Ikan Laut di Pasar… Berformalinkah??

Sebenarnya isu soal ikan laut lokal yang diawetkan dengan menggunakan formalin udah lama banget beredar yah. Cuma saya jadi teringat lagi setelah seminggu yang lalu, mama saya kembali ngingetin untuk berhati-hati sama beberapa produk bahan makanan yang dicurigai mengandung formalin. Salah satunya adalah produk ikan laut.

Mama sengaja ingetin saya, secara mama tau persis kalo Palembang ini kan tidak punya produksi ikan laut, jadi otomatis di sini mengandalkan ikan import dari daerah lain, terutama katanya sih dari Medan.

Mama juga ingetin cara paling gampang untuk mengenali ikan berformalin adalah dengan memperhatikan lalat. Iya, karena ternyata lalat kan gak suka sama bau formalin, ya gimana gak kalo salah satu fungsi formalin itu adalah membasmi lalat. Jadi diperhatikan aja, kalo ikannya keras banget dan gak ada lalat satupun di situ, maka kemungkinan besar ikannya telah diawetkan dengan menggunakan formalin.

Gara-gara diingetin lagi, saya jadi kembali memperhatikan ikan-ikan laut yang didagangkan di pasar langganan kami.

Beberapa pedagang terlihat menjajakan ikan laut dalam kondisi yang kelihatannya masih segar banget..

Tapi…iya, gak ada lalat satupun yang mendekati ikan-ikan itu.

Tapi bisa aja kan gara-gara ikannya masih segar banget jadi belum mengundang lalat ke situ, ya gak?

Eh tapi lihat deh, bahkan pada pembuangan isi perut ikan yang telah dibersihkan pun, tetap saja tak ada lalat yang mondar-mandir atau setidaknya mampir di situ.

Trus bandingkan deh dengan pembuangan isi perut ikan air tawar yang tak begitu jauh dari situ yang sudah mulai dihinggapi lalat. Padahal, ikan air tawar itu dibersihkan dalam kondisi yang masih segar benar, iyalah secara sebelum dibersihkan kondisinya masih hidup kok…

Melihat itu, saya jadi parno, apakah jangan-jangan benar kalo ikan laut itu diberi pengawet formalin?

Ah, untung aja seperti yang pernah saya bilang di sini, karena saya menyukai ikan segar, maka selama ini kami lebih memilih membeli ikan air tawar di pasar seperti ikan patin, mujair, gurami, gabus, dan sepat, yang semuanya dibeli dalam keadaan masih hidup dan dibersihkan oleh penjualnya juga di depan mata kami. Jadi paling tidak bisa meminimalisir masuknya zat berbahaya dalam tubuh. Walaupun terus terang aja, saya pernah juga membeli ikan laut di pasar… *nyesel deh…nyeseelll!!!*. Eh tapi rasanya ikan laut yang pernah saya beli itu masih berbau amis ikan deh, kan katanya kalo dipakein formalin bau amis ikannya malah gak tercium tergantikan oleh bau lain yang menyengat selain itu saya juga selalu memilih ikan yang matanya masih segar dan bening, yah semogalah yaa ikan laut yang sesekali pernah kami konsumsi itu termasuk kategori aman.

Ikan-ikan laut di pasar yang saya lihat itu, memang bisa saja tidak mengandung formalin sama sekali. Saya juga gak mau menuduh dan bikin khawatir orang lain. Dan saya juga dengan ini bukannya menyatakan kalo ikan laut di Palembang tercermar formalin yah, sama sekali tidak seperti itu. Waktu saya cerita ke teman kantor, mereka bilang kalo ikan laut yang mereka beli di pasar langganan mereka pada dihinggapi lalat kok. Tapi dengan isu formalin yang sudah bertahun-tahun tak kunjung reda ini *capek deehhh…* dan ditambah dengan hasil pengamatan terhadap ketiadaan lalat itu, rasanya buat saya mending cari jalan aman aja: sekalian menghindar!

