The Changes (Part I)

Perubahan apalagi ke arah yang lebih baik tuh memang selalu menyenangkan yah. Dan sepertinya yang namanya perubahan itu memang amat sangat diperlukan deh. Gak mungkin ada manusia yang betah dengan kondisi yang seperti itu-itu saja. Bukan berarti bosan sih ya, cuma yah apalah enaknya kalo hidup cuma gitu-gitu aja?

Nah, ngomongin soal perubahan, saya pengen cerita nih soal perubahan tempat tinggal saya selama di Palembang sejak Mei tahun 2006. Gak tau kenapa, tiba-tiba pengen cerita aja. Karena ceritanya bakal panjang, jadi saya bagi dalam beberapa bagian saja.

Kost-an Dwikora (Mei 2006 – Desember 2007).

Tempat tinggal pertama saya di Palembang berwujud sebuah kamar kost yang disewakan di lantai dua rumah seorang dokter yang plang praktek dokternya tak pernah berguna soalnya gak pernah buka praktek. Yang pertama kali nemu kost-an ini adalah mama saya. Yupe, waktu hari-hari pertama di Palembang, selagi saya ke kantor, mama saya mengitari daerah sekitar kantor untuk mencari kamar kost untuk putri tercintanya. Terdengar sangat manja dan tak dewasa yah? Tapi saya sama sekali gak malu, malah sangat bangga dengan mama saya ini. Yah, secara saya anak manja kali’ yah, jadi malah gak malu. Kalo buat yang laen, yang kayak gini pasti malu-maluin banget, masak sih udah gede, udah kerja, untuk urusan nyari kost aja masih di-handle sama ortu??? Tapi sekali lagi, buat saya itu bukan hal yang memalukan, melainkan sangat membanggakan :mrgreen:

Waktu mama menemukan tempat ini, kamar-kamar kostnya baruuu aja selesai dibuat. Jadi ceritanya dulu di lantai dua rumah si dokter ini terdapat 4 buah kamar yang gede-gede untuk anak-anaknya. Nah, karena anak-anaknya udah pada merantau, jadilah masing-masing kamar yang ukuran jumbo itu dibagi dua dan disewakan sebagai kamar kost. Selain saya, dua orang teman saya juga ikut nge-kost di sini. Jadilah kami bertiga sebagai penghuni pertama kamar kost-an ini dan dengan demikian berhak atas kamar-kamar terbaik, hehehe…

Kamar saya menghadap ke jalan depan rumah. Ada jendela yang lumayan besar yang membuat saya bisa menikmati cahaya matahari pagi juga menghirup udara pagi yang segar setiap harinya. Saya sangat cinta dengan kamar kost saya yang meskipun sangat sederhana, tapi ini adalah istana pertama saya di Palembang 🙂

Dan beginilah penampakan kamar kost saya yang bernuansa biru, karena sepertinya si dokter empunya rumah ini seneng sama warna biru.

 

Boneka lumba-lumba di atas tempat tidur itu, Sammy namanya, adalah pemberian mantan pacar saya yang sekarang sudah jadi suami saya 😀

Properti milik ibu kost di kamar ini hanya tempat tidur + kasur, kedua buffet dari kayu jati (kalo gak salah sih bahannya dari jati, maklum, saya gak pinter soal meubel ginian 😀 ), meja belajar, sama kipas angin meja. Selebihnya adalah properti milik saya pribadi yang mana hampir semuanya masih terpakai hingga hari ini di rumah. Di antara semua properti saya itu, yang sudah tewas adalah si lemari biru (karena sempat kebanjiran jadi kayu olahannya pada lapuk dan berjamur) juga mini rice cooker itu. Eh, sebenarnya mini rice cooker itu bukannya tewas, tapi dulu sempat dibawa si papa ke kost-annya di Lahat dan sampai sekarang, rice cooker itu masih berada di kamar kostnya di Lahat dan dipakai oleh teman sekamarnya yang hingga hari ini masih menempati kamar kost yang sama. Selebihnya, semua barang-barang itu masih ada dan terpakai, bahkan termasuk selimut pink yang dulu saya beli di Bali juga keset kaki berwarna ungu-kuning itu.

