Let YOUR Will Be Done in Our Life…

Duluuu banget jaman saya masih sekolah dulu, perusahaan yang paling saya benci adalah PLN! Alasannya apa lagi kalo bukan karena seringnya terjadi mati listrik di daerah tempat saya tinggal dulu. Apalagi pas jaman saya kuliah dan lagi bikin skripsi. Duh, di situ saya bencinya ampun-ampunan deh sama orang PLN, ya gimana gak, waktu itu dalam semalam aja terjadi black out berkali-kali sampe akhirnya file skripsi saya di kompie rusak. Bener-bener deh, rasanya maraaaahhhh banget sampe saya telpon ke 123 dan saya marah-marah sama petugas situ hingga akhirnya keluarlah kata-kata, “Dasar taunya hanya makan gaji buta aja kalian!”. Buat saya yang gak pernah kenal dengan kata makian dan kalimat kasar, yang seperti itu udah kasaaarr banget rasanya tapi waktu itu saya sama sekali gak nyesel udah mengeluarkan kata-kata kasar dan tak berperasaan seperti itu. Habis saya lagi marah banget. Segala alasan si petugas call center yang bilang kalo PLTA sedang kehabisan air makanya pembangkit tak kuat lagi melayani kebutuhan pelanggan PLN tak bisa saya terima. Dalam logika saya, ya itulah tugasnya pegawai PLN untuk mikirin gimana solusinya, bangun pembangkit baru kek, apa kek. Pokoknya gimana caranya supaya pelanggan yang tiap bulan nyetor duit ke PLN ini bisa terlayani dengan baik. Saya marah semarah-marahnya sama PLN. Buat saya, BUMN inilah yang paling bobrok di antara semua BUMN yang lain.

Waktu itu sih sama sekali gak kepikiran yah gimana kalo nanti saya yang suka marah-marah sama pegawai PLN malah kemudian jadinya bekerja di perusahaan ini. Dulu saya cita-citanya jadi dosen kok. Saya tuh seneng ngajar, apalagi ngajar programming dan system development methodology. Waktu di semester 6, saya mulai jadi asisten dosen. Dan waktu selesai skripsi, saya langsung ngajar di kampus sebagai dosen honorer dan kemudian mulai mengurus beasiswa ke LN. Waktu itu sambil ngajar di kampus saya juga kerja sebagai staf IT dengan gaji sangat rendah di sebuah perusahaan ritel tapi konsentrasi saya tetep ke soal beasiswa itu. Cita-citanya mo sekolah sampe S3 di LN trus balik lagi ke kampung halaman jadi dosen dengan cita-cita mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa *hoek*.

Tapi dasar emang orangtua saya sama sekali tak setuju dengan cita-cita saya itu. Entah kenapa yah, papa saya tuh gak mau banget kalo anaknya ini jadi dosen, eh, sebenarnya saya tau ding alasannya apa tapi gak mau ah saya tulis di sini, hehehehe… Karena gak setuju itu, makanya papa saya yang gencar mencarikan info soal rekrutmen di BUMN, memang deh keknya papa saya ini BUMN-oriented untuk satu-satunya anaknya yang gagal menjadi dokter ini hihihi… Mungkin kali’ yah seandainya dulu saya lolos UMPTN *eh, sekarang istilahnya apa yah???* ke FK seperti kakak dan adik saya, papa saya mungkin gak bakal pusing mikirin soal kerjaan anak keduanya ini nanti. Tapi berhubung gagal dan ternyata hati anaknya adalah di dunia informatika, mau tak mau beliau ikut pusing mikirin, “setelah ini mo kerja di mana????”.

Nah, pas tau lagi ada rekrutmen pegawai di PLN yang paaasss banget waktu itu lokasi tesnya untuk daerah Sulawesi dipusatkan di Manado, papa saya langsung gencaarrr banget nyuruh ikutan. Begitupun pas tau di Angkasa Pura I lagi buka rekrutmen pegawai, saya langsung dibelikan tiket untuk ikut tes di Kampus LAN Jakarta. Puyeng lah saya, bolak balik JKT-MDC hanya untuk ngurusin tes rekrutmen. Eh, gak taunya setiap tahap tes di PLN saya lolos, begitupun yang di AP I, tapi karena PLN yang memang duluan buka rekrutmen, jadinya urusan di PLN yang duluan kelar.