Nah trus apa kabar dengan ikan impor yang dijual di supermarket? Kami juga sering banget membeli salmon di supermarket. Yah, saya sendiri gak bisa bilang kalo 100% pasti aman yah, cuma paling tidak kalo di supermarket apalagi yang sudah berskala besar, ada prosedur untuk setiap makanan yang masuk, salah satu syaratnya adalah sertifikat, entahkah itu sertifikat aman ataukah sertifikat halal. Tapi itupun, yah namanya dunia bisnis, apa saja bisa dilakukan orang. Tapi tentu, kita berharap agar jangan seperti itu yah..

Ah, gak berlebihan rasanya memang kalo kita bilang bahwa hidup ini makin susah aja…..

Makin susah bukan hanya karena kebutuhan hidup yang makin meningkat…

Biaya pendidikan yang makin mahal…

Persaingan para ibu yang makin ketat.. *lho???*

Bukan juga hanya karena subsidi BBM akan diturunkan sehingga harga yang harus kita bayar akan meningkat..

Atau karena TDL yang bentar lagi juga katanya akan naik sebagai imbas diturunkannya subsidi oleh pemerintah (catet yah, yang nentuin TDL tuh murni pemerintah BUKAN PLN, jadi kalo nanti TDL naik demonya jangan diarahin ke sini ๐Ÿ˜‰ )

Tapi buat saya makin susah gara-gara kelakuan orang yang makin aneh-aneh aja. Gara-gara banyak pihak yang cuma mikirin keuntungan pribadi tanpa mau mikir lagi apakah yang dilakukannya itu membahayakan nyawa orang lain atau tidak. Dan sedihnya, karena sebagai seorang ibu yang sehari-harinya bergelut dengan persoalan aman/tidaknya apa yang masuk ke dalam perut anggota keluarga di rumah, saya kok melihat kalo peran pemerintah masih kurang ya menangani persoalan-persoalan macam ini? ๐Ÿ˜ฆ

Isu boraks dan formalin masih terus beredar, tak hanya pada ikan, tapi juga pada tahu, mie, bakso, daging ayam potong, cincau! *serba salah deh, beli yang gak dihinggapi lalat sama sekali berarti kemungkinan telah membeli cincau berformalin, tapi beli yang udah dihinggapi lalat kok ya rasanya jijik lah yaa! Hmm…apakah itu artinya saya harus belajar bikin cincau sendiri???ย *, bahkan katanya buah-buahan impor juga disinyalir diawetkan dengan menggunakan formalin! Begitu juga dengan kandungan berbahaya yang dicurigai terkandung dalam susu formula. Atau isu tentang daging gelonggongan. Atau tentang pewarna tekstil dalam makanan. Atau soal kandungan DEHP dalam produk minuman energi, jus buah, dan jelly.

Not to mention about pesticide, MSG, dangerous plastic material, teflon, dan seterusnya…dan sebagainya….

Banyak banget deh rasanya yang perlu diwaspadai. Gak heran dengan semakin banyaknya bahan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh manusia, makin banyak aja penyakit yang menyerang dan angka harapan hidup manusia juga katanya semakin menurun. Kalo angka harapan hidup dunia sekarang aja cuma di sekitaran 60-an tahun, maka apa kabar dengan anak cucu kita yah? Hikkss….hanya Tuhan ajalah yang tahu..

Seberapa banyak bahan berbahaya yang sudah masuk dalam tubuh saya dan keluarga, kami juga gak bisa tahu.

Yah, yang penting sudah berupaya menghindar, berhati-hati, dan meminimalisir. Selebihnya ya tinggal berserah pada Tuhan yang penuh kasih. Kalo mau terlalu dipikirin juga yang adanya bawaannya jadi parno dan galau terus-terusan.

Tapi kembali ke soal ikan laut, saya sudah bertekad untuk berhenti membeli ikan laut di pasar. Benar berformalin atau tidak, yang pasti saya gak mau lagi!

Dear ikan laut, loe…gue…end! *yah, selama tinggal di Palembang sih, tar kalo udah balik Medan atau Manado yang produksi ikan lautnya berlimpah, well, i’ll love you full again :mrgreen: *

Tukang ikan air tawar langganan kami. Di sini dijual ikan yang masih memiliki tanda-tanda kehidupan. Jangan bandingkan kondisi pasar ini dengan pasar di tempatnya mbak Ely yah :D. O iya, ada yang bisa ngenalin siapa yang pake kaos item - merah itu?? Hihihi...iya, dia si suami tercinta yang selalu bisa diandelin setiap belanja ke pasar becek macam ini ๐Ÿ˜€

Iklan

36 thoughts on “Ikan Laut di Pasar… Berformalinkah??

