All About READING!

Sebelum berbagi tentang gimana Raja belajar membaca, saya pengen menegaskan terlebih dahulu bahwa pada dasarnya saya setuju bahwa anak seharusnya (catet yah… SEHARUSNYA bukan hanya SEBAIKNYA) diajarkan membaca, menulis, dan berhitung saat ia sudah siap.

Kapan siapnya?

Ya masing-masing anak punya tingkat dan masa kesiapan yang berbeda-beda. Saya gak setuju kalo semua harus dipukul rata pada usia sekian dan sekian, meskipun dengan teori tahapan perkembangan otak. Kenapa? Karena saya yakin dan percaya, Tuhan menjadikan setiap manusia itu unik, punya keistimewaannya sendiri-sendiri. Dan karena otak adalah bagian dari manusia itu sendiri, maka tentu Β otak juga mengalami tahapan perkembangan yang unik yang mana perkembangannya itu akan bisa terlihat dari perilaku anak sehari-hari.

Jika anak kita kenalkan dengan huruf dan angka, kemudian ia masih lebih pengen lari-larian dan gak mau fokus, maka bisa dikatakan bahwa otak anak tersebut masih belum siap untuk menerima hal-hal abstrak seperti ituΒ (calistung adalah termasuk dalam pengetahuan abstrak). Ketimbang kita terus-terusan berusaha menjejali dia dengan huruf dan angka, mending ikuti apa yang menjadi minatnya itu… Si anak bahagia, kita pun gak stress.

Lain hal jika si anak yang kemudian tiba-tiba dengan keseriusan memperhatikan huruf dan angka trus kemudian nanya, “Ini apa?”. Dalam situasi kayak gitu, menurut saya gak mungkin lah ya, sebagai orang tua yang karena mempertimbangkan tentang tahapan perkembangan otak anak kemudian gak mau menjawab pertanyaan anak dan malah mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lain yang menurut kita lebih cocok untuk anak seusia dia, padahal jelas-jelas si anak tertarik banget pengen tau. Hal yang bijak ya adalah membiarkan dia mengetahui apa yang pengen dia tau. Dan ketika kemudian si anak semakin menunjukkan ketertarikannya dan malah dengan cepat bisa menangkap informasi yang ia terima, maka bisa dibilang kalo sebenarnya otak sang anak sudah cukup mampu dan mau untuk diisi dengan pengetahuan abstrak seperti itu.

Benar sekali, semua memang tergantung pada kesiapan anak!

Daann…tergantung dari bagaimana kita juga menyikapi!

Di luar sana ada buanyak sekali teori tentang perkembangan otak anak di mana satu dan lainnya begitu kontradiktif.

Ada yang mengajarkan bahwa pada tujuh tahun pertama anak harus menjadi raja di rumah yang dilayani segala sesuatunya dan memerintah semaunya tanpa pernah salah (maaf, saya tak akan pernah setuju dengan ini πŸ™‚ ). Tapi ada juga yang mengajarkan bahwa anak-anak sebaiknya diajarkan untuk mandiri sejak dini (kalo untuk yang ini yah bolehlah πŸ˜‰ ).

Ada yang bilang membaca itu sebaiknya diajarkan di atas usia 7 tahun, ada pula yang bilang di atas 5 tahun sudah boleh. Bahkan ada teori juga yang bilang kan, kalo bayi pun sudah bisa diajarkan membaca (apa lagi kalo bukan menurut teori Glenn Doman).

Ada yang bilang begini, ada yang bilang begitu.

Buanyak sekali teori demi teori yang beredar. Dan buat kami, kalo kita sebagai orang tua tidak menetapkan satu prinsip dalam mendidik dan membesarkan anak, maka kita bisa saja kebingungan serta labil. Hari ini pengennya mendidik anak sesuai arahan psikolog A. Besok tiba-tiba psikolog B ngomong yang agak bertentangan, kita jadi bingung dan kemudian malah pelan-pelan berubah arah.

