My New Social Life

Dari percakapan saya dengan beberapa orang teman dan kenalan, salah satu hal yang membuat orang non Batak mikir-mikir seribu kali untuk menikah dengan orang Batak adalah sistem kekeluargaannya yang sangat erat dengan berbagai aturan yang dijunjung tinggi sehingga membuat banyaknya acara pertemuan keluarga yang sifatnya harus untuk dihadiri. Yang hebatnya lagi, pertemuan keluarga tersebut sifatnya bukan yang murni santai, tapi ada berbagai aturan yang menyertainya.

Sebelum menikah, saya bukannya tidak tahu dengan hal ini. Saya tahu persis konsekuensi seperti apa yang harus saya jalani. Latar belakang keluarga saya jelas jauh berbeda dengan suami. Meski prinsip-prinsip mendidik anak oleh orang tua kami adalah selaras, tapi kebiasaan kami terutama yang berhubungan dengan kehidupan sosial adalah sangat berbeda. Jujur, saya tipe yang malas hadir di acara-acara keluarga, bahkan untuk nikahan sekalipun. Padahal ya kalo di sana juga gak ada yang dilakukan selain duduk, liat-liat suasana, ngobrol, dan makan. Tapi tetep aja rasanya malas. Rasanya tetep lebih nikmat duduk di depan komputer sambil bikin program ato nulis cerpen daripada bercengkerama dengan orang-orang yang sebenarnya tidak saya kenal secara dekat. Lebih menyenangkan menghabiskan waktu membaca buku daripada mendengarkan cerita orang yang dulu menurut saya tidak menarik. Ya..ya…ya… saya memang hampir tidak bisa diandalkan jika sudah menyangkut hal sosial seperti ini. Rasanya selalu kehabisan bahan untuk diomongin, apalagi jika ngobrol dengan orang yang jauh lebih tua…walah…langsung deh mati gaya!!

Tapi ternyata, Tuhan bilang saya harus berubah, dan untuk berubah itu saya harus terjun ke dalam kondisi yang selama ini ingin saya hindari. Saya bekerja di perusahaan yang sudah terbilang ‘tua’ dan di sini saya lebih banyak bergaul dengan yang usianya di atas 40 tahun. Tuhan kemudian memberikan saya jodoh orang Batak yang keluarganya masih menjalankan aturan-aturan dalam adat dengan lumayan ketat. Saya diharuskan untuk hadir dan terlibat dalam berbagai pertemuan keluarga.

Sejak awal, saya sudah tau, ini akan berat untuk saya, bukan karena adat itu sendiri yang berat, tapi karena sifat bawaan saya. Karena itu, sejak awal, kata-kata seperti “Mampukan aku, Tuhan untuk menjalani ini dengan sukacita….” Selalu jadi bagian dalam doa saya.

Haleluya, saya dimampukan untuk menjalani semuanya dengan sukacita. Meski kadang, saya masih terlihat kaku dan ‘oon’ di depan para tetua, tapi yang terpenting bagi saya adalah bisa menjalani semua tanpa rasa terpaksa dan malah saya bisa enjoy berkumpul dan ngobrol dengan orang-orang tua yang sebenarnya tidak dekat secara personal dengan saya.

Setelah kami menetap di rumah ini, kami pun mulai aktif untuk ikut dalam Punguan Samosir Boru-Bere Perumnas Kenten Laut Palembang. Otomatis, tiap bulan mesti ikut arisan dan kalo ada acara adat wajib terlibat. Puji Tuhan, sekali lagi saya dimampukan untuk menjalani semua dengan sukacita, dan memang dengan mulai ikut punguan ini, semakin banyak pengetahuan baru menyangkut adat Batak yang saya dapatkan. Dan tau gak sih, beberapa waktu lalu, percakapan ini terjadi antara saya dengan seorang boru Samosir yang berdasarkan tingkatannya harus saya panggil Namboru.

