Anggrek Bulan

Daripada gak punya ide untuk menulis dan berhubung saya dengan pe-denya menulis di sini kalo saya pernah punya hobi menulis cerita fiksi, akhirnya dengan memberanikan diri saya mempublikasikan salah satu tulisan fiksi saya di sini. Tolong jangan diketawain, ya…. Ini memang hanya tulisan lebay seorang remaja yang masih labil :D.

So, selamat menikmati…………………………………………..

😀 😀 😀

 ——————————————————————————————————

RIO mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Suara mobilnya membelah jalan panjang yang lengang. Tampak jelas di wajah Rio kalau ia sangat terburu-buru, seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Sesekali ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Sebentar lagi senja akan turun, padahal ia tak ingin kemalaman. Ada hal penting yang harus diselesaikannya dan ia tak bisa menunggu lagi. Gejolak di jiwanya mengatakan bahwa ia harus tiba secepat mungkin.

Senyuman bahagia tiba-tiba menghiasi wajah Rio begitu teringat apa yang membawanya menembus jalan ini. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. Ia tahu, ia bodoh karena harus menunggu selama ini untuk menyadari hal yang paling berarti dalam hidupnya. Terlalu lama Rio membiarkan dirinya hidup dalam kekacauan dan kehilangan yang teramat dalam. Semula ia berpikir bisa mengatasi segalanya dan menganggap ini hanyalah masalah waktu yang akan membantu dia menyesuaikan diri. Namun hari yang terus berlalu membuatnya sadar. Ia tak bisa tinggal dengan rasa kehilangan. Ia harus meraih kembali hidupnya. Karena itu Rio tak ingin terlambat untuk memperbaiki segala kesalahannya.

Sekali lagi ia tersenyum sambil memindahkan persneling. Ia yakin dengan kecepatannya saat ini, ia bisa tiba kurang dari sejam. Di luar sana langit kemerahan mulai membayang membentuk siluet di antara pepohonan di sisi jalan. Menjanjikan keheningan sekaligus kedamaian. Rio suka melihatnya apalagi dengan merasakan hangatnya seperti saat ini. Karena itu ia kemudian melepaskan kacamata hitamnya agar bisa lebih jelas menikmati panorama di sekitarnya.

Tiba-tiba ia tersadar. Sejak kapan ia jadi seperti ini? Ia bukan orang yang senang menikmati keindahan alam. Apalagi sampai mengaguminya. Bagi Rio, keindahan alam hanya berada di luar sana. Tak ada hubungan dengan dirinya.  Kecuali, tentunya bila keindahan itu bisa membawa keuntungan finansial untuknya. Seperti ketika ia terlibat dalam proyek pembangunan resort di daerah air terjun baru-baru ini.

Namun Rio tak perlu lama berpikir. Segera saja ia langsung menemukan alasannya. Keindahan alam bisa menggugah perasaan Rio karena seluruh raga dan jiwanya dipenuhi oleh cinta untuk seseorang yang merupakan bagian dari alam. Rio tertawa kecil. Bahagia. Dan penuh binar. Untuk kesekian kalinya ia merasa makin tak sabar untuk menemukan cintanya lagi. Dari tangannya yang terkena terpaan sinar matahari senja, sejumput kehangatan seperti mengalir ke dalam hati Rio.      

Rio baru saja akan memindahkan persneling lagi ketika matanya menangkap sesuatu di depan sana. Dahinya berkerut dengan mata memicing. Begitu tahu apa yang terjadi, Rio langsung memaki keras. Sebuah batang pohon besar melintang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya. Melihat itu, Rio tahu mustahil  ia bisa meneruskan perjalanan. Ia kemudian menghentikan mobilnya di depan pohon tumbang itu. Tepat ketika seorang pria setengah baya melintas di pinggir jalan. Dengan cepat Rio keluar dari mobilnya.

“Permisi, Pak!” serunya.

Pria itu kemudian menghentikan langkahnya. Lalu berbalik ke arah Rio. Melihat penampilannya, Rio tahu, pria itu orang sekitar sini. Mungkin baru kembali dari hutan. Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam dengan kain putih yang diikatkan di kepalanya. Di bahunya ia sedang memanggul kayu-kayu api yang diikat menjadi satu. Sementara di pinggangnya terlilit tali yang digantungi parang.

“Kemarin malam ada badai di sini,” terangnya dengan dialek kental sebelum Rio sempat menanyakan apa-apa.

“Kenapa tidak menghubungi petugas agar bisa diangkat? “ tanya Rio. “Pohon ini menghalangi jalan.”

Pria itu tertawa kecil. “Jalan ini tidak banyak dilalui orang, Dik,” jawabnya singkat.

Sialan! Rio memaki dalam hati. Orang ini boleh saja orang kampung. Tapi ternyata cukup berpendidikan. Kata-katanya singkat. Polos. Namun mengena.

“Jadi jalan ini akan dibiarkan tertutup seperti ini?” tanya Rio kesal.

“Besok hari minggu. Jadi mungkin masyarakat desa sekitar sini baru bisa bergotong royong mengangkatnya besok. “

Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kekeruhan langsung terbayang di wajahnya.

“Saya sedang terburu-buru mau ke kampung di ujung jalan ini. Apa tidak ada jalan lain ke sana?”

“Ada. Adik bisa memutar. Di belakang sana ada belokan ke jalan kecil. Jalan itu setengah memutar,  jadi lebih jauh.”

