget adaaa aja hal yang bikin kita ngerasa beruntung ya, makanya daripada ngeluh, mending kita melihat segala hal baik yang udah dibuat Tuhan dalam hidup kita dengan begitu kita bisa ngerasa lega dan bahagia. Kalo kita udah bahagia, anak juga bakal terkena aura bahagianya…

      Iyaaa…itu benteng nyontek dari punyanya Kinan. Raja hepiiii banget, thanks ya jeng udah di-share di blognya πŸ™‚

  8. allisa, everything work well because you are being grateful for it. thanks for sharing and reminding that being grateful is the key, so simple yet people keep forgetting it

    1. Karena Tuhan selalu penuhi kebutuhan kita ya Nov, jadi gak ada alasan untuk gak bersyukur..thanks ya Nov πŸ™‚

  9. Hayyaaaaaahh….mbak kebeneran banget sih, aq lg galau soal ini nih…tp setelah baca postingan ini jd optimis lg kynya aq bs deh ngelewatinnya meskipun bakalan ada plus dan minusnya hihihiii πŸ˜‰
    Aq baru mengawali jd emak nih, semoga bs menjalankan dua profesi sekaligus *tarik nafas…agak berat sih ini tp aq mau nyoba krn posisi dan suasana dikerjaan masih cukup nyaman trus baby aq juga lumayan bs beradaptasi sm pengasuhnya, semoga berjalan lancar deh πŸ™‚

    1. Plus minus itu wajar, jeng, apapun pilihan kita pasti ada konsekuensi yang musti kita jalani…

      Moga semua lancar juga buat dirimu yaaa…btw, udah dapat pengasuh, jeng?

  10. Idiih penampakan si Cantik dan si ganteng..

    Aku sangat..sangat salut padamu Lis..
    Hebat dan mengacungkan jempol khususnya buat ibu2 yang bekerja..
    Bisa membagi waktu dengan keluarganya..
    Begitu pun sama Kamu Lis,..
    Bener2 saluut..!!

    1. Aih, makasih teh Nchie πŸ˜€

      Aku juga salut sama wanita yang rela melepaskan pekerjaan demi anak, teh..ya memang apapun status kita, sebenarnya semua wanita yang mau ngurus keluarganya dengan metode apapun pastilah wanita yang hebat ya teh..

  11. Memang beruntung banget ya, kantornya mendukung penuh Mama Raja sbg ibu, punya pengasuh yg baik untuk Raja. Juga Mama Raja yg sangat bisa membagi waktu.
    Ngga semua wanita bekerja bisa membagi waktu dengan baik seperti mama Raja, makanya saya salut banget. Perlu kedisiplinan & ketelatenan untuk itu.
    Bukan mau membandingkan dengan perempuan lain, tapi dengan saya sendiri, heheheh …
    Makanya saya memilih tidak bekerja di luar rumah, karena saya tau kemampuan saya. Kalau sy bekerja di luar, pasti ada yg keteteran deh. Belum lagi fisik yang gak mendukung. Intinya sih, bersyukur dengan semua pilihan kita. Apapin pilihannya, dijalani & dinikmati dengan penuh tanggung jawab.

    1. sebenernya setiap manusia punya keberuntungan masing2 ya, hanya aja terkadang suka gak bersyukur, jadi kayaknya ada aja yang kurang.

      1. Iya teh, betul sekali…kadang atau malah seringnya kita aja yang gak bisa ngeliat keberuntungan yang udah Tuhan beri…

    2. Iya teh, beruntuuunngg banget kondisi kerjaan masih mendukung, moga sampe kapanpun bisa seperti ini πŸ˜€

      Aku sebenarnya bukan pandai banget membagi waktu teh, tapi ya itu dia karena kondisi memungkinkan, jadi aku pun bahagia ngejalaninnya πŸ™‚

  12. Suka bacanya. sama2 sedang berada di comfort zone yang harus2 benar2 sangat2 disyukuri…hehehe sampe dobel2 saking setujunya.
    Mau ibu kerja ataupun dirumah, tetap aja kita ibunya kan, hidup itu pilihan, dan setiap orang pasti selalu punya alasan yang baik atas pilhannya πŸ™‚

    1. Hehehe…toss dobel kalo gitu kita ya jeng…

      Apapun kita, kita tetep ibu, kita tetep yang terbaik untuk anak-anak kita. Hidup ibu!

  13. tulisan yang sangat bagus, bahwa sebagai ibu bekerja pun masih bisa dengan sangat baik mengurus keluarga…hidup penuh syukur, tanpa mengeluh,bekerja sepenuh hati…i heart your way Allisa: *peluk*,

    1. *peluk balik* semua pasti baik-baik saja asal selalu ingat untuk bersukacita dan bersyukur…thanks yaaa….

  14. Kegelisahan yang sama Jeng Allisa…semua udah tercurahkan dalam postingan ini… πŸ™‚

    Apapun pilihanya tetap selalu berusaha menjadi ibu yang baik buat anak2 kita dan selalu bersyukur dengan apa2 yg telah diberikan olehNya.