Satu hal yang saya pegang, bahwa orang yang paling tau apa yang anak saya butuhkan bukan psikolog manapun seterkenal apapun, namun kami sebagai orang tua terutama saya.

Saya sebagai mama yang mengandung dan melahirkannya, yang menyusui dia selama hampir tiga tahun, yang merancang menu makanan padatnya, yang tiap hari ngobrol dengannya, yang meninabobokan dia tiap malam, yang dia lihat pertama kali di pagi hari, yang tiap pagi melepasnya di depan beranda sekolah, yang dia cari ketika dia sedih, yang paling dia harapkan ketika dia sakit.

Segala macam teori dan pola pengasuhan anak yang saya baca, semua hanya saya jadikan sebagai bahan referensi dan pengingat saja. Selebihnya, mari biarkan kami dan anak kami yang memilih serta menentukan what’s best for us!

Menjadi anak yang takut akan Tuhan, menyenangkan hati Tuhan, dan selalu penuh hikmat… Itulah visi kami untuk anak-anak kami πŸ™‚

Daripada mendorong anak untuk menjadi super kid *helooo…i’m not also a super mom, how can i expect my son to be a super kid???*, kami lebih memilih untuk berupaya menjadikan anak kami a good and smart kid.

Caranya gimana? Kalo buat kami dengan melimpahinya selalu dengan kasih sayang, mengajarinya untuk berdisiplin dan mandiri serta mengerti aturan, menstimulasi perkembangannya sesuai dengan kesiapannya, menjadi contoh yang baik buatnya…dan terutamaΒ memberikannya sejuta alasan untuk senantiasa merasa bahagia…

Nah, jadi panjang kan?

Yah, itulah, pokoknya intinya saya cuma mo bilang, ada banyak sekali teori yang beredar, ada banyak sekali penelitian yang dilakukan mengenai perkembangan otak manusia, namun balik-balik lagi semua tergantung pilihan kita dan semoga saja kita selalu memilih yang terbaik untuk anak-anak kita *dan apapun yang saya tulis di sini, jangan juga dijadikan referensi yaaa…karena yang tertuang di sini adalah pilihan-pilihan kami sendiri yang belum tentu applicable untuk kondisi keluarga dan anak lain πŸ˜€ *.

Demikian juga soal membaca ini.

Seperti yang saya bilang sebelumnya di atas, anak belajar membaca itu seharusnya dimulai pada saat dia siap untuk menerima pengetahuan Β yang bersifat abstrak. Namun sayangnya, di Indonesia ini, secara langsung maupun tak langsung, Sekolah Dasar hanya mau menerima siswa yang sudah bisa calistung.

Kenapa saya bilang langsung tak langsung? Karena ada pula SD yang meskipun tak mensyaratkan anak sudah bisa calistung, namun pada kenyataannya kurikulumnya sama dengan SD lain yang mensyaratkan calistung dan ujiannya pun tertulis, dalam kondisi kayak gitu anak yang belum bisa calistung tentu akan merasa sangat tertinggal dan tentu saja kondisinya akan menjadi tak menyenangkan untuk anak.

Ini yang bikin orang tua jadi dilematis bukan?

Akhirnya banyak orang tua yang kemudian terpaksa meleskan calistung untuk anaknya yang masih TK demi nanti bisa mengejar masuk SD favorit dan supaya gak ketinggalan di SD-nya nanti.

Ada pula orang tua yang tadinya santai-santai aja. Tetap berpegang pada prinsip bahwa anak harusnya belajar calistung di atas usia 6 atau 7 tahun. Tapi akhirnya kelabakan setelah nyari-nyari SD gak ada satupun yang mau menerima anaknya, terpaksa kemudian sesegera mungkin meleskan anaknya calistung dan menggenjotnya habis-habisan. Ujung-ujungnya sama aja, tetep aja anak jadi stress dan sekolah menjadi tak menyenangkan untuk dia.