  1. alamak jang…jadi ngeri..sini juga penghasil ikan..tapi yang saya lihat udah di taruhin es batu gitu..hueheuehueheue….mana saya nggak bisa atau lebih tepatnya nggak pandai memilah dan memilih yang segar dan nggak segar..kecuali kalo dah dimasak nanti yang segar pasti rasanya lebih mantep..saya juga main amannya cari yang masih hidup..misal ikan tawar atau kepiting/rajungan hidup *kalo tengiri hikss……..jadi ngeri..suka beli tengiri juga..kinan suka..tapi nggak yakin juga..soalnya bukan dari laut sini..hiks…..mak kok aku juga jadi parnoooooooooo…..anyway..thanks sharingnya jeung..

    1. Memang harus selalu hati-hati kalo beli apa-apa ya jeng, dan daripada pusing memilih ikan mending beli yang masih hidup aja.

      Tenggirinya dilihat aja jeng, kalo banyak lalat yang mendekat di tempat jualnya, daging tenggirinya gak berwarna pucat, matanya jernih, dan insangnya berwarna merah segar berarti masih kategori aman lah ๐Ÿ˜‰

  2. Lis, aku juga selama tinggal di Jakarta gak doyan ikan laut. Rasanya beda waktu aku masih tinggal di Bangka. Walopun udah dimasak, tapi Dagingnya berasa anyep. Beda sama ikan laut di Bangka yang cuma dibakar ato digoreng aja kerasa manis. *jaman aku dulu lho ya*
    Makanya waktu tinggal di Bangka, aku gak doyan ikan air tawar kayak lele dkk. Sekarang, aku justru gak doyan ikan laut. Belinya juga selalu ikan air tawar kayak lele, gurame, ikan mas. Yang diambil dari kolam, dimatiin depan kita dan dibersihin depan kita. Salah satu alasannya yaa…formalince itu…

    1. Hihi…toss Ndah! Kasusmu sama dengan kasusku. Aku juga waktu di Manado malas makan ikan-ikan air tawar, aku doyannya cakalang sama tude. Lha, setelah tinggal di sini yang mana kalo mau ikan segar adanya ikan air tawar aja, ya sudah terpaksa selera ini pun beradaptasi. Tak apalah, yang penting lebih aman, ya gak?

  3. Halo say, lama g komen di sini ๐Ÿ˜€

    Wew, ekstrim yah sampe mutusin hubungan sama ikan laut. Tapi iya sih bener, kalo bisa milih yang masih segar ngapain ngambil risiko mengkonsumsi yang udah gak segar yang bisaaja ud mengandung zat bahaya macam si formalin. Di jakarta pun rasanya susaaahhh nyari ikan yang segarnya masih alami macam ikang2 pa tong pe kampung di manado ๐Ÿ˜€

    Tapi iya juga bener yang ngana bilang, yg penting berusaha meminimalisir selebihnya mari torang serahkan pa Tuhan ๐Ÿ™‚

    Thanks so kase inga ne say ๐Ÿ˜‰

    1. Seeelllll…dari mana do’e ngana? Lama nda dapa dengar nga pe kabar noh! ๐Ÿ˜€

      Iyo say, lebe bae pilih yang pasti-pasti jo ๐Ÿ˜‰

      Sama-sama ne Sel ๐Ÿ˜€

  4. emang serba salah dan serba takut jadinya ya.
    tapi kalo dipikir2 ya semua nya gak akan ada yang aman 100% ya. karena kita mana tau sih. kita beli makanan kan azas percaya aja. ya gak. hahaha.

    1. Iya Man, kecuali kalo kita punya kebun sayur dan bumbu dapur sendiri, ladang beras sendiri, tambak ikan sendiri, bisa nangkap ikan sendiri di laut, dan mengolah semuaaaa makanan yang kita makan sendiri baru deh kemungkinan kita bisa pasti sama bahan2 yang kita konsumsi sehari-harinya. Itupun tetep aja belom tentu, masih adaaaa aja faktor2 yang di luar kendali kita, ya gak?

