The Changes (Part II)

Setelah tinggal di kost-an ini, saya pindah ke rumah sewaan…

Rumah Kontrak, Jalan Radial

Akhir tahun 2007, setelah pertunangan kami di 18 Mei 2007, kami berkonsentrasi penuh pada pernikahan yang akan diselenggarakan di bulan Maret tahun berikutnya. Salah satu persiapan yang kami lakukan adalah mencari rumah kontrak. Waktu itu memang mampunya ngontrak rumah dulu. Belum mampu bok beli rumah sendiri. Duit dari mane jek??? Jaman itu walo udah bergaji penuh, tapi teuteup itungannya masih kere, apalagi masih harus mikirin biaya nikah. Huhuhuhu…berdarah-darah dah!

Rumah kontrak yang kami pengen sih gak muluk-muluk yah. Hanya pertama ya lokasinya aman dan ada tetangganya, deket sama kantor, dan kalo bisa rumahnya agak baruan dikit biar keliatan seger.

Tapi ternyataa…bukannya mudah menemukan rumah kontrak yang pas. Apalagi yang deket kantor. Rata-rata penuh dan harganya juga cenderung mihil, secara di daerah perkantoran.

Beberapa kali kami survey rumah-rumah yang katanya untuk disewakan. Gak ada yang cucok. Malah pernah nyasar ke rumah bertipe horor. Kenapa horor??? Iyaaa soalnya banyak tikusnya di lotengnya, sementara langit-langitnya pun udah banyak yang bocor. Alamaaaakkk…gak kebayang kalo saya tinggal di situ, temenan sama tikus tiap harinya, sementara saya anti banget sama tikus. Hiiiyyyyy!!!

Nah, suatu saat, sekitar pertengahan Oktober 2007, saya ikut dalam tim paduan suara PLN S2JB yang waktu itu mo ikut lomba paduan suara regional Sumatera di Batam (kalo di Manado, suara saya memang itungannya hancur, tapi kalo di sini ternyata suara macam ini masih bisa lolos jadi tim paduan suara :mrgreen: ).

Nah, saat paduan suara itu, saya bertemu dengan ibu Yus yang adalah penata rias tim kami (khusus untuk anggota tim yang cewek yah, kalo yang cowok mah silakan deh dandan sendiri 😀 ). Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan ibu Yus ini, taulah saya kalo adeknya si ibu lagi membangun rumah dan rencananya rumah itu bakal dikontrakkan soalnya adeknya itu tinggalnya di Lampung.

Alamatnya di mana? Di jalan Radial depan apotik Adhitia…. -> Oooo…itu mah jalan kaki aja dari kantor!

Rumahnya berapa kamar? Luas bangunannya berapa? Dua kamar, luas bangunannya total 45 meter persegi -> Waaahhhh…lumayan dong yaaa!!!

Harganya???? –tiiiitttt– rupiah saja per tahunnya… -> Hoooreeee!!! Itu mah sesuai sama budget!

Langsung deh, setelah saya tiba di Palembang, ngajak si Abang untuk survey ke situ. Rumahnya memang masuk ke dalam gang yang hanya bisa dilalui motor, tapi sekali liat kami langsung jatuh cinta sama rumah ini!

Waktu kami ke sana, rumah ini masih dalam proses pembangunan, belom selesai bener. Kata ibu Yus, rumah itu bakal selesai sekitar sebulan-dua bulan lagi. Pas dong, saya memang berencana pindah ke rumah sewaan mulai Januari 2008.

Yang paling membuat kami jatuh cintrong sama rumah ini adalah:

Pertama, karena aromanya yang masih baru. Berasa kayak yang pengantin baru masuk ke rumah baru deh! Rumah ini sama sekali belum pernah ditinggali, bahkan oleh pemiliknya, yah secara memang masih baru dibangun sih ya.

Kedua, ukurannya pas banget untuk pengantin baru. Gak gede, tapi gak juga mungil-mungil banget.