Rio langsung senang mendengarnya. Semangatnya muncul lagi. Tak apalah kalau ternyata ia harus kemalaman. Yang penting bisa tiba hari ini juga. Namun begitu mendengar kelanjutan kata-kata pria di hadapannya, ia langsung lemas.

“Tapi saya sarankan jangan lewat sana di malam hari. Selain terlalu gelap, masyarakat sana juga cukup tidak bersahabat. Mereka tidak suka ada orang asing masuk daerah mereka.”

Rio terdiam. Bayangan akan dihadang orang hadir di benaknya. Tapi itu satu-satunya jalan yang ada, bukan? Lagipula ia bisa saja beruntung. Masyarakat di sana tiba-tiba menjadi tak peduli dengan kehadirannya. Bukankah ia hanya akan sekedar lewat? Tentu saja ia akan berusaha agar suara mobilnya tidak mengganggu mereka.

Berpikir begitu, membuat Rio langsung mengambil keputusan. Ia baru saja berbalik, ketika pria tua itu berbicara lagi.

“Jangan memaksakan diri, Dik,” katanya bijak. “Lebih baik Adik menunggu sampai besok. Begitu matahari muncul, pasti pohon ini sudah tidak ada di sini lagi. Tidak jauh dari sini ada pondok penginapan. Menginaplah di sana.”

Rio berbalik lagi. Lalu memandang orang di hadapannya dengan teliti. Dengan gelisah terpaksa ia harus mengakui kebenaran kata-katanya. Mungkin ia memang harus mengurungkan niatnya dan menunggu sampai besok. Dihembuskannya nafas dengan berat begitu menyadari terpaksa ia harus menahan gejolak tak sabar di jiwanya.

========================

KEESOKAN harinya pagi-pagi sekali, Rio sudah berada di jalan yang sama lagi. Pria tua kemarin benar. Pohon tumbang itu sudah tidak ada. Jadi kali ini ia bisa melanjutkan perjalanannya tanpa gangguan.

Tak lama kemudian ia membelok memasuki daerah perkampungan setelah melihat papan petunjuk di pinggir jalan. Meski dalam jarak yang cukup berjauhan dan dibatasi oleh petak-petak sawah yang luas, rumah-rumah penduduk mulai terlihat. Dari yang pernah diketahuinya, di sepanjang jalan ini terdapat deretan perkampungan dan daerah yang ditujunya berada di paling ujung.

Kini Rio tak begitu bisa lagi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Jalanan yang tadinya rata mulai sedikit bergelombang. Hingga akhirnya tak ada jalan yang diaspal lagi. Meski medannya mulai tak mengenakkan, Rio tetap bersemangat. Apalagi bila berpikir tinggal dalam hitungan menit, ia bisa bertemu dengan Anggrek Bulan!

Rio tiba sepuluh menit kemudian. Ia langsung bertanya pada orang pertama yang dilihatnya. Seorang bocah berumur kira-kira sepuluh tahun yang sedang menuntun empat ekor kambing.

“Permisi,” sapa Rio setelah menurunkan jendela mobilnya. “Adik tahu di mana rumah Anggi?”

Dahi bocah itu berkerut sejenak. “Anggi… Maksud Mas, Mbak Anggrek cucunya Nek Sumirah?” tanyanya ragu.

Rio tersenyum senang. Anggi yang cerita, di desa ini, dia tinggal bersama neneknya yang bernama Sumirah. “Ya, betul. Rumahnya yang mana, ya Dik?”

Keraguan di wajah bocah itu tak juga hilang ketika kemudian ia mengarahkan telunjuknya ke  sebuah rumah tua.

Rio menganggukkan kepala lalu menoleh ke arah bocah di samping mobilnya. Tentu saja ia harus mendapat imbalan, walaupun sebenarnya tak perlu. Tapi tak apalah, pikir Rio, sambil mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dari dalam dompetnya. Apalah arti uang ini dibandingkan kebahagiaannya karena bisa sesegera mungkin bertemu Anggi.

Sambil tersenyum ia mengulurkan uang itu. “Ini, Dik, buat jajan,” katanya enteng.

Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat Rio terkejut. Bukannya mengambil uang di tangannya, bocah itu malah menjauh pelan-pelan.

“Ti…tidak usah, Mas…” katanya gugup sambil memandang Rio dengan ganjil sebelum kemudian berlari meninggalkan Rio dengan dahi berkerut.

Masih dengan perasaan aneh, Rio kembali menjalankan mobilnya.  Ia tahu, perasaan gengsi masyarakat desa memang pada umumnya tinggi. Tapi bocah tadi tidak terlihat seperti seseorang yang tidak ingin menerima uang tanpa melakukan apa pun. Ia lebih terlihat ketakutan. Digelengkannya kepala untuk melupakan peristiwa tadi.

Tetapi Rio tak perlu berusaha terlalu keras. Begitu ia tiba di depan rumah yang ditunjuk anak tadi, peristiwa tadi sudah hilang sama sekali dari benaknya.

Diperhatikannya sebentar rumah itu setelah ia turun dari mobil. Rumah tua yang terbuat dari papan itu terlihat sunyi, sama seperti keadaan di sekelilingnya. Seolah telah berdiri begitu lama, rumah itu sudah mulai terlihat bobrok. Dindingnya telah menghitam dan mulai keropos. Atapnya yang dari rumbia juga sama parahnya. Rio yakin, telah banyak kebocoran di sana. Dalam hati ia berjanji, bila telah berhasil menikahi Anggi, ia akan membuat rumah ini menjadi yang terindah di sini. Pada kedua sisinya, terdapat pohon besar yang hampir menutupi atap rumah, yang menurut Rio, nantinya lebih baik ditebang saja.

