Ampera at Emilee

Malam minggu kemarin, kami sekeluarga dinner di luar. Memang udah kebiasaan nih, hampir tiap malam minggu kami kelayapan keliling kota Palembang yang tak seberapa besar ini untuk nyari tempat yang oke untuk dinner. Bukan karena malas masak sih *gerakan pembenaran diri dimulai :mrgreen:*, dulu juga waktu masih ada mbak Santi, ritual dinner di luar tiap malam minggu tak pernah lepas dari agenda kami, dan kami selalu mengajak seisi rumah tak terkecuali pengasuh anak dan housemaid. Sengaja kayak gini supaya kami bisa refreshing juga di luar rumah dan sekalian juga berwisata kuliner supaya nanti-nanti kalo ada keluarga yang datang, kami udah tau mo ngajak makan ke mana.

Nah, sabtu kemarin kami memilih dinner di Emilee Iga Bakar di daerah Kenten yang notabene adalah daerah tempat tinggal kami juga, makanya sebenarnya jaraknya dekat dengan rumah. Setiap hari kami melewati resto ini, tapi baru kali ini kepikiran untuk nyoba makan di situ. Pas masuk, langsung berasa suasana yang cozy, tempatnya terlihat pas baik untuk keluarga maupun untuk pacaran šŸ˜€

Emilee Iga Bakar

Pelayanannya sejak awal masuk terlihat menyenangkan, waitressnya ramah dan terlihat meyakinkan. Kami memilih duduk di sudut dekat jendela, karena di situ areanya terlihat lebih lapang. Kami kemudian disodorin buku menu.
Gak lama, kami kemudian memesan iga bakar saus barbeque untuk saya, iga bakar saus lada hitam untuk si papa, tenderloin steak untuk dimakan berdua saya dan si papa, mi goreng sea food hot plate untuk si suster, dan cah kangkung teri untuk dimakan bersama. Untuk minumannya kami pesan es cendol emilee untuk si papa *please deh pa, teuteup aja doyannya sama cendol… Indonesia banget gitu loh!!*, ice blended cappucino untuk saya, dan orange squash untuk si suster. Buat Raja?? Ah, Raja nanti kebagian kentang sama lalap wortel+buncis+jagung aja dari steaknya, toh anak ini juga udah makan dari rumah šŸ˜€

Gak perlu menunggu terlalu lama, pesanan kami tiba. Iga bakarnya?? Hmm…so much tasty!!! Ya iganya, ya kuah supnya, ya sausnya,.Ā Very recommended deh kalo pengen makan iga bakar di Palembang. The steak?? Well, sorry to say, but its taste was so…so…standard.

Waktu kami makan, Raja dijagain sama si suster. Ni anak seperti biasa, gak bisa diam duduk dengan tenang, paling juga duduknya 5 menit aja untuk nikmatin kentang plus sayur-sayurnya, abis itu lari-larian lagi, trus duduk lagi minta sayuran, larian lagi, makan lagi…begitu deh pokoknya. Selesai saya makan, giliran saya yang jagain Raja biar si suster bisa makan. Sambil jagain Raja, saya dan si papa berkeliling resto. Di dindingnya terpajang beberapa foto yang tampak sudah sangat tua. Saya tertarik dengan foto-foto itu, karena itu saya kemudian mendekat ke salah satunya.

Paling kiri, ada foto Jembatan Ampera saat baru selesai dibangun di tahun 1965. Dan di sebelahnya, ada foto Jembatan Ampera di tahun 1970. Pada foto itu terlihat jelas bagian tengah dari jembatan itu sedang dinaikkkan karena ada kapal tambang besar yang lewat di bawahnya.

Melihat foto itu, saya langsung terkagum-kagum.

Memang, sejak dulu saya sudah pernah mendengar bahwa dulunya bagian tengah dariĀ jembatan yang pada awal dibangun merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara itu dapat dinaik-turunkan, tapi sudah lama sekali fungsi itu ‘dimatikan’.Ā Tapi baru sekali ini saya melihat bukti nyata tentangĀ fungsi naik-turun itu. Jujur, ada rasa kagum di hati saya ketika melihatnya.Ā Di tahun 1965, bangsa kita sudah bisa memiliki jembatan yang dilengkapi dengan peralatan mekanik untuk naik-turun begini, rasanyaĀ merupakan suatu kebanggaan.Ā Karena rasa kagum itu, saya kemudian memotret foto di dinding itu lalu saya kirimkan keĀ BBG keluarga Krones. Semua keluarga saya lumayan terkejut melihat foto itu. Mereka kagum dan sama seperti saya, di balik kekaguman itu ada rasa sesal jugaĀ kenapa kok sepertinya bangsa ini memang aneh, bukannya maju malah mundur. Dulunya bisa kayak gini, kok ya sekarang gak bisa lagi. Padahal, untuk membangun jembatan ini, usaha yang dikeluarkan baik oleh pemerintah dan masyarakat di tahun 60-an juga bukannya sedikit. Kenapa kok ya sepertinya usaha itu sama sekali tidak dihargai….

