Don’t Judge A Book By It’s Cover

Tiba-tiba kepengen nulis tentang ini, setelah beberapa kali *tampaknya* orang salah menilai diri saya…hanya karena melihat saya secara luar.

Kasus pertama, sabtu lalu saya bertemu dengan salah satu orang kantor di pasar tradisional yang gak seberapa jauh dari rumah. Pas ngeliat saya, bukannya langsung menyapa dengan ramah, teman kantor yang notabene adalah ibu-ibu ini malah ngeliat saya *yang lagi jongkok di depan tumpukan sayur sambil memilih oyong* dengan tatapan yang super duper heran. Saya yang risih dipandangi seperti itu, kemudian menyapa dengan ragu… “Halo bu….”

Si ibu, yang kayak tersadar dengan sapaan saya, langsung menyapa balik, “Eh, halo…” dan setelah itu mengajukan pertanyaan yang sangat aneh, “Ke pasar kau????”

Setengah heran saya menjawab, “Iya….”

“Ooo…” Kata ibu itu, lalu tersenyum ke arah saya, senyuman yang menurut saya sih aneh, trus setelah itu ngeloyor pergi sambil beberapa kali menengok ke belakang ke arah saya masih dengan tatapan heran yang seolah menunjukkan bahwa melihat saya belanja di pasar adalah hal teraneh yang pernah dilihatnya.

Kejadian ini, bukan hanya sekali terjadi. Sudah beberapa kali. Pada tempat *alias pasar* yang berbeda, dengan orang kantor yang berbeda, dan tentu dengan waktu yang berbeda pula.

Kasus yang kedua, hari sabtu lalu, seorang tukang pijat yang notabene langganan orang-orang kantor saya undang ke rumah. Ya tentu saja dalam rangka acara pijat memijat bukan untuk makan-makan. Ini pertama kalinya ibu tukang pijat itu datang ke rumah dan pertama kalinya juga saya menggunakan jasa beliau.

Pas ibunya nyampe, saya lagi menyusui Raja. Karena Raja gak juga mau brenti mimi, akhirnya saya dipijat refleksi sambil tetap menyusui.

Selesai dengan acara memijat saya dan suami, kami pun ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Awalnya ibu ini nanya-nanya tentang rumah. Sempat juga nanya-nanya tentang gypsum dan keramik, secara si ibu juga lagi merenovasi rumahnya. Setelah itu, si ibu tukang pijat tiba-tiba nyeletuk dengan logat palembangnya yang kental, “Aku dak nyangko lis kau tuh nete’i. Biasanyo yang cak kau ini dak galak nete’i anaknyo!” *Artinya : “Aku gak nyangka, lis, kamu menyusui. Biasanya yang seperti kamu ini gak mau menyusui anaknya.”*

Garisbawahi ya… YANG SEPERTI KAU INI!!

Sempat terpikir, memangnya saya tampak seperti apa ya???

Saya tidak tahu pasti bagaimana orang menilai saya dari penampakan luar, tetapi sepertinya untuk beberapa orang *semoga saja tidak semua*, figur saya tidak cocok bila dikategorikan sebagai sosok wanita keibuan yang seneng mengurus keluarga.

Mungkin penilaian mereka timbul karena melihat saya yang sehari-harinya di kantor senang mengenakan high heels, dandanan lengkap, dan pakaian rapi *gak berani ngaku modis, sekalipun ngerasa modis…wuakakakakak*. Beberapa *jangan-jangan sekantor????* juga tahu bahwa di rumah saya mempekerjakan 1 baby sitter plus 1 housemaid dan kemana-mana saya selalu diantar sama driver. But please note this one: for me, there’s no any reason to act like a NYONYA BESAR!

Setiap minggu, saya bersama suami turun sendiri ke pasar tradisional. Saya yang belanja, karena saya yang mengatur menu makan seluruh keluarga selama seminggu, dan saya juga yang mengatur anggaran belanja di rumah. Di rumah saya juga bukannya bermalas-malasan. Saya bisa turun sendiri untuk beberes, masak, membersihkan kolam, nyiram bunga, dan sebagainya… Minimal, jika tidak bisa turun sendiri, saya mengecek semua kerjaan di rumah apakah beres atau tidak.