Sayang sekali memang, namun demikianlah pendidikan di negara kita ini. Sekolah bagus hanya mau menerima murid yang pintar secara akademis, bukannya berusaha menjadikan sekolah sebagai tempat di mana generasi muda bisa terdidik menjadi pribadi yang baik dan cerdas. Dan para penggagas-penggagas pendidikan di negara ini pun, umumnya merujuk pada hasil penelitian di negara-negara lain, bukannya membuat penelitian sendiri. Kita contoh Inggris yaaaa…Finlandia kan terkenal hebat tuh karena sistem pendidikannya yang dimulai pada usia 7 tahun. Sementara di Inggris dimulai sejak usia 4 tahun. Oleh karena munculnya pandangan bahwa lebih baik jika pendidikan dimulai pada usia 7 tahun, akhirnya mereka pun membuat penelitian, membandingkan antara anak yang mulai belajar membaca di usia 4-6 tahun dengan yang belajar pada usia 7 tahun. Hasilnya?? Coba klik di sini, bacanya jangan hanya judulnya saja yaaa…tapi bacalah sampai akhir biar dapat kesimpulannya πŸ˜‰

Karena itu sebagai orang tua, kami merasa memang penting banget untuk dengan bijak menentukan langkah.

Mengenai calistung ini, seandainya pun anak kami tak seperti Raja yang sejak kecil udah nunjukkin ketertarikannya untuk belajar, maka kami akan memilih untuk mulai memperkenalkan calistung paling gak mulai di usia TK, daripada anaknya digenjot buru-buru dan merasa gak nyaman di tingkat SD-nya, mending dari jauh-jauh hari dipersiapkan, dengan cara yang menyenangkan tentu supaya anak gak merasa tertekan.

Khususnya untuk soal membaca, sebenarnya menurut saya, anak justru akan sangat senang jika ia sudah bisa membaca. Lihat saja Raja, dia begitu senang ketika menemukan kata-kata yang biasa ia sebutkan sehari-hari atau yang biasa ia dengar saat kami membacakan cerita untuknya. Dia bisa berulang-ulang kali bilang, “Hihi…ini tulisannya KATANYA!! Raja baca KATANYA, mamma!”. Kata itu demikian sederhananya, tapi ketika Raja bisa membacanya, ia seperti baru saja menemukan setumpuk emas! *coba kalo nemunya emas beneran yak!! hihihi*

Membaca itu adalah kebutuhan.

Dan membaca itu juga adalah salah satu keistimewaan manusia dibanding mahkluk ciptaan Tuhan lainnya. Mahkluk mana lagi coba selain manusia yang bisa membaca?

Kemampuan membaca adalah keistimewaan kita dan karenanya membaca menjadi kebutuhan yang sangat penting.

Sebenarnya kalo menurut saya, hampir semua orang tua setuju dengan pengajaran membaca sejak dini.

Kenapa?

Karena hampir semua orang tua membacakan buku untuk anaknya, bahkan ketika anaknya masih bayi kaannnn? Dan saya yakin, kita semua setuju untuk memperkenalkan buku ke anak sejak dini kaaannn?

Walopun tak langsung, tapi membacakan buku atau mendongengkan cerita juga adalah salah satu cara mengajari anak membaca lhoooo… Apalagi kalo bukunya kita hadapin ke arah kita dan anak, maka anak akan bisa melihat di buku itu selain ada gambar yang bagus-bagus, juga ada deretan huruf-huruf. Jadi secara tak langsung, kita juga udah mulai memperkenalkan mengenai huruf dan membaca ke anak, iya kan?

Nah trus ada juga yang mengajarkan dengan metode Glenn Doman.

Untuk metode yang satu ini…errrr…gimana yah, gak enak sebenarnya kalo saya bilang tak setuju. Tapi emang iya sih, saya gak setuju. Bukan karena teori-teori bantahan terhadap metode itu, tapi karena memang sejak awal dulu, sejak belom punya anak, saya tau tentang metode itu, saya sendiri udah ngerasa gak sreg karena dua alasan ini.