    Postingan yg sangat inspiratif Jeng.. πŸ™‚

    1. Senangnya kalo ternyata curahan hati ini bisa jadi inspirasi buat yang lain. Memang pada dasarnya namanya ibu, perasaan yang kita rasain juga mirip2 yah…namanya juga seorang ibu, yang paling top dari kita kan adalah insting keibuan kita, ya kan? πŸ™‚

  15. BW ke beberapa tempat…
    rata rata tema nya tentang inih lho…

    Buat aku, ibu bekerja ataupun gak bekerja…
    yang penting mah sayang sama anaknya…titik…

    Malah jujur, aku kagum lho sama ibu bekerja…
    KArena sanggup mengatur waktu…
    Aku mah belum apah apah udah jiper duluan…hihihi…

    1. Kekekekek…keknya lagi pada mikirin persoalan yang sama mbak… πŸ˜€

      Hooh mbak, bener banget, yang penting sayang sama anak!

  16. Raja emang beruntung. Mama bekerja tidak berarti menyerahkan semua kepada nany..Salut Jeng. Semoga Tuhan terus memberimu kesehatan agar karier dan ngurus anak berjalan seriing. Gimanapun masa kecil Raja itu cuma sebentar. Sayang kalau dilewatkan begitu saja πŸ™‚ YBU ya πŸ™‚

    1. Iya mbak, bener banget, makasih udah ngingetin ya mbak….aku juga pengen kayak mbak Evi yang keknya mesraaa terus sama dua jagoannya, hehehe…pengen jadi ibu2 asyik kayak mbak Evi juga nih aku, bener lho mbak… Aku suka terharuuu kalo baca tulisan mbak Evi tentang anak2, trus baca komentar anak2 di tulisan mbak Evi πŸ˜€

      Makasih banget ya mbak, God bless u too!

  17. waaaa bner-bner isi hati saya mbak πŸ™‚
    cuma beda nya saya belum punya anak ..
    saya pun begitu mbak pagi jam 8 udah siap2 kerja,pulang jam 4 sore langsung ke dapur nyiapin ini,itu..
    yaaaa sebenarnya ini kegiatan yang sangat melelahkan sekali buat saya mbak tapi di nikmati juga karna sudah punya kewajiban jadi seorang istri dan ga mau lah yaa di cap sebagai istri yang cinta kerjaan nya di bandingin keluarga ttep aja keluarga no 1 ga bisa di ganggu gugat πŸ™‚

    baca postingan ini saya senyum2 sendiri mbak karena ada bberapa yang sama dengan saya .. πŸ˜€

    1. Hehehe….iya Dea, apapun peran yang kita jalani, yang penting kita tau bagaimana menikmati dan mensyukurinya… moga semua berjalan baik juga untuk ya Dea πŸ™‚

      1. ok sip mbak .. !! πŸ™‚
        hidup ini kan untuk di nikmati dan di jalani.. bukan untuk di cari ( bner gtu ga yaa )#*

  18. you’re so lucky lis…
    karena ngga semua ibu bekerja mendapatkan kemudahan seperti yang dirimu dapatkan.. kaya kantor yg asik bisa mengerti kebutuhan kmu dan jalanan yang ngga macet dsb..

    tapi sebaiknya semua yang kita dapatkan itu harus disyukuri, biar kita terus mendapatkan nikmatnya πŸ™‚

    artikel nya baguuuusss banget dan kebahagiaannya menebar kemana-mana lewat senyuman kalian berdua yang sumingrah banget πŸ˜€

    1. Iya Nik, aku banyak beruntung, dan aku yakin kamu juga pasti punya keberuntunganmu sendiri πŸ˜‰

      Hehehe….makasih ya jeng Nike πŸ˜€

  19. kemarin aku baca di satu blog juga menulis hal serupa, yg nulis tapi seorang bapak, yg mana cerita walau istrinya kerja tapi bisa memberi ASI tiap hari sama bayi mereka, krn letak penitipan bayinya nggak jauh dr kantor sang istri bekerja

    semua memang tergantung orangnya masing masing ya Lis, semua khan bisa diatur, walau bekerja masih bisa memperhatikan si buah hati πŸ™‚

    1. Iya mbak, rasanya bersyukur banget meskipun bekerja tapi masih bisa ngasih ASI dan terlebih perhatian untuk anak πŸ™‚

  20. Cara pandang positif yang Jeng Lis miliki menghasilkan keajaiban respon positif dari sekitar kita. Menikmati dan mensyukuri setiap anugerahNya selalu terpancar dari postingan keseharian Lis. Bersyukur bisa ‘mengenal’ Lis via blogging. Selamat berkarya bersamaNya.