Apalagi untuk urusan mengurus anak, saya tidak pernah tinggal diam. Terutama jika itu sudah menyangkut stimulasi perkembangan Raja serta asupan makanan termasuk ASI di dalamnya.

Saya juga memang ibu yang senang nge-mall *setiap minggu, minimal 2 kali ke mall…err..soalnyaΒ karena di Palembang ini, supermarket-supermarket yang biasanya menyediakan salmon dan sayuran organik adanya cuma di mall-mall πŸ˜€*. Tapi itu bukan berarti saya anti berbecek-becek di pasar tradisional.

Mungkin saya memang tidak terlihat keibuan. Tapi sesungguhnya saya sangat menikmati peran sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Helooo… my house will never be that clean and neat if everything i know is just taking care of my self!

Dengan penilaian dan pandangan yang sebenarnya tidak benar itu, saya bukannya marah ataupun tersinggung apalagi sedih. Pengalaman saya ini sebenarnya merupakan pembelajaran, tidak hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri saya sendiri, bahwa betapa sering kita terjebak untuk memberikan penilaian kepada seseorang hanya dari luarnya saja.

Kadang bahkan orang tidak hanya sekedar memberikan penilaian, tapi langsung menghakimi.

Seperti apa yang pernah saya alami. Seorang ibu di kantor yang notabene adalah ex-secretary manajer bidang saya, pernah langsung menuduh saya di depan orang banyak bahwa saya bisa langsing kembali oleh karena obat-obatan pelangsing.

Bener lho, ibu itu bukannya bertanya atau sekedar mengkonfirmasi, misalnya dengan kata-kata: “Kamu pake obat ya lis, biar bisa langsing?”

Tapi ibu itu dengan pedenya, she stared at me so accusing and then she said out loud, “Yo kan, dio pake obat supaya pacak langsing!!” *artinya: Ya kan, dia pake obat supaya bisa langsing!!*

Capeeekkkk….dehhh!

Untung saya selalu membawa Prenagen lactamom dan Asifit dalam tas saya, jadi begitu dihakimi seperti itu, saya bisa dengan tersenyum tenang mengeluarkan dan menunjukkan pada semuanya obat pelangsing yang selama ini saya pakai: susu menyusui dan obat pelancar ASI! Huehehehehehe…

Sekali lagi, saya tidak marah-tersinggung-sedih. Saya hanya ingin curhat saja.

Sekaligus mengingatkan: don’t judge a book by it’s cover, yang artinya, bahwa jangan mentang-mentang melihat sebuah buku ber-cover warna ungu kemudian kita jadi berpikiran bahwa isi buku itu adalah tentang serba-serbi warna ungu!! Nah lho…gak nyambung yak????:D πŸ˜€

Eh, tapi pernah juga lho, ada sebuah penilaian tidak benar yang justru membuat saya senang.

Ceritanya, beberapa waktu lalu, pas lagi libur, seorang mas-mas sales lukisan datang ke rumah. Saya yang bukain pintu. Pas ngeliat saya, sales itu langsung nanya, “Papanya ada, mbak?”

Saya yang waktu itu agak heran sama pertanyaan si mas sales menjawab, “Gak ada. Emangnya kenapa?”

Si sales: “Ini mbak, mo nawarin lukisan”

Saya : “Kayaknya gak deh, mas”

Si sales (ngotot): “Gak manggil papanya dulu, mbak? Sapa tau papanya tertarik??”

Saya (tegas dan pede) : “Papa saya gak di sini, mas. Saya yang punya rumah di sini.”

Si sales (kaget dan heran) : “Ooo…ya sudah, mbak, permisi…..”

Saya (tersenyum-senyum senang sambil berkata dalam hati) : “Wah, ternyata aku masih keliatan muda juga yaaaaa….”

