Christmas 2010 : Nyampur Jadi Satu Aja!!!

Happy Valentine!!!

😀 😀

Udah terlalu telaaaaaat banget untuk ngelanjutin cerita Christmas 2010 The Series *fyi, asesoris Natal di rumah udah pada dilepas dan bahkan pohon Natalnya juga udah masuk ke dalam kardus!*. Tapi kok rasanya teuteup sangat sayang kalo gak dilanjutin yah. Walopun kenangan itu tersimpan juga dalam bentuk ratusan foto, tapi foto tanpa cerita kayaknya kurang seru aja, hehe…

Dan yay, judul yang aneh di atas pada akhirnya mewakili inti cerita yang akan saya tuliskan ini. Sebenarnya, pengen bikin tulisan satu per satu, tapi apa daya, waktu saya tak cukup untuk itu. Daripada tidak sama sekali, mending saya dokumentasikan saja semuanya sekaligus di sini, meski tak bisa menceritakannya secara detail *nyesel sih, padahal kan semakin detail semakin asyik untuk dibaca sebagai kenangan 😦*, but at least if one day I have an amnesia and I forget all the things about my Christmas 2010 memories then this post will help me to remember some little things about the memories 😀

Gina….

Moment Natal 2010 kemarin adalah untuk pertama kalinya keluarga kecil kami dari Palembang bertemu dengan ‘calon’ untuk adik saya. Pacar adek saya ini namanya Gina, and guess what, dia adalah calon pendeta. Wedeewww….gak nyangka juga saya kalo adek saya ini bakal memilih seorang pendeta sebagai pelabuhan terakhir hatinya, *yes, adek saya memang terang-terangan mengaku kalo kali ini he’s 100% serious about this girl*. Overall, kami menilai Gina sebagai sosok yang baik dan manis. Yang paling menyenangkan dari dirinya adalah she didn’t try to be someone else to attrack our attention. Salah satu contohnya, dia hobi makan dan makannya banyak and well sejak pertama bertemu dia tidak pernah berusaha menyembunyikan kenyataan itu dari kami :D. Yah, memang ngapain juga berjaim-jaim ria di depan calon mertua dan saudara ipar, karena yang terpenting kalau kita memang punya hati yang baik dan tulus, mereka juga akan bisa melihatnya kan. Dan puji Tuhan, itulah yang kami lihat ada di diri Gina makanya mama saya pun tak ragu-ragu untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar untuk Gina sebagai calon anak menantu perempuan satu-satunya. Well, we’ll see apakah mereka berdua akan benar-benar berjodoh ataukah tidak, tapi setelah melihat ketulusan Gina, saya sungguh berharap agar mereka berdua memang berjodoh, karena itulah saya menulis tentang Gina di sini karena jujur aja yah, saya kok punya firasat bahwa meskipun Gina masih sangat muda *usianya masih 21, bok!!! She’s 7 years younger than me!!!* tapi dirinya adalah yang terakhir untuk adek saya 😉

Gina, M’bro, Me, M’Hubby

Yohima

Kalo Gina adalah cewek adek saya, maka Yohima alias Ohi ini adalah PRT di rumah orang tua saya. Selain kangen sama orang tua, saya juga kangen banget sama si Ohi  yang udah lamaa banget kerja dengan mama saya. Ohi nih udah menikah tapi belum punya anak. Kerjanya juga sejak dulu gak pake nginap, datang pagi-pagi pulang malam, secara rumahnya deketan aja dengan rumah kami. Kalo soal kerja, gak usah ditanya dan diragukan. Kerjanya cepet dan bersih dan gak pernah ngeluh sebanyak apapun kerjaannya. Contohnya kemaren waktu kami nginap di hotel pas malam pergantian tahun, esoknya kami pulang ke rumah sekitar jam 11 siang. Rumah udah rapi, bersih, dan wangi. Cucian dan setrikaan udah pada beres. Dan luar biasanya di atas meja makan sudah terhidang 11 jenis hidangan sebagai santapan untuk kami di hari pertama di tahun 2011 ini. Semua dikerjakan sendiri oleh si Ohi. Kami geleng-geleng kepala, si suster juga hanya termangu sambil bilang, “terima kasih…” karena semua setrikaan baju Raja juga turut diselesaikan oleh si Ohi. Si Oma hanya senyum-senyum aja, yang kayak gini udah biasa buat Ohi katanya.