“Udah berapa lama kalian nikah, mamak Raja?”, demikian Namboru itu bertanya.

“Dua tahun, Namboru,” jawab saya pendek sambil tersenyum.

“Ooo… baru dua tahun?” Namboru itu setengah berseru sambil manggut-manggut, “Tapi kau udah ngerti banyak ya…”

Hiyahahahahahahaha…

Pengen lonjak-lonjak kegirangan, tapi maluuuuuuu… 😀 😀 😀

Akhirnya, saya hanya bisa bilang, “Ya, Puji Tuhan, Namboru, tapi saya masih harus belajar lebih banyak lagi…” 😀 😀 😀

Dan hari Sabtu kemarin, giliran kami yang mendapat arisan. Biasanya, arisan diadakan di hari minggu ke dua setiap bulan. Tapi karena di minggu ke dua itu keluarga saya masih di sini, kami kemudian minta supaya diundur ke hari Sabtu tanggal 25 kemarin. Karena dibikinnya di hari Sabtu, maka acara diadakan di malam hari, biasanya sih kalo hari Minggu dibikinnya siang. Bertepatan pula, di tanggal 25 itu, rumah kami kebagian jadwal ibadah dari Gereja seperti yang pernah terjadi sebelumnya di cerita ini. Akhirnya, setelah mendapat persetujuan terutama dari pihak Gereja, kedua acara tersebut kami gabungkan.

Maka jadilah, Sabtu kemarin kami lumayan sibuk di rumah.

O ya, saya belum bilang juga, kalo si Mbak Santi sudah saya berhentikan, gimana ceritanya?? Ah, lumayan panjang, jadi nanti aja diceritain 😀

Untuk makanan buat acaranya (daging saksang, daging panggang, sup, dan daun ubi tumbuk), kami pesan dari rumah makan Batak, Partukongan. Saya juga memesan ikan mas arsik dari seorang boru Samosir yang saya panggil dengan sebutan eda. Untuk dessertnya, saya bikin puding coklat plus saus fla-nya juga *resepnya saya dapatkan dari mama saya tercinta 😀*.

Pagi-pagi bangun, seperti biasanya mulai jam 4 pagi, saya beres-beres rumah. Setelah itu bikin sarapan dan sekalian masak untuk makan siang. Beres semua, saya kemudian tinggal bikin puding.

Nah, karena ini adalah acara gabungan, otomatis yang hadir bakal banyak. Di rumah, saya hanya punya dua lusin piring *maklum lah ya, keluarga muda, jadi belom nyetok perkakas kayak gini yang banyak-banyak*, itu berarti saya musti nambah lagi. Siang, setelah Raja selesai makan, kami *saya, si papa, si suster, dan Raja* kemudian pergi ke supermarket. Di sana saya membeli aneka perkakas untuk menambah koleksi di rumah, seperti piring makan, piring kecil untuk dessert, sendok, sama mangkuk-mangkuk sayur berukuran besar. Jumlah yang dibeli sengaja dibanyakin, karena perkakas kayak gini pasti bakal sering dipake, seiring semakin aktifnya kami dalam kegiatan bersosial 😀

Trus, karena yang datang bakal lebih banyak, berarti tak hanya ruang depan saja yang akan terpakai. Tikar kami hanya cukup untuk ruang depan saja, berarti musti nambah tikar lagi 😀

Rencananya, siang itu paling lambat jam 2 kami udah di rumah lagi.

Tapi ternyata oh ternyata, diakibatkan heavy rain yang melanda Palembang sejak pagi baru mulai menjelang, di mana-mana banjir terjadi, dan tentu saja menyebabkan kemacetan yang puanjaaannggggg dan luamaaaaa!!!

Jam 5 kurang kami akhirnya baru tiba di rumah. Sesuai jadwal, acara akan dimulai pukul 6.

