Christmas 2010 : Merry Christmas!!

Suasana tahun baru di Palembang udah lama lewat,  apalagi suasana Natalnya yah, hehe, udah gak ada tanda-tandanya dan sudah berganti dengan suasana Tahun Baru Cina yang udah di depan mata. Tapi, berhubung saya masih belom sempat juga menulis cerita soal Natal 2010 kemarin, maka saya tetap ingin kembali ke suasana Natal kemarin. Lagian kalo di Manado, hingga hari ‘kuncian’ (hari minggu terakhir di bulan Januari), suasana Natal masih tetap terasa kok. Dan karena mengikuti tradisi itu, hingga hari ini ornamen Natal di rumah masih tetap pada tempatnya dan rencananya baru akan saya bongkar di awal bulan Februari nanti *halooo…awal bulan Februari tuh besok, lhooo!!!!! OMG, baru sadar!!! 😀*.

Okeh deh, mari kita lanjut ke ceritanya saja ya.

25 Desember 2010. Meski malam sebelumnya kami tidur lumayan larut, tapi di pagi itu kami semua tetap bangun pagi-pagi. Tujuannya apalagi kalau bukan tidak ingin terlambat ke gereja. Kalo pas hari Natal gini, gereja biasanya sudah penuh bahkan sejak 15 menit sebelum ibadah dimulai. FYI, gereja tempat kami beribadah di Manado terdiri dari 4 lantai plus 1 balkon di lantai teratas. Lantai I terdiri dari beberapa ruang administrasi, perpustakaan, dan klinik. Lantai II terdiri dari ruang-ruang kelas anak sekolah minggu. Lantai III terdiri dari pastori (tempat tinggal pendeta) dan ruang ibadah ‘kecil’. Lantai IV plus balkonnya hanya terdiri dari 1 ruang yaitu ruang ibadah umum saja yang luasnya lumayan luas banget 😀

Di gereja inilah dulu pemberkatan pernikahan kami diselenggarakan. O ya, dulu itu karena kami lebih cepat menyelesaikan urusan administrasi pernikahan di gereja, maka kami diberikan hak untuk menggunakan ruang ibadah besar di lantai IV, sementara satu pasangan lainnya yang menikah pada tanggal yang sama dengan kami terpaksa harus mengalah pemberkatannya diselenggarakan di ruang ibadah ‘kecil’ di lantai III. Jadi ingat deh, dulu kami sempat dapat pujian dari pihak gereja, karena sekalipun domisili kami semua yang ‘terlibat’ dalam pernikahan itu jauh-jauhan (calon pengantin wanita di Palembang; calon pengantin pria di Lahat; orang tua calon pengantin wanita di Makassar (saat kami menikah dulu, papa saya masih bertugas di Makassar); dan orang tua calon pengantin pria di Medan), tapi segala urusan administrasi yang terkait dengan pencatatan pernikahan baik sipil maupun gereja bisa selesai tepat waktu. Kami juga sudah sejak 6 bulan sebelumnya mendaftar dan mengikuti konseling pernikahan jarak jauh yang dilakukan dengan cara korespondensi dengan ibu Pendeta. Kata orang-orang gereja sih lumayan juga koordinasinya sampe semua berkas yang dibutuhkan bisa nyampe di kantor administrasi gereja tepat waktu gitu, hehe… Puji Tuhan… Sebenarnya sih kalo dipikir-pikir alangkah repotnya mengurus segala sesuatu dengan jarak jauh gitu, tapi Tuhan membuatnya terasa begitu mudah karena Tuhan juga memakai banyak sekali orang untuk membantu kami 😉

Nah, malah ngelantur….. *percaya ato gak, di bagian ini saya justru mendapati diri saya asyik melihat-lihat foto-foto pernikahan kami dulu 😀 😀*

Nuansa ungu di gereja saat hari pemberkatan pernikahan kami 🙂

Ok deh, pagi-pagi bangun, yang pertama kami lakukan tentu saling mengucapkan selamat Natal dulu. Seneng banget deh rasanya bisa merayakan hari bahagia ini bersama keluarga (meski keluarga kakak saya yang dari Rote tidak bisa ikut bergabung 😦 ). Dan puji Tuhan, pagi itu persiapan kami ke gereja juga tidak begitu heboh. Segera saja kami semua sudah siap dan berangkat menuju gereja.