Saat tau saya lolos hingga tahap akhir rekrutmen di PLN, saya bener-bener bingung. Inilah perusahaan yang paling saya benci, masak sih justru di perusahaan inilah saya akan bekerja?? Masak sih perusahaan yang menurut saya paling bobrok inilah yang akan memberi saya gaji untuk membiayai kehidupan saya kelak??? Masak sih saya harus menjadi bagian dari orang-orang yang dulunya sering saya bilang taunya hanya makan gaji buta aja????

Jawabnya??? YA mau tak mau! Saya sendiri setelah melalui 7 tahapan tes, bersaing dengan ratusan orang dan setelah melihat kekecewaan mereka yang tidak lolos tes, pada akhirnya toh merasa amat sangat sayang jika kesempatan ini saya lepas!

Februari 2006 ketika saya dipanggil untuk mengikuti diklat pra jabatan saya sudah tidak ragu lagi mau-tak-mau untuk berangkat.

Ya, kalau ada yang pengen bukti bener gak sih hukum karma itu berlaku??? Ya, silakan tengok kisah saya ini :mrgreen:

Dan karma pernah menghina pegawai PLN gak hanya berhenti dengan saya yang pada akhirnya bekerja di sini, saya pun diberi Tuhan suami yang bekerjanya juga di perusahaan ini, bahkan suami saya tugas sehari-harinya adalah di lini paling depan pelayanan pelanggan, yang mana setiap hari ada aja pelanggan yang ngamuk-ngamuk masuk ke ruang kerjanya. Kalo gak pelanggan, minimal organisasi-organisasi yang enggan saya sebutkan namanya yang suka protes-protes gak jelas mengatasnamakan rakyat padahal u.u.d ujung-ujungnya duit. Banyak sekali sebenarnya yang pengen saya ceritain seputar pekerjaan suami saya dan tantangan yang dihadapinya yang saya yakin siapapun tak akan memandang sebelah mata terhadap persoalan-persoalan seperti itu, tapi saya tau banyak hal yang harus hanya bisa sampai ke draft saja. Saya tak bisa buka-bukaan karena banyak sekali hal yang harus saya jaga.

Pada akhirnya saya harus mengakui, tak mudah memang menjalankan bisnis sebesar dan sekompleks yang dijalankan oleh PLN. Mentok sana, mentok sini adalah bagian dari keseharian. Mending kalo metoknya di dinding bata yang masih bisalah diketok-ketok sampe hancur, lha ini mentoknya di dinding baja. Piye ngancurinnya??? Nyari jalan lain juga awalnya aja terlihat ada titik terang, eh ujung-ujungnya juga ternyata ada dinding baja berlapis-lapis di situ.

Pada akhirnya saya memang harus menarik kata-kata pegawai PLN taunya hanya makan gaji buta saja. Apalagi buat mereka yang di lini depan pelayanan, satu contoh aja ya, bayangin deh sementara jam buka puasa pun mereka terpaksa harus puas buka puasa dengan air putih saja dulu karena lagi nyelesaikan gangguan. Ya salah sendiri dong, kok bisa-bisanya terjadi gangguan??? Eeehhh…jangan salah ya, ntu gangguan kejadian gara-gara ada pekerjaan galian entah dari perusahaan ato instansi mana yang merusak kabel listrik tanah. Contoh laen, sementara yang lain pada asik tidur pelukan sama istri di malam yang dingin oleh karena hujan, petugas gangguan perusahaan ini justru sedang menyusuri jalanan sepi untuk mencari sumber gangguan. Salah sendiri kok gak ada pemeliharaan, gak ada antisipasi?? Hmmm…panjang ceritanya kalo udah soal itu! Bukan tak mau cerita, tapi ya itu dia, balik-balik lagi banyak hal yang harus saya jaga.

Resiko??