  5. Hiks, iya ya Mba…sedih banget sih zaman sekarang ini banyak banget yang buat kita khawatir dengan keamanan makanan yang kita konsumsi. Mau beli ini itu jadi banyak takutnya…tapi ya seperti katamu, kita sekarang cuma bisa berusaha meminimalisir resikonya aja.

    Hmmm…udah lama mau say goodbye too ke ikan laut, tapi karena mikirin kandungan gizinya belum jadi aja:(

    Ih, ih, ih…papah Raja keren ya;)

    1. Iya jeng, hampir gak mungkin kita bisa memastikan bahwa semua yang kita konsumsi itu makan. Cuma setidaknya dengan berbekal pengetahuan kita bisa meminimalisir risiko yang mungkin terjadi.

      Btw jeng, kandungan gizi ikan air tawar sama sekali gak kalah kok dengan ikan air laut. Contohnya gabus, dibanding salmon, malah lebih tinggi kandungan protein gabus lho. Tapi kalo daerah Lampung sih masih aman keknya ya jeng Ai karena kan ikannya kebanyakan produksi laut sana kan?

  6. ihhh.. kemarenan juga sering baget di salah satu tv swasta ngabahas tentang formalin diberbagai makanan.. bikin parno abiss. emang bener mba, harusnya pemerintah lebih memperhatikan masalah formalin ini. Kalo generasi2 kita sehat2 kan, pasti negara juga yang akan diuntungkan nantinya.
    Jadi mau ikutin jejak mba nih, beli ikan harus yang masih hidup, beli ayam kayaknya juga musti gitu deh. Nice sharing ya mba..

    eh iya, udah beberapa kali komen disini, lupa mau bilang .. salam kenal ya mba..your blog is very inspiring…;)

    1. Iya, memang seharusnya pemerintah lebih meningkatkan lagi pengawasan terhadap kesehatan dan kelayakan makanan yang dikonsumsi rakyat yah ๐Ÿ˜ฆ

      Aku pokoknya milih yang lebih aman aja, dan yang jelas ikan yang masih hidup setidaknya lebih aman ketimbang ikan yang dijual udah kaku ๐Ÿ˜‰

      Makasih yaa…salam kenal jugaaa ๐Ÿ˜€

  7. Haaa….serem banget….kami suka sekali seafood….

    Sebenarnya isu ini udah lama terdengar. Tapi aku ndableg (bandel) aja.
    Makasih mbak Allisa udah ngingetin aku lagi….

    Haduuuh, tiap hari menunya ganti lele ama patin aja deh…. ๐Ÿ˜ฆ

    1. Iyaa…aku juga aslinya sukaa banget sama seafood, tapi yah gimana lagi, di sini keknya sea food agak kurang aman ๐Ÿ˜ฆ

      Sama2 ya jeng ๐Ÿ™‚

  8. aku baca dr awal sampai akhir kok merinding juga ya Lis membayangkan …. dulu belum tahu byk soal ini sih kalau beli ikan ya seperti yg ada di foto itu ikannya msh hidup terus dibersihkan langsung oleh penjualnya.

    Postingannya bagus sekali Lis, pembaca (termasuk aku) jadi tahu ttg ikan yang nggak dihinggapi lalat itu yg diduga diawetkan dgn formalin *ngeri*

    bener sih, rasanya kalau memang belum ada penanganan serius dr pihak2 yg bersangkutan ya, terus terang kalau di sini hal hal spt itu mungkin nggak bisa terjadi krn ada pihak yg mengurusi, semua barang kebutuhan pokok, apa saja, diperiksa dulu sebelum dilepas ke konsumen termasuk ikan2 spt itu, soalnya kalau ada produsen yg melanggar ya dendanya tinggi dan bisa ditutup usahanya, dan dimusnahkan semua berapapun jumlahnya, termasuk andai ada binatang ternak yg msh hidup yg dikonsumsi dan disinyalir membahayakan juga dimatikan semua, coba apa ndak rugi besar tuh produsen kalau nggak melanggar, jadi ya mending menuruti aturan biasanya.