O ya, untuk hari Natal ini, keluarga kecil kami tidak membeli baju baru, loohhh…. Kami memakai baju yang ada aja, seragaman bertiga, yaitu batik ungu yang ini, hehe.. Sebenarnya batik seragaman kami ada dua, tapi yang satunya lagi berwarna coklat, jadi rasanya lebih sreg kalo pake yang ungu ini ajah, hehe… *maaf ya pa, maaf ya nak, kalian berdua terpaksa mengikuti selera mama :mrgreen:*.

Nyampe gereja, karena kami tiba jauh lebih awal, jadinya bisa memilih tempat duduk yang paling nyaman, dalam pengertian yang spacenya cukup luas supaya Raja bisa jalan-jalan di sekitar tempat duduk kami dan supaya gak terlalu keliatan juga sama jemaat laen ketika Raja pengen menyusu. Sebenarnya di gereja ini disediakan ruang khusus untuk anak-anak, maksudnya supaya anak-anak bisa nyaman bermain tanpa mengganggu ketertiban ibadah. Tapi kalo kami memanfaatkan ruangan itu, berarti saya dan Raja akan tidak beribadah bersama anggota keluarga lainnya, gak mau ah, saya gak mau kami ‘tersisih’, hehe, lagian kami yakin kok Raja akan jadi anak yang manis sepanjang ibadah.

Dan benar saja, Raja memang manis banget selama ibadah. Memang sih ni anak gak mau duduk diam, maunya jalan-jalan di depan kami. But at least, he didn’t make any noise. Sekalinya minta mimid, eh, malah keterusan ketiduran, tambah aman deh ibadahnya 😀

Pulang gereja, nyampe rumah, yang pertama kali dilakukan adalah menyerbu hidangan hari Natal. Wedewww…..ini dia nih yang ditunggu-tunggu!! Dan inilah menu Natal kami untuk tahun 2010 ini. Yang pasti semuanya enak dan memang masakan Manado selaluuuuu aja enak-enak, gak heran kalo selama seminggu berada di sana BB saya naik hampir 3 kg!! Si papa jangan ditanya, seminggu berada di Manado saja telah berhasil membuat perutnya tambah mancung beberapa centimeter…xixixixi..

Nyaammm...nyammm.....

Nah, selain hidangan Natal, yang seru di hari Natal kemarin adalah kedatangan para tamu. Biar kata pas hari Natal kemarin Manado diguyur hujan lumayan lebat, tapi teuteup aja tamu yang bertandang ke rumah oma dan opanya Raja terhitung banyak. Sejak kecil memang seingat saya, tiap Natal dan Tahun Baru rumah selalu rame karena tamunya banyak dan silih berganti, tentu sejak dulu jumlah tamu terbanyak adalah dari keluarga dan teman-teman baik teman kantor maupun teman gereja papa dan mama saya. Dan coba tebak, urutan keduanya ditempati oleh golongan tamu mana??? Ternyata oh ternyata, sejak jaman kami masih keciiiiilllll dulu, golongan tamu kedua terbanyak yang datang di hari Natal dan Tahun Baru adalah kelompok anak-anak kecil yang hobi bertamu secara berombongan dan bahkan kebanyakan dari mereka tidak kami kenal, hehe.. Jadi teringat, dulu ketika kami masih kecil-kecil tepatnya sih jaman SD, kami juga suka berkunjung ke rumah-rumah tetangga bareng teman-teman, kalo di Manado judulnya itu pesiar Natal dan khusus untuk kami, ada aturan-aturan yang harus kami taati sebagai berikut.

