Nambah 6 Lagi…

Sambil nunggu suami nyampe di rumah, saya pengen ngelanjutin seri tulisan tentang POHON 😀

Harus saya akui, perdebatan kecil dengan Raja yang terjadi beberapa waktu lalu itu, mengubah satu sisi kehidupan saya…#tsaaahh… Saya jadi benar-benar lebih perhatian pada pepohonan di sekitar saya, yang tadinya gak saya pedulikan. Sekedar liat aja, tapi gak pernah mau peduli what the hell its name is. Dulu, saya malah hanya biasanya perhatian pada dahan-dahan pepohonan yang mulai terlihat mengganggu jaringan listrik yang menggunakan kawat tak berisolasi :P, kan kalo kayak gitu berarti jaringannya musti diamankan dengan melakukan pemampasan pohon (pohonnya bukan ditebang lho, cuma dahan-dahannya aja yang musti dipampas hingga ke jarak aman dari jaringan).

Tapi kemudian, sekarang semuanya berbalik, dari yang gak peduli sama sekali akhirnya malah rela berkali-kali berhenti di tepi jalan demi bisa memotret pohon yang belum diketahui namanya dan bahkan rela secara khusus keluar kantor menuju ke taman kota hanya untuk berburu nama pohon 🙂

Dan ternyata memang, ketika kita memberikan perhatian khusus pada sesuatu, maka yang biasa-biasanya saja akan menjadi tampak indah. Angsana yang tadinya hanya menarik perhatian saya ketika sedang berbunga, ternyata tampak gagah tanpa semburat kuningnya ketika ia berdiri berjejer di banyak sudut jalan di kota ini.

Saya juga jadinya suka mencari tau manfaat dari pepohonan itu.

Dan tau gak sih, ternyata seru lhoo bahkan hanya dengan berburu nama pohon itu, apalagi untuk saya yang memang sebelumnya sedikit banget tau tentang pepohonan. Dan begitu saya tau tentang namanya, saya suka tertawa sendiri, jadi ini toh namanya?? Atau selama ini sering denger namanya, tapi gak tau penampakannya, ternyata malah itu jenis pohon yang tiap hari saya lihat :D.

Ya udahlah, tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, yuk saya mulai memamerkan hasil penemuan saya seminggu ini… Fiuuuhh…lap keringat deh, memang hidup itu perjuangan, cuma pengen tau nama pohon aja saya harus berjuang! Hihihi…

Trembesi / Saman / Ki Hujan

Kita mulai dari pohon yang paling perkasa ini.

Pohon trembesi adalah jenis pohon peneduh yang emang neduhiiinn banget. Pohonnya tuh gede, tajuknya lebar banget dan membentuk kanopi sempurna. Daunnya juga walau kecil-kecil bulat gitu, tapi lebat sehingga betul-betul pas dijadikan tempat bernaung. Selain itu, pohon ini juga punya jaringan akar yang luas sehingga katanya bisa menyerap air dengan maksimal. Dan kabarnya lho, pohon ini mampu menyerap hingga 28 ton karbon monoksida setiap tahunnya! Hebat kan! Makanya, pohon ini disebut-sebut adalah salah satu solusi menanggulangi pencemaran udara dan mengurangi efek global warming. Dan oh ya, kehadiran pohon ini memang menyejukkan, karena pohon ini sanggup menurunkan suhu udara hingga 3-4 derajat Celcius!

Selain manfaat terhadap lingkungan, pohon trembesi juga memberikan manfaat lain, seperti batangnya yang bisa dijadikan bahan bangunan, daunnya yang katanya bisa membantu mengobati penyakit kulit, juga bijinya yang berguna untuk mencuci perut alias detoksifikasi gitu..

Pengen tau seperti apa bentuknya?