Sambil tersenyum, Rio melangkahkan kakinya memasuki pekarangannya yang besar tanpa pagar, di mana sampah dedaunan tampak berserakan. Semula ia berjalan dengan langkah terburu. Namun ketika kemudian angin bertiup dan menggulung dedaunan di sekitarnya, sebuah perasaan ganjil memenuhi hati Rio.

Kakinya tiba-tiba enggan melangkah. Memaksanya untuk meneliti rumah itu lebih saksama. Entah mengapa, yang dilihatnya kemudian justru bayangan gelap yang memenuhi rumah itu. Seolah menyuruhnya untuk pergi. Laksana perisai, bayangan itu memagari rumah di hadapan Rio. Melindunginya… entah dari apa.

Rio sedapat mungkin mengenyahkan perasaan tak enak itu. Sekalipun nalurinya melarang,  kakinya kemudian melangkah lagi. Kalau memang inilah satu-satunya tempat di mana ia bisa menemui Anggi, maka tak peduli apapun itu, Rio tak akan menghentikan hasratnya.

Tepat saat Rio tiba di beranda rumah yang sama tak terawatnya dengan pekarangan di sekitarnya, pintu rumah itu tiba-tiba terbuka. Dan dada Rio tersentak. Seorang wanita tua dengan rambut yang telah seluruhnya memutih muncul di balik pintu. Wanita itu memakai kebaya lusuh. Kedua mata pada wajahnya yang telah keriput memandangi Rio dengan tajam.

“Permisi…” sapa Rio akhirnya setelah berhasil mengatasi keterkejutannya. “Nenek… Nek Sumirah?” tanyanya setengah ragu. Setengahnya lagi ngeri. Entah karena apa.

“Ya, benar,” jawab Nek Sumirah. Pandangan tajamnya tak juga berubah. Malah bertambah angkuh dan dingin. “Kau mencari Anggrek?”

Pertanyaan itu langsung membuat Rio tersontak. Memang ia sedang mencari Anggi. Dan ia benar-benar tak sabar untuk segera bertemu. Tapi cara Nek Sumirah bertanya dan suasana di sekelilingnya membuat Rio  lupa akan tujuannya kemari. Lidahnya menjadi kelu. Ia hanya terdiam sambil memandangi wanita tua di hadapannya dengan pandangan melongo.

“Untuk apa mencari Anggrek?” sergah Nek Sumirah. Kali ini dengan suara keras yang membuat Rio  kembali ke alam sadar.

“Eh… saya… saya temannya Anggrek…” jawab Rio gugup.

Ini untuk yang pertama kalinya sejak Rio mulai sering bergaul dengan berbagai macam perempuan, ia merasa gugup di hadapan orang tua perempuan yang dikencaninya. Percaya dirinya begitu tinggi. Ia selalu yakin. Orang tua manapun akan dengan senang hati menerima dirinya mengingat segala latar belakang bibit, bebet, dan bobotnya yang terpuji. Walau sikapnya tak pernah menjadi seterpuji itu.

Herannya, kali ini, Rio tidak saja gugup. Tapi… ada sesuatu yang membuatnya merasa seperti seorang anak kecil yang sedang ditanyai  karena berbuat salah. Padahal yang ada di hadapannya hanyalah seorang nenek peyot yang pasti tak punya apa-apa. Lalu… kenapa?

“Anggrek tak bisa ditemui!” Suara serak namun tegas itu lagi-lagi mengejutkan Rio.

Kembali ia hanya terdiam. Pikirannya tengah berusaha mencerna jawaban itu dan keadaan di sekelilingnya. Aura di sekitarnya seakan menarik seluruh kesadaran dalam diri Rio.

Barulah ketika Nek Sumirah mulai menarik diri dan menutup pintu, Rio tersadar. Secepat kilat ia melompat ke arah pintu. Lalu mendorongnya keras. Tak peduli sekalipun tindakannya itu bisa membuat pintu itu terlepas dari engselnya atau bahkan telah membuat Nek Sumirah terhuyung ke belakang.

“Maaf!” seru Rio sambil berusaha menopang tubuh renta di hadapannya agar tak terus jatuh. “Saya benar-benar harus bertemu Anggi!” kata Rio kemudian setelah berhasil menguasai keadaan dan Nek sumirah telah berdiri dengan tegak lagi.

“Sudah saya bilang. Anggrek tidak bisa ditemui,”  sahut Nek Sumirah dingin, sambil tertatih menuju sebuah kursi reyot. Lalu duduk di sana. Seakan tadi ia telah terlalu lama berdiri hingga tenaganya terkuras.

“Tapi saya harus!” sergah Rio.

Nek Sumirah kemudian mematung. Rio tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya. Wanita itu telah mengalihkan pandangannya dari Rio. Mata tuanya menatap lurus ke depan. Menembus kaca jendela buram di hadapannya.

“Kau… Ario Wijaya?” Ada getaran yang amat jelas terdengar di telinga Rio ketika Nek Sumirah mengajukan pertanyaan itu. Keangkuhan nenek itu seolah hilang. Berganti keputusasaan.