Semua barang yang berada di atas meja belajar itu juga masih ada (kecuali kedua handphone itu, karena keduanya hilang saat saya dirampok 😦 ). Laptop itu yang sekarang dipakai oleh Raja untuk maen game. Printernya juga masih ada di rumah, hanya udah sangat jarang terpakai saja. Buku agenda merah itu, memang sudah tak terpakai lagi karena sudah penuh, tapi hingga hari ini masih tersimpan dengan rapi di dalam laci meja kerja saya di kantor. Selebihnya, seperti speaker, wadah alat tulis, juga alat-alat tulisnya masih ada di rumah hingga sekarang.

Di atas buffet di samping meja belajar, saya letakkan bingkai-bingkai foto untuk mengobati kerinduan pada keluarga dan kekasih hati yang waktu itu jauh…hikkksss… Kadang masih terasa sedihnya saat teringat masa-masa di mana saya sendirian dan kesepian di kamar kost ini. Huhuhuhu…dasar memang cengeng saya ini 😀

Nah, koper biru itu, adalah koper bersejarah. Dengan koper itulah dulu saya pada tanggal 5 Mei 2006, mengangkut barang-barang saya keluar dari rumah orang tua untuk kemudian merantau di tanah Sriwijaya ini…huhuhuhuhu…. Kalo inget saat-saat di mana saya akan pergi itu, rasanya kok masih pengen mewek yah? Saat itu saya belum terbiasa merantau dan hidup jauh dari orang tua, meskipun sudah melalui masa 3 bulan pendidikan di Sukabumi, Jakarta, dan Semarang, tapi teuteup aja, saya ngerasa belum siap. Padahal waktu itu kan ceritanya dianterin sama mama saya, tapi tetep, pas di pesawat saya nangis waktu lihat kota Manado tercinta di bawah sana. Tiba-tiba aja semua kenangan masa kecil kembali lagi di ingatan dan seketika itu pula saya merasa sangat rindu dengan kota kelahiran saya itu. Segitu aja saya sudah mewek, apalagi pas mama dan papa saya yang waktu itu ikut nyusul ke Palembang kemudian kembali ke Manado, meninggalkan saya di Palembang. Sendiri. Tanpa keluarga. Dan dalam kondisi hati yang bimbang soal pilihan hidup. Saya nangis senangis-nangisnya setelah mereka pergi. Tiba-tiba aja hati saya terasa sangat hampa, saya sampai gemetar ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi dengan saya di sini kelak. Ketakutan yang sia-sia karena ternyata toh hingga hari ini oleh karena penyertaan Tuhan saya tetap baik-baik saja. Tapi namanya anak manja dan cengeng, ya begitulah jadinya. Walopun luarnya dikemas sedemikian rupa agar terlihat kuat dan berani, tetep aja lembek di dalamnya :mrgreen:

Ok deh, kita balik ke cerita soal kamar kost saya ini. Seperti terlihat di gambar di atas, di samping rak rias mini, terdapat beberapa perkakas dapur. Kompor yang saya punya di kamar ini hanyalah sebuah kompor listrik yang saya pakai untuk masak oatmeal yang jadi menu sarapan andalan setiap paginya, bikin mie instant, atau bikin telur ceplok yang selalu gagal gak jelas bentuknya. Eh, pernah juga ding saya goreng nugget di situ. Waktu awal-awal ngekost di sini, ibu kost memang belum menyiapkan dapur untuk kami, jadi yah kegiatan masak memasak seadanya dilakukan di kamar. Tapi selang beberapa waktu kemudian, hadirlah sebuah dapur lengkap sama kompor gasnya dan dengan peralatan masak seadanya itulah saya belajar masak untuk pertama kalinya dalam hidup saya, hehehehe..

Di belakang pintu kamar, tergantung rak sepatu tempat saya menyimpan sepatu-sepatu yang agak bagusan dikit, alias sepatu untuk ke pesta. Eh, di situ aja juga ding sepatu olaraga mantan pacar saya yang ganteng itu. Sepatunya memang sengaja dititipkan di sini, habis kalo ditinggal di kamar kostnya di Palembang (dia dulu punya dua kost-an, satu di Lahat, satu di Palembang, soalnya tiap weekend dia pasti ke sini buat nemuin yayangnya yang cantik ini *hoek*) suka digigitin sama tikus, kayaknya tikusnya tahu kalo kamar itu hanya berpenghuni di weekend aja jadi yah merajalela lah si tikus and the gank di kamar kost nya itu.