Ya memang benar, itu adalah bagian dari resiko pekerjaan yang tak bisa lagi dikeluhkan. Kemarahan pelanggan, amukan LSM, tekanan dari atas, bawah dan samping, itu juga adalah bagian dari resiko yang mau gak mau harus diterima.

Kami juga sadari itu kok, that’s why, masalah apapun yang sedang dihadapi si papa, kami masih bisa selalu senyum menghadapinya. Jabatan si papa sekarang bukan karena kami yang meminta-minta. Tapi kami percaya, Tuhan yang berdaulat atas semuanya.

Hingga akhirnya masalah yang tak bisa saya ceritakan di sini datang. Untuk yang satu ini, terus terang, saya pun merasa gentar. Gentar bukan karena jabatan yang dipertaruhkan jika kasus ini di-blow up secara tak berperikemanusiaan ya, tapi keselamatan kami, terutama si papa yang saya khawatirkan.

Tapi toh tak ada yang bisa kami lakukan, kecuali berdoa, ambil sikap penyembahan kepada Tuhan. Kami serahkan semuanya pada Tuhan Yesus. Kami yakiiinn…seyakin-yakinnya Tuhan tau betul hati kami, Tuhan tau ketika jalan kami lurus atau bengkok. Dan kami percaya, Tuhan tak akan pernah membiarkan anak-Nya berperang sendiri, apalagi jika anak-Nya berjalan sesuai kehendak-Nya.

Dan yah, saya percaya bahwa tak ada yang kebetulan ketika kami di hari minggu kemarin ke gereja dan khotbahnya adalah tentang Musa yang dicatat Alkitab sebagai orang yang paling lembut hatinya di muka bumi. Lembut hati bukan karena selalu bertutur kata halus. Lembut hati karena Musa tak pernah membela diri atau balas marah-marah ketika ia diserang dan dikhianati. Ketika Korah memberontak terhadap kepemimpinannya, Musa tak membalas apapun, bahkan ketika Korah dan para pengikutnya bersiap untuk menyerang Musa, yang dilakukan Musa bukan balik menyerang, sebaliknya Musa berdoa bagi bangsa Israel. And then, u know what?? Tuhan yang turun langsung membela Musa. Alkitab mencatat, bumi menelan Korah dan para pengikutnya. Yang dilakukan Musa hanya berdoa dan Tuhan yang berperang ganti dia.

Tak ada juga yang kebetulan ketika semalam kami bersaat teduh dan membaca firman Tuhan tentang nyanyian pujian Daud setelah selamat dari kejaran Saul dan Absalom. Daud memuji Tuhan dengan nyanyiannya:

The Lord is my Rock, my Fortress, and my Deliverer; my God, my keen and firm Strength in Whom I will trust and take refuge, my Shield, and the Horn of my salvation, my High Tower.  I will call upon the Lord, Who is to be praised; so shall I be saved from my enemies.

Psalm 18 : 2 – 3

Dan sama sekaliii tak kebetulan ketika kemudian kemarin kami mendapat kabar bahwa yang bersangkutan menyatakan tak akan meneruskan perkara ini dan kemudian mengaku bahwa memang tuntutannya tak berdasar!

Praise GOD!!

Kami percaya, tangan Tuhan lah yang menolong kami yang tak bisa apa-apa ini. Yang kami lakukan hanya menyerahkan semuanya kepada-Nya, memuji-Nya, menyembah-Nya, kemudian bersukacita untuk kemenangan yang bahkan belum bisa kami lihat. Dan lihatlah, kasih setia Tuhan tak pernah berkesudahan. Tuhan sendiri yang mengurusi perkara ini. Hati yang sekeras baja, diubahkan-Nya menjadi lembut. Pikiran yang tak mau memikirkan orang lain diberi-Nya hikmat untuk bisa memahami. Kami percaya ketika kami menyerahkan semua-Nya pada Tuhan, di situ kuasa Tuhan berdaulat atas kami, dan jika Tuhan Semesta Alam yang turun tangan langsung, manusia bahkan setan mana sih yang mampu bertahan???