Ok, sebelum lanjut, saya pengen cerita dulu sedikit sejarah mengenai jembatan AmperaĀ yang saya ambil dari beberapa sumber.

Palembang... Viewed From the Tower of Ampera Bridge (File Source : Wikipedia)

Pembangunan jembatan ini dimulai pada tahun 1962 setelah Presiden RI pertamaĀ yaitu Soekarno menerima dan menyetujui aspirasi rakyat Palembang untuk Ā menghubungkan 2 bagian daratan kota ini yaitu Seberang Ulu dan Seberang IlirĀ yang terpisahkan oleh Sungai Musi. For your information, hingga sekarang bagian Ilir masih lebih maju dan lebih ramai daripada seberang Ulu, karena ituĀ untuk memajukan bagianĀ Ulu saat iniĀ daerah ini akan dijadikan pusat pemerintahan dan sekarang beberapa kantor pemerintahan sudah dipindahkan ke bagian Ulu, di bagian Ulu ini juga stadion Jakabaring yang lumayanĀ oke menurut standar IndonesiaĀ itu dibangun.Ā Kedua kaki jembatan ini terletak padaĀ 7 Ulu dan 16 Ilir, sebagai informasi juga di daerah 16 Ilir sekarang terdapat pasar 16 Ilir yang lumayan besar dan kami-kami suka menyebutnya ‘Mall 16’ untuk memper-keren namanya :D.

Jembatan ini mulai dibangun pada 16 September 1960 dengan dana sebesar USD 4.500.000 (saat itu, kursĀ  USD 1 = Rp 200) yang diambil dari dana pampasan perang Jepang. Kontraktor pembangunan jembatan ini juga adalah orang Jepang. Setelah pembangunan selesai pada tahun 1965, jembatan ini kemudian diresmikan pada tanggal 30 September 1965. And you know what, yang meresmikan jembatan ini adalah Jenderal Ahmad Yani. Sore hari tanggal 30 September 1965, setelah upacara peresmian, jenderal besar tersebut meninggalkan Palembang dan pada subuh 1 Oktober 1965, beliau menjadi salah satu korban dalam Gerakan 30 September yang katanya diprakarsai oleh PKI šŸ˜¦

Saat awal penandatanganan kontrak, jembatan ini dinamakan Jembatan Musi dan pada pagar proyek tertulis “PRODJEK DJEMBATAN MUSI”, karena itu hingga sekarang masyarakat sini masih suka menyebutnya dengan nama Proyek Musi. Namun, saat peresmian, jembatan ini kemudian dinamakan “Jembatan Bung Karno” untuk menghargai usaha Soekarno dalam mengakomodir aspirasi rakyat Palembang. Sayangnya, menyusul tragedi 30 September 1965 yang sekaligus mencoreng nama Bung Karno bahkan gerakanĀ antiĀ Soekarno mulai merebak di mana-mana, nama jembatan ini kemudian diganti menjadi “Jembatan Ampera” (Ampera = Amanat Penderitaan Rakyat).

Berikut adalah data mengenai struktur bangunan jembatan ini.

PanjangĀ : 1.117 m (bagian tengah 71,90 m)

LebarĀ : 22 m

TinggiĀ : 11.5 m dari permukaan air

Tinggi MenaraĀ : 63 m dari permukaan tanah

Jarak antara menaraĀ : 75 m

BeratĀ : 944 ton

Awalnya, bagian tengah dari jembatan ini dapat dinaik-turunkan dengan kecepatan kurang lebih 10 meter per menit dengan total waktu yang dibutuhkan adalah 30 menit agar seluruh bagian tengah jembatan dapat diangkat hingga ke ketinggian maksimum. Jembatan ini dinaik-turunkan dengan peralatan mekanis yang menggunakan 2 bandul seberat 500 ton di kedua menaranya. Saat itu, memang Sungai Musi sering dilewati oleh kapal-kapal besar terutama untuk mengangkut barang tambang. Saat bagian tengah jembatan dinaikkan, tinggi maksimum kapal yang bisa lewat adalah 44,5 meter. Sedangkan, saat dalam posisi normal, tinggi maksimum kapal yang bisa lewat hanya 9 meter saja dari permukaan sungai.