Saat itu, makanan yang kami pesan belum diambil. Rumah belum ditata dan tikar-tikar belum digelar. Dan yang lebih parah, nasinya belum saya masak!!!!

Oh Tuhan, tolonglah kami!
😀 😀

Nyampe rumah, sementara si suster ngasih Raja makan sore, saya mulai masak nasi, supaya cepat saya masaknya sekaligus, di dandang besar dan di magic jar. Sambil nunggu nasi matang, saya nyuci perkakas yang baru dibeli dan akan dipake, sebelumnya label-label harga sudah dicopotin sama si papa. Sementara saya nyuci piring dan masak nasi, si papa yang menata ruangan. Sofa dan buffet dipindahin, sebagian ke kamar Raja, sebagian ke kamar si suster. Meja makan digeser. Trus setelah itu tikar-tikar digelar. Beres sama ruangan, si papa pergi ngambil makanan di RM Partukongan.

Puji Tuhan, semua bisa selesai tepat waktu.

Ketika para tamu mulai berdatangan, semua sudah beres.

Puji Tuhan, semua berjalan dengan lancar. Tamu yang datang banyak bo’, padahal di luar hujan masih rintik-rintik. Dari depan sampe belakang penuh sama tamu, bahkan ruangan main Raja juga terpakai untuk menampung anak-anak. Puji Tuhan juga, makanannya pada laku semua. O ya, untuk memberikan pelayanan ke para tamu, saya gak perlu terlalu sibuk, karena para boru Samosir dengan sigap membantu saya. Bahkan saya bisa dengan tenang menidurkan Raja di kamar meski para tamu masih pada makan di luar 😀

Hampir pukul sepuluh baru para tamu mulai bubar.

Tamu pergi, tinggallah kami. Kembali berkutat dengan proses pembersihan dan pengaturan rumah. Belum lagi tumpukan piring kotor di belakang. Jam 1 dini hari, rumah beres, tapi tumpukan piring di belakang belum. Kami sudah terlalu lelah… akhirnya yang bisa kami lakukan kemudian adalah doa dan lelap 😀 😀

Rencana untuk bangun pagi-pagi tinggal rencana.

Hampir jam 7 baru saya bisa terbangun. Ngecek di dapur, ternyata semua tumpukan piring kotor telah diselesaikan oleh si suster… puji Tuhan…. 😀

Hari minggu kemarin, kami akhirnya tidak kemana-mana. Capek banget rasanya. Tapi Puji Tuhan, hati bahagia, karena semua berlangsung dengan lancar..

Dan tentu puji Tuhan juga untuk sukacita yang semakin ditambahkan-Nya di hati saya setiap kali saya menjalani aktivitas sosial seperti ini 🙂

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

16 thoughts on “My New Social Life

  1. Mbak Allisa,
    Ternyata kita sama ya. Aku juga orangnya kaku kalo ketemu sama orang baru dan orang yang lebih tua. Sebenarnya mungkin karena aslinya aku terlalu cuek.
    Aku pikir aku doang yang ngerasa kalo aku suka mati gaya, keabisan bahan omongan kalo ketemu orang yang lebih tua dan gak terlalu dekat. Hihihi…
    Apalagi walopun tinggal di Lampung, tapi keluarga suami ku adalah orang Jawa yang sehari-hari bisa menggunakan bahasa Jawa dan masih Jawa banget. Dulu aku cuma manggut-manggut, senyum manis kalo diajak orang yang lebih tua ngomong pake bahasa Jawa. Abis gak ngerti…hihihi…untungnya aku lebih dianggap kalem ketimbang sombong.
    Tapi sekarang, aku juga mau belajar bahasa Jawa dan udah ngerti dikit-dikit. responnya masih senyam-senyum sih, tapi karena mati gaya mau ngomong apa.

    Yah gitulah harusnya suatu pernikahan ya, Mbak…meleburkan dua perbedaan yang ada. Selamat menikmati social life yang baru ya, Mbak..