Ketiga, tetangganya deket-deket banget. Bukan deket lagi sih ya judulnya, tapi nempelll!!! Rumah ini memang bukan rumah bedeng, tapi berada dalam ‘kompleks perumahan khusus untuk kakak beradik anak dari H. Cek Molek (namanya khas Palembang banget tuh 😀 ). Jadi ceritanya, bapak Haji yang adalah veteran pejuang kemerdekaan ini membagi-bagi tanah di belakang rumahnya untuk keenam orang anaknya. Satu anak dapat satu kapling tanah. Nah, setiap anaknya itu akhirnya membangun rumah di tanah pemberian orang tuanya itu. Gerbang masuknya ya cuma satu saja. Jadi kesannya seperti satu komplek aja, tapi hanya terdiri dari beberapa rumah. Berasa aman banget dah tinggal di situ. Kalo ada apa-apa, tinggal tereak aja, tetangganya pasti denger, hehehe…

Jadilah, langsung deal sama pemiliknya lewat ibu Yus. Dan akhirnya, di tanggal 30 Desember 2007 setelah sebelumnya mudik ke Manado dalam rangka Natal sekaligus foto prewed, kami pun memulai acara kepindahan ke rumah ini. Meski kamar kost saya dulu kecil, tapi ternyata lumayan banyak juga barang-barang yang musti diangkut dari situ. Kami menyewa mobil pick-up dan pindah-pindahannya dibantu oleh tiga orang siswa PKL di kantor. Terima kasih banyak ya adek-adek 🙂

Dan inilah dia penampakan rumah sewaan kami itu:

Rumah Sewaan Kami Tercinta 🙂

Yang terlihat di foto di atas adalah tampak depan rumah itu. Diambil di pagi pertama setelah kepindahan saya ke situ alias pada tanggal 31 Desember 2007. Saat itu memang statusnya baru saya yang pindah ke rumah sewaan ini. Kan ceritanya waktu itu belum nikah, jadinya yah tempat tinggal untuk si Abang kalo lagi di Palembang ya masih tetep di kost-annya.

Di gambar atas juga terlihat penampakan ruang tamunya. Kursi tamu beserta mejanya itu milik Ibu Yus yang tidak terpakai lagi di rumahnya. Walopun modelnya jadul, tapi kami bersyukur kok dengan adanya kursi dan meja tamu ini, jadinya gak perlu beli lagi kan.

Nah, untuk furniture yang lain, kami terpaksa beli karena tidak disediakan di sini. Sejak awal setuju sama rumah sewaan ini, kami sudah nyicil beli barang-barang untuk mengisi rumah sewaan ini. Barang-barang yang waktu itu kami beli adalah spring bed, meja rias, lemari pakaian, meja makan, rak buku, rak TV + TV + DVD player, meja belajar, kulkas, kompor gas, piring + gelas + sendok + peralatan masak, kipas angin, juga AC. Untuk barang-barang besar yang gak muat di kamar kost kami, kami membelinya dengan sistem DP dulu, nanti pas tanggal 30 Desember baru dianter ke alamat rumah sewaan kami.

Dan inilah dia foto-fotonya.

Gambar di atas itu adalah ruang makan dan dapurnya yang mungil sangat. Satu-satunya barang yang sudah tewas adalah kulkas satu pintu itu. Rusak setelah kami tinggal di rumah yang sekarang ini gara-gara bagian freezer-nya pernah dicungkil pake pisau oleh mbak Santi 😦

Selebihnya, semua masih terpakai hingga sekarang. Nah, di depan meja makan itu adalah rak buku. Di atas rak itu ada banyak foto kami, terutama foto-foto prewed 😀

Nah, kalo di bawah ini adalah gambar kamar tidurnya.

Meja belajar itu letaknya di kamar depan, bukan di kamar tidur utama. Trus di sampingnya ada lemari pakaian yang sudah saya beli jauh sebelumnya, sejak masih ngekos. Setelah pindah ke rumah ini, lemari itu saya fungsikan menjadi lemari tas! Lemari itu sekarang sudah kami hibahkan ke tukang yang merenovasi rumah kami karena sudah tak terpakai lagi.