“Benar,” sahut Rio cepat. “Pasti Anggi sudah cerita pada Nenek tentang saya, kan? Saya datang untuk menjemput Anggi, saya…”

“Kau datang untuk apa?” potong Nek Sumirah. Matanya menatap Rio dengan ganjil.

“Saya datang untuk menjemputnya, Nek. Saya tahu saya telah berbuat salah padanya. Karena itu saya ke sini untuk memperbaiki semuanya,” tegas Rio.

Nek Sumirah terdiam lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. Rio merasa tak enak melihatnya. Firasat aneh dalam dirinya muncul lagi. Namun tetap Rio tak dapat menjawab firasat macam apa itu.

Nek Sumirah kemudian bangkit. Dengan suara tak jelas ia berkata, “Mari ikut saya.”

Rio kemudian mengikuti Nek Sumirah masuk lebih dalam. Melewati sebuah ruang yang sepertinya ruang duduk sekaligus ruang makan dengan jendela yang tertutup rapat serta dua buah deretan kamar di salah satu sisinya. Di bagian belakang hanya ada dapur kecil dengan peralatan yang entah telah terbuat dari tahun berapa.

Mereka akhirnya keluar di halaman belakang yang ditumbuhi beberapa jenis pohon besar. Tanahnya terlihat gersang. Dan seperti bagian depan dan sampingnya, halaman ini juga terlihat tak terawat.

Nek Sumirah terus berjalan. Hingga berhenti di bawah sebuah pohon besar di ujung pekarangan. Ia kemudian berbalik. Lalu dengan sayu ditatapnya Rio. Telunjuk di tangan kanannya menunjuk ke arah gundukan tanah di bawah pohon.

Rio mengikuti arah yang ditunjuk Nek Sumirah. Hanya ada sebuah papan sederhana di atas gundukan tanah itu yang bertuliskan… Anggrek Bulan!

Dengan pandangan heran dan menuntut penjelasan, Rio menatap Nek Sumirah. “Apa… apa maksudnya ini?”

“Kau mencari Anggrek. Di sinilah dia.”

“Tapi…”

“Dua hari yang lalu Anggrek gantung diri di kamarnya. Di dinding kamarnya ada terukir namamu…”

========================

BEBERAPA hari sebelumnya, di saat udara malam terasa begitu dingin dan langit kelam seutuhnya, Anggrek duduk di atas sebuah kursi reyot di hadapan jendela di rumah neneknya. Matanya menatap lurus ke kegelapan malam. Tak ada binar maupun keceriaan dalam mata bulat yang indah itu. Yang tertinggal hanyalah keputusasaan.

Air mata meleleh ke pipinya. Bibirnya bergetar menahan tangis. Setiap hari dalam sebulan ini, hanya inilah yang dilakukannya. Menunggu di sini dan menangis. Berharap ia akan melihat bayangan itu  datang. Tersenyum ke arahnya. Merentangkan tangan untuk menyambutnya. Dan membebaskannya dari ketersiksaan ini.

Sayangnya, yang diimpikan Anggrek tak jua terwujud. Ia mulai merasa lelah menanti. Entah telah berapa banyak air matanya yang  mengalir. Ia bahkan telah lupa akan detik-detik yang dilaluinya. Otaknya tak sanggup berpikir. Segalanya dalam hidup Anggrek diselimuti bayangan gelap. Masa depan tak terbayang lagi. Bahkan ia pun tak tahu cara menjalani yang harus dijalaninya kini.

“Rio…” desahnya dengan suara parau bergalau tangis. Hingga sekarang ia masih belum percaya, bagaimana mungkin Rio yang selalu menjadi malaikat pelindungnya bisa menyakitinya seperti ini.

Benaknya masih bisa mengingat cara Rio manatapnya malam itu. Dalam mata yang biasanya selalu bersorot lembut itu, ia melihat ada sesuatu yang lain. Kecewa berbaur marah.

“Kenapa, Anggi? Kenapa?” tuntut Rio.

Sama seperti saat ini, malam itu pun Anggrek hanya tertunduk sambil menangis. “Maaf, Mas…” rintihnya dengan suara tak jelas.

“Kenapa tidak cerita dari dulu, Anggi?”

“Tidak bisa!” potong Anggrek putus asa. “Kalau dari dulu aku cerita, aku takut tak akan pernah mendapat kesempatan untuk dicintai Mas…”

“Jangan bohongi aku! Kalau Mama tidak pernah menyelidiki siapa dirimu sebenarnya, sampai matipun kau pasti tutup mulut!”

“Tidak!” bantah Anggrek. Ia bangkit dari tempatnya duduk. “Aku bersumpah, Mas. Aku memang berencana menceritakan semuanya. Bahkan lebih daripada yang diketahui orang tua Mas. Aku hanya… menunggu saat yang tepat.”

“Kapan? Setelah kita menikah. Lalu sudah terlambat bagi ku untuk mundur?” tandas Rio tajam.

“Mas! Aku tidak pernah bermaksud untuk menjebakmu seperti sangkaan orang tua Mas. Aku benar-benar mencintai…”

“Sudahlah Anggi,” cetus Rio tak sabar. “Lebih baik sekarang aku antarkan kamu pulang.”

“Tidak perlu, Mas, “ Anggi menyusut air matanya. “Aku akan pulang sendiri.”