    1. Hehe…dengan nulis gini, saya juga ngingetin diri sendiri bu… Makasih ya bu Prih, aku juga seneenngg bisa kenal bu Prih πŸ™‚

  21. bingung mau komen apa……..tapi, beberapa kali BW, dan tetep pengen nangis haru baca posting beginian πŸ™‚
    Raja punya mama yang hebat!!! seneng bisa kenal kamu LIs *yang kalau saja ketemu didunia nyata duluan aku takut buat nyapa* kamu wanita cantik, baik hati dan selalu bersyukur…..aku sukaaaa sekali…..*apa kirim surat yah, macam anak SD yang lagi naksir* huahahahaha
    kalau aku, kerjaanku gak hebat, cuma memang kenapa aku bertahan, simpel, karena aku butuh duitnya πŸ™‚ , kalau dilihat emang kerjaannya emang gak hebat, gajinya emang gak besar, tapi aku suka dengan pekerjaan ini, meski harus pergi jauhhhh dari rumah. Tapi boss yang baik, yang tak akan menghalangiku untuk ijin pulang kalau anak sakit atau kalau ada keperluan mendesak lainnya, suasana kerja yang nyaman dan aku suka….kenapa aku masih menggerutu juga. Tuhan sudah berikan aku banyak…… disini aku gak perlu lembur, dan punya libur Sabtu Minggu *dimana gak banyak kerjaan di Sby kasi kaya gini* jadi punya banyak waktu buat anak. apalagi yang aku mau? πŸ™‚

    1. Aku juga seneeenngg bisa kenal kamu Luk dan kenal semua temen-temen ngeblog kita πŸ™‚

      Iya memang yaaa..kalo diitung-itung dan dipikir-pikir yang udah Tuhan kasih ke kita tuh buanyak buanget sebenarnya, kita aja yang suka lupa yaaa πŸ˜€

  22. Iya…apapun pekerjaan kita, kita tetaplah seorang ibu. Jadi gak perlu main senggol apalagi main bacok hehehe. Bersyukur…bersyukur…dengan apa yang telah kita pilih dan kita dapat. Dan mam Alissa sangat2 beruntung, hidup di kota yang tidak mengenal macet (bikin ngiri yang di jakarta dan sekitarnya :D), bisa antar jemput anak sekolah, bisa meluangkan banyak waktu di rumah walau bekerja, jam kantornya yang juga bikin ngiri apalagi pas puasa begini (soalnya di kantor saya gak ada perubahan hehe), punya bos yang sangat baik dan memahami banget peran ibu. Ah…dirimu bener2 seorang ibu bekerja yang sangattttt beruntung. Dan Insya Allah semua ibu juga bisa merasakan keberuntungan dengan kondisi dan cara yang berbeda πŸ™‚

    1. Iya bundit, salah satu keberuntunganku karena tinggal di kota yang kayak gini…jadi masih memungkinkan banget lah untuk ngejalanin rutinintas kayak gini πŸ˜€

  23. Ah mba lis ini selalu bikin gw malu, kalo masih sensian kalo mulai ada yang bandingin sama stay at home mom. Dan setuju, i’m in my ~not so~ comfort but i’m thankful zone, abis gimana yaa udah pewe nih.
    Dan setuju, menurut gw lo beruntung karena pandai sekali bersyukur loh, jadinya Tuhan semakin sayang πŸ™‚

    1. Hehe…kalo gak sering bersyukur alamat susah terus hidup ini, Ty πŸ˜€

      anyway, Tuhan saya sama kita semua sebenarnya, cuma ya itu dia kadang kita suka lupa betapa besarnya sayangnya Tuhan ke kita πŸ˜€

  24. selalu takjub liat perkembangan kepinteran Raja. Rajaaa..kamu dikasi makan apa siy ama Mamma, pinter banget sih belom 4 taun udah bisa penjumlahan angka2 besar, tulisannya juga bagus dan rapi

    1. Itu kan belajar penjumlahannya masih pake alat bantu sempoa2 gitu mbak Ver…kalo ngitung sendiri di benak sih lom bisa πŸ˜€

  25. di pikiranku sekarang, aku pengen contoh mba alisa yang bisa handle raja menjadi anak yang menurut aku luar biasa di usianya, masak, dandan cantik ke kantor, what a perfect mom! enggak salah pak poltak slalu jatuh cinta padamu *sembah suhu*

  26. Ini pergumulanku saat-saat ini mbak…udah gak cocok dengan pekerjaan disini dan terpikir usaha sendiri biar bisa selalu bareng amanda. Tapi apapun keputusan dan jalan yang kita pilih, semoga kita menjadi mama yang terbaik buat anak-anak kita….amin…

    1. Moga kamu segera dapat jalan yang terbaik ya Mar….kalopun mo bikin usaha, kiranya Tuhan berkati supaya lancar yaaa πŸ™‚

    1. Sama ya mbak Lid? Biar gampang juga kan ngitungnya πŸ™‚

      Di manapun kita, apapun kita, yang penting kita bahagia ya mbak…

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s