Yuk, mari kita lihat…

Buat yang tinggal di Palembang, mungkin tau yah, di lokasi mana foto itu diambil. Yap, foto itu saya ambil di taman kota Kambang Iwak 🙂

Pohon Trembesi berjejer di taman kota Kambang Iwak

Kelemahan eh bukan kelemahan sih ya, tapi salah satu hal dari pohon ini yang perlu mendapat perhatian terutama menyangkut pemilihan tempat untuk penanaman adalah karena akarnya yang luas dan kokoh, sehingga pohon ini baiknya diletakkan di tempat terbuka yang luas serta jauh dari jalan, karena akarnya akan bisa merusak konstruksi jalan/bangunan.

Dahannya yang menjuntai hampir menyentuh danau di bawahnya… Ngeliat pemandangan ini, somehow saya merasa tentram lho… 🙂

Semua foto-foto di atas baru aja diambil tadi siang, ketika saya berburu nama-nama pohon di Kambang Iwak. Saya baru tau kalo ternyata di taman kota itu, setiap pohon diberi label namanya. Saya langsung seneng banget pas tau, soalnya ada pohon yang udah saya cari kemana-mana namanya, tapi gak juga ketemu. Dan saya tambah seneng lagi karena begitu saya nyampe sini, ternyata saya bisa bertemu dengan si Trembesi raksasa. Selama ini cuma liat pohon ini yang masih kecilnya aja, hehe…

Sejauh ini, dari pengamatan saya, memang Trembesi yang besar di kota ini baru ada di taman Kambang Iwak ini saja. Tapi tenang saja, dalam berpuluh-puluh tahun ke depan, kota ini akan dipenuhi oleh pohon Trembesi, mengingat pohon ini adalah pohon yang dipilih pemerintah dalam program One Man One Tree.

Sayangnya, menurut saya, penanaman pohon ini dilakukan secara sembarangan. Lho ya masak ditanamnya persis di pinggir jalan gitu, apa gak rusak nanti jalannya seiring pertumbuhan pohon ini yak?

Jejeran Trembesi di tepi jalan Mangkunegara, Palembang

O ya, tau gak sih, dulu tuh ya waktu saya lihat jejeran Trembesi yang kecil-kecil itu, saya suka mikir gini: “Ih, itu pohon apa sih? Jelek amat! Berantakan! Gak bagus dilihat!” hihihi… Dan alangkah terkejutnya saya ketika saya tau kalo pohon yang gak bagus itu adalah cikal bakal the Great Trembesi! Huhuhuhu…maafkan saya, Ki Hujan 😀

Nama Ki Hujan sendiri diberikan pada pohon ini karena tajuknya suka meneteskan air, saking banyaknya air yang ia serap :D. Dan oh ya, di beberapa tempat, pohon ini juga disebut pohon Pukul Lima. Tau kenapa? Karena pada sekitar pukul lima sore, daun-daunnya suka melipat gitu dan nanti akan ‘mekar’ kembali ketika pagi. Katanya juga sih daunnya bakal melipat ketika hari hujan…

Keliatan kan di gambarnya kalo daun-daunnya tuh kayak menutup diri gitu 😀

Jadi, kalo teman-teman bertemu dengan pohon seperti gambar-gambar di atas, bisa jadi kalo kalian telah bertemu dengan Trembesi yang hebat ini 🙂

Dadap

Nama pohon ini baru saya dapatkan tadi siang saat berburu ke taman kota Kambang Iwak, padahal pohon ini adalah pohon pertama yang ingin saya cari namanya. Kalo saya search by image di Google, pasti yang keluar adalah si Trembesi, karena emang kalo dari jauh kelihatan mirip-mirip sih. Awalnya juga saya sempat mengira kalo inilah si Trembesi itu, tapi setelah meneliti #tsaahh.. struktur daunnya, saya kemudian ngerasa pasti, this one is not Trembesi!

Di Kambang Iwak, saya mendapati pohon ini berdampingan dengan Trembesi dan memang dari dekat terlihat betul perbedaan kedua pohon ini. Puji Tuhan, label nama yang ditancapkan di pohon ini masih bisa terbaca (yang lainnya dah pada kabur tuuhhh), dan di situ tertulis jelas : DADAP.