 O ya, kenapa musti nyetok sepatu olahraga di Palembang??? Karena agenda tetap kami tiap sabtu pagi adalah lari pagi bareng! Hohohoho…. Gak peduli walopun malam sebelumnya ia baru aja bercapek-capek ria menempuh perjalanan Lahat – Palembang, tapi Sabtu pagi kalo gak hujan dan kalo saya gak lagi terserang virus malas, maka kami pun akan berlari pagi bareng di seputar GOR PS (Palembang Square). Yah, inilah salah satu cara buat kami beromantis-romantisan dengan biaya murah…hihihihi… GOR PS hanya kami tempuh dengan berjalan kaki saja, memang jaraknya deket sih. Biasanya, selesai olahraga sambil pacaran itu, kami akan minum susu kedelai bareng trus sarapan siomay yang murmer. Bener-bener deh masa-masa kere, untuk pacaran aja harus dihitung-hitung berapa pengeluarannya…hihihi.. Balik dari olahraga ke kost-an lagi-lagi kami hanya jalan kaki saja. Ya iyalah, namanya juga mo pacaran murah, jadi nyari tempatnya yang deket-deket aja, kalo mesti naek angkot  ato becak mah sayang *yang pernah ngerasain jadi siswa OJT PLN di perantauan pasti ngerti kenapa sampe untuk urusan biaya transportasi juga mesti dipikirin, uang saku bulanannya miris bok!!!! :mrgreen:*. Maklum lah ya, jaman itu kami belom punya kendaraan pribadi, jangankan mobil, motor aja gak punya. Makanya, kalo inget masa-masa itu, rasanya bersyukur banget setelah 9 bulan menikah sudah diberi Tuhan mobil pribadi walaupun statusnya saat itu second dan bahkan sekarang sudah punya dua mobil pribadi yang statusnya baru. Eh, ini bukan berarti mengukur diri dari materi lho ya, hanya kepengen bersyukur aja bahwa Tuhan mengijinkan kami mengalami peningkatan-peningkatan secara finansial seperti ini. Bersyukur juga sangat penting toh??

Nyasar lagi ceritanya kan??? Kembali ke laptop!

Di luar kamar, ada rak sepatu (lagi!) yang isinya adalah sepatu-sepatu yang biasanya saya pakai ke kantor. Trus juga ada keranjang baju kotor. Sengaja taro di lorong luar, biar si tukang cuci gampang ngangkutnya tiap pagi,

Nah, gambar Tuhan Yesus sedang berdoa di Taman Getsemani (yang bingkainya biru ituh) waktu di kamar kost ini saya gantungkan tepat di atas tempat tidur saya. Gambar ini bersejarah juga lho buat kami. Gambar itu dibelikan oleh si calon papanya Raja di hari Kamis tanggal 25 Mei 2006, bertepatan dengan peringatan hari kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Kenapa itu jadi bersejarah buat kami? Karena di tanggal itulah kami meyakininya sebagai tanggal ‘jadian’ kami…wkwkwkwkwk….

Ada peristiwa besar yang terjadi di hari itu. Siangnya kami ngobrol serius dan saya memastikan bahwa saya memilih dia dan akan segera memutuskan hubungan dengan yang dulu ituh. Eh, sorenya kejadian deh, belom juga saya ngomong apa-apa sama si dulu itu, dia udah tau duluan dari orang laen yang mulutnya kok ya embyeeerrr banget. Tapi gak bisa juga sih salahin orang bermulut ember itu, mungkin kami yang memang terlalu show off dengan rasa di antara kami, jadi yah gak bisa maen rahasia-rahasiaan deh. Tapi bagus juga sih udah tau duluan, kalo gak, saya juga bingung preambule-nya untuk menyampaikan kalimat pemutusan secara sepihak permohonan putus itu kek gimana. Jadilah sore sampai malam itu drama terjadi di kost-an saya. Malas sih cerita soal drama itu, yang pasti temen-temen kost saya yang waktu itu cuma dua orang (salah satunya adalah si Elda ini) juga ikutan heboh karena saking serunya drama itu…wkwkwkwkwk… 

