When Love Came Unto Us

Tulisan ini seharusnya saya publish pada tanggal 27 Februari 2011, tapi berhubung berkenaan dengan kuis Tanda Cinta di Januari oleh Keluarga Zulfadhli maka akhirnya tulisan ini pun di publikasikan di hari ini. Sebenarnya setelah sekilas baca-baca tulisan yang lain, saya sudah pesimis bakal menang. Tapi yah, menang gak menang, saya sudah cukup bahagia dengan menuliskan ini di sini karena sebelumnya baik di blog ini maupun di blog FS yang itu, saya belum pernah cerita tentang sejarah pertemuan kami.

 

Tanda Cinta di Januari Oleh Keluarga Zulfadhli

 

27 Februari 2006, di tanggal itulah kami pertama kali bertemu. Eh, sebenarnya sih lebih tepatnya bukan bertemu, melainkan di tanggal itulah untuk pertama kalinya dia melihat saya, lagi nunggu lift di gedung Udiklat PLN di Slipi. Waktu itu, baju dan asesoris yang sayaΒ  kenakan persis seperti di foto ini… *di bagian ini pengen narsis aahhhhh…hehehehe*

 

Bidadarinya Si Abang :mrgreen:

Ceritanya, waktu itu kami sama-sama akan mengikuti pendidikan dan pelatihan untuk calon pegawai PT PLN (Persero). Saya ikut tes dari Manado, si dia ikut dari Jakarta. Jumlah calon pegawai saat itu kira-kira 200 orang. Hari pertama, kami semua dikumpulkan di Udiklat Slipi. Saya dan rombongan lainnya dari Manado datang tanggal 26 Februari 2006, sementara si dia sendiri baru datang tanggal 27 Februari 2006.

Dan dia baruuu saja masuk ke gedung Udiklat Slipi ketika melihat saya di sana. Menurut pengakuan gombalnya, saat itu seperti ada lingkaran halo di sekitar saya yang membuat saya bercahaya… halah…halah…. Sayangnya, saat itu saya sama sekali tak menoleh ke arahnya, walaupun dia sudah menatap saya lekat-lekat mengharapkan ada kekuatan telepati yang mengalir dari hatinya untuk saya, hehe, maaf yah bang bukannya gak mau noleh tapi memang waktu itu gak tau kalo si abang lagi merhatiin saya πŸ˜€ πŸ˜€

Esok harinya, rencananya kami semua akan diberangkatkan ke Secapa Sukabumi untuk mengikuti pendidikan kesamaptaan di sana. Pagi-pagi, semua sudah siap-siap berangkat. Hari itu, menurut ceritanya, saya pake kaus ungu, lah malah si dia yang lebih inget sama apa yang saya pakai, hehe. Tetep saya diperhatiinnya dari jauh sampe akhirnya ada satu temen yang menangkap basah dia lagi ngeliatin saya.

β€œCantik yah? Tapi dia udah punya pacar, bos. Tuh yang sana itu pacarnya!” Teman itu berkata sambil menunjuk ke arah β€˜seseorang’ yang yah memang saat itu adalah teman dekat saya 😦

Saat itu juga, si abang langsung patah hati. Pengen banget katanya melupakan saya, tapi apa daya, si abang gak mampu menolak panah-panah cinta πŸ˜€ πŸ˜€

Di Secapa, kami beda kompi dan tentunya beda peleton juga. Saya sama sekali gak pernah merasa kenal dengan yang namanya bang Poltak, padahal kami ternyata udah tiga kali kenalan selama di Secapa itu, hihihi… Maklum, waktu itu yang ngajak kenalan banyak banget jadi saya suka lupa… πŸ˜€ πŸ˜€

Menurut pengakuannya, teman-temannya pada tau kok kalo dia suka memperhatikan saya, makanya tiap saya gak sengaja ketemu dengan teman sekompinya atau hanya sekedar lewat di depan mereka, mereka selalu heboh ngegodain dengan manggil-manggil, β€œKrones…Krones…” ato tiba-tiba nyanyi, β€œRambut merah siapa yang punya???” Rambut saya nih sebenarnya warnanya coklat tapi kalo di bawah sinar matahari suka terlihat merah gitu… Eh, tapi warna rambut ini asli, lho, sama sekali bukan dicat, hehe…

Tapi waktu itu saya tetep gak ngeh, apalagi yang dari kompi laennya juga suka ngegodain saya *eiittsss….mau ngaku jadi seleb waktu itu ya???? :mrgreen:*