    1. hehe, iya, mbak, bener. Apalagi klo kita menikah dgn org yang latar budayanya berbeda sama kita, ya otomatis butuh kerelaan hati utk menyesuaikan diri.

      Mudah2an mbak Indah juga makin lancar berbahasa Jawa-nya yaaaa… 😀

  2. kadang aku juga berpikir, kelak mesti bagaimana ya…, memasuki sebuah kebiasaan yang dari dulu teramat tidak aku sukai. Sementara ini masih dalam zona nyaman karena jauh dari semua sentuhan adat, tapi berdebar debar…
    Benar kata mama raja, Tuhan yang menganugerahkan, Tuhan juga yang akan memampukan kita untuk hidup dalam anugerahNya tersebut

  3. Hahaha toss dulu ah. Saya juga orang nya kaku mam, kalau ngumpul2 dengan orang yang belum dikenal, gak langsung bisa “cair”. Makanya waktu mau menikah dengan Ayahnya Dita yang orang Batak, kebayang deh nanti pasti banyak ketemu keluarga besarnya. Awal2 ngumpul saya bener2 kayak orang “o-on”. bicara kalau ditanya. Trus manggil nya masih bingung, yang ini harus dipanggil namboru/bou/abang/kakak….iiiiih pusing :D.

    Untungnya di Jakarta keluarga besar suami, jarang secara rutin bertemu. Ups….jarang silaturahmi kok seneng ya hahaha. Dulu sempet diadakan arisan, tapi macet, gak jalan. Apalagi kalau ngumpul2 keluarga Batak itu lamaaaaa banget soalnya harus ngomong satu2 trus bahasanya saya gak ngerti sama sekali huhuhu.

    Tapi yaa…bagaimanapun kita sebagai istri orang Batak harus beradaptasi ya. Meski pas ngumpul senyam senyum aja…dinikmatin aja deh. Kalau sering2 ngumpul2 lama2 juga tahu mereka ngomong apa….:D

    *belum tuntas baca cerita lebaran mam di Plg yang seru itu. Keburu gatel ngomentarin yang ini heheh :D*

  4. Setelah menikah, memang hidup kita berubah, karena menikah menggabungkan 2 keluarga, yg pastinya ada perbedaan. Saya juga awal2 kaku ketika bertemu keluarga suami dari jawa timur, pas kalo lebaran kesana, bener2 ga ngerti apa yg dibicarakan, dan kebiasaan yg ada beda2nya, tetapi seiring perjalan waktu, ya semua bisa dipelajari hehe

  5. Koq sama ya mama Raja, aku jg gitu, kalo ketemu orang baru, awalnya kaku dulu, mati gaya dulu baru deh bisa nyambung omongannya, hahahaha… Salam kenal ya mam Raja, sebetulnya aku sering loh dulu mampir ke sini waktu cari2 referensi ttg asip, tapi karna waktu itu blm punya blog jadi agak2 oon ga pernah ninggalin jejak sama sekali disini, hehehe… ijin tukeran link ya mam Raja…

  6. mbak, aku yg aslinya orang batak aja kadang malas kalo ketemu ngumpul acara adat gitu mbak…pusing,pening ngikutinya…apalagi waktu kemaren nikah wuih acara adatnya lama bo’…sampai sore baru selesai..
    trus belum lg ikut partamiangan…hikss….tapi yah begitulah adat batak…adong angka paranak,angka hula-hula,angka parboru sampai parhobas….hahahaha……

  7. yg sesama suku aja msh suka kaku kok mbak hehe.. aku sama saudara suami yg gak kenal banget paling cuma manggut2 aja kalo ngobrol 😀 tp hampir sama mom, aku jg org rumahan baget dan kalo ketemu org baru biasanya gak lgsg hahahihi, liat2 suasana dulu. palingan sbg pembuka ya pertanyaan dan obrolan standar 🙂

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s