Kedepannya, kami yakin ada akan lebih banyak lagi tantangan yang kami hadapi yang membuat kami harus semakin mau taat dan berserah. Akan ada banyak kesulitan lain lagi, tapi kami percaya, semuanya Tuhan buat bukan untuk melemahkan kami, sebaliknya Tuhan sedang melatih kami untuk menjadi semakin kuat dan semakin taat.

You have also given me the shield of Your salvation, and Your right hand has held me up; Your gentleness and condescension have made me great.

Psalm 18:35

Therefore will I give thanks and extol You, O Lord, among the nations, and sing praises to Your name.

Psalm 18:49

Banyak perkara yang mungkin tak akan bisa kami pahami, Tuhan, tapi tolong kami dengan hikmat untuk tetap taat pada jalan-Mu. Tolong kami untuk tidak mencoba memahami semuanya dengan logika manusia yang cetek dan terbatas ini. Tapi beri kami hikmat surgawi untuk mengerti bahwa hidup kami adalah milik-Mu…

Iklan

39 thoughts on “Let YOUR Will Be Done in Our Life…

  1. Pasti “masalah yang tidak bisa diceritakan” itu berat banget yah….

    Sabar yah… tetep kuat…. *sok teu padahal juga tetep gak tau apa-apa*

  2. Hmm…dalem banget…saya konsentrasi penuh mengambil pelajaran dari peristiwa yang diungkapkan ditulisan mama raja..dan akhirnya syukur berakhir dengan indah, rasanya tulisan mama raja dan tentang contoh2 kedalaman religius sudah cukup menjawab dan mewakili …
    itulah ya mbak makanya ada Qoute “kita nggak boleh membenci sesuatu dengan sangat nanti akhirnya malah kita suka” hehehe dari benci sama PLN akhirnya kerja di PLN..kalo saya pingin jadi dokter harusnya saya dulu benci sama profesi dokter yah mbak.hehehehe..walah logika sotoyyyyyyyy dan ngawur..
    Be strong to Mama Raja dan Papa Raja…

    1. Hihihi….iya, mam, harusnya dulu saya jangan benci sama PLN harusnya bencinya sama dokter biar jadi dokter…etapi kalo gitu tar gak ketemu sama papanya Raja dong?? Ah, gak mau ah, jauuuhh lebih seru jadi istrinya dibanding jadi dokter :mrgreen:

  3. wah kali ini postingannya agak berbahaya ya lis hohoho
    tp bener banget lah aku juga sering dapet complain karna seringnya pemadaman
    padahal di kantor liat sendiri gimana jumpalitannya temen2 ophar
    kami di pembangkit gak kenal namanya libur, pabrik harus ngebul terusss

    1. Iya, berbahaya apalagi kalo terlalu all out, wah bisa-bisa suamiku yang kena, hehehehe..

      Bener banget. Memang sih diakui kalo kinerja kita bukannya udah baik-baik banget, tapi at least kita udah berusaha banyak kaaannn 🙂

  4. Hug..hug.. Mama Raja, yakinlah tantangan dan cobaan apapun yang terjadi pada kita karena Tuhan tau kita bisa melewatinya.
    Ngomong 2 soal PLN, aku juga dulu termasuk orang yang “sebel” sama BUMN satu ini, tapi setelah menjadi keluarga besarnya dgn kuliah di PLN, terus dapet suami orang PLN juga, dan ngeliat sendiri gimana orang2 PLN itu sudah berusaha keras hiks..hiks.. rasanya gak adil bgt ya. Apalagi liat sendiri jelas2 gimana suami harus siaga kapanpun kalo lagi ada gangguan. bahkan setiap ada di Jakarta, harus merelakan setiap menit itu hpnya bunyi karena banyak komplen sana sini. hihihi.. koq jadi curcol 😀

    Intinya, tak kenal maka tak sayang 🙂

    1. wkwkwkwkwk…iya ya, jeng Dea dulu juga lulusan STT PLN jadi udah lumayan banyak tau lah soal gimana-gimananya PLN ini 🙂