Mungkin saya memang jahat dulu. Tapi kalo udah urusan soal teman sehidup semati, meski dibilang jahat pun buat saya gak apalah, yang penting saya gak salah pilih! Jangan bilang saya memilih dia karena soal harta, karena seperti yang saya bilang di atas, kami sama-sama kere dulu! Kami awali semuanya bersama-sama dari bawah bener. Orang tuanya di Medan mungkin memang punya rumah berharga milyaran. Tapi di sini, kami sama-sama tak punya apa-apa dan tak juga pernah berharap dibantu oleh orang tua. Saya memilih dia murni karena cinta dan saya memantapkan hati untuk menikah dengannya karena sederetan alasan yang sudah pernah saya bahas di sini.

Mengingat-ingat lagi soal kamar kost ini memang akan selalu membuat saya terkenang pada masa-masa awal saya merantau di sini. Di mana perubahan demi perubahan banyak sekali terjadi dalam hidup saya. Tak hanya soal lingkungan yang baru, pekerjaan yang baru, namun juga soal dilema yang baru pertama kali terjadi di hidup saya. Saya juga akan selalu mengingat bagaimana saya berusaha bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang serba terbatas, mencoba untuk terus mandiri dalam hal apapun, serta melakukan hal-hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya.

Kamar ini juga akan mengingatkan saya pada dua peristiwa horor yang menimpa saya. Pertama, kejadian ditodong dan dirampok yang pernah saya ceritain di sini.  Kedua, adalah peristiwa berdarah sehabis dari dokter gigi. Ini bener-bener judulnya peristiwa berdarah lho! Kejadiannya waktu itu hari Senin, tanggal 29 Oktober 2007. Sehari sebelumnya saya baruuu aja berulang tahun yang ke 25 dan tentu saja saya tak pernah berharap diberikan hadiah ulang tahun semengerikan ini…hiiikkksss. To make the story short, intinya, waktu itu saya janjian sama dokter gigi untuk mencabut gigi geraham atas sebelah kanan saya yang udah lamaa banget sakit. Sebenarnya sih pengennya janjiannya pas weekend hari sabtu gitu biar bisa ditemenin sama si Abang yang waktu itu udah resmi dong statusnya sebagai m’fiance. Tapi kata dokternya gak bisa lagi nunggu sampe sabtu depan, harus senin itu juga. Ya sutra, pulang kantor saya langsung ke tempat praktek si dokter. Saya tak pernah takut ke dokter, termasuk ke dokter gigi, tapi memang hari itu entah kenapa, perasaan saya udah gak enak aja.

Dan bener kejadian dong. Si dokter nyabut gigi saya sambil nonton TV padahal beliau udah perlu usaha keras banget untuk mencabut gigi saya itu. Prosesnya lumayan lama, ada kali’ sejam untuk nyabut sebiji gigi doang. Si dokter udah tau susah, masih pula sambil nonton gitu. Selesai dari dia, udah malam banget. Puji Tuhan pas itu temen kantor saya ada juga yang baru dari dokter THT yang prakteknya sebelah-sebelahan sama dokter gigi ini. Jadi sehabis dari dokter trus ngambil obat di apotik, saya dianterin pulang pake motor sama temen saya itu. Di jalan aja saya udah ngerasa ada yang aneh. Darah yang keluar dari bekas cabutan gigi tuh buanyak buanget. Sampe temen saya aja ngeri liatnya. Padahal udah disumpel pake kapas tebel-tebel, tapi tetep aja ngalirnya deres gitu.

Sampe kost-an, darahnya gak juga berhenti. Katanya biasanya memang darahnya akan keluar sampai dua jam setelah pencabutan gigi. Tapi ni darah gak brenti-brenti. Sampai saya perlu pake baskom untuk menampung darahnya. Semalaman saya gak bisa tidur. Asli, saya lemes banget, apalagi ngeliat darah di baskom yang hampir memenuhi isi baskom itu. Maaaakkkk!!! Sempat terpikir oleh otak saya yang lebay, apakah inilah akhir dari hidup saya. Tapi kalo harus berakhir dengan judul ‘pendarahan akibat cabut gigi’ kok terdengarnya gak keren banget 😦