Dan seperti inilah penampakan pohon Dadap ini…

Kanopi yang terbentuk, sempurna banget yah 🙂

Pohon Dadap ini bisa ditemukan di mana aja di kota Palembang. Hampir di setiap jalan ada, walopun jarang banget ditemukan pohon ini berjejer, kecuali yang pernah saya lihat yaitu di jalan Residen A. Rozak.

Dadap di Residen A. Rozak

Dulu yah, sebelum saya tau nama pohon ini, pernah satu kali Raja nanya nama pohon ini, dengan cuek saya bilang kalo itu namanya pohon brokoli. Trus Raja nanya lagi dong, “Kok brokoli?”, saya pun masih ngejawab, “Ya lihat aja bentuknya kayak brokoli kan??”. Setelah itu Raja diam, gak berapa lama dia jawab, “Brokoli kan sayur…bukan pohon…” hihihihi… mamaknya lupa kalo punya anak kritis :mrgreen:

Setelah tau namanya, saya pun mencari-cari manfaat dari pohon ini, dan tau gak sih, ternyata oh ternyata, daunnya berkhasiat untuk memperlancar ASI! Huwaaa…selama ini saya taunya daun katuk aja…hihihi..

Tanaman ini menghasilkan kayu ringan (BJ 0,2-0,3), lunak dan berwarna putih, yang baik untuk membuat pelampung, peti-peti pengemas, pigura, dan mainan anak. Kayunya juga merupakan bahan pulp, namun kurang baik digunakan sebagai kayu api karena banyak berasap.

Daun-daun dadap yang muda dapat digunakan sebagai sayuran. Daun-daun ini berkhasiat membanyakkan susu ibu, membuat tidur lebih nyenyak, dan bersama dengan bunganya untuk melancarkan haid. Cairan sari daun yang dicampur madu diminum untuk mengobati cacingan; sari daun dadap yang dicampur minyak jarak (kasteroli) digunakan untuk menyembuhkan disentri. Daun dadap yang dipanaskan digunakan sebagai tapal untuk meringankan rematik. Pepagan (kulit batang) dadap memiliki khasiat sebagai pencahar, peluruh kencing dan pengencer dahak. Bijinya agaknya beracun.

Memiliki kandungan protein (dan nitrogen) yang tinggi, daun-daun dadap juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau untuk pupuk hijau. Sebatang pohon dadap yang berukuran sedang, yang dipangkas 3-4 kali setahun, dapat menghasilkan 15-50 kg hijauan pakan ternak dalam setahunnya. Sejauh ini, daun-daun dadap diketahui tidak bersifat racun (toksik) bagi ternak ruminansia. Perakaran dadap bersimbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium mengikat nitrogen dari udara, dan meningkatkan kesuburan tanah.

Sumber : Wikipedia

Pohon Dadap, sehabis meranggas, mulai menampakkan tanda-tanda kehidupan lagi…

Pohon ini adalah salah satu favorit saya, karena seneng aja gitu ngeliat bentuknya yang cantik, keknya bener-bener cocok dijadikan tempat bernaung 🙂

Di depan RS. Hermina
Di Kambang Iwak

Mahoni

Dia duduk dalam diam di atas kursi rodanya, menatap mahoni yang mulai dihampiri bayang kegelapan di hadapannya.

Di atas itu adalah kutipan salah satu cerpen saya yang dibuat di masa remaja dulu. Jadi dulu saya beberapa kali menggunakan pohon mahoni dalam cerpen saya, padahalllll dulu sih gak tau yang gimana sih yang namanya pohon mahoni itu? hihihi…

Taunya ya baru-baru ini setelah rajin mencari tau tentang nama-nama pohon. Ternyata oh ternyata pohon mahoni itu tiap hari juga saya lihat 😀

Selain sebagai peneduh serta penghasil kayu, pohon mahoni juga bermanfaat dalam menyerap racun timbal lhooo…. Berikut saya kutipkan manfaat mahoni yang saya ambil dari Wikipedia 🙂

Pohon mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47% – 69% sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air.

