80 – 20

Seminggu gak nulis di sini, ternyata berasa kangen juga…

Padahal selama dinas di Jakarta, saya tetep bisa online tiap malam. Tapi gak tau kenapa, tiap malam rasanya capek dan ngantuk banget, makanya jadi gak terpikir lagi untuk cerita-cerita di sini. Apalagi selama nginap di Udiklat PLN di Slipi, Raja hampir tiap malam gelisah, karena tempat tidurnya kecil banget, padahal ni anak senengnya guling sana guling sini kalo bobo.

Kecian sih ngeliatnya, tiap berguling, kalo gak mentok di dinding, mentok ke mamanya, makanya ni anak jadi bete dan jadi suka terbangun-bangun kalo malam.

Kalo sudah gitu ya, boro-boro mikirin blogging, bisa tertidur lelap selama 2-3 jam pun sudah syukur 😀

But anyway, sekalipun ada faktor tidak nyaman akibat tempat tidur itu, secara overall, perjalanan kami kemarin ternyata lumayan menyenangkan.

3 hari di Jakarta, 2 hari di Cipayung.

Asiiikkkkk….

Raja jadi bisa lihat banyak hal. Kenal sama banyak orang. Nemu pengalaman-pengalaman baru.

Banyak yang pengen saya ceritakan tentang pengalaman kami selama di Jakarta dan Puncak.

Tapi untuk sekarang ini, saya pengen cerita dulu tentang Training of Trainer alias TOT alias Diklat Keinstrukturan yang kemaren saya ikuti itu.

Ok, saya cerita dari asal muasalnya dulu. Sekitar akhir taon 2008, Bagian Perencanaan Sistem Informasi Kantor Pusat mengembangkan sebuah konsep baru di lingkungan kantor ini yaitu tentang manajemen proyek, yang jujur saja, selama ini memang belum dikenal di sini. Kebayang dong, di perusahaan ini ukuran proyek harganya bisa mencapai ratusan triliun, kalo gak dikelola dengan benar dan kalo gak ada dokumentasi yang tepat, maka akan ada begitu banyak titik-titik rawan yang muncul. Silakan deh berasumsi sendiri titik rawan apa yang saya maksud.

Karena itu, Bagian PSI Kantor Pusat pun kemudian memutuskan untuk mulai melakukan manajemen proyek, at least untuk proyek-proyek IT terlebih dahulu. Konsep manajemen proyek itu kemudian dituangkan dalam Program Management Office – Project Management Methodology (PMO – PMM).

Di akhir tahun 2008, saat saya sedang mengandung, saya diikutkan pada workshop PMO – PMM bersama para Deputi Manajer dari Wilayah lainnya. Waktu itu memang seharusnya yang ikut adalah para level DM. Tapi karena saat itu posisi DM di tempat kami belum jelas, maka GM memutuskan supaya saya saja yang ikut.

Pengalaman baru. Pengetahuan baru. Siapa sih yang gak pengen?

Puji Tuhan, saat tes di workshop itu, saya bisa lulus dengan nilai A. Nilai yang saya ketahui justru dari peserta dari Wilayah lain. Ternyata, nilai kelulusan tersebut dikirimkan juga ke kantor saya, tapi hingga hari ini tidak pernah sampai di tangan saya 😦

Setelah saya melahirkan dan menjalani maternity leave, implementasi PMO-PMM tersebut terus berjalan. Beberapa kali pertemuan dan workshop tidak bisa saya ikuti. Deputi Manajer yang baru di tempat saya yang kemudian beberapa kali mengikuti pertemuan PMO – PMM itu.

Tahun 2010 ini, PMO-PMM akan diluncurkan tidak hanya proyek IT saja, tapi untuk keseluruhan proyek di perusahaan ini. Karena itu, tim Pusat membutuhkan trainer PMO-PMM supaya dapat membantu Pusdiklat dalam memberikan pelatihan PMO-PMM bagi siapa saja yang terlibat dalam proyek.

Dan saya sangat bersyukur karena ternyata saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi trainer itu. Meski ada rasa minder, karena dari Wilayah lain yang diundang adalah para DM. Hanya ada dua orang staf saja yang ikut. Saya dan 1 orang teman lagi dari Aceh.

Minder, tapi berusaha tetap PD… toh, I’m never walking alone, I have my GOD in me..

Hari 1,2,3, agendanya kursus gimana cara jadi instruktur yang bener. Seneng banget, bisa dapat banyak pengetahuan baru.

Hari keempat, di Cipayung, waktunya untuk tes.

Pertama, tes tertulis. Kalo ini mah gampring, orang tesnya open book kok, hi hi

Kedua, tes mengajar. Nah, ini dia nih yang bikin ketar-ketir 😀

Malam sebelumnya, saya nyiapin bahan ajaran yang sudah diplot harus ngikutin kurikulum PMO-PMM yang sudah ditentukan.

Hari kamis itu, sampe malam ditungguin, saya gak juga dapat undian untuk maju ke depan.

Jumat pagi, akhirnya kesempatan itu tiba.

Puji Tuhan, semuanya lancaaaarrrrrr!!!!