Semua orang jadinya panik karena saya. Semua orang di sini maksudnya tunangan, keluarga saya, dan keluarga tunangan saya. Kalo temen-temen kost sih malah gak tau apa-apa malam itu. Saya memang tipikalnya kalo gak perlu-perlu banget, gak perlu nyusahin orang. Mereka baru pada kaget setelah paginya ngeliat kondisi saya. Waktu itu si Abang udah nekad aja malam itu juga balik ke Palembang. Mama saya sambil menahan tangisnya berdoa bersama saya di telepon, pokoknya dalam nama Tuhan Yesus saya akan baik-baik aja. Dan yes, saya juga mengamini itu!

Paginya, pipi saya udah bengkaaaakkk banget. Ada tuh, fotonya, tapi sampai dunia ini berakhir pun tak akan pernah saya publikasikan huehehehehe. Dasar yah, orang kalo emang narsis, tetep aja udah dalam kondisi muka tak keruan, nahan sakit, isi mulut berdarah-darah, tapi urusan foto memfoto diri teuteup tak boleh ketinggalan :mrgreen:

Hari itu juga saya langsung ke dokter itu lagi. Pas liat saya, beliau langsung kaget, trus dengan dodolnya nanya gini, “kok bisa jadi begitu???”

Lhaaaa….saya langsung naek dong emosinya, langsung deh saya jawab, “Saya yang mustinya nanya dok, kok bisa ini jadi kayak gini????”

Si dokter langsung deh ngerasa agak salah gitu, tapi tetep dengan gaya angkuhnya memeriksa saya. Ternyata bener kan, ada pembuluh darah yang pecah. Pemeriksaan lanjutan oleh dokter yang berbeda ditemukan bahwa akibat pencabutan gigi yang tak rasional itu, ada tulang rahang atas saya yang bengkok dan menjulur ke luar gusi! Dokteeeerrrrrr…mana tanggung jawab mu???? Kemana kau lemparkan sumpah kedokteranmu itu???????

Puji Tuhan, tanpa melalui pembedahan mulut, tulang rahang saya itu bisa lurus kembali dan tak ada lagi tonjol-tonjolan di gusi saya. Resepnya? Cuma dengan doa. Yes, it’s true and thank GOD, HE showed me that yes, miracle is true!

Tuh kan, ingatannya jadi kemana-mana. Sekali lagi memang, setiap kali mengingat kamar ini, ada banyaaaakk sekali memori bermunculan yang tak bisa saya lepaskan dari kenangan terhadap kamar itu. Sebagian besar dari kenangan itu telah membuat saya belajar banyak sekali hal dalam hidup saya. Salah satunya adalah tentang arti kesempurnaan, yang pernah saya tuliskan di Friendster Blog saya yang telah wafat seiring ditutupnya si FS…hiikkksss…. Karena blog itu sudah tiada, jadi saya re-post lagi aja di sini. Keuntungan selalu membackup blog ya ini dia, sekalipun blognya ditutup, tapi tulisannya tetap ada untuk kita…

Jun 08 2006

Arti Kesempurnaan

Posted by: krones-allisa in My Journal…

Palembang…

Pertama kali dengar kabar aku ditempatkan kerja di sini, sebuah perasaan galau berkecamuk di hatiku.

Palembang…

Terdengar begitu jauh, begitu asing. Hampir tidak terbayangkan apa yang akan terjadi denganku di kota ini. Entah bagaimana aku akan menjalani hidup di tempat ini. Saat itu tiba-tiba semuanya menjadi kabur. Seolah lorong gelap tak berujung ada di hadapanku. Ingin berbalik, tapi tak bisa..

Rasanya aku benar-benar tidak rela meninggalkan hidupku yang selalu kuanggap sebagai hidup yang penuh dengan kesempurnaan. Aku memiliki apapun yang kubutuhkan. Kebahagiaan dan rasa nyaman selalu ada untukku. Aku bahkan sempat merasa bahwa aku tidak memerlukan apa-apa lagi. Hidupku telah sempurna, dan ingin selamanya memeluk kesempurnaan itu…

Namun pada akhirnya aku harus menyadari bahwa kehendakku bukanlah kehendak Tuhan. Dan bahwa aku hanyalah manusia yang berhak memilih namun tidak punya kuasa memutuskan… Cita-cita ku selama bertahun-tahun dibelokkan… Impianku, harapanku ternyata tidak sejalan dengan rencana Tuhan dalam hidupku… Apa yang bagiku adalah kesempurnaan ternyata hanya akan menjadi bagian dari masa laluku.