Lebih hebatnya lagi karena si Ohi gak ada sedikitpun memperlihatkan wajah lelah, padahal dia udah kerja sejak dini hari banget. Waktu kami pulang, ia menyambut kami dengan senyuman sambil bilang, “Selamat tahun baruuu!!!!”

Aahhh…terharu rasanya sambil berharap-harap semoga saya juga bisa punya PRT seperti si Ohi 😉

Swimming at Sumaru Endo…

Rasanya tiap kali pulang ke Manado, cerita soal berenang di Sumaru Endo selalu ada deh 😀 Yay, ini memang tempat berenang favorit kami karena kolam air panasnya ituuhhh dan karena lokasinya yang tepat di tepi danau Tondano!

And here goes some pictures of our swimming time at Sumaru Endo!

Swimming time is always so much FUN!!!!

Makan-makan….

Buat saya dan suami, Manado adalah surga makanan! Ya gak di resto, gak di rumah, semuuuaaa makanan terasa uenak! Dulu, saya tidak begitu menyadari hal ini, tapi setelah tinggal jauh dari Manado, baru saya sadar alangkah sedapnya makanan khas Manado itu. Makanan kesukaan saya adalah yang berhubungan dengan ikan laut segar. Sejak dulu, kalo makan ikan laut terutama ikan Tude (saya gak tau apakah nama ikan jenis ini ada padanannya dalam bahasa lain di Indonesia), entahkah itu digoreng atau dibakar, saya bisa menghabiskan 5 ekor sekaligus! Yay, saya memang sangat menyukai ikan laut! Dan sungguh sayang, karena di tempat tinggal saya sekarang sangat sukar bahkan bisa dibilang ya tidak mungkin menemukan ikan laut segar. Segar yang saya maksud di sini dalam artian ikannya memang bener-bener baruuu ditangkap dan belom sempat kena es batu apalagi sampe harus dikirim-kirim seperti ikan-ikan laut yang masuk ke Palembang ini. Di lidah saya terasa betul lho bedanya ikan segar dan yang bukan. Ikan segar dagingnya terasa jauuuuhhh lebih manis dan lebih lembut.

Nah, ini dia beberapa foto makanan yang sempat saya foto di resto. Ini hanya sebagian kecil, karena sebagian besarnya udah gak sempat kefoto lagi, soalnya udah keburu disantap 😀

Tude bakar dan kangkong cah ditambah dabu-dabu… adodoh…pe sadap skali!!!
Lunch @ Nelayan Restaurant

Nah, kalo buat papa dan mamanya, Manado adalah surga makanan. Kalo buat Raja sendiri gimana???? Ya, Raja juga lumayan dimanja dengan aneka ikan segar di sini karena sama seperti mamanya, Raja amat doyan sama ikan, walopun Raja belum bisa menikmatinya seperti cara kita. Yupe, anak kami ini ternyata masih ogah-ogahan makan nasi, kadang mau dan lebih sering gak mau, jadinya yah, makanannya lebih sering berbentuk bubur, hehe… Khawatir??? Ah, gak juga. Biasa aja. Kami percaya, ada saatnya nanti di mana Raja akan mau juga makan seperti orang dewasa. Toh sejauh ini tak ada masalah dengan kemampuan mengunyah Raja. Makan kemplang aja jago, makan mi dan bihun juga gak kalah lancar. Tapi meski gak khawatir tapi kami tetap berusaha membuat Raja akrab dengan nasi. Biasanya tiap malam Raja akan minta makan lagi tapi pengennya hanya makan lauk saja, nah biasanya kami beri Raja lauk dengan diselipin nasi. Kalo  Raja belum nyadar sih, nasinya masuk-masuk aja, tapi kalo udah nyadar, langsung deh nasinya dilepeh sambil bilang, “Gak enaakk!!!!” Hiyaaaa….