  5. saudara sepupuku yang kerja di anak perush PLN juga mengeluhkan kenapa orang bisanya cuma komplain ini itu kalo pemadaman, sampai menghujat, caci maki dsb, padahal mereka yang bekerja di sana telah melakukan yang terbaik sampai kadang mengabaikan keluarga demi pekerjaan…pelajaran juga ni buat aku yang kadang bete kalo mati listrik hehe…thanks for sharing ya mama raja..keep up the good work…

    1. Iya, mbak, banyak hal yang bisa menyebabkan pemadaman listrik dan sebenarnya tak semua oleh karena kelalaian petugas PLN 🙂 *bela diri*

    1. Katulah tuh artinya karma ya mbak? Kalo bener, berarti sama bahasanya dengan bahasa Manado. Di sana, karma = katulah juga, mbak 😀

  6. *hug* Mama Raja…
    you write the story so deep and touchy…
    God is really the best place to turn.

    Aku terharu baca kisahnya dan betapa banyak pelajaran yang berharga yang bisa ku ambil. Terutama, mengingatkan aku yang kadang seenaknya menjudge PLN karena seringnya gangguan listrik, padahal….hiks, jadi merasa berdosa.

    Keep wise and nice ya sis…:)

  7. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, & jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN (Yes 55:8)… Percayalah bahwa Tuhan selalu merancangkan yg TERBAIK bagi umatNya..Gbu! *peluks*

  8. Udah baca dari kemaren,sampe melongo aku lis,ada banyak point yg pengen aku IYA – in saat baca postingan ini.:)
    Setuja sama aditya kalau postingan ini agak ‘berbahaya’.Tapi dibuat dengan pilihan bahasa yg baik, sehingga aku tau point yg ingin disampaikan tanpa harus tau apa yg jadi inti permasalahan..
    Berada di ujung tombak perusahaan ini memang sungguh ndak gampang lis, serasa banyak sekali mata yang mengawasi untuk mencari titik lemah kita..
    Titip salam semangat buat Pak Poltak ya Lis 🙂 …

  9. aku terharu bacanya mba…dalem banget…
    banyak pelajaran berharga yang aku bisa ambil dari tuisan mba allisa…:)
    dibalik rencana kita tuhan dah punya rencana indah ya mba…tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan…*kok jadi lari kemana2 sih coment ku…:)

  10. I feel you jeng…. Bekerja ditempat yang diawasi banyak orang mesti ekstra hati-hati jeng… Kalo udah masuk zona kerjaan kayak gini, kecerdasan dan kepintaran manusia hanya sedikit berarti. Butuh yang namanya kasih karunia dan hikmat Tuhan. Kasih karunia, karena setiap manusia itu tidak sempurna, dan kalo ada yang mencari-cari kesalahan bisa bahaya. Namanya juga manusia.
    Hikmat Tuhan, supaya bisa mengambil kebijakkan dengan tepat. Dan semuanya itu telah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang datang kepadaNya. (Amiiin)

  11. selalu percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk kita ya Mbak ..
    semoga semakin siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di depan, yang pasti sih, selalu berharap hal yang baik ..

  12. Saat aku menghadapi masalah, salah satu teman lamaku nyeletuk ” segala sesuatu itu pasti ada maksudnya…”. Begitu pula hal-hal yang menimpa kita, Mbak. Semoga apapun masalahnya, bisa dilewati oleh Mbak Allisa dan keluarga. Dan semoga setelah mampu melewati ujian dari Tuhan ini, keluarga Mbak Allisa akan semakin solid dan semakin tough. *peluk virtual*

  13. ngerti deh Lis, kita yang di kerja di bagian pelayanan pasti ketemu aja hal2 yang nganggu gitu,
    yang kuat ya …mudah2an semua keluhan bisa ditanggapi dengan elegan
    peluk dulu ah.. yang tabah ya dek

  14. huhuhuhu…bener banget, bund… thanks yaahhh buuunnnddd *seharusnya aku panggil kakak yah, atau…namboru??? hehehehe*

  15. ikutan lega dengan ending tulisan ini, yang bersangkutan tdk jd menuntut,
    aku yakin untuk mbak Alissa dan keluargany yg sangat religius, Tuhan akan permudah semua masalah, amin

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s