Di kamar tidurnya sendiri hanya ada tempat tidur, lemari pakaian, rak mini, sama meja rias. Semuanya kami beli pas lagi year end sale! Uhhuuuyyy!!!

Semuanya, dalam kamar tidur utama ini masih terpakai hingga hari ini dan masih menjadi penghuni kamar tidur utama kami 🙂

Jika ditanya, banyak gak sih kenangan di rumah ini? Waahhh….saya sampai bingung mo ceritain kenangan yang mana. Di rumah inilah kami awalnya membentuk rumah tangga kami. Di rumah inilah saya pertama kali memahami arti berumah tangga yang ternyata harus penuh dengan penyesuaian diri, pengertian, dan kompromi. Di sini juga saya menjalani masa kehamilan pertama. Dan di sinilah Raja menjalani masa 6 bulan pertama di kehidupannya. Awal dari keluarga P. Samosir / A. Krones br. Siregar terjadi di rumah ini!

Mengingat rumah ini, saya akan terkenang pada malam di mana saya semalaman menangis karena persoalan undangan nikah yang bukan saja tak sesuai dengan harapan, tapi hancuuurrr sehancur-hancurnya. Semalaman nangis ala drama queen yang super lebay seolah dunia akan berakhir oleh karena si undangan jelek itu. Besoknya semua keluarga sepakat: menuntut ganti rugi dari percetakan yang bersangkutan; ganti desain undangan; lalu cari percetakan lain yang sudah terbukti bonafid!

Saya juga akan mengingat betapa tak romantisnya kami melalui hari pertama di rumah ini sebagai suami dan istri. Ya gimana gak, sabtu tiba di Palembang sehabis cuti nikah dan menemukan rumah pada kotor, lembab, berjamur karena habis ditinggal selama sebulan dan ternyata di Palembang hujan terus selama itu. Jadilah seharian capek-capek tiba di Palembang hanya membersihkan seisi rumah dan nyuciin lagi semua baju dalam lemari… Parahnya, minggu besoknya suami udah harus kembali ke Lahat….hiiikkksss…

Dan yang paling saya ingat adalah bagaimana saya melalui hari-hari yang sepi di rumah ini. Sendirian tanpa keluarga dan suami karena mereka semua jauh. Dalam kondisi sedang hamil. Setiap pulang mendapati rumah yang kosong. Melewati masa awal kehamilan yang sulit sendirian. Makan sendiri. Tidur sendiri.  All by myself!

Di rumah ini juga saya pertama kali belajar menjadi ibu sejak Raja masih dalam kandungan saya. Di kamar itu, setiap malam saya berbicara dengan Raja, bernyanyi dan berdoa untuknya, mengajarkannya bagaimana merespon stimulasi yang saya  berikan melalui tendangan kecilnya. Di sini juga saya pertama kali belajar menyesuaikan diri akan kehadiran seorang bayi dengan jam tidur yang tidak teratur dan menuntut banyak sekali energi dari saya. Di sini saya pertama kali mengerti arti pengorbanan seorang ibu, yang meski lelah dan tak ingin, tapi akhirnya melakukan semua demi anaknya dengan sukacita. Di sini, begitu banyak hal pertama yang terjadi pada kami…

Kekurangan terbesar dari tempat tinggal ini yang membuat kami berkeputusan untuk segera angkat kaki dari sini adalah soal ketersediaan air. Sama seperti kebanyakan tempat di Palembang, daerah rumah sewaan ini mengandalkan PAM (baca : Perusahaan Air Mandi) untuk pasokan air bersihnya. Masalah muncul ketika aliran airnya tidaklah deras dan hanya mengalir antara pukul 22.00 – 04.00. Aliran airnya yang tidak deras membuat penampungan di atas rumah tak berfungsi. Kalo ditarik pake pompa malah kebanyakan lumpur aja yang ketarik. Akhirnya ember-ember dan bak mandi pun jadi andalan untuk menampung air.