  1. Pesiar hanya boleh dilakukan di antara jam 4 sore – jam 7 malam. Kenapa? Kalo sebelum jam 4, pada umumnya orang masih istirahat siang. Kalo setelah jam 7 malam, itu sudah kemalaman untuk anak-anak seperti kami!! 😀
  2. Hanya boleh berkunjung ke tetangga yang memang kami kenal dan mengenal kami saja
  3. Hanya boleh berkunjung ke tetangga yang membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk. Dilarang keras ‘memaksa’ berkunjung ke rumah yang pintu-pintunya dalam keadaan tertutup dengan cara memanggil-manggil atau berseru, “Permisiiii….” dari luar. Kenapa? Karena itu berarti yang punya rumah memang sedang tidak ingin menerima tamu. Tapiii…sekalipun pintu rumahnya terbuka dan ketika kami berada di depan rumah trus udah bilang “Permisi” tapi si empunya rumah kesannya cuek sama kami, maka yang harus kami lakukan adalah mengucapkan, “Selamat Natal!” dan lalu segera berlalu dari rumah itu, karena itu artinya kehadiran kami tidak diinginkan, karena bisa saja itu artinya si empunya rumah begitu melihat kami langsung berpikir, “Ah, anak-anak lagi! Bikin repot aja!!”
  4. Berkunjung ke satu rumah tidak boleh secara berombongan! 5 orang saja dalam kelompok kami sudah terhitung banyak. Kenapa? Karena kalo berombongan, kasihan yang empunya rumah pasti bakal kerepotan terutama nyediain space dan tempat duduk apalagi kalo rumahnya kecil.
  5. Dilarang keras menerima angpaw dari pemilik rumah yang kami kunjungi!! Orangtua kami memang tidak memperbiasakan anak-anaknya nerima-nerima duit dari orang dan pernah ada masa-masa di mana di hari Natal, pemilik rumah lebih seneng ngasih duit seratus rupiah ke anak-anak yang berkunjung dibanding menghidangkan minum dan kue. Malah ada pemilik rumah yang langsung memberikan uang seratusan rupiah di depan pintu rumah saja tanpa mengundang anak-anak yang datang itu untuk masuk ke rumahnya. Kata mama, kalo sudah begitu, lebih baik kami berlalu saja dari rumah itu setelah mengucapkan salam Natal.

Sebenarnya ya, orang tua kami agak kurang rela kalo kami ikut teman-teman pergi pesiar di hari Natal ke rumah-rumah tetangga. Tapi yah, mereka juga sadar, kami butuh itu sebagai bagian dari kenangan masa kecil kami: Rame-rame bareng teman-teman seumuran dan sekampung *ya, saya tak malu mengakui bahwa saya memang anak kampung 😀*, turun ke jalan yang memang rameee…banget sama orang-orang yang juga sedang berpesiar Natal; mengunjungi rumah-rumah; mengucapkan salam Natal sama orang-orang yang rumahnya kami kunjungi; dan bagian asyik lainnya adalah bisa pamer baju dan sepatu baru sama teman-teman…hiyakakakakakak!! O ya, biasanya juga pas lagi pesiar itu kami bisa kenalan dengan teman-teman baru *yang sebenarnya satu kampung tapi karena beda sekolah dan letak rumah agak jauhan jadi kurang saling kenal* yang kebetulan berpapasan di jalan ato ketemu di salah satu rumah. Ah, kalo diingat-ingat lagi, rasanya seru banget deh, pengen ngulang yang kayak gitu lagi, tapi udah hampir gak mungkin, hehe..

Nah, kemarin, banyak juga anak-anak yang datang ke rumah, dan asyiknya, Raja bisa bertindak sebagai tuan rumah yang baik : menerima salam *padahal biasanya Raja paling ogah disuruh nyalamin orang yang gak dikenalnya 😦 *, nemenin duduk, dan bahkan pengen sotoy ngelayanin kakak-kakak yang datang. Huahahahaha…that’s my smart boy!!! Trus waktu kemarin sepupu-sepupu jauhnya datang, Raja gak pelit untuk berbagi mainannya dengan mereka 🙂

Raja n friends 🙂

Yah, itulah dia sedikit cerita tentang Hari Natal kemarin. Memang gak banyak, secara ni nulisnya juga buru-buru dan memang ketika Natal kemarin, aktivitas kami paling banyak adalah melayani keluarga dan para tamu yang datang.