  1. Metode ini mengajarkan anak untuk menghapal kata dan bukannya bagaimana membaca kata. Bukankah adalah lebih baik mengajarkan anak bagaimana jalan menemukan ‘sesuatu’ daripada hanya memberinya ‘sesuatu’ itu? :). Dan lagian dengan metode ini, kemampuan anak untuk membaca akan terbatas pada kata-kata yang sudah diperkenalkan padanya. Sementara kan gak mungkin dong kita memperkenalkan semua kata pada anak? Bukankah pada akhirnya anak akan butuh untuk bisa tau bagaimana cara membaca agar bisa membaca kata yang belum pernah diajarkan padanya?
  2. Mungkin…..ini Β mungkin yah, kalo untuk anak yang belajar bahasa Inggris, boleh lah metode ini sedikit membantu, mengingat dalam bahasa Inggris antara nama huruf dan phonetic sound-nya tuh berbeda, malah kadang lumayan jauh bedanya. Contoh huruf Y, namanya dalam bahasa Inggris kan Way yah, tapi dalam huruf, suaranya menjadi Yeh gitu. Bahkan ada yang punya beberapa suara. Contohnya huruf C, namanya SI, tapi suaranya bisa Seh (contohnya Circus) atau bisa juga Keh (contohnya dalam Cat). Dan mengeja dalam bahasa Inggris tuh susaaahh!! Nah, kalo bahasa Indonesia kan mayan gampang tuh, nama huruf ya hampir sama lah dengan suara hurufnya makanya untuk menggabungkan huruf masih lebih mudah, karena itu sebenarnya metode ini gak terlalu diperlukan untuk ejaan dalam bahasa Indonesia.

Di rumah, Raja juga punya mainan kartu-kartu gitu (tapi bukan kartu-kartu seperti yang diajarkan dalam metode GD itu), tapi sejak dulu jarang banget dipake. Sekarang pun setelah Raja udah bisa membaca, dia lebih suka membaca buku daripada kartu-kartu gitu πŸ˜€

Kalo berbicara mengenai tahapan belajar membaca Raja, sebenarnya sih sama aja ya prosesnya dengan proses membaca secara alami.

Diawali dengan mengenal huruf terlebih dahulu.

Terserah mau bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Tapi kalo kita pengen ngajarin membaca dalam bahasa Indonesia, ya tentu ajalah mending dikenalin yang bahasa Indonesia aja. Raja dulu awalnya tau yang bahasa Inggris. Eh, begitu dikenalin sama yang bahasa Indonesia, dia terima-terima aja…dan gak bingung!

Proses perkenalannya, menurut saya berlangsung menyenangkan, karena sambil main-main dan terutama Raja paling cepet nangkap tontonan dalam Brainy Baby. Kalo saya bilang sih media edukatif gini berguna banget untuk Raja, dan dengan Raja nonton itu bukannya kemudian perkembangan motorik kasarnya jadi terganggu. Dia tetep bisa bersosialisasi dengan baik, tetep bisa panjat-panjatan, ayun-ayunan, dan sebagainya. Dan sejauh ini gak terlihat sih ya kalo perkembangan reptile brain-nya terganggu akibat cerebral cortex-nya sudah bekerja di usia itu πŸ™‚

Walopun dalam bahasa Indonesia nama huruf dan bunyi huruf dalam kata cenderung sama, tapi saya tetap mengajarkan jenis-jenis bunyi huruf ke Raja. Saya pernah cerita soal ini di tulisan yang ini. Dengan tau bunyi hurufnya terlebih dahulu, menurut saya akan lebih mudah untuk Raja menggabungkan huruf.

Setelah kenal huruf dan suaranya, baru deh belajar menggabungkan beberapa huruf menjadi satu suku kata.