    tapi memang di sini negara kecil sih ya, penduduknya juga sedikit dibandingkan di tanah air ya, yg besar dan sebanyak itu jumlah penduduknya, tentunya juga nggak semudah mengatur segalanya spt di sini

    terima kasih linknya ya ๐Ÿ™‚ …. juga info bagus di postingan ini, thanks ๐Ÿ˜›

    1. Intinya Indonesia sama Jerman memang berbeda jauh ya mbak, terutama dari soal karakter. Ya pemerintahnya, ya rakyatnya. Di sini udahlah pemerintahannya di beberapa segi bobrok, eh, kelakuan rakyatnya pun ternyata banyak yang 11-12…sediiihhh ๐Ÿ˜ฆ

      Sama-sama ya mbak Ely ๐Ÿ™‚

  9. duuuhhhhhh….makanan jaman skrg ya, menyeramkan….aku jg lg binun soal susu. alisha kan doyan susu, susah makan. selama ini kukasi uht. etapi kata temenku yg dokter, katanya uht itu jg ada formalinnya ๐Ÿ˜ฆ mau ke susu bubuk, tp kan dulu sempet heboh jg ama pengawet dan bakterinya. jdnya skrg serasa mo ngasi racun ke anak sndr hiks…

    Lis, ada PR di blogku kerjain yak ๐Ÿ˜€

    1. Iya mbak, rasanya kok hampir semuanya bikin serba salah ya. Sudah gitu pemerintah kurang tegas menarik produk yang memang sudah terbukti membahayakan ๐Ÿ˜ฆ

      Ada pe-er? ok mbak, meluncur ke sana ๐Ÿ˜€

  10. Sekarang apa2 di sekitar kita kok makin lama makin gak aman ya. Kalau liat tayangan investigasi itu, duuuuh jadi miris….semua demi keuntungan besar , penjual tega berbuat curang yang membahayakan kesehatan :-(. Kalau saya sama mam, lebih memilih ikan yang masih hidup, lebih fresh dan pastinya lebih aman sih ๐Ÿ™‚

    1. Yang aku suka kesel sama investigasi itu, kenapa oh kenapa pelakunya gak dilaporkan? Padahal kan udah ada buktinya…hikkss….

      Iya bund, kekmanapun yang hidup masih nampak lebih aman ๐Ÿ™‚

  11. iya jd takut ya padahal aku lebih suka ikan laut daripada ikan air tawar..ya bekal ilmu milih ikan segar tanpa formalin mesti diasah lg nih hehehe
    Iya supermarket bisa jadi solusi jg atau kl di Jakarta atau BSD (jeng Indah n MamaKinan pasti tau nih) bisa makan di Bandar Djakarta, ikan disitu masih seger2 trus ada jg ikan lautnya yg masih di akuarium jd kita bisa beli yg masih seger trus pilih mau dimasak apa trus makan deh ๐Ÿ˜€ cm sayangnya agak berat di kantong harganya hahaha..
    Kl lele suka geli soalnya pernah bbrp kl liat cara meliharanya jorok bgt ๐Ÿ˜ฆ (kecuali dari kolam yg bersih n ga dikasi makan bangkai)
    TFS ya jeng ๐Ÿ˜‰

    1. Iya yah, lele juga suka dikasih makan bangkai ayam ya,…hiiiyyy…serem jugaaa!! Tapi katanya ada cara untuk membedakan mana lele yang makan kotoran dan mana yang gak ya jeng. Katanya kalo yang makanannya gak bener, setelah digoreng, bentuk lelenya akan melengkung gitu..

      Sama-sama ya jeng Rully ๐Ÿ™‚

      1. Haaaa?? Lele dikasi makan bangkai ayam???? Waduuuuhhh…..

        Pengen pulang cepet mau nyangkul halaman samping bikin kolam lele ama patin, piara sendiri aja… ๐Ÿ˜€

        *edisi lebay,,,,, ๐Ÿ˜€

      2. Hahahaha…pengennya sih semua produksi sendiri yaaa…tapi yah, kalo kayak gitu mah sulit banget ya..

  12. Naaahh itu dia Mb yang saya khawatirkan, saya sekeluarga paling doyan dengan ikan. Apalagi yang namanya ikan cakalang, ikan tenggiri atau ikan gurame…..hanya satu ikan yang tidak kami suka yaitu Ikang Fauzi…. ๐Ÿ™‚

    1. Hahahaha kalo ikang fauzi sih kami juga gak suka Uda, apalagi sama soulmate-nya si ikang, tambah gak suka lagi ๐Ÿ˜›

  13. hahaha…saya suka kata kata terakhir : loe, gue, end ๐Ÿ™‚
    Saya juga sangat takut makan ikan laut di Jkt karena teluk Jakarta kan udah tercemar merkuri. Paling banter makan ikan bandeng yang hidup air payau.