Lha, kok jadi curhat soal Raja dan nasi sih??? Thats’quite out of topic 😀

O ya, dalam komentar di tulisan sebelumnya, Bundit pernah singgung soal Sambal Rowa, di mana nama sambal ini diambil dari nama ikan sebagai bahan baku utamanya yaitu ikan Rowa, dan tau gak sih Bund, rencana saya untuk menikmati Sambal Rowa di Palembang terpaksa musnah seiring dengan ketinggalannya Ikan Rowa yang seharusnya saya bawa ke Palembang 😦

Kura-Kura 😀

Jauh-jauh ke Manado bawa oleh-oleh cerita tentang kura-kura??? Please deh…gak keren banget!!!! Hiyaahahahaha…  Gak keren juga gak apa-apa, kura-kura ini wajib ditulis sebagai kenang-kenangan, karena sepasang kura-kura yang kami belikan untuk Raja ini adalah hewan peliharaan pertamanya yang dengan berat hati gak bisa dibawanya pulang ke Palembang 😦

Suatu hari di Manado, kami jalan-jalan ke mall, eh, di situ ada yang jual kura-kura. Sebenarnya sih di antara kami gak ada yang merhatiin. Justru Raja yang langsung ngeh trus langsung narik-narik saya ke arah penjual kura-kura itu, katanya gini: “Mammaa… kukuyaa!!” hehe… Sampe sekarang Raja masih sukar menyebut KURA-KURA, bisanya ngomong KUKUYA aja 😀

Raja seneng banget liat kura-kuranya, dan ngeliat anak sesemangat itu, hati orang tua mana sih yang tega gak beliin, apalagi harganya murah, sepasang 20ribu saja udah plus ‘rumah’ sama makanannya sekotak, hehe… Raja seneng banget sama kura-kuranya. Maunya dia yang bawa rumahnya, sampe masuk mobil dan sampe tiba di rumah juga teuteup kura-kuranya dia yang pegang, hehe.. Namanya anak-anak yah, ketemu sesuatu yang baru gitu pasti senengnya minta ampun, padahal ujung-ujungnya juga bosen sendiri, hehe…

I love my KUKUYA, ma!!

Batik Manado

Pasti masih jarang kan denger yang namanya Batik Manado??? Jenis motif Batik ini mulai ngetop di Manado seiring dengan diangkatnya kembali jenis kain Bentenan yang merupakan khas Manado. Saat ini, Batik Manado sudah semakin banyak dijual terutama di toko-toko souvenir. Kalo menurut saya sih motif Batik Manado yang umumnya bergambar cengkeh, rumah panggung, dan burung Manguni lumayan cantik juga apalagi kain yang dipasarkan kualitasnya juga tergolong sangat oke, harganya yaitu Rp 85.000/meter. Sebagai orang asli Manado, saya juga gak mau ketinggalan turut meramaikan pasar Batik Manado ini, makanya kemarin saya ambil 2 warna, biru dan ungu, masing-masing 4 meter biar bisa dibikin seragaman bertiga dengan si papa dan Raja 😀

Batik Manado bermotif Cengkeh menjadi pilihan saya….cantik dan masih tergolong unik kan?

O ya, Batik Manado yang sudah dijual sudah dalam bentuk kemeja saat ini baru tersedia untuk pria saja, sedangkan untuk wanita, sepertinya sang pebisnis masih ragu-ragu tuh, hehe…

Batik Manado dan kain Bentenan sekarang gampang banget dijumpai di toko-toko souvenir. O ya, kemarin waktu ke toko souvenir ini, selain beli batik, kami juga membeli oleh-oleh buat teman-teman di Palembang, Lahat, dan Tebing Tinggi. Semoga pada suka ya dengan oleh-olehnya 😉

Dissapointed when i found this…

Satu hal terbesar yang saya temukan di Manado dan yang membuat saya kecewa berat adalah kegagalan pemerintah kota ini untuk menjaga kebersihan, kerapian, dan ketertiban kota seperti dulu. Di masa pemerintahan sebelumnya, kota ini berhasil bebas dari PKL dan tumpukan sampah, tapi sekarang PKL mulai merajalela dan sampah-sampah yang siap menumpuk juga mulai menghiasi sudut-sudut kota. Sayang…sayaaaanngg…banget. Padahal bukannya sedikit usaha yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya untuk membuat Manado bebas dari PKL yang pada umumnya tidak tertib. Sayang… sekali lagi sayang banget. Tapi saya tetap berharap semoga pemerintah yang sekarang bisa bergerak cepat sebelum Manado terlanjur dicap KOTOR!

Happy New Year!!!