Awalnya saya ngajarin Raja belajar menggabungkan huruf, karena ia kalo melihat satu kata itu suka nanya, “Itu bacanya apa?”. Dari situ saya bisa nangkap kalo sepertinya Raja sudah mulai siap untuk pelan-pelan belajar menggabungkan huruf. Ini prosesnya lumayan lama, dimulai dari usianya 31 bulan, dan sempat sebelum benar-benar ngajarin menggabungkan huruf saya ajarin suara huruf dalam kata seperti yang saya cerita di sini.

Selama proses ini, saya gak pernah nyiapin waktu khusus untuk belajar. Kapan Raja pengen ya sudah ayo kita belajar. Kalo gak ya sudah, mari kita maen kereta Thomas aja πŸ˜€

Setelah bisa menggabungkan huruf, baru deh belajar menggabungkan suku kata menjadi satu kata!

Untuk yang satu ini, salah satu contoh caranya pernah saya tulis di sini πŸ™‚

Tahapannya itu doang sih…hihihi… Gak pake metode yang ajaib kaaann πŸ˜€

Nah, saya akui ya, untuk mengajari anak menggabungkan dua huruf itu memang gak begitu sulit. Tapiii begitu masuk ke tahap-tahap ini:

  • Menggabungkan tiga huruf
  • Membaca suku kata yang mengandung NY dan NG
  • Memisahkan suku kata

Di situ saya mengalami sedikit kesulitan. Soalnya kan saya gak punya latar belakang pendidikan keguruan atau apapun itu yang bisa membantu anak cepat mengerti. Akhirnya saya pun mencari-cari buku yang bisa membantu saya.

Buku apa yang akhirnya membantu saya?

Besok aja saya lanjutin yaaaa… Ini sudah sore, saya mo pulang!! Hihihihi…maap yaa nulisnya jadi nanggung gini πŸ˜€

Ditunggu besok lanjutannya yaaaa πŸ˜€

Iklan

46 thoughts on “All About READING!

  1. Akhirnya yang kutunggu terbit juga.

    Dan iya, semakin kita baca banyak teori semakin bingung kita, betul? Untungnya waktu itu dirimu memberi masukan ke aku bahwa itu semua tergantung kesiapan anak, persis dengan yang kau tuliskan diatas.

    Benul eh betul jeng, mengenai flash card GD itu, aku juga ditawari sejak Hanif umur 10 bulan. Tapi waktu itu aku pikir kok ngajarinnya dihapal ya? bagaimana jika penggabungan hurufnya beda2? Papap yang waktu itu pengen beli akhirnya ikutan setuju sama aku. Yo wis batal.

    Tapiii sekitar 2 bulan yang lalu aku tergoda juga dengan flash card, beli juga akhirnya heheheh… tapi ternyata Hanif ga gitu suka. cuma beberapa hari dimainin. Udah hapal ditinggain tuh Flash cardnya. Hanif lebih senang dengan maen huruf yang bisa ditempel pake magnet itu. Dia bikin kata2 pake huruf itu. Di jalan-pun kalo ada huruf dia eja. Tapi baru ngeja huruf belum suku kata. Kayaknya ini yang mau aku mulai.

    Pantengin blognya mama raja tiap sore…heheheh πŸ™‚

    1. Hooh…aneka bacaan mmg bisa membantu, tapi bisa juga bikin bingung, jadi ya mending jangan terpaku pada bacaan2 itu, lakukanlah dengan naluri keibuan sambil tentu minta hikmat dan tanda jg dari Tuhan biar gak salah langkah πŸ™‚