Ampera 1965
Ampera 1970... I saw the same photograph at Emilee..

Sayangnya, sejak tahun 1970, fungsi naik-turun itu tak lagi dioperasikan. Alasannya sebenarnya cukup masuk akal, yaitu karena waktu yang dibutuhkan untuk naik-turun yang cukup lama itu lumayan mengganggu arus lalu lintas di jembatan yang kian ramai. Selain itu, diakibatkan oleh pendangkalan Sungai Musi, maka sungai ini tidak lagi dilewati oleh kapal-kapal besar. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat akhirnya dilepaskan dari kedua menaranya karena ada kekhawatiran bahwa kedua bandul tersebut bisa saja jatuh dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

O ya, jembatan ini juga telah mengalami 3 kali perubahan warna lho. Saat awal dibangun, warnanya adalah abu-abu. Pada tahun 1992, di era Presiden Soeharto jembatan ini berubah menjadi warna kuning *tau dong, kenapa musti kuning šŸ˜€*, lalu pada tahun 2002 berubah menjadi merah hingga sekarang. Jembatan ini juga pernah mengalami renovasi pada tahun 1981Ā dengan menghabiskan dana sebesar 850 juta Rupiah. Di tahun 1997, di era reformasi dan bencana krisis moneter, onderdil dari kedua menaraĀ jembatan ini diketahui dipreteli oleh pencuri šŸ˜¦

Ampera in Yellow (picture's taken from http://dayenblog.blogspot.com/2009/01/seputar-diri-gue.html)

Saat ini, seiring dengan semakin berkembangnya kota Palembang *setelah PON di tahun 2004, promosi Visit Musi di tahun 2008, dan rencana Palembang menjadi salah satu tuan rumah Sea Games 2011*, wajah Jembatan Ampera dan plaza di sekitarnya semakin menarik, meski tetap saja saya merasa bahwa pemerintahĀ Sumatera Selatan dan Palembang masih perlu memikirkan bagaimanaĀ membuat visitor tetap tertarik untuk mengunjungi tempat ini berkali-kali dan bagaimana membuat jembatan Ampera memiliki daya tarik lebih di samping kerlap-kerlip lampunya di malam hari.

Ampera now.... night view (File Source : Wikipedia)

Karena itu, saya pribadi merasaĀ bahwa pemerintah di sini perlu memikirkan bagaimana untuk mengembalikan kejayaan Ampera di masa lalu.Ā Sebuah jembatan megahĀ dengan kemampuan naik-turun yang jarang dimiliki oleh jembatan lainnya diĀ dunia ini.Ā Ā Toh, kalau dengan alasan karena bisa mengganggu lalu lintas, sekarang sudah ada wacana pembangunanĀ jembatan Musi IIIĀ dan Musi IV, jadiĀ bakal ada alternatif jalur antara SeberangĀ Ulu dan Seberang Ilir. Toh juga kapal-kapal besar sudah tidak bisa lagi mengarungiĀ Sungai Musi karena sungai ini sudah semakin dangkal, itu berartiĀ fungsi naik-turun itu tak begitu lagi diperlukan dan tak perluĀ sering dijalankan. Menurut saya, fungsi itu bisa dipamerkan pada saat festival Musi tahunan, sehingga masyarakat dan visitor bisa melihat bagaimana istimewanya jembatan ini. Masalah mengenai kedua bandul pemberat, hmm…saya yakin para pemikir dunia ini pasti bisa menemukan cara menjalankan fungsi mekanik itu tanpa menggunakan bandul seperti dulu, masak sih sejak tahun 1965 hingga sekarang tak ada perkembangan teknologi untuk itu? DanĀ menurut saya, kedua bandul itu sebaiknya dimuseumkan, dan dipamerkan pada saat festival Musi, sebagai bukti kemajuanĀ bangsa kita di masa lalu.

Mengenai dananya? Ah, saya yakin jumlah uang pajak yang digelapkanĀ oleh om Gayus masih berkali-kali lipat lebih banyak dibanding dana yang dibutuhkan untuk renovasi jembatan ini, hehe…

Intinya, saya hanya merasa sayang karena negara ini selalu saja mengalami ‘kemunduran’ padahal negara lain selalu bisaĀ mengembangkan teknologi yang sudah dimiliki sejak jaman dahulu sehingga membuat potensi negaranya semakin menarik perhatian dunia. Dengar-dengar memang telah ada rencana untuk merenovasi ulang jembatan ini, kontraktornya lagi-lagi adalah orang Jepang. Well, letā€™s hope bahwa rencana itu memang benar ada dan kalaupun ada, mari lagi-lagi kita berdoa dengan khusyuk agar tidak ada proyek korupsi yang ikut mengekor di belakangnya šŸ™‚

Itulah, sedikit cerita dan pendapat saya mengenai Jembatan Ampera yang menjadi kebanggaan kota di mana saya dan keluarga tercinta kini tinggal. Kebanggaan yang saya harapkan tidak hanya karena keindahan jembatan ini terutama di malam hari, tapi terutama karena nilai sejarah yang terkandung dalam kemegahannya….