“Anggi…” Rio memanggilnya pelan. “Kau… apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

Anggrek berbalik. “Aku akan ke rumah nenekku, Mas. Aku akan menunggu Mas di sana. Kalau Mas tidak datang juga… maka tak perlu katakan apapun, aku sudah tahu keputusan Mas. Tapi bila suatu saat Mas datang untuk menjemputku, aku akan lakukan apapun untuk membuat Mas tetap di sisiku…”

Malam itu, Anggrek benar-benar berharap. Ketika ia berbalik dan melangkah pergi, Rio akan mengejarnya. Memeluknya dari belakang. Dan menghalangi niatnya untuk pergi.

Tapi tak ada apapun yang terjadi. Ia pulang sendiri naik bis. Rio bahkan tak memaksa untuk mengantarnya pulang sekalipun tampangnya yang menyedihkan dan kacau benar-benar mengundang perhatian orang dan pakaian pesta yang dikenakannya bisa mengundang pria-pria bajingan di jalanan.

Padahal seharusnya, hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan. Di pesta ulang tahun Rio, ia akan diperkenalkan sebagai tunangan resmi. Namun sebelum pesta dimulai, ia dipanggil kedua orang tua Rio. Dengan pandangan menuduh, mereka menghakiminya. Ia tak bisa apa-apa lagi. Semua bukti telah ada di hadapan mereka. Dalam sekejap mata, ia telah dibuang. Diusir pergi dari arena pesta. Dari rumah mewah mereka.

Ia tidak menyalahkan Rio. Tidak juga menyalahkan keputusan Rio untuk membiarkannya pergi. Tapi ia selalu berharap Rio akan sadar. Sadar bahwa ia tak pernah bermaksud membohonginya. Apalagi sampai menjebaknya. Lalu Rio akan datang menjemputnya. Tak peduli sekalipun banyak hal yang merintangi cinta mereka…

Cinta… benarkah ada cinta? Benarkah itulah yang dirasakan Rio padanya? Atau semua hanya semu belaka dan ternyata cinta itu hanya dirasakannya sendiri? Mungkin saja segala keindahan yang pernah dirasakannya bersama Rio hanyalah berada dalam khayalannya sendiri. Mungkin karena terlalu mencintai orang di sampingnya ia menjadi buta dan tak melihat bahwa sebenarnya sama seperti dulu ia hanya dianggap sebagai barang rongsokan yang tak berarti…

Malam itu, sekalipun tahu ia bisa saja diganggu orang-orang di jalanan, Rio tidak berkeras untuk mengantarnya pulang. Mungkin karena Rio telah sadar bahwa dirinya tak pantas untuk dicintai dan ia pasti sudah biasa dengan kehidupan liar. Karena dari sanalah ia berasal….

Anggrek tertunduk. Memikirkan hal itu semakin mencabik-cabik hatinya. Ini bukan baru sekali. Rio adalah laki-laki ketiga yang meninggalkannya begitu tahu keadaan yang sebenarnya. Tapi yang dulu tak pernah sesakit ini. Rio lebih dicintainya dari siapapun. Dan dulu… ia selalu menganggap Rio-lah yang paling bisa mencintainya. Kehilangan Rio adalah derita paling besar.

Air matanya mengalir kian deras. Pandangannya semakin kabur. Inilah hidup seorang Anggrek Bulan. Sampai kapanpun tak kan pernah ada kebahagiaan yang  bertahan lama untuknya. Bahagia, masa depan, dan cinta itu hanya ada di angan-angan. Terlalu tinggi… terlalu jauh untuk digapai…

Dalam tangisnya, Anggrek kemudian bangkit. Tak ada gunanya menanti. Rio tak akan pernah datang. Dengan perlahan ia berjalan menuju kamar, mengunci pintu, lalu berbaring di tempat tidur sambil menciumi cincin tunangan yang diberikan Rio. Dibayangkannya Rio berlari mendapati dirinya dan mengatakan… dirinya masih berarti… masih berharga…

Dini hari ia terbangun. Dengan mata cincinnya ia mengukir nama Rio di dinding kamar. Air matanya telah kering. Perasaannya pun telah membatu. Setelah itu, dengan tenang ia keluar kamar. Lalu mencari tali timba. Ketika kembali ke kamarnya, ia menjalin tali itu sedemikian rupa. Dengan menggunakan kursi, ia mengikatkan tali itu di sebuah kayu di langit-langit yang telah terbuka.

Bayangan masa kecil, masa-masa suram yang pernah dilaluinya, termasuk saat-saat yang dilaluinya bersama Rio berkecamuk di benaknya. Hinaan orang-orang kampung. Cacian mereka yang menjadi santapannya sejak kecil. Juga kata-kata pedas yang dilontarkan orang tua Rio terngiang di telinganya.

Namun tak ada lagi yang dipikirkan ataupun diingat Anggrek ketika kemudian ia memasukkan kepalanya di lingkaran tali itu. Lalu mendorong kursi tempatnya berpijak. Dan mengakhiri hidupnya…

========================

“YANG memberinya nama Anggrek Bulan itu saya,” Nek Sumirah mulai berkisah setelah Rio bisa menenangkan diri dan mereka telah berada kembali dalam rumah. “Harapan saya dengan latar belakangnya yang hitam, Anggrek bisa hidup pada jalan yang putih… seputih namanya.”