      Hanif pinterrr!! Moga bentar lagi dah bisa baca buku sendiri yaaa πŸ˜€

      Yuk, mari terus pantengin πŸ˜€

  2. Hadir ! menyimak dengan seksama…
    wow..amazing…salut ma dirimu jeng, dirimu bener bener total,dalam semua aspek…padahal dirimu bukan berasal dari dunia kependidikan..wow salut….berguna banget ini sharingnya..soal membaca dan kemudia kita hadapkan dan juga kita pelan pelan sambil memperlihatkan hurufnya aku juga terapkan ke kinan..saat ada huruf huruf itu dia akhirnya lama kelamaan sedikit sedikit jadi hapal..ooo ini huruf A, ini huruf O…sekarang yang masih sangat dihapalnya adalah O dan sering kinan sebut sebagai hurur nol hehehe…* aku juga bawa santai saat mengajarinya…dengan bermain…biar dia juga enjoy dan akunya nggak stress…btw dari pengamatanku beberapa kawan dan sodara..anak cowok cenderung cepat dan lebih duluan saat diajarkan membaca pengalaman dua anak kakaku iparku…yang cowok kayaknya sama kayak bang raja diusianya yang 3 tahun lebih sekian dah bisa membaca, saat adiknya cewek usia yang sama belom bisa selancar kakaknya..*itu cerita kakak iparku.. ini hanya pengamatan lho jeng..nggak ada penelitian…pas kebetulan yang tak amati kok pas anak anak yang cowok…CMIIW yah jeng…
    setuju banget dengan semua yang ditulis sebagai preambule…suka banget!..anak anak…mereka unik..dan tidak bisa kita samakan satu sama lain….memberikan segala sesuatu berdasarkan kesiapan dan bukan pemaksaan…Like this ….banget..
    ditunggu posting berikutnya….

    1. Aih jeng, jadi malu aku… Punya anak mmg bikin kita mau gak mau mesti belajar banyak kaaannn… Dan susahnya, walo mesti belajar banyak, nyerap teori ini-itu, kita juga gak boleh jadi labil πŸ˜€

      Kalo soal anak cowok dan cewek, aku kurang tau juga ya mam, apa ada pengaruhnya.. Tapi mungkin bisa jadi juga jika otak laki2 mmg lebih cepat tertarik pada hal abstrak πŸ™‚

      Thanks ya mama Kinan πŸ™‚

  3. *helooo…i’m not also a super mom, how can i expect my son to be a super kid???*,

    ahihihihik…. mama raja, gw syuka gaya lo πŸ˜›
    btw, aku sampek skrg blm pny bayangan ttg gimana caranya ngajarin anak membaca. tp itu dipikirin ntar aja dulu kali yah, lah bebi-nya aja blom ada πŸ˜›

    1. Hahahaha…ya kan mmg aku aja sebagai ibu dan sebagai person masih banyak kekurangannya Tyk. Aku gak bisa ini dan itu, bisanya ina dan ita doang, jadi masak aku harus paksain anakku harus super dalam segala2nya?

      Iyaaa…jangan dulu dipikirin skrg, skrg mah yg pntg gimana pacaran sama abi duluk..hihihi

  4. Dataang dan menyimak tulisan nan panjang ini..
    Betaah rasanya kalo ngomongin masalah anak, seruuu..ga kan ada abisnya..

    Terkadang semua Teori tidak sesuai dengan kenyataannya Lis..
    Jangan mendengar kata ini beini..begitu..

    Kalo aku pribadi sih begitu..
    Percaya pada diri sendiri untuk menurus anak dalam hal pendidikan,
    Karena hanya kita ortunya yang mengerti bagaimana karakter si anak.
    Dan setiap anak itu unik, punya kelebihannya masing2, karakternya..
    Mengalir begitu saja dengan naluri ke ibuan yang ada….dalam mengurus anak..tentunya dengan sedikit ilmu dari baca2..

    Setuuju banget..
    menjadikan anak kami a good and smart kid.

    1. Iya teh, bener banget… banyak penelitian apalagi ttg perkembangan anak yang gak applicable ke kita, krn mmg kondisinya ya beda. Jadi ya mmg ilmu itu dipake utk referensi aja ya teh πŸ˜€

      Aih…Olive mah emang udah jadi a good and smart kid! Cantik lagi! πŸ˜‰

  5. kesiapan anak hanya orangtuanya sendiri yang tahu ya, jadi jangan samakan tiap anak. mamanya Raja hebat loh ibu pekerja tapi masih bisa mengajarkan Raja sendiri , yang lainnya mungkin loooh pada memasukkan anaknya ke tempat les πŸ™‚ oops bukan bermaksud menyindir orang ya maafkan kalau ada yang baca komenku πŸ™‚