Dan kini, di sinilah aku, menikmati hari ke-34 di Palembang. Banyak hal yang telah terjadi, dan tiba-tiba aku menyadari satu hal penting, bahwa Tuhan menempatkan aku di sini untuk mempelajari arti sesungguhnya dari kesempurnaan…

Aku terkejut mengetahui bahwa ternyata banyak bagian dalam diriku yang baru ku ketahui…

Ternyata aku bisa juga makan tanpa ikan segar yang biasa menemaniku,

aku merasa nyaman berada dalam ruangan kamar kosku padahal sebelumnya aku selalu merasa bahwa tidak ada tempat yang lebih nyaman selain kamarku di rumah,

aku mampu melakukan banyak hal sendiri tanpa ada yang menemani sementara biasanya aku tidak pernah mau sendirian,

aku sanggup mengatur hidupku sendiri sekalipun tidak ada yang memberitahukanku apa yang harus ku lakukan,

aku dapat membuat pilihanku sendiri dan berpikir apa yang paling baik untuk hidupku…

Tuhan memberikan aku kesempatan belajar, bahwa kebahagiaan dapat juga kuperoleh hanya dengan melihat sinar di mata anak kecil yang setiap pagi meneriakkan “Yu’…Kompas, Yu’..”

Aku kini nyaman dan bahagia berada di Palembang… dan dapat kukatakan satu hal, kesimpulan terindah yang Tuhan berikan padaku..

Bahwa kesempurnaan bukanlah ketika aku mendapati diriku dalam pelukan keterbiasaan, namun ketika aku dapat menemukan diriku yang sebenarnya saat aku berada dalam keterasingan…

 

40 respons untuk ‘The Changes (Part I)

  1. Waaaahhh… ceritanya panjang bangeett… tapi asyik banget bacanya. Kamar kost yah?? Aku dulu di Bima juga tempat tinggalnya pindah-pindah… kapan2 juga jadi pingin posting yang kayak begini deh…. *nyontek ide*… hehehehehe….

    Ditunggu lanjutan ceritanya yaaaa

    1. Aku aja yang hanya pindah dari kost ke rumah kontrak trus ke rumah sendiri udah berasa No repotnya kalo pindah2an itu. Apalagi kalo sering pindah2 kost ya? Ditunggu No, ceritanya, pasti seru kaaannn 😀

  2. sampai mrinding aq bacany mbak, untuk pertama kali harus meninggalkan keluarga tercinta dan kamar ternyaman, pasti rasanya campur aduk, wajarlah kalau mewek..

    eh foto boneka dolphinny yg mirip punya Anin muncul sekarang, knpa dinamain sammy ? hihihi..

    btw kok aq g nemu d gambar foto koper biruny? he..

    1. Itu lho, foto koper birunya yang di atasnya ada bonek putih itu, Tik 😀

      Namanya Sammy kenapa?? Mmmm…kenapa yah??? Itu rahasia…hihihihihi

    1. Hihihi…sengaja difoto-foto dulu, mbak, buat kenang-kenangan. Ternyata bener kan, asik juga buat dikenang sambil liat foto2nya 😀

  3. aku sama sekali gak pernah kost, sampe punya anak tetep aja disini …
    kadang suka pengen ngeliat cerita temen2 yg nge-kost, seru kayaknya.

    mini rice cooker-nya tukeran yuk, punyaku warna biru nih, biar ngepas sama nuansa kamarnya yg warna biru .. hehehe

    1. Aku akhirnya punya juga mbak mini rice cooker persis kayak gitu tapi yang warna biru, waktu itu buat suami waktu tinggal di tebing tinggi 😀

  4. hehhh, yang cerita dicariin kos ituh sama banget kayak aku, dianterin mamah+bapak kayak bedol desa. Padahal aku udah terbiasa banget nge kos dan hidup sendiri, makanya aku mallluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu bangeeeetttt… :mrgreen: :mrgreen:

    Jadi, kan tanggal 8 Mei kita musti masuk kan yaaa? Waktu itu aku ke kantor dan berburu kos dari para mantan OJT. Tanggal 8 sore dapet kepastian tempat kos dan disurvey sama2 (aq – mama – bapak).
    Tanggal 9 mei, sementara aku ngantor, mama+bapak ngankutin koperku plus beres beresin kamar ku. Pulang kantor aku langsung ke Kosan dan mendapati kondisi kamar yg rapi – bersih plus seprei, tivi dan kipas angin baru… 😀 😀 😀

    hmmm, kira kira lanjutan ceritanya apa lagi yaaa 😉

  5. hiks hiks jadi pengen nangis bacanya juga..jadi inget pertama kali berangkat OJT harus nahan gak nangis di bandara karena harus pisah sama keluarga. sebenernya waktu itu ibuku jg mau nganterin lis tapi aq cegah dengan alesan MALU hehehe yang lain gak ada yang dianter soalnya.
    trus bener jg tuh masalah OJT adalah se kere2 nya, sampe mau ke kantor aja harus bawa bekel karna shock dengan harga2 makanan yang selangit..maklum biasa di jawa harga2 makanan setengahnya dr palembang 🙂

    1. Kamu pasti gak nyangka ya Dit, kalo ternyata di antara anak OJT ke Palembang ada juga yang dianter sama orang tuanya yaitu aku :mrgreen:

  6. Waaa…foto kamar kos ku dimana yaa…. Salut deh mam dengan dokumentasi yang ciamik. Saya mulai sadar dokumentasi setellah punya anak hahaha. Saya dulu kerja di jkt, kos baru seminggu udah pulang ke Jogja hahaha namanya baru pertama kali kos dan jauh dr ortu hehehe. Hmm…kayaknya saya tahu ke arah mana postingan the Changes ini :mrgreen:. Hayuuuk dilanjut 🙂

  7. Dikamar kos ini, saya kok ga lihat yang warnanya ungu ya Mb, biasanya kalau lihat warna ungu dimana-mana pasti saya ingat sama teman dunia maya saya Mb Allisa.
    Tapi yang jelas anak mama yang manja dan cengengpun, sekarang bisa mandiri dan sukses…!!!
    Saluutttt…!!!

    1. Ada kok warna ungunya pak Ded. Itu yang kotak tissue, trus keset, trus asesoris di atas rak rias, hehehehe….

      Terima kasih banyak ya pak Ded…puji Tuhan, bisa juga jadi mandiri, hehehe

  8. membaca kisah mbak allisa ini membuat saya ingat pertama kali merantau yang jauh..kalo hanya seputaran jawa timur mah bisa tiap minggu pulang..hehehe kayak pas kuliah…home sick banget..nggak rela dan ketakutan banget gimana yah hidup jauh dari ortu..hampir tiap minggu balik tetap saja masih nangis…drama dulu sebelum balik surabaya..entah itu di stasiun terminal didalam bis…saya memutuskan tiap minggu balik ke rumah karena saya yakin setelah kuliah justru nanti akan lebihlama lagi merantaunya dan jarang ketemu bapak ibuk..syukurlah semua berjalan seperti yang seharusnya..seperti cerita mama raja diatas..hmm..dokumentasi yang sangat rapi..jadi teringat dah berapa rumah kos saya tinggali yah hehehe..:)
    nice story mam…masih nunggu lanjutan untuk yang rumah idaman sekarang ini..:)
    senengnya baca cerita mama raja jadi menginspirasi dan teringat kenangan jaman dahulu 🙂

    1. Ternyata yang namanya anak kost itu sering banget ngalamin home sick ya mbak. Mungkin juga karena kamar kost itu judulnya hanya tempat persinggahan sementara, jadi yah bawaannya pengen pulang aja ke rumah 🙂

      Thanks for reading ya mama Kinan 🙂

  9. wah .. itu dokter giginya kurang ajar banget ya !! kalo di sini dah masuk penjara tuh .. masak nyabut gigi sambil nonton TV ? uukhh .. lumayan merinding juga mbayanginnya 😦

  10. barang lama masih terpakai ya, nggak rugi beli barang bermutu kan.., sama barang2 kosan dulu juga masih terpakai di rumah, termasuk TV yang pernah jatuh.., hi..hi.. pernah juga jutulis tentang TV itu

    1. Waaaahhh….udah berapa tahun sejak ngekos tuh Nam? Hebat banget yah masih bertahan hingga kini, salut soal perawatan barang-barangnya 🙂

  11. HAH???

    rahang bengkok??
    keluar ke gusi???