Itupun bukannya selalu lancar airnya setiap hari. Pernah kejadian hampir lima hari berturut-turut air tak mengalir ke rumah ini. Oh no!!!

Kalo belum punya bayi sih that’s not a big problem lah ya. Nah, kalo yang baru aja punya bayi seperti kami, duh, itu rasanya disaster deh! Masak untuk nyuci popoknya musti ngandalin air galon?? Berapa banyak air galon yang bakal dibutuhkan untuk itu? Siapa yang mo bolak-balik ngangkut galon dari depan gang ke rumah kami ini? Bukannya gak mungkin dan kemudian gak ada jalan sih ya, tapi ya jelas yang kayak gini tuh judulnya nyusahin banget.

Alternatif waktu itu ya hanya dua. Kalo gak nyari rumah kontrak lain, ya berarti beli rumah sendiri.

Alternatif pertama yang duluan diusahakan. Ya habisnya waktu itu belom pede untuk beli rumah. Eh, udah nyari-nyari kemana-mana, gak juga ketemu yang pas. Pernah sekali liat ada yang pas. Tapi maaakkkk harganya 50jeti setahun. Oh tidakkksss!!! *dunia itu sempiiittt, gak taunya pemilik rumah berharga sewaan 50 juta rupiah setahun itu kemudian menjadi salah satu teman blog saya :mrgreen:*

Karena nyari rumah kontrak lain selalu mentok, akhirnya kami mulai memikirkan alternatif kedua yaitu beli rumah sendiri dengan mengamalkan nasehat orang tua : modal pertama untuk beli rumah sendiri adalah NEKAD! Bener juga sih, kebanyakan perhitungan akan bikin kita gak jadi-jadi punya rumah sendiri.

Dan yay, dimulailah proses pencarian rumah itu. Mulai dari mendatangi berbagai pengembang perumahan dan ngecek iklan jual rumah di koran.

Hingga kemudian kami menemukan iklan tentang rumah ini.

Dua minggu setelah survey, langsung deal dan terjadi transaksi di depan notaris.

Setelah itu langsung persiapan pindah.

Dan tepat dua tahun yang lalu, di tanggal 22 Agustus 2009, kami meninggalkan rumah sewaan yang telah menjadi tempat persinggahan kami selama 1 tahun 8 bulan.

Dua tahun yang lalu, dengan dibantu oleh para tukang becak yang selama ini selalu membantu kami, kami mengangkut barang-barang kami ke atas truk. Sebelum matahari tegak di atas, seluruh barang sudah berpindah tempat dari rumah sewaan ke rumah pribadi kami.

Saat kami akan pergi, satu per satu tetangga menyalami kami. Terharu rasanya.

Tapi itulah hidup yah, tak ada sesuatu yang abadi. Datang dan pergi adalah hal yang biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri setiap detiknya dan belajar dari semua peristiwa yang terjadi.

The Changes Part II selesai sampai di sini 😀

Iklan

33 thoughts on “The Changes (Part II)

    1. Bukan karena disiplin sih mam, emang dasar suka banget bikin kenang2an kayak gini. Selalu kebayang enaknya kalo someday bisa mengenang sesuatu dengan masih ada foto2nya 😀

  1. wow …. ceritanya komplit 🙂 …. tapi beruntung ya pertama ngontrak rumah dpt bangunan baru dari foto2nya terlihat rumahnya bersih n rapi … dan beruntung juga nggak hrs lama2 di rumah kontrakkan krn sdh bisa bikin rumah sendiri, salut !!

    sayang ndak ada foto undangan nikah yg bikin nagis sejadi2na .. penasaran kayak apa undangannya ?