Nek Sumirah kemudian bangkit lalu mengambilkan air untuk Rio. Dengan tangan gemetar, diulurkannya gelas berisi air untuk Rio. Rio menerimanya. Tapi sama sekali tidak menyentuh isinya.

“Waktu berumur dua puluh tahun setelah ditinggalkan suaminya, anak saya pergi ke kota. Katanya mau mencari hidup yang lebih baik. Tapi kata orang-orang, anak saya jadi pelacur di sana. Beberapa tahun kemudian dia kembali dengan membawa bayi yang masih merah. Anggrek. Saya mengurusnya dengan baik. Karena dia anak yang baik pula. Tak pernah mengeluh sekalipun teman-temannya mengejek dia anak pelacur dan orang-orang kampung mengatakan dia anak haram. Waktu berumur dua belas, ibunya datang lagi. Ia mengambil Anggrek. Walaupun tak pernah bilang, saya tahu alasannya. Dia sudah mulai tua dan bosnya ingin wajah baru. Tahu bahwa Anggrek bisa menjadi lebih cantik darinya, ia memilih Anggrek…”

Sampai di situ, Nek Sumirah menangis lagi. Mungkin itulah saat paling berat baginya. Ketika ia harus menghadapi kenyataan cucu yang sangat disayanginya tak akan lagi berada pada jalan yang putih. Seperti harapannya…

Rio memandangi Nek Sumirah lekat. Rasa iba mengalir di hatinya. Bila dilihat lebih lama, Anggi mirip dengan neneknya. Rio bisa membayangkan, ibu Anggi pun pasti memiliki kecantikan yang sama. Ketika meneliti wajah Nek Sumirah, Rio pun mengerti darimana Anggi memperoleh kulit putih itu. Sepertinya Nek Sumirah berdarah campuran. Hal yang seperti itu sering terjadi di masa penjajahan Belanda dulu. Pantas saja kalau hidung mereka mancung dengan mata bulat besar.

“Lima tahun kemudian Anggrek kembali,” Nek Sumirah mulai lagi. “Ia minta perlindungan. Ia sudah jijik dengan cara hidup yang dipaksakan padanya. Anak saya menyusul kemari. Dipaksanya Anggrek untuk kembali. Sambil merintih, Anggrek berlutut mohon pengasihan. Walau tak pernah dikatakan, saya tahu. Saat itu untuk pertama kalinya, naluri keibuan anak saya muncul. Ia tidak lagi memaksa Anggrek. Tak peduli sekalipun bosnya bisa marah besar. Hari itu juga dia pergi. Dua minggu kemudian ada orang membawa kabar.  Anak saya ditemukan tewas di pinggir rel kereta api.”

Rio terlongo. Ia ingin menanggapi. Tapi tak tahu harus berkata apa. Nek Sumirah sendiri terlihat tenang. Sepertinya ia sudah lama melupakan rasa sakit karena kehilangan anaknya. Mungkin bagi Nek Sumirah, anaknya telah lama mati sejak ia memutuskan menjual diri.

“Meski diam, saya tahu Anggrek merasa sangat bersalah. Ia tak pernah membenci ibunya. Tapi anak itu tetap berusaha bangkit. Hingga ia menjadi Anggrek seperti yang kau kenal. Pintar. Bisa bekerja dengan baik.”

Nek Sumirah benar. Anggi memang pintar. Anggi bekerja di perusahaan keluarganya sejak dua tahun sebelum ia sendiri membantu mengurus perusahaan itu. Ia menjabat di bagian Humas. Rio tersenyum pahit. Anggi memang paling bisa menarik simpati orang.

“Sebulan yang lalu waktu dia datang, saya tahu sesuatu yang buruk lagi-lagi telah menimpanya. Dia begitu kacau. Sejak hari pertama datang yang dilakukannya hanya duduk di depan jendela itu. Dia pasti sedang menantimu. Anggrek tak pernah cerita apapun. Dia menyimpan semuanya sendiri. Hingga akhirnya saya temukan dia…” suara Nek Sumirah terbata menahan tangis. “Saat itu, hanya ada tiga orang yang membantu saya. Yang lainnya tak ada yang mau. Bahkan melihatpun mereka enggan. Bagi saya itu lebih baik. Mereka tak perlu tahu apa-apa. Karena mereka memang tidak tahu apa-apa tentang Anggrek…”

Rio berdiri. Matanya kembali memerah. “Tapi… kenapa dia begitu terburu-buru? Kenapa tidak terus menunggu saya beberapa hari lagi?” desah Rio gelisah.

Nek Sumirah tersenyum sinis. “Bagi orang yang menunggu dalam keputusasaan, bahkan sedetik pun akan terasa terlalu lama,” tandasnya getir. “Dia sudah menanti lebih lama daripada yang bisa dilakukan orang lain. Dan dia pun sudah menanggung derita lebih besar daripada yang bisa ditanggung orang lain. Sebelum kau, sudah pernah ada dua laki-laki yang meninggalkannya begitu Anggrek menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya. Namun begitu kau pun melakukan hal yang sama, ia sudah tak punya kekuatan untuk bertahan!”

Tak ada lagi yang bisa dikatakan Rio. Perasaan hancur. Kehilangan. Dan rasa bersalah bergantian merayapi hatinya. Ia sadar. Tak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Lebih baik ia pergi. Tanpa berkata apa-apa, Rio berbalik. Dengan langkah gontai, ditinggalkannya rumah itu menuju mobil yang diparkirnya di luar sana.