    1. Iya mbak, shrsnya kita yang paling tau gimananya ttg anak yah πŸ™‚

      Karena aku kerja gak perlu banyak lembur mbak, dan atasan jg memaklumi kalo aku gak bisa sering dinas, jadi masih sama anak masih lumayanlah kuantitas dan kualitasnya πŸ™‚

    1. Krn Raja skrg udah dalam masa2 sekolah, Nov, makanya jadi banyak tau. Tenang aja Nov, tar juga kan seiring Katy berkembang, akan ada lebih banyak lg pengetahuan yg kmu dpt n alami πŸ˜‰

    1. Astaga…kok komentar mbak Ely terlewat gak dibalas ya?

      Setiap ibu keknya adalah guru ya mbak, karena minimal ngajarin anak πŸ˜€

  6. Waktu anak2 kecil saya membeli banyak buku teori seputaran orang tua efektif..Ada yang benar dan ada yg menimbulkan protes dalam hati. Eh lama-lama buku2 tersebut cuma memenuhi rak sebab lebih enak mendidik anak dengan hati ketimbang teori..Kalau ngikutin teori, yang ada juga aku merasa bersalah Jeng..Kok gak begitu atau begini…

    1. Iya ya mbak, malah kalo kita tll terpaku pada teori, jadinya kita sering ngerasa bersalah dan stress sendiri, akibatnya gak enjoy, dan ujung2nya anak juga yang kena… Thanks buat share pengalamannya ya mbak, kalo mbak Evi skrg dgn anak2 yang udah beranjak dewasa tentu permasalahannya udah beda lagi ya mbak…

  7. iya yang penting emang anak itu jangan dipaksa… tapi tetep harus diexplore, karena tiap anak itu minat dan bakatnya berbeda2.
    kalo emang udah keliatan minatnya dimana ya tentu gak ada salahnya diexplore sedini mungkin… πŸ™‚

    1. Setuju Man, jangan dipaksa, tapi tetep harus distimulasi dan setelah ketahuan minatnya ya diexplore biar optimal nantinya, demi masa depan anak juga πŸ™‚

  8. Pgn bgt jg nulis serius ttg ini di blog utk ngebandingin metode belajar skul di aus n indo tp apa daya ide nulis n energi keburu nguap pas mo buka blog. Setuju mba….potensi anak itu beda2.dan aq melek ini pas udh punya anak dua.beda bgt.kdg kita bs nerapin teori A di anak satu,tp ga bisa di anak lain krn mrk interest beda yg mengakibatkan beda jg dlm kcepatan hal absorbingnya.metode belajar ini yg emg hrs lebih dimengerti ortu tibang menyerahkan mentah2 ke skul πŸ™‚

    1. Ini juga ketinggalan gak dibalas..huhuhu….

      Gimana kabarnya Ndah? Blog kamu sekarang gak bisa diakses 😦

  9. Setuju … !!! banyak teori yang bilang A,B,C bahkan sampe Z, tetep aja yang tau anak kita ya kita sebagai ortunya yah…
    Sama Lis, Fira juga kalo masalah huruf, dia yang tanya… “Ini apa???” … baru deh dikasih tau, kalo nggak nanya ya nggak dikasih tau deh,,, paling juga cuman ngulangin aja sambil lalu tentang huruf yang pernah ditanyainnya, sekalian ngetest dia masih inget apa nggak….

    Ditunggu kelanjutan ceritanya yah….

  10. selalu baca postingan disini, tapi belum sempet komen .. πŸ˜€

    Tentang Raja, kayaknya memang udah cerdas dari sononya, secara emak bapaknya juga cerdas.
    Udah gitu, mama Raja juga rajin memfasilitasi keinginan Raja. Jadi kemampuan & kemauan Raja berjalan seiring.