    HAH????

    aku terkaget kaget bacanya mbak…. beneran
    sambil membayangkan, gimana mengerikannya gitu
    aduuuh…. alhamdulillah sekarang sudah sembuh yaaaa

    bener bener gak bisa membayangkan

  12. salut sama pen-dokumentasiannya, padahal udah lumayan lama ya tapi masih tersimpan apik. ck..ck.. 😀

    eh iya, horor banget baca yang pas di dokter gigi, jangan sampe ketemu dr kayak gitu hehehe 🙂

  13. cerita mba allisa menginspirasi aku buat ceritain pengalaman kost… kapan2 cerita juga ah….*nyontek…aku baru 2tahun kuliah aja udah 3kali pindah kost loh mba….hahahaha

    nuangsa biru dikamar kesukaan aku banget loh mba…. aku seneng banget sama warna biru…:))

  14. GREAT JOB….you’re smart in documenting ya Mba, salut deh beneran sampe fotonya juga masih komplit, emang narsisi itu banyak gunanya yah, loh???hehehe…

    You should hardly blame that doc, Mba? benar2 ga prof yah…

  15. Seru, Mbak Allisa.
    Menurut aku mutusin pacar demi yang lebih baik itu gak jahat kok, Mbak. Itu manusiawi. Siapapun pasti akan memilih yang terbaik untuk jadi teman sehidup semati. *soalnya aku juga pernah ngelakuin itu jadi membenarkan*. Eniwei, pilihan Mbak Allisa memang benar toh. Papa Raja adalah yang terbaik kan ? *wink*

  16. “Maklum lah ya, jaman itu kami belom punya kendaraan pribadi, jangankan mobil, motor aja gak punya. Makanya, kalo inget masa-masa itu, rasanya bersyukur banget setelah 9 bulan menikah sudah diberi Tuhan mobil pribadi walaupun statusnya saat itu second dan bahkan sekarang sudah punya dua mobil pribadi yang statusnya baru.”

    Teringat ceritaku dan suami. Pas masih pacaran, hujan2 dia nganterin aku pulang kerja naik motor bebek. Trus melintaslah mobil Jazz warna gold di depan kami. Duh, aku langsung kebayang ya, enaknya bisa naik mobil pas hujan2 begini.

    seakan bisa membaca pikiranku, si pacar lalu berkata : “Suatu saat nanti aku punya mobil kayak begitu….” “Aamiin…” sahutku.

    setelah menikah, kami juga gak langsung punya mobil karena gaji masih ngepas untuk bayar KPR. 1,5 tahun nikah, akhirnya nenek-ku dibeliin mobil sama papah-ku. nah karena aku&suami s.d sekarang tinggal sama nenek, ya otomatis kamipun turut menikmati dan membensin-i, wkwkwkwkwk…… 😆

    kalo sama suami tuh, berdua mulai dari bawah, merangkak naik-naik-naik…. memang kerasa lebih nikmat ya? susah berdua, seneng berdua 🙂

    1. Setuju banget, mbak, jauuhh lebih enak merangkak bareng-bareng dari bawah karena pada akhirnya ketika udah dalam kondisi ‘senang’, maka kesenangan itu akan terasa lebih nikmaaaattt…hehehe..

      Btw, pengalamannya hampir sama juga kayak kami. Pernah lagi jalan-jalan dengan becak, hujan-hujan pula. Walopun dalam becak, tapi tetep aja basah kuyup. Ngeliat mobil yang mondar mandir di jalan, langsung rasanya kepengeeenn banget bisa punya mobil sendiri biar gak kehujanan kayak gini. Kalo inget masa-masa itu, rasanya bersyukuuur banget sekarang yang diimpikan udah terwujud. Dan ternyata, masa-masa bermimpi itu enaaaakkk banget untuk dikenang yah 😀

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s