Ketika menghampiri mobilnya, Rio secara tak sengaja menangkap bayangan orang-orang yang mengintip dari rumah mereka masing-masing. Tiba-tiba ia merasa seperti sedang diadili. Orang-orang itu pasti tahu apa yang terjadi. Mereka pasti telah mendengar tentang nama yang terukir di dinding kamar Anggi. Dan mereka pasti sudah menduga siapa.

Dengan perasaan tak enak, Rio segera masuk ke dalam mobilnya. Diputarnya mobil itu lalu segera berlalu. Meninggalkan debu di belakangnya.

Sepeninggal Rio, Nek Sumirah menangis lagi. Hanya satu hal yang disesalinya. Kenapa kedua orang yang paling dikasihinya selalu mengambil keputusan sendiri. Ketika mereka hidup serba kekurangan dan putus asa, anaknya memutuskan sendiri mengambil jalan hidup yang gelap. Lalu kini, ketika menghadapi kenyataan paling pahit, cucunya pun memutuskan sendiri untuk mengakhiri hidup. Mengapa mereka tak pernah bertanya padanya, apa yang bisa dilakukannya untuk mereka? Mengapa mereka tak pernah mengijinkannya untuk membantu mereka? Padahal apapun akan dilakukannya… demi kebahagiaan mereka!

Masih dengan air mata di pipi keriputnya, Nek Sumirah bangkit. Lalu menutup pintu. Sekaligus menutup diri dari pandangan orang-orang di luar sana…

========================

SEJAM kemudian setelah berada di jalan yang mulus, Rio baru bisa memikirkan kembali semuanya. Begitu kesadarannya timbul bahwa kini ia telah kehilangan Anggi selamanya, air mata Rio kembali menggenang. Wajahnya memucat.

Ia tahu. Ia tak sanggup tanpa Anggi. Apalagi dengan cara seperti ini. Anggi mengakhiri sendiri hidupnya. Dan dialah yang telah mendorong Anggi melakukan itu!

Padahal, setelah Anggi meninggalkannya malam itu, ia justru merasa lebih mencintai Anggi lebih daripada sebelumnya. Saat itu ia baru mengerti apa arti cinta. Cinta yang lebih terasa setelah kita telah menyakiti dan kehilangan orang yang kita cintai. Dan kini… Anggi benar-benar telah pergi! Rio kehilangan cintanya!

Yang tinggal hanya penyesalan. Andai malam itu dia lebih bijaksana. Tidak menyudutkan Anggi dengan kejam. Seandainya ia menghalangi Anggi untuk pergi. Dan andaikan pula ia tidak menunggu terlalu lama. Mungkin ia masih bisa merubah keadaan. Anggi tidak bersalah. Dialah yang bersalah…

“Anggi…” desah Rio pelan. Disisirnya rambut dengan jemari kanannya. Ia sadar sepenuhnya. Hatinya hancur. Entah bagaimana ia bisa hidup di atas puing-puing seperti ini…

Ingin rasanya Rio berteriak keras-keras. Meminta Anggi datang kembali. Untuk membalikkan keadaan. Untuk menjalin kisah mereka yang baru. Dan mengembalikan kembali jiwanya yang hancur.

“Anggi…!” desah Rio lagi. Kali ini setengah merintih. Dan tepat pada saat ia melihat benda putih dan ringan berjatuhan dari langit.

Semula dikiranya rintik hujan. Tapi ternyata tidak. Itu adalah kelopak bunga. Anggrek bulan! Kelopak-kelopak itu terus jatuh. Semakin lama semakin banyak. Rio tegang menatapnya. Entah mengapa, kata-kata Anggi yang terakhir padanya kembali terngiang…

“Aku tunggu kamu, Mas. Kalau Mas tidak datang, tak perlu berkata apa-apa, aku sudah tahu apa keputusan Mas. Tapi bila suatu hari Mas datang untuk menjemputku, aku akan lakukan apapun untuk membuat Mas tetap di sisiku…”

Kepala Rio tiba-tiba pusing. Senyum Anggi membayang di hadapannya. Seolah dia datang untuk memenuhi janjinya. Jalanan di hadapan Rio tak terlihat lagi. Tertutup oleh taburan kelopak anggrek bulan di kaca depan jendela mobilnya. Pandangan Rio terus mengabur. Hingga tak melihat jalan yang membelok di hadapannya. Mobil Rio berjalan lurus. Menghantam pembatas jalan. Lalu meluncur ke dalam jurang yang terjal dan dalam…

Esoknya, orang-orang mengangkat puing-puing mobil Rio dari dalam jurang. Dan menemukan tubuhnya yang hancur remuk. Dengan sebuah kelopak anggrek bulan di atas dadanya…

 

 ¯AYUKO¯

 ——————————————————————————————————

PS:

Ayuko adalah nick yang saya pakai sejak jaman SMP dan merupakan singkatan dari nama lengkap saya. Cerita ini memang agak aneh, gara-garanya waktu itu saya keseringan nonton Beyond Belief, hehehehe… Pesan moralnya janganlah berputus asa yaa…hiduplah selalu dekat dengan Tuhan supaya setiap masalah apapun yang datang jangan sampai membuat kita ingin mengakhiri hidup, toh pada akhirnya keputusan bodoh itu bukanlah menjadi jalan keluar atas masalah yang kita hadapi ;). Coba kalo si Anggrek gak keburu bunuh diri, pasti sekarang ia sudah berbahagia bersama Rio, hehehehehehe…..