Lumayan, menuai banyak pujian. Ada yang bilang intonasi dan vokalnya pas, ada yang memuji gesture-nya oke, ada yang memuji dari segi penguasaan materi dan isi presentasi. Intinya, puji Tuhan, semua bilang saya tampil dengan sangat menarik dan meyakinkan 🙂

Meski ada juga sih yang kritik, karena saya gak melemparkan jokes untuk peserta. Yah, habis gimana lagi, i don’t think that i can make some jokes. It doesn’t mean that i don’t have any sense of humor. Saya cuma takut bukan gurauan saya yang jadi lelucon dan bikin orang ketawa tapi ternyata saya sendiri yang jadi lelucon karena gurauan saya ternyata tidak lucu buat orang laen..wkwkwwkwk

O ya, ada satu lagi pujian yang lumayan bikin saya hepi. Kalo berdasarkan 80-20 theory, saya katanya termasuk dalam golongan 20 itu alias golongan yang langka karena katanya *ini kataNYA ya, bukan kata SAYA* lumayan jarang di perusahaan ini ada yang punya talenta seperti saya 🙂

Sekali lagi, puji Tuhan…segala kemuliaan untuk Tuhan semata, bukan untuk saya.

Pujian seperti ini sebenarnya bukan sekali ini saja. Dulu, pernah waktu selesai presentasi di Lomba Karya Inovasi tahun 2008, Manajer Bidang saya yang saat itu hadir bilang kalo package saya lebih cocok jadi TV news anchor daripada jadi pegawai di sini 😀

Ah, padahal mereka semuanya tidak tahu saja, betapa gugupnya saya setiap kali akan tampil berbicara di depan umum.

Saya akan butuh berdoa sungguh-sungguh dan buanyak buanget latihan di depan kaca.

Dulu, sewaktu ngajar di kampus, saya juga selalu latihan dulu. Apalagi waktu mo skripsi, latihannya ada kali’ sampe ratusan.

Kalo kata suami, itu karena saking perfeksionis-nya saya. Memang, saya tidak suka jika ketika sedang berbicara di depan umum ato sedang presentasi ato sedang ngajar dan saya tersendat-sendat ato at least sering ngomong “eeee…” ato “mmmm….” karena gak tau setelah ini mo ngomong apa.

Saya ingin apa yang saya paparkan bisa terus mengalir dengan lancar. Menggunakan bridging statement secara benar, supaya selalu ada kaitan antara satu paparan dengan lainnya.

Saya juga tidak mau terlihat gugup. Saya ingin terlihat tenang dan menguasai perhatian audience.

Keinginan yang ternyata sangat bersesuaian dengan teori-teori mengajar yang kemarin saya dapatkan.

Keinginan yang kemudian saya utarakan dalam doa-doa saya pada Tuhan… Keinginan yang kemudian selalu dalam banyak sekali kesempatan dibuat Tuhan menjadi kenyataan..

Mungkin buat sebagian orang, kok kayaknya berlebihan banget. Hanya untuk presentasi saja harus segitunya. Tapi jujur, buat saya yang merasa kalau saya tidak punya bakat berbicara di depan umum, persiapan untuk itu harus sungguh-sungguh supaya bisa tampil prima 🙂

O ya, kemarin itu, ada juga yang tidak diketahui oleh para peserta lainnya. Kan saya dibilang sangat menguasai materi tuh, padahal mereka tidak tahu saja kalo dulu di kampus, saya juga mengajar materi yang sama 😀

Tapi sekali lagi, Tuhan itu memang ajaib. Saat latihan, ada beberapa teori yang tidak terlintas di benak saya. Tapi pas lagi ngomong di depan kelas kemarin, di hadapan para peserta lainnya yang notabene adalah para atasan saya, teori-teori itu seakan mengalir lagi di kepala saya dan bisa terungkap lewat mulut saya… Well, if it wasn’t GOD who did it, then who else? 🙂

Sekali lagi, segala kemuliaan hanya untuk Tuhan saja.

Saya menulis ini di sini, supaya saya selalu ingat, bahwa pertolongan Tuhan itu selalu ada dan nyata dalam segala perkara, baik untuk besar maupun untuk yang kecil.

Karena itu, jangan pernah sekali-kali meragukan penyertaan-Nya yaaa….

Iklan

9 respons untuk ‘80 – 20

  1. Setujuuuuu eng Lisa. Kesempurnaan memang hanya milik-Nya.

    Tapi ekye ikutan bangga dengan prestasi dirimyu. Top lah Mamanya Raja ini!! 🙂

    Ditunggu cerita2 selanjutnya selama di Jakarta yah Jeng

  2. Waaa..Raja ngikut dines juga ya mam. Saya malah belum pernah nih ngajak Dita kalau saya pergi menginap krn urusan kantor. Teteh nya yang jaga Dita gak suka pergi2, jadi malah saya merasa aman kalau Dita gak ikut. Takutnya ntar tetehnya malah sakit atau apa kan repot deh.

    Btw, top banget deh mamanya Raja. Bisa jadi trainer teladan nih hehehe. Ditunggu cerita selanjutnya ya mam 🙂

    1. Iya, bundit, kondisinya mmg agak beda. Papanya Raja sehari2nya jauh dari kami, jadi rasanya kalo cuma ninggalin Raja sama si suster yang notabene tetep org laen tanpa pengawasan keluarga, rasanya gimanaaaa gitu… Pasnya juga si suster gpp klo pergi2 jauh, jadi klop deh, Raja ngikut2 kemanapun mamanya pergi 😀

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s