Nah, sekarang kita tiba di akhir cerita. Sejak pertama nyampe di Manado, kami telah mendengar kabar bahwa di malam pergantian tahun bakal diadakan pesta kembang api besar-besaran yang menghabiskan dana Rp 2M. Gak mungkin dong kami rela ketinggalan moment itu. Makanya, dari jauh-jauh hari kami pun mengatur rencana supaya bisa ikut menyaksikan pesta kembang api dahsyat itu.

Rencananya, pesta kembang api bakal diadakan di jalan Boulevard tepatnya di depan Manado Town Square (eh, denger-denger yang punya mall ini adalah temen SMA saya dulu…jiaaahhh…udah jadi pengusaha mall aja dia 😀 :D). Jalan Boulevard itu letaknya di pusat kota sementara rumah orang tua saya letaknya di pinggiran *kan sudah saya bilang, saya anak kampung 😀 😀*. Jadilah, kami kemudian berencana untuk nginap di salah satu hotel di pusat kota yang deket sama lokasi pesta kembang apinya. Maksudnya sih supaya tar kami tinggal jalan aja ke lokasi tanpa perlu bawa mobil, kebayang dong, hampir seluruh Manado bakal tumpah ruah di situ, kalo harus bawa mobil bakal repot banget karena pasti macetnya ampun-ampunan.  Tujuan lainnya supaya kami bisa dengan tenang ninggalin Raja bersama si suster di kamar hotel, kalo jaraknya deket kan kalo tiba-tiba Raja terbangun nyari mamanya, saya bisa segera balik ke hotel.

Lumayan susah nyari hotel di seputaran lokasi acara, hampir semuanya penuh! Untung setelah muter-muter akhirnya dapat juga president room di Rock Rand Hotel.

Siang, kami berangkat dari rumah, singgah ke Lesehan Malioboro dulu karena tiba-tiba saya kok ngerasa lapar, hehehehe…. sebenarnya sih rasa lapar itu lebih karena kangen aja. Udah lamaaa…banget gak makan di Lesehan Malioboro ini. Walopun seperti yang bisa terlihat dari namanya, resto ini bukannya menawarkan masakan khas Manado melainkan Jawa, tapi teuteup aja saya kepengen makan lagi di sini untuk mengingat-ingat lagi kenangan lama 🙂

O ya, di Wall of Fame resto ini terpajang juga kesan dan pesan dari salah satu direksi PLN yang sekarang sudah tidak menjabat lagi.

By Herman Darnel Ibrahim..

Puas makan, kami lanjut ke hotel. Istirahat bentar, trus lanjut siap-siap ke gereja untuk mengikuti Perjamuan Akhir Tahun. Yay, gak sabar rasanya. Moment-moment spiritual kayak gini yang paling kami tunggu-tunggu. O ya, pas ibadah malam akhir tahun di gereja itu, ada sebuah moment yang terjadi antara saya dan si papa yang membuat saya menangis terharu. Moment apakah itu??? Maaf, saya tak akan cerita, biar itu menjadi kenangan yang tersimpan di antara kami, hehe…

O ya, di ibadah malam tahun baru kemarin, gerejanya bernuansa ungu looohhhhh….hehe… Seneeeenngggg..banget liatnya 😀

all in purple worship 😀

Selesai gereja kira-kira jam 8 malam, kami kemudian meluncur ke resto Mawar Sharon untuk makan malam sebelum kembali meluncur ke hotel. Rencananya acara pesta kembang api akan digelar tepat pukul 24.00, lumayanlah masih ada waktu banyak untuk maen-maen kembang api dulu sama Raja di halaman hotel trus setelah itu boboin Raja yang lumayan kecapean maen.

Dinner @ Mawar Sharon
Maen kembang api di depan kamar hotel 🙂
I miss this moment so much!!
…and this moment too…

Jam sebelas malam lebih, kami mulai jalan setelah sebelumnya memastikan bahwa Raja dan si suster aman di kamar hotel. Berkali-kali si suster diingetin, kalo Raja terbangun harus segera menghubungi kami. Awalnya sih sempet khawatir kalo Raja bobonya gak bakal tenang, secara jarak dari hotel ke lokasi pesta kembang api itu deket banget, pastilah suara menggelegar dari kembang api yang ditembakkan ke langit bakal nyampe juga ke kamar kami.