Iklan

32 thoughts on “Anggrek Bulan

  1. mama raja bagus tuh tulisannya..walah kenapa nggak coba di kirim ke redaktur majalah gitu atau tabloid, nova tuh suka ada cerpen…untuk pemula bagus banget mbak alur ceritanya…idenya…mantap pokoknya..*atau jangan jangan emang penulis fiksi neh mbak allisa…asli bagus, tapi sayang sad ending..hiks..sedih baca endingnya..
    hmm semoga bisa diambil hikmah dari cerita diatas…
    sip sip..2 jempol untuk fiksi mama raja..:)

    1. Wah, syukurlah mbak kalo ternyata bagus 😀

      Iya, endingnya menyedihkan, gara-gara suka nonton Beyond Belief 😀

      Dikirim ke majalah? Hehehe…belum tau mam saya bisa pede ato gak 😀

  2. udah selesai baca….

    agak nangis mewek…..dada sesak…
    kenapa juga anggi gak nunggu
    tapi kalo suruh nunggu juga siapa tahannnn

    mengingat masa lalu yang menunggu juga, 2.5 tahun dan 3 tahun adalah 2 pengalaman menunggu yang lamaaa

    1. Hihihi…jangan mewek dong da 😀

      Nunggunya lama banget tuh da, sampe bertahun2 gitu…untung semuanya berakhir indah yaaa 🙂

      1. berakhir indah melepaskan semuanyaaaaa hahahahahahaha
        karena di saat 2 jendela itu tetap tertutup rapat dan berhenti mendorongnya ternyata pintu kebahagiaan mulai terbuka dengan sendirinya…

    1. Tadinya endingnya juga ku rancang cuma si Ario balik dalam rasa sedih dan bersalah gitu, Dit, tapiii…gara-gara terpengaruh Beyon Belief aku jadinya ngetik akhirnya seperti yang di atas itu…hihihihi

    1. Hahahaha…sedih ya? Seneeenngg..dibilang bagus tulisannya 😀

      Samaaa aku juga suka lagu anggrek bulan itu, udah sejak kecil dengernya, karena itu lagu lama kan? cuma dinyanyiin ulang sama chrisye dan sophie 😀

    1. Eh iya ya, harusnya ada foto anggrek bulannya ya biar makin bagus 😀

      Btw, mam, diriku terharu lho seorang mam Hilsya mau membaca tulisanku yang panjang gini sampe habis….terharuuuuu….hahahaha

  3. Kalau itu adalah tulisan seorang pemula, saya pikir sangat bagus Mba…..cuma sayang saya lebih suka cerita yang happy ending……… 🙂
    Semoga kelak ada cerita seperti yang saya harapkan,….#sabar menunggu

    1. Sama, pak, saya juga sebenarnya lebih suka yang happy ending, tapi entah kenapa ya pak, pengalaman saya bikin cerita fiksi, justru endingnya yang sejak awal udah dirancang tuh suka berubah saat kita menulis, keknya jadinya endingnya mengikuti alur yang seringnya tercipta di luar rencana 😀

      Saya punya kok pak stok cerita fiksi yang happy ending, kapan2 kalo keberaniannya muncul lagi, bakal saya publish di sini 🙂

  4. dari judul postingannya aku pikir mamanya Raja punya hobi baru nih nanem anggrek 😀
    tp pas baca cerpennya..hiks..malah ngambil tissue..mewek hehehe..
    bagus bgt Lis..bisa kena bgt suasananya..
    ditunggu ya cerita yg lainnya..kl udah byk dibukuin aja 😉
    thanks ya aku baca sambil makan siang nih

  5. Bagussss… bagus…. bagus banget, serasa baca tulisannya penulis beneran, serasa baca cerpennya Kurnia Effendi…. hehehehehehehe……

    1. Aaahhh… Enno bisa aja, diriku kan jadi ge-er…hihihihi… Tapi, btw Kurnia Effendi itu sapa No? Penulis cerpen kah?

  6. waktu baca judulnya sekilas tadi malam tak kira ada foto anggrek bulan di kebunmu xixixixi ternyata cerita fiksi, jadi bacanya hari ini.

    terus terang aku nggak bisa menilai cerpennya, cuma mbaca dari awal sampai akhir rasanya kok ya ikut gimana gitu ya krn tokohnya mati dgn cara menggenaskan kecuali si nenek …. apalagi si Anggi yg nggantung diri itu serem ( mbayangin sih ya ) jadi yg kebayang di benakku skrg kok ya malah sinetron ya ? 😀 ….. pas rasanya kalau dibuat cerita sinetron, tapi dr awalnya mulai dr kehidupan ibunya Anggrek, terus sampai ke Anggi dan Rio , kayaknya asyik ya, byk bumbunya , dr ttg bosnya itu, ibunya, terus kisah cinta Anggi yg sampai Rio wuuiii .. pasti seru sinetronnya .. 🙂

    1. Hahahahaha takutnya kalo jadi sinetron malah gak tamat2 macam Cinta Fitri, mbak hahahaha *eh, Cinta Fitri sebenarnya udah tamat belom yak??? :mrgreen:*

      Kalo yang nggantung diri itu dibayangin ya emang jadinya serem, mbak, hihihihi… Saya aja gak berani ngebayanginnya 😀

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s