O iya, si dia juga mengaku kalo pernah bilang gini ke temen-temennya, β€œYang namanya jodoh itu siapa yang tau??? Sekarang boleh dia punya orang laen, tapi siapa yang tau ntar penempatannya bareng gue, trus malah nikah sama gue” Dan terbukti, omongan si abang berkhasiat juga…xixixixi…

Di Secapa selama dua minggu, selanjutnya kami mengikuti pendidikan pengenalan perusahaan selama seminggu di Udiklat Ragunan. Di situ, saya tetap sering diperhatikannya. Katanya pernah ketemu sekali di kantin dengan status sama-sama bolos dari kelas, sempat ngajak saya ngobrol, tapi saya tetap kesannya cuek, hehe… Sekali lagi, maaf ya bang! πŸ˜€ πŸ˜€

Selesai sama pendidikan pengenalan perusahaan, kami lanjut dengan pendidikan pembidangan. Saya ke Semarang, si dia ke Cibogo. Di sana, kami digembleng selama sebulan. Dia tetap selalu mengingat saya. Sementara saya tetap tidak pernah ingat dengan yang namanya bang Poltak dan justru sedang bergelut dengan permasalahan saya sendiri dengan si mantan itu…

Sebulan pembidangan, kami kembali dikumpulkan di Jakarta, pendidikan kali ini diadakan di kampus Lembaga Administrasi Negara (jadi teringat, di kampus yang sama saya juga pernah mengikuti tes rekrutmen Angkasa Pura I yang kemudian gak saya teruskan karena udah duluan keterima di PLN). Rencananya pendidikan tambahan itu akan berlangsung selama tiga hari saja.

Hari pertama tiba, semua pada heboh dengan pengumuman penempatan selama masa on the job training alias OJT yang akan berlangsung selama 9 bulan. Saya kemudian mengetahui bahwa saya akan ditempatkan di Wilayah S2JB alias Wilayah Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu dengan kantor induknya bertempat di Palembang. Si mantan, ditempatkan di Wilayah Papua. Waktu itu, anak Sistem Informasi yang keterima dari Manado ada tiga orang, kami bertiga sama-sama berasal dari Universitas yang sama dan seangkatan bahkan sekelas pula. Teman saya yang satunya lagi ditempatkan di Makassar.

Di kampus LAN, para calon pegawai yang penempatannya sama disuruh berkumpul untuk berkoordinir soal keberangkatan nanti ke kota penempatan masing-masing.

Saya kemudian bergabung dengan kumpulan teman-teman yang akan menuju ke Palembang. Lumayan banyak sih waktu itu dan dia juga ternyata adalah salah satunya. Saat lagi rapat kecil itu, dia duduk di belakang saya, makanya saya lagi-lagi tidak sadar dengan kehadirannya. Di rapat itu, teman-teman yang lain pada janjian akan berangkat tanggal berapa ke Palembang trus sebagian juga sampai janjian untuk bertemu di Soetta untuk kemudian berangkat bareng ke Palembang. Saya sendiri ketika ditanya, belum bisa kasih kepastian soalnya harus nanya sama orang tua dulu dan kemungkinan besar bakal diantar sama orang tua ke Palembang, nah…ketahuan kan kalo saya satu-satunya yang paling anak mami di situ…xixixixi…

Setelah bubaran, tiba-tiba ada yang memanggil saya, di telinga saya lembut banget terdengarnya *sungguh lho, ini bukan lebay!*, β€œNes… β€œ Begitu dia memanggil saya. Nes adalah kependekan dari Krones, saat itu memang entah kenapa dia lebih suka memanggil nama keluarga saya dibanding nama kecil saya.

Selanjutnya, kami terlibat percakapan. Singkaaattt….banget.

Tapi entah kenapa, kali ini sungguh berkesan di hati saya. Waktu itu saya sungguh lupa siapa nama cowok yang ngajak ngobrol saya itu dan saya juga gak enak untuk nanya, karena di hati saya yakin kami udah pernah kenalan…bahkan yang lebih aneh lagi, saya ngerasa udah lama kenal dan dekaatt banget dengan dia.

Sampai kembali ke Manado, saya masih terus terbayang cowok itu. Masih terus penasaran dia itu siapa. Dan masih terus merasa aneh dengan perasaan saya sendiri.