Buah mahoni memiliki zat bernama flavonolds dan saponinsFlavonolds sendiri dikenal berguna untuk melancarkan peredaran darah sehingga para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah disarankan memakai buah ini sebagai obat. Khasiat flavonolds ini juga bisa untuk mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas. Sementara itu, saponins memiliki khasiat sebagai pencegah penyakit sampar, bisa juga untuk mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan, mencegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah.

Sifat Mahoni yang dapat bertahan hidup di tanah gersang menjadikan pohon ini sesuai ditanam di tepi jalan. Bagi penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah tanaman yang baru, karena sejak jaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, Pohon Asam, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan yang dibangun oleh Daendels antara Anyer sampai Panarukan.

Sejak 20 tahun terakhir ini, tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubel, furnitur, barang-barang ukiran dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua dalam pasar kayu. Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan tidak mudah luntur. Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem, dan daun mahoni untuk pakan ternak.

Batang Mahoni yang keras…
Buah Mahoni berwarna coklat… Saat ini, hampir seluruh pohon mahoni yang saya lihat sedang berbuah 🙂

Bungur

Sukun

Ini sih termasuk pohon buah ya, cuma asli deh, saya baru tau pohon sukun yang seperti apa juga baru-baru ini…hihihi… Walopun pohon buah, tapi sebenarnya jika ditanam di halaman, pohon ini terlihat cukup meneduhkan juga ya?

Kersen

Ini juga jenis pohon buah, tapi cocok banget juga dijadikan peneduh terutama di halaman rumah. Di komplek rumah kami, ada beberapa rumah yang menanam pohon ini di depan rumahnya 🙂

Yang sekarang 6, sebelumnya 4, berarti sudah ada 10 nama pohon baru buat saya. Masih dikit banget yah, padahal jenis pepohonan kan ada banyak banget. Mudah-mudahan, pengetahuan saya bisa lebih bertambah.

Bukannya apa-apa, setelah lumayan banyak membaca tentang manfaat pohon-pohon peneduh ini serta kontribusi yang mereka berikan terhadap lingkungan kita, rasanya pepohonan ini layak mendapat penghargaan mulai dari wujud sederhana, yaitu bisa mengenal mereka lewat nama. Lagian dulu kan waktu Tuhan menciptakan alam ini, manusia yang diberikan tugas untuk menamai setiap hewan dan tumbuhan, makanya malu dong kalo kita justru gak mau peduli sama nama-nama yang diciptakan oleh manusia sendiri.

Udah ah, si papa udah nyampe niiihh…hehehe… Makanya di ulasan soal empat pohon terakhir itu singkat-singkat aja, kan kasihan si dia kalo udah jauh-jauh pulang malah dicuekkin sama istrinya yang lagi ngeblog..hehe…

O iya, besok udah weekend kan? Then I’d like to say, have a great weekend everyone! God bless us always!

56 thoughts on “Nambah 6 Lagi…

  1. Akika kaget denger notification email ternyata ada yang post tengah malem hehee tumben banget :p btw pohon ki hujan tuh sejuk banget looooh. Salah satu pohon yang bertebaran di istana negara. Kalo sukun kok langsung keinget makanan yak? -,-“

    1. Hihihi..iya nih, gara2 nungguin suami dan tayangan di TV lagi kurang bagus, aku jadi kepengen nulis aja 😀

      Iya ya, katanya di istana negara ada 2 pohon yang ditanam oleh pak Soekarno dulu 😀

      sukun enak tuh dibuat jadi keripik 😀

  2. Lagi2 mengejutkan, dr 6 pohon cuma satu yg aku tahu namanya, mahoni. Itu jg gara2 banyak di tanam dekat tol gate Balaraja Tangerang, yg kalo berbuah banyak banget. Gak mungkin kalo gak nanya kan. Hebat dikau Jeng. Suka sangat pd semangat belajarnya