Sesuai rencana, dari hotel kami jalan aja ke lokasi acara. Pas nyampe, pestanya belom dimulai secara resmi tapi masyarakat yang berkumpul udah rameeee….banget dan banyak yang juga membawa dan menyalakan kembang api yang bagus-bagus yang harganya sampe jejutaan *glekkk…kebayang deh uang segitu hanya untuk dibakar-bakar 😀*

Tepat pukul 24.00, pesta kembang api besar-besaran itu kemudian dimulai diawali dengan bunyi sirine tanda pergantian tahun dan kami kemudian hanya bisa terkagum-kagum menyaksikan aneka kembang api di langit yang luar biasa indahnya dan tanpa henti hingga 90 menit ke depan *kabarnya pesta kembang api ini tercatat di rekor Muri*

masih terpana setiap kali ngeliat video rekaman pesta kembang api ini…

Puas ngeliatin kembang api yang keren-keren itu, kami kemudian balik ke hotel, sejak tadi si suster gak ada nelpon ato sms, berarti kondisi di hotel aman-terkendali.

Benar saja, pas nyampe, Raja teuteup bobo pulas. Kata si suster malah Raja sama sekali gak terganggu oleh suara menggelegar di luar, hehe, ngerti aja ya nak kalo mama-papa-opa-oma-papa natan-tante gina pada pengen menikmati indahnya pesta kembang api  itu sepuasnya 😀

Nyampe hotel, kami bobo…

Paginya, semua pada bangun telat…xixixixi…jadinya pada gak ke gereja…huwaaaa!!!!! Jadinya hanya ibadah kecil aja bareng-bareng di hotel terus setelah itu kami check out, muter-muter ke arah pantai sambil singgah beli pisang goreng yang lengkap sama Sambal Bakasangnya, trus pulang deh 😀

I love Opa, I love Oma, I love Papa Natan…

O ya, hari itu adalah hari terakhir buat kami di Manado, karena esoknya tanggal 2 Januari 2011 pesawat kami sejak pukul 07.00 pagi sudah meninggalkan kota Manado yang teramat sangat kami (terutama saya) cintai 😦

O ya, salah satu oleh-oleh yang kami bawa balik ke Palembang adalah Klapertart tapi sayang, gak sempat ke foto, karena udah keburu dibagiin dan sisanya udah keburu disantap habis 😀

Yah, demikianlah cerita campur aduk tentang Manado dan liburan kami kemarin di sana. Liburan yang sempet bikin saya bener-bener malas untuk memulai aktivitas di lingkungan kerja lagi :mrgreen:

Right : 45meters Christmas Tree; Left : Pretty Mom with Handsome Son :mrgreen:
hingga tiba di Palembang pun, mainan Thomas hadiah dari opanya tetep gak bisa lepas dari genggamannya 🙂
Iklan

14 thoughts on “Christmas 2010 : Nyampur Jadi Satu Aja!!!

    1. Hahaha..itulah, mbak, Raja saking senengnya sama Thomas sampe Thomasnya gak boleh ketinggalan sama sekali.

      Sambal Rowa rasanya seperti apa yah???? Yang pasti enak dan bikin ketagihan, mbak 😀

    1. Hehe..iya, jeng, udah telat banget nih laporannya 😀

      Aku juga gak tau jeng, ada yang bilang Raja mirip opanya, tapi banyak juga yang bilang Raja fotokopian papanya… heran, kok gak pernah ada yang bilang kalo Raja mirip diriku yah??? 😀

  1. Waaah seru banget acara di Manado. Sambal Rowa? Duuuuh mam, ini keyboard laptop sampe basah hehehe ngecess… 😀 . Kok bisa ketinggalan sih? Kan bisa dikirim ke Bekasi juga tuh hahahha

    1. Hahahahaha…. iya yah, padahal kan bisa dikirim ke Bekasi, lumayan bisa buat ngobatin kangennya Bundit sama sambal rowa 😀

      Aku juga nyeseeeeelll banget, Bund, bisa2 aja ngelupain ikan rowa itu…hikkkksss

  2. Setelah baca postingan Mba Elsa tentang Manado, dan sekarang dirimyu, bikin gw jadi pengen jalan2 kesono. laki gw yang udah pernah kesono pas doski masih single, dan bilang Manado eman indah.

    Btw Lis, lo miripnya ama nyokap yaaa?? 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s