Seminggu berada di rumah, lumayan banyak sms dari sesama teman calon pegawai PLN angkatan 7 yang masuk ke hp saya. Rata-rata cowok dan rata-rata ya saya cuekkin *sok tenar niiiiyyy…xixixixi*. Bahkan ada satu yang mengaku sebagai kakak dari salah satu calon pegawai seangkatan saya yang juga beberapa kali sms ngajak kenalan setelah melihat profil saya di buku angkatan *gak penting sebenarnya ini ditulis…hihihi*.

Tapi kemudian, 2 hari menjelang keberangkatan saya ke Palembang, ada 1 sms masuk, gak pake nulis nama ato perkenalan, langsung aja nanya, β€œNes…jadi gimana rencanamu ke Palembang?”

Pas baca sms itu, pikiran saya langsung melayang lagi pada si cowok yang ngajak ngobrol saya di kampus LAN itu. Segera saya cek nomornya di daftar calon pegawai yang akan ke Palembang, benar, itu nomornya. Dan di situlah saya baru tau namanya dari daftar itu, hehe…

Setelah itu, kami masih beberapa kali sms-an. Gak sering, tapi setiap hari pasti ada aja sms darinya masuk. Smsnya gak pernah gombal-gombal. Hanya sms biasa, nanya-nanya soal gimana nanti rencana di Palembang, mo nginap di mana, mo nyari kos di mana. Ya gitu-gitu deh…

Tanggal 5 Mei 2006, untuk pertama kalinya saya dengan diantar mama menginjakkan kaki di Palembang. Esok harinya, giliran si abang yang tiba. Kami belum bertemu saat itu. Saya nginap di hotel, sementara si abang tinggal di rumah salah satu kerabat jauhnya. Kami tetap saling mengirim kabar.

Hingga akhirnya, pagi hari sekitar pukul 07.30 di tanggal 8 Mei 2006, kami kembali bertemu di lobi kantor PLN Wilayah S2JB. Dia duluan datang dan sejak pertama kali melihat dia di situ, saya sudah tau….ada yang berbeda dengan hati saya…

Dan yah, kelanjutannya dari pertemuan 5 tahun lalu itu tak perlu lagi diceritakan tapi lihat saja foto-fotonya…hahahaha

 

Kami di Secapa... Keren kan??? Hehehe

 

Atas : Cibogo; Bawah : Semarang...
Akhirnya jadian di Palembang, 25 Mei 2006 πŸ™‚
14 Januari 2007... Semakin Mantap!
Akhirnya tunangan, 18 Mei 2007
Akhirnya menikah, 08 Maret 08
Akhirnya, saya resmi jadi boru Batak πŸ˜€

Jika ditanya mengapa saya mencintai dia, maka sama seperti jutaan orang lainnya yang sungguh merasakan arti jatuh cinta, saya juga akan menjawab : β€œLove needs no reason” Saya mencintai dia. Itu saja tanpa alasan.

Tapi apabila ditanya mengapa hati saya mantap memilih dia menjadi suami saya? Maka saya punya deretan jawabnya. Well, love is one thing, but marriage is another thing. Untuk mencintai tak butuh alasan, tapi untuk menikah kita harus punya argumen yang kuat yang bisa kita pertahankan seumur hidup kita. Ada banyak orang yang kurang beruntung, menikahi seseorang karena alasan ini dan itu dan sayangnya alasan pada nomor pertamanya bukanlah cinta. Ada pula orang yang salah menjadikan orang yang ia cintai sebagai pasangannya dan kemudian pada akhirnya menyesal dan berpisah. Karena itu, beruntunglah jika kita bisa mencintai orang yang tepat untuk dijadikan pasangan seumur hidup kita.

Saya sendiri, mantap menjadikan dia sebagai suami saya karena :

  1. Saya yakin sekali bahwa kami saling mencintai dan saya percaya sampai kapanpun saya akan tetap menjadi bidadari di hatinya :D;
  2. Kami memiliki iman yang sama dan prinsip hidup yang selaras;
  3. Saya yakin bahwa hingga akhir hidupnya ia akan terus bertanggung jawab terhadap saya dan anak-anak kami kelak dan saya juga percaya bahwa bersama-sama kami akan memiliki masa depan yang cemerlang;
  4. Dia cerdas dan pintar, sejarah pendidikannya juga bagus, dan saya berharap ini akan bisa menjadi motivasi untuk anak-anak kami kelak;
  5. Eheemm…eheemm…saya harus jujur bahwa saya mantap dengannya juga karena he always looks good and cool in my eyes, hehe, kebayang anak-anak saya kelak kalo cowok bakal ganteng kayak papanya dan kalo cewek cantik kayak mamanya…hiyaaaakakakakak!!!;
  6. Keluarga kami masing-masing dapat saling menerima satu sama lain.