    1. Kalo aku malah lebih parah mbak, tau nama mahoni tapi gak tau gimana penampakannya…hihihi.. Thanks ya mbak Evi 🙂

  3. Mirip ya Dadap sama Flamboyan.
    Udah pernah makan sukun belum mbak? :p
    Pohon talok/kersen lumayan si buat penuduh, tapi batangnya ringkih, sering banget liat pohon kersen ambruk @_@

    1. Dadap sama flamboyan cuma mirip di bunganya yang berwarna merah Una, kalo dari bentuk pohonnya sih beda 😀

      Keripik sukun sering tuh aku makan, enyak 😀

      Mudah2an kersen yang ditanam sama tetangga2ku berasal dari bibit yang baik ya Una, jadi kokoh…sayang juga kalo sampe ambruk..

  4. Aliiiiisaaa…..
    hebat banget skrg pengetahuan pepohonannya
    ckckckck….salut aq

    eh…dr sekian banyak pohon yg ada diatas yg aq tau namanya cuma dadap
    tau krn khasiatnya itu lho….
    tapi keren ya foto pohon dadapnya itu….

    1. Mbak Iyaaannn…hihihi..jangan dulu bilang hebat ah, ini juga baru sekian ini lah yang aku tau 😀

      Iya yah, pohon dadap itu kereeennn 😀

      1. Hahahaha… Sebenernya sih kalo sejak dulu kita udah mau perhatian sama aneka pepohonan ini, pasti udah banyak pengetahuannya ya mbak 😀

  5. Alisa,
    Ntar kalo ada yang nanya soal pepohonan sama aku, tinggal kasih link blog kamu aja ya. Hahaha…
    Bentar lagi Raja nanyain hewan-hewanan aneh, berarti kamu siap-siap cari foto-foto hewan lho.

    1. Eaaa…kalo gitu tar blog ku bisa2 bergantu judul jadi begini, Ndah: when samosir and krones meet trees and animals…hahahaha

  6. hmmm…perjuangan mencari nama pohon yang mengasyikkan…:)
    ikutan jadi pinter dan tahu manfaatnya nieh mama kinan…hehehe…berkat ke kritisan bang raja….aku kok selama ini pas kinan nanya nanya yang agak aneh gitu karena males njawab aneh aneh nggak ku kembangin lagi ilmu pengetahuannya…berbeda sama ayahnya yang lebih telaten….tapi sejak baca cerita pohon2nan mama raja gara2 bang raja yang kritis ini jadi menginspirasi neh..
    eh jeng itu taman kotanya keren gitu yah..sejuk…
    thanks for sharing jen…menginspirasi…:)
    hv a nice weekend juga jeng.

    1. Iya mam, ternyata mengasyikkan juga mempelajari tentang pepohonan ini 🙂

      Taman kotanya mmg lumayan bagus, lumayan sejuk lah, meski gak terlalu besar, at least di sini pepohonan besar bisa berkumpul dan memberikan hawa kesejukan..#tsaahhh 😀

  7. Waaahh…kalo yg kersen itu hampir ditiap depan rumah di komplekku ada lho mbak selain pohon mangga, maklum deh komplek kami gersang dan gk banyak pepohonannya jd nya semua berlomba nanam pohon kersen didepan rumah buat peneduh apalagi kalo lg berbuah anak2 kecil tetangga suka rebutan metik krn kalo yg buahnya masak berwarna merah ituh kan manis yak rasanya 🙂
    Seneng ya kalo msh nemuin pohon2 gede peneduh jalan gitu, kesannya asri dan adem kotanya…itu juga knp aq pilih banjarbaru drpd banjarmasin krn banjarbaru adem dan banjarmasin kebalikannya panas, gerah dan berasa sumpek saking padatnya pemukiman penduduk.

    1. Iyaaa…Banjarmasin puanasss…hihi.. Tapi Palembang panas juga lho, meski masih banyak pepohonannya 😀

      Iya tuh, kersen neduhin banget karena bentuknya juga yang melebar gitu yah..