    Jadinya kalo mau makan ikan laut pas mudik ke eyang Samara di Tegal ๐Ÿ™‚

    1. Keknya hampir semuaaaa bahan makanan sekarang udah tercemar aneka zat yang kurang menguntungkan bagi kesehatan yak ๐Ÿ˜€

  14. Pertama-tama mo komen tentang pengawalnya. Kok saya istri banget yah, sampai bawa-bawa keranjang belanja. Apa istrinya asyik dengan camera kali yah..Hehehe..Kok gaya kita sama ya Jeng, kemana-mana bawa camera, yg bertugas belanja ya suami..

    Yang kedua, dengan kondisi pasar palembang yang jauh dari laut emang gak tertutup kemungkinan bahwa ikan disana diberi formalin. Apa lagi kalau datang dari medan, wah! Kita pakai logikan saja deh. Ikan2 tersebut butuh satu malam di perahu nelan. Terus naik ke darat, di lelang di tempat ikan. Kalau naik dari laut pagi, minimal sore baru ikan-ikan tersebut diangkut ke palembang. Nah jalan dari medan-palembang dengan bus atau truk itu berapa lama?
    Apa iya es saja cukup agar ikan tetap segar sampai di palembang?

    Yang ketiga: Mengkonsumsi ikan air tawar juga bukan solusi. Ikan-ikan air tawar sekarang besar dari pelet. Dan pelet itu dibuat dari bahan-bahan kimia, seperti juga makanan ayam broiler..

    Terus solusinya apa dong? Masa kita gak makan ikan gara-gara parno?

    Sejujurnya, aku gak tahu gimana harus memberi solusi Jeng, maaf ya….:(

    1. Pertama, soal pengawal..hihihi…memang selalu gitu mbak Evi, kalo ke pasar dia yang urusan nentengin belanjaan, istrinya lenggang kangkung..ah, i love you full deh suamiku ๐Ÿ˜€

      Kedua, iya bener banget mbak, secara logika memang sudah bilang kalo gak mungkin ikan laut yang dijual di sini masih bisa dalam kondisi segar

      Ketiga, ah, memang ikan air tawar juga suka dikasih makan kalo gak sama bahan2 kimiawi ya sama bahan2 yang lebih aneh2 lagi…huhuhu…

      Solusinya…pokoknya banyak berdoa aja kali’ yah mbak, supaya meskipun racun yang sudah termakan oleh kita tapi oleh karena campur tangan Tuhan tubuh kita gak kenapa2 malah bisa tambah sehat…kan gak ada yang mungkin buat Tuhan, iya gak? ๐Ÿ™‚

  15. Aku jadi ingat minggu lalu si Zua mukanya tiba-tiba berbintik passss dihari aku melahirkan, dia keracunan IKAN ASAM MANIS
    ๐Ÿ˜ฆ
    Jadi betul banget lis kewaspadaanmu.. Padahal rumah kami termasuk dekat sama laut loh..
    Alhamdulillah kami ada langganan ikan yg antar dari TPI langsung, tapi ya gitu gak selalu ada ikannya cuma lebih aman ya

    1. Hah? Keracunan ikan, Dhir? Waduh, jangan2 karena ikannya udah gak fresh jadi bikin gatel kali’ yah ๐Ÿ˜ฆ

      Kalo bisa yang dari TPI emang bagus banget ya Dhir, karena bisa dijamin ikan2nya masih seger baru ditangkap dari laut…

  16. Kawan gue mo nanya ne….gue d pekanbaru ne….ikan lautnya kan dari daerah luar…y bs dibilang g segar lg tu ikan…kmarin gue bli ikan laut…trus digoreng keras tu daging…kyk mkn karet ja.apakah tu ikan berformalin kali???biasanya tu ikan br dimasak pasti lembut dagingnya,…..

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s