Yah, itulah dia sedikit cerita tentang kami dan alasan saya memilih dia sebagai teman pendamping hidup saya.

Maaf jika ada yang bosan membacanya karena kami sendiri tidak akan pernah bosa mengenang semua hal yang pernah terjadi pada kami. Tak semuanya indah. Tapi semuanya sangat berharga untuk dikenang.

Buat Keluarga Zulfadhli, selamat merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ketiga yah, sukses buat perhelatan kuisnya dan terutama sukses selalu dalam pernikahannya. Tuhan memberkati keluargamu selalu ya, jeng Soes!

PS :

Jeng Soes, jangan lupa laporan hasil bikin resep pempeknya yaaaahhh πŸ˜€ πŸ˜€

Iklan

34 thoughts on “When Love Came Unto Us

  1. Liiiissss, sukaaaa banget sama cerita lo. Huahaha, ternyata dirimyu beken yah boooo. Dan yng luar biasa lagi, si Abang Poltak inget semua detail2 pertemuan dengan dirimyu πŸ™‚

    Eh ntu poto lo nembak senapan serasa gw liat poto jaman penjajahan Belanda dulu. Lo yakin bukan reinkarnasi dari Martina Marta Tiahahu?? *hihihi betul kaga yah gw nulis nama Beliau??*

    Bener Lis, cinta ga butuh alasan. Tapi merid butuh banyak alasan dan pertimbangan coz kaga mungkin kan kita asal pilih ajah karna ini menyangkut urusan seumur hidup. Dan beruntunglah kita semua yang telah menemukan cinta sejati *i lop yu my hasben_numpang menyatakan cinta ama laki gw yah Say*

    Ya sutra, sekian dulu yah Say kunjungannya. Syiiiippp, tar pan Minggu gw langsung belanja bahan pempek2. Tar kalo dah rebes gw pasti akan laporan kepadamyu

    Cup muach muach

    NB: Laki lo dulu perutnya six pack yah Say. Bandingin ama poto yang sekarang? Huhuuuuuyyyy *laki gw bersorak karena punya temen satu klub hihihihi*

    1. Bukan Martina Martha Tiahahu jeng Soes, tapi Kristina Martha Tiahahu..tar marah lho ibu Tiahahu-nya habis namanya kamu ganti-ganti, hehehehe

      Iyaaaa…dulu peyutnya six pack, sekarang jadi one pack ajah…hiyakakakakak

      O ya, tks buat lombanya yah, jadi bikin aku kepikiran nulis sejarah penting ini di sini, hehe.. cup cup muachh..muachhh juga πŸ˜€

  2. keren tuh pakaian waktu secapanya mirip tentara:)
    aku suka kalimat Love needs no reason, bener tuh susah untuk dijelaskan kalau masalah cinta.
    ternyata banyak teman2 yang menemukan jodohnya disatu bidang yang sama ya, aku juga πŸ™‚

    1. Waktu di Secapa kami memang pake asesoris para tentara, mbak…beraaaatt banget, apalagi sepatunya, bikin nelangsa deh waktu itu sebenarnya πŸ˜€

      Iya, mbak, perkara cinta sukar banget untuk dijelaskan dan kami mungkin memang termasuk cinta lokasi, tapi syukur bukan cinlok sesaat tapi jadinya selamanya πŸ˜‰

  3. Allisa…. hehehehehe… Tadinya aku nggak ‘ngeh’ kalo ternyata Mas Poltak (gak nyambung ya pake Mas) itu angkatan kita…..

    Ow Ow ow… jadi begitu ceritanyaaaa…… :p

    Mesra terus yaaa….. Jadi mama papa terhebat buat Raja….