  8. ki hujan paling banyak di perumahan saya nih.. paling rindang dan paling bagus…
    tapi hati hati batangnya gampang patah.. apalgi kalau ada angin kencang… begitu juga dengan dadap.. seneng ada yang mengupdate saya tentang pohon nih…. lanjutkan…

    1. Oh ya? Gampang patah ya? Thanks atas infonya yaa…tapi mudah2an pohon2 trembesi di siini kokoh2 deh, soalnya kebayang kalo sampe dahan beratnya patah, lumayan itu kalo menimpa orang atau kendaraan..

    1. Hahahaha…dulu aku juga begitu Man, pohon ya pohon, tapi sekarang mulai beda ngeliatnya 😀

  9. Di depan rumahku ada pohon Kersen yang selalu berbuah…manis lho… 🙂

    Bener lumayan neduhin rumah. Kayak payung di teras…

    Asyikk nanti kalo Hanif nanya pohon aku tinggal nyontek blog-mu…. 😀

      1. Banyak pohon yang berbuah di rumahku jeng…aku panen hampir sepanjang tahun,,,, 🙂

  10. kalo sukun sie tahu bangettttt dari kecil, tapi yang aku heran di manggar (BeLtiM) hampir tiap rumah wajib punya pohon sukun dan di pinggir jalan eh salah di kebun2 juga banyak pohon sukun.

    ya iyalah…ciri khas manggar adalah keripik sukun, walaupun ada sukun di tanjungpandan tapi tetep lebih wuenakkkk sukun manggar 😉

    dah pernah coba kripik sukun n stik sukun da? kayaknya dah nyampe palembang dech

  11. *manggut manggut* oo jadi manfaat nya banyak juga ya si pohon mahony inih. Bisa nyembuhin penyakit sampe bisa buat furnitur. Tapi aku paling suka liat pohonTrambesi itu. Ademmmm…..
    TFS ya mba, Mantep deh infonya.. 😀

    1. Iya, ternyata mahoni itu banyak manfaatnya, selama ini ku pikir cuma berguna kayunya aja, hehe… Pohon trembesi mmg terlihat ngademin banget yah.. Sama2 ya Des 🙂

  12. Saya paling hafal ya pohon sukun dan kersen. Kalau kersen dari kecil sudah akrab banget…lha wong suka ngambilin buahnya hehehe. Cuman kalau ditanam di depan rumah, buahnya suka jatuh dan bikin kotor mam. Anyway…great sharing mam 🙂

    1. Dulu waktu kecil juga aku sbnrnya sering liat pohon kersen, tapi kemudian lupa gimana bentuknya atau mungkin juga karena gak pedulu. Akhir-akhir ini baru perhatikan lagi, ternyata seperti itulah pohon kersen 😀

  13. wow .. pohonnya cantik cantik ya Lis, aku suka sekali lihat aneka pohon di sana krn di sini aku biasa dikelilingi ribuan pohon2 raksasa, salut deh sama postingan hijau ini

    1. Indonesia sebenarnya kan memiliki banyak sekali jenis pepohonan raksasa ya mbak, berhubung iklim kita mendukung banget…semoga tanah air ini bisa semakin hijau meski pembangunannya terus berlangsung 🙂

  14. kukira Mahoni itu yg tumbuh didepan rumahku, ternyata ada buahnya ya. wah berarti yg didepan rumahku apa dong? *garuk2 kepala*

    wah mamaknya raja rajin yaaa… lumayan hasil penelitian kecil2annya bs dipake sama kita2 😀

    1. Mungkin mahoni-nya merajuk sama kamu Tyk, jadi ogah berbuah…hihihi…

      Makasiiihh…aku seneng lho dibilang rajin…hihihi

    1. Hehehehe….iya yaa…harusnya kabar2in yaa…soalnya kemaren itu dadakan juga sih perginya 😀

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s