    Setuju tuh kalau masing2 anak memang unik & memang seharusnya orang tua yang tau keunikan mereka.

    Kakak saya dulu masuk SD umur 5 tahun, gak ada masalah sampai sekarang. Sementara adik saya, masuk SD-nya umur 7 tahun. Meski satu orang tua, tetep aja ada bedanya.

    Fauzan dulu bisa baca mulai umur 5 tahun. Awalnya sering di dongengin, trus dia saya suruh membaca gambar (bukan membaca huruf). Lama-lama dia suka tanya, ini huruf apa, ini dibacanya apa. Ya di kasih tau, wong anak yg duluan tanya.
    Setelah itu saya kasih kartu (nge-print sendiri, ngga beli, Sayang uangnya, hehehe). Ngga nyampe seminggu, udah lancar. Itupun ngga belajar khusus, sambil maen aja. Fauzan kan ngga bisa duduk manis lebih dari 5 menit .. :))

    Dan salah satu yang membuat dia pengen banget bisa baca adalah sepupunya yg seumuran udah bisa baca duluan. Dia cuma ngeliatin aja kalo sepupunya dateng & baca buku sendiri.

    Halah, komen borongan nih .. πŸ˜€

    1. Setelah Fauzan siap sendiri, jadinya malah lebih cepat belajarnya ya teh. Anak2 mmg begitu ya teh, kalo dipaksain malah jadinya tambah susah. Thanks buat sharing-nya ya teh Dey πŸ™‚

      Salam buat si Aa ganteng! πŸ˜€

  11. betul salah satu dilema seorang ibu dlm mengajarkan calistung pd anak ya itu
    kurikulum yg sebenarnya untuk anak SD adalah mengajarkan calistung
    tapi justru pd kenyataannya SD skrg ingin terima jadi yg udh bisa calistung
    so…gimana donk…?
    itu juga pernah aq alami dulu,tp untungnya Rafi termasuk anak yg seneng kalau aq ajarin calistung
    dia sll excited kalau bisa satu kata *kayak Raja*
    dan akhirnya aq mengajarkan dia tdk dgn paksaan

    1. Itulah mbak, jadi ya sudahlah, daripada anak kita ngerasa tertinggal ya mending sebelum SD kita ajarkan aja calistung, toh berguna juga kan buat dia πŸ™‚

  12. nah ini dia..setuju ama @Diandra, dilema juga krn seharusnya mengajarkan calistung saat anak siap tp kenyataannya tuntutan masuk SD dites calistung 😦
    tapi alhamdulillah Tanisha udah bisa baca lancar sekarang
    Thanks ya sharingnya jeng..berguna banget nih soalnya kau masih punya Kaira n calon dedeknya yg mesti aku ajarin hahaha…

    1. Hehehe…pe-ernya masih banyak ya jeng. Aku juga tar kalo punya anak lagi semoga semua pengalaman sama Raja bisa berguna πŸ™‚

    1. Thanks juga ya jeng…

      Semoga kita masing-masing selalu tepat mengetahui apa yang terbaik untuk anak yaa πŸ™‚

  13. He-eh makin banyak teori makin bingung. Tapi aku sendiri emang suka membaca. Dan itu yang mau aku terapin ke Athia. Dia belajar membaca karena ketertarikan dia melihat orang tuanya membaca dan pengen bisa juga.

    1. Iya Ndah, orang tua yang gemar membaca biasanya akan punya anak yang hobi baca juga… dan aku juga yakin, gak berapa lama lagi Athia bakal ikut kesukaan mommynya baca Enyd Blyton πŸ˜€

  14. Setuju mam, anak belajar membaca saat anak sudah siap. Kalau anaknya sdah siap dan punya keinginan sendiri untuk belajar, kan malah bisa lebih cepat bisa ya? tFS mam πŸ™‚

  15. Mba kalau berkenan minta tolong pasword untuk postingan tentang raja di usia 35 bln yg sedang mulai belajar huruf. Trimakasi mama raja n ralph.

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s