    1. Foto undangan nikah itu gak bisa saya publish di sini, mbak. Karena kemarin dari pihak percetakannya itu sudah bertanggung jawab mengembalikan seluruh biaya yang sudah saya bayarkan ke mereka, jadinya desainnya tetap menjadi hak mereka. Takutnya kalo saya publish akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan 😉

  2. Hmm..saya lagi lagi konsentrasi penuh membaca tulisan mama raja ini..rasanya seperti mengulang kejadian saya dulu awal awal mau nikah dan pernikahan…:) berburu rumah kontrakan…dan saya pun masih kontraktor statusnya sampai sekarang karena masih blom ingin menetap dan punya rumah di pulau ini..entah tahun depan..kami juga sedang berdoa mana yang terbaik semoga tuhan memberi jawaban pada saya dan suami untuk ini 🙂
    wah dokumentasi yang apik mama raja..saya pun juga melakukan hal yang sama tapi tidak serapi mama raja kayaknya..:)
    Inilah hidup yah mama raja..berjalan…dah ada yang ngatur..semua akan terasa indah pada waktunya, harus banyak sabar..akhirnya menuai buah yang manis seperti mama raja ini..dari LDR ..sekian tahun sampai kemudian bersatu..:)
    nice posting mam..ada lanjutannya kan 🙂 ditunggu…

    1. Berkonsentrasi penuh bacanya karena ceritanya njlimet ya mam? Hihi..

      Iya mbak, hidup ini terus berjalan dan apapun yang terjadi harus berani kita hadapi.

      Amiiinn…kalo Tuhan berkenan, pasti mama Kinan dan keluarga akan segera punya rumah sendiri di Bintan 😉

  3. I feel U, Mbak. Rumah pertama dimana kita memulai peran cerita sebagai istri dan ibu tentunya gakkan terlupakan. Banyak kenangan yang tertulis di sana. Tapi Mbak Allisa bener, life must go on. Pastinya di rumah yang sekarang ini juga banyak kisah manis yang gak kalah bermakna buat keluarga Mbak Allisa.

    1. Pengennya sih di mana aja selalu terukir kisah manis ya mbak. Tapi sebenarnya sebuah pengalaman yang terasa buruk saat terjadi pun bisa jadi kenangan yang lucu buat ke depannya, iya gak?

    1. Rumah itu mihillll karena emang bagus dan gede banget, Dit. Kami aja yang kepedean pake nanya rumah itu…hihihi

  4. Wah…lagi2 dkumentasi yang ciamik. Perjalanan kita hampir sama, setelah menikah saya juga kontrak rumah. Cuma, masih bagusan rumah kontrakannya mam Allisa, saya dan suami cuma ngontrak sebuah paviliun, dengan 2 kamar, dapur kecil dan kamar mandi. Itupun rumah lama. Baru ketahuan setelah mau keluar, kl yang menempati rumah itu sering diganggu penampakan hiyyyyy.. :D.

    Mam Allisa lumayan juga di kontrakan, saya ngontrak 10 bulan, tp 2 bulan menjelang habis kontrakan pindah ke rumah sendiri. Waktu itu lagi hamil Dita 2 bulan, jadi lagi mual2nya dan lemes2 nya, pindahan deh. Tapi beneran deh, beli rumah itu harus NEKAD tapi dengan perhitungan yang matang ya…

    Ah..malah jadi postingan tersediri di sini. Ayooo lanjut part III mam. can’t wait 🙂

    1. Hiiiyyyy untung ketahuannya setelah gak di situ lagi ya Bund…hihihihi

      Iya sih bund, nekad sih nekad tapi itung-itungan ya tetep jalan juga cuma tetep musti diimbangi dengan nekad itu *apaan sih* biar bisa kejadian niat beli rumahnya :mrgreen:

  5. Betuulll banget, modal utama punya rumah sendiri adalah NEKAD. Aku dulu menjelang nikah udah berburu rumah merk pribadi. Eh, sekarang setelah tiga tahun menikah malah berburu rumah kontrakan… hihihihihi… doain suatu saat nanti punya rumah juga di Lombok yah…

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s