Dan… sekalipun Natal udah lamaaaa….banget lewat, tapi saya teuteup pengen ngucapin: Merry Christmas everyone!!! 😀

Iklan

18 thoughts on “Christmas 2010 : Merry Christmas!!

  1. Adduuuh itu makanan khas Menadonya bikin ngiler. Love this hehehe. Dulu temen kos saya ada yang org Menado, kalau habis pulang kampung selalu bawa abon ikan rowa. Kangeeeen. Saya bisa nambah 3x kalau makan dengan abon ikan rowa ini 😀

    Raja pinter deh sudah bisa jadi tuan rumah yang baik. Seru mam cerita Natalnya. Walau kelamaan publishnya hahaha :mrgreen:

  2. Duuh foto-foto makanan-makanan itu bikin laper,Mbak. Nyehehe..

    Ih aturan pesiar Natal Mbak Allisa ngingetin masa kecil aku waktu masih lebaran di Bangka dulu. Zamannya aku kecil aku suka silahturahmi ke rumah sodara itu gak pernah kepikiran ngarepin dapet angpao lho.

    Seneng aja bertandang ke rumah kerabat pake baju baru *maap Mbak waktu masih kecil aku juga masih orang kampung jadi bisa pake baju baru mostly karena lebaran..beli udah lama disimpen buat lebaran nyehehe*, cicip kue-kue yang disuguhin ngobrol sebentar sama yang punya rumah.

    Pas pindah ke Jakarta sempet shock budaya. Karena para tetangga hanya salaman di depan pintu dan kebanyakan anak-anak yang bertandang hanya ngarepin angpao di pinggir pagar. *eh kok malah curcol*

    1. Toss dulu dong sesama anak kampung yang keren :mrgreen:

      Kenangan masa kecil di kampung pas hari raya memang sll bikin kangen ya mbak, walopun dulu katrok abis tapi yang namanya di kampung tetep aja suasana kekeluargaannya jauh lebih terasa 🙂

  3. Merry Christmas ya Jeng (gong xi fat chai en hepi palentin…. xixixixi…)
    Btw, cerita natalnya tetap seru kok. Kalo tempatku yang berkunjung ya cuman tetangga sekitar, beda dengan dulu waktu di pontianak. Tetangga dari gang depan dan belakang bisa saja berkunjung.
    Btw, kok bisa posting? guk-guknya dah ga ngejar2 lagi ya 😀

    1. Klo gitu suasana di Pontianak gak jauh beda sama Manado ya jeng…

      O ya, merry christmas juga, gong xi fat choi juga, dan hepi valentine juga ya jeng 😀

  4. Aduh jeng, itu liat foto makanannya bikin ngiler deh hehehe 🙂 walopun cerita natalnya agak telat tapi blom basi koq 😀

    Liat raja lucu bgt duduk manis gitu di antara kakak2 cewek hehe, udah kayak anak dewasa aja ihihihhi… 😀

    kita juga kalo lebaran sama jeng, suka keliling2 tetangga buat salaman, dan buat anak2 tentu aja ada yg diharepin, angpao hehe..

  5. haduh itu makanan bikin ngiler…..
    raja makin ganteng aja nih jadi pangeran diantara cewek2 hehe…
    mama raja sekalian nostalgia nih inget2 waktu nikah di gereja yang sama 🙂

  6. Huahaha, Raja jadi Don Juan boo dikelilingi bidadari2 cantik 🙂

    Raja pinter yah mo salaman. Good boy!!

    Lis, lo bisa ga masak makanan yang ada di dalam poto ituh? Pan kalo gw ke Palembang mau dunks dimasakkin yang kaya begituh 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s