    Oia, tukeran link yah…. http://www.ennosatrio.blogspot.com

    lagi belajar nge blog niey :p

  4. ohh.., begitu toh jeng Lisa ceritanya. Aku sempet tanya2 sama Abinya Dafi hehehe…
    akhir februari 2006 itu juga hari yg paling aku inget tuh. baru 2 minggu nikah udah ditinggal suami buat diklat lumayan lama :). waktu itu aku juga yg nganterin ke diklat slipi terus nyusul ke secapa sukabumi dan diem2 kita ketemuan diluar hihihih…..sstttt… πŸ˜€

    Semoga bahagia selalu ya jeng…

    1. Trus..trus…cerita versi Abinya Dafi gimana jeng?? Jadi penasaran nih…xixixi…

      Hayoooo…ternyata kemaren ada pertemuan rahasia wkt kami di Secapa yaaa?? Hehe..maklum deh, pengantin baru soalnya…:D πŸ˜€

  5. Wah mama raja, ternyata begitu to cerita pertemuan kalian… Aku tahu kalo Poltak naksir dirimu pas pembidangan di Cibogo, walaupun saat itu kami beda kelas tapi gosipnya slalu menyebar. Oh ya, tmn2 cowok 1 pletonku jg slalu menyanyikan lagu “rambut merah siapa yg punya?” setiap kali dirimu lewat. Memang mama raja ini betul2 seleb & terkenal, hehehe…

  6. hm, kerreen amat mam….
    terbukti emang, Jodoh ada di tangan Tuhan πŸ™‚
    bru baca ini maknya bisa ngerti… padahal dlu bertanya2 knpa mam malah nikah ama orang lain?? kan dlu aq ngefans ama mam n si mantan di kampus,wakkaka… (jujur: mnrtq pasangan yg serasi) :d.. peace bwt si abang
    tapi…. Tuhan ternyata dah siapkan yang paling serasi bwt mam,hehehe….
    salam kangen, mam….
    *smga mam masi inga pa qt,ihihihi*

    1. Gladly???? Ya jelaslah masih ingat jelas, hehe… Apa kabar say? Amankah di Holland sana?

      Hehe…butul itu, jodoh memang di tangan Tuhan, torang nda akan pernah tau kapan Tuhan mo kase baku dapa deng tong pe jodoh πŸ™‚

      1. hehee… hooh, jadi terharu baca mam pe blog ini…
        kkkkeeerrreeennn…..
        Holland?? hm, aman2.. masi dingin ini…
        kapan planning ksni? jangan lupa kasi2 kabar neh??

        hm, jadi ingat mam ngajar… jadi kangen…

      2. Amiiinnn…mudah2an kapan2 torang boleh dapa pigi ke sana, hehe..

        Tks ne so kangen akang pa kita…sometimes, qta le kangen bale ke beberapa masa di kampus dulu, termasuk wkt msh mengajar di sana πŸ™‚

  7. Waaaaahhhh papanya raja cinta pada pandangan pertama ya……critanya detil bgt ampe tglnya masi inget gt pasti berkesaaaannn bgt ya….sip deh moga langgeng bahagia slamanya

    1. Tanggal-tanggalnya memang gak akan pernah lupa, mbak, soalnya tercatat juga di diary πŸ˜€

      Amiin…tks buat doanya ya mbak πŸ™‚

    1. Cerita cinta Bundit juga pasti seru…hmmm…jadi penasaran nih gimana Bundit dulu ketemu sama Aydit…cerita dong bun…ya??? ya???? πŸ˜€

    1. Huehehehe…keren ya mbak??? Iya, emang keren, sayang itu cuma gaya-gayaan aja, gimana pake senapan juga gak ngerti πŸ˜€

  8. ada part 2 or part 3 nya ga? hehehe… berasa nih getar2anya
    trus gmn ya nasib si mantan? eits ga penting dibahas yah πŸ˜€
    yang jelas Allisa Yustica Kornes emang pantes jd seleb kok n kl sm abang Poltak serasi banget..ga salah Raja seganteng itu hehehe..

    1. Hihihi…si mantan juga sudah berbahagia dengan jodoh yang Tuhan beri untuknya, mam..

      Ah, mbak Rully nih bisa ajah…saya kan jadi malu, mbak πŸ˜€

  9. Hai mam allisa, salam kenal, silent reader nih, baru sekarang ikutan komen. Suka deh baca cerita beginian, aku bacanya sambil senyum2 sendiri. Wah ternyata mam allisa pas jaman masih gadis banyak penggemarnya y? cantik sih.. Cocok sama papanya raja poltak, cantik dan ganteng πŸ™‚ Mudah2an awet sampai maut memisahkan (mam, boleh gak blognya aku link? thx)

    1. Halo, bunda, salam kenal juga… Tks buat doanya ya mbak, semoga pernikahan mbak juga awet dan langgeng πŸ˜‰

      Silakan mbak kalo mau di-link, saya juga segera pasang link ke blog mbak di sini. Tadi saya udah mampir ke tempat mbak, udah ngasih komen juga, tapi sepertinya masuk ke spam deh 😦

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s