Iklan

28 respons untuk ā€˜Ampera at Emileeā€™

  1. Ah, suatu saat Insya Allah saya sekeluarga bisa melewati jembatan Ampera yang memang sangat mengagumkan. Langsung kebayang2 deh, rencana tour de Sumatra suatu saat nanti kalau anak2 sudah besar hehehe šŸ™‚

  2. Kok makanannya ga di foto, Jeng? hehe, pasti lupa yaa karena perut sudah terlalu lapar. Jadi boro-boro pake acara foto makanan :D.
    Super sekali, Jeng liputan Jembatan Ampera nya * gaya mario teguh*. Ehem, emoga bisa ke Palembang suatu hari nanti šŸ˜€

    1. Tau aja jeng, kemarin udah keburu kelaparan kami, jadi gak sempat lagi difoto-foto šŸ˜€

      Nanti kalo ke Palembang, kabar2i ya jeng šŸ˜€

  3. nice info liss,.. jembatan ini yang menyambutku kalo dateng ke palembang *dari kertapati*..
    dari awal liyat udah terpesona dan aku setuju kalo jembatan ampera ini dianggao sebagai lambang kejayaan negri ini di masa itu..

    Harusnya bangsa ini bisa lebih baik lagi..

    Sayang, sampai sekarang belum punya foto di depan ampera meskipun sudah beberapa kali kesana..

  4. waa bagus ya mam view jembatan ampera malam hari.kayak bukan di palembang hehe..
    tempat makannya kliatan romantis ya. tp mana nih penampakan iga nya hihihi..

    1. iya, jeng, jembatan Ampera memang mantap kalo dilihat di malam hari…

      Foto makanannya udah gak sempat difoto lagi, dah keburu disantap šŸ˜€

  5. wah.. asik ada cerita tentang jembatan Amperanya. dah lama sekali gak ke Palembang lagi, terakhir 4 tahun yang lalu itupun dalam rangka dinas, dan pastinya jadi agenda wajib maen2 ke jembatannya. Tp kayaknya dulu agak gak terawat ya šŸ˜€

    Oh iya, foto makan2nya koq gak ada? šŸ˜›

    1. Katanya sih dulu mmg gak terawat, jeng, tp skrg2 ini sudah semakin baik kok, hehe, tp mmg kalo siang hari, jembatan ini kurang menarik šŸ˜€

      Foto makanannya?? halah…dah gak tau nih ketinggalan di mana, udah keburu dimakan soalnya kelaparan!! šŸ˜€ šŸ˜€

    1. wkwkwkwkwk…janganlah aku jadi duta pariwisata palembang, mbak, jangan2 malah tambah gak ada yang mau ke sini, hehe…

  6. waaawww..keren ya jembatan amperanya, aku belom pernah ke sana. tp klo ke jembatan mahakam di kaltim udah pernah, pertama kali liat tak kirain itu laut saking luasnya ga taunya sungai yah hihihi..

    Menyenangkan emang ya makan di luar sekeluarga, jalan-jalan sekalian refreshing. Foto makanannya ga ada nih, Mom…

    1. Iya, jeng, jembatan Ampera mmg keren kalo diliat di malam hari šŸ˜€

      Foto makanannya ngumpet dalam perut nih jeng šŸ˜€

  7. Lis, ngiler gw pengen poto di Ampera & Suramadu. Tar dah kapan2 ngerayu Ayahnya Zahia supaya mau maen ke Palembang *sambil mikir alasan apa yang tepat karena disono kaga ada keluarga hehehe*

    Semoga jembatan Ampera tetap dijaga keindahan & kemegahannya. Dan ga ada tangan2 iseng kaya di Suramadu yang ngambilin baut2 jembatan hihihi

  8. Waw …
    Saya belum pernah melihat Jembatan ampera pada malam hari
    apa lagi setelah di kasih lampu seperti itu …

    Keren ya Bu
    Kebanggaan Warga Palembang
    Yang sedang berbenah untuk menjadi salah satu tuan Rumah SEA GAMES mendatang …

    Salam saya

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s