Wkwkwkwkwkwkwk…

πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

Seneng dong, kalo ada yang tertipu sama umur saya…hihihihihi…. lumayan, kalo di depan orang yang tidak dikenal umur jadinya bisa dikorting, he he…

Ya, itulah, sekedar cerita di ujung weekday ini. Besok, tanggal merah, hari peringatan Wafatnya Tuhan Yesus Kristus di kayu salib….

Puji Tuhan….karena 2000 tahun yang lalu, ada sosok yang rela menanggung semua dosa dan kebejatan dunia agar dunia boleh beroleh keselamatan. Sekalipun IA dihina, dicambuk, dianiaya. Sekalipun seluruh dunia memberikan penilaian yang salah tentang-Nya dan bahkan menolak-Nya. Tapi kasih-Nya tetap nyata dan abadi…

Have a nice long weekend fellas!!!

Iklan

13 thoughts on “Don’t Judge A Book By It’s Cover

  1. Hihihi, pas laki lo yang keluar jangan tu sales bilang “Mba, papanya masih muda yah??”. Nah looo…..

    Btw gw, walopun belum pernah bertemu muka langsung sama dirimyu, tapi udah punya penilaian. Lo modis, unguis (fans nya ungu, hihi maksa yah bo), tapi mau turun tangan sendiri dalam mengurus rumah dan anak (dari cerita2 yang gw baca di blog selama ini). Dan itu oks bangs menurut gw.

    Oya, gimana rasanya pke high heels mulu tiap hari? kalo gw udah varises tingkat tinggi kali ye. Lgian kaga cucoxx bo orang utan pake hak tinggi hahahaa….

    1. rasanya pake high heels??? menyenangkan lho, jeng. malah aku klo pake flat shoes ato bahkan sepatu yang haknya cm 5cm, suka berasa aneh jalannya, hi hi…

      O ya, tks buat pujiannya, hehe… sama kok kayak kamu, jeng, sekalipun kita ibu2 yang modern, tapi urusan keluarga teuteup the #1 πŸ™‚

  2. hehehhe ….. emang mbak even banyak yang bilang don’t judge the book by it’s cover, tapi kenyataannya cover itu tetep yang pertama kali orang 2 liyat buat nilai kita …

    tapi saia salut sama mbak isa maduin antara karir ma rumah tangga sudah kerja masih sibuk urus anak and rumah …. mbak emang kliyatan muda kok ….

    1. waduh…jangan duluan salut sama saya, noi… Jujur, saya belum sanggup sepenuhnya memadukan antara urusan karir dan keluarga. Pada akhirnya, saya harus memilih untuk melepas impian ttg mengejar karir yang dulunya menggebu-gebu sebelum berkeluarga. Sekarang ini fokusnya untuk keluarga… urusan karir, nanti dulu, yang penting saya masih bisa bekerja dengan baik πŸ™‚

      Saya keliatan muda????wahhhh tks yaaaaa πŸ™‚

  3. Betul, seringkali orang menilai segala sesuatu dari luarnya saja….. Dan seringkali salah, karena mereka kan tidak kenal kita. Btw, gimana tu pengalamanpertama kali menapakkan kaki di pasar tradisional? di kasi harga mahal ga sama bakul pasar? kalo aku siy iya……. Seru bo, abis di kasih mahal, barangnya ga bagus lagi*sigh* Tapi besok-besoknya udah punya tips gimana belanja di pasar tradisional. Biasanya tanya harga pas nya berapa. Kalo barangnya kurang ok, aku tawar aja separuhnya*Alesan biar bisa ngeloyor*hehe…..

    btw, met paskah yak. Blessings to you and your fam. O ya, boleh dong tukeran link.

    1. tau gak mbak, knp saya sampe skrg tiap ke pasar tradisional selalu mesti ditemenin sama misua? soalnya misua jauuuuuhhhhh lebih pinter nawar dan lebih mudah ngapalin harga barang drpd saya xixixixi..

      Misua bisa lho ngapalin harga cabe sekilo di pasar A berapa, di pasar B berapa, di pasar C berapa…. misua bisa lho hapal harga barang hingga ke pecahan sennya, he he… klo saya g pernah berani nawar, mbak, soalnya gak pernah berhasil πŸ˜€ πŸ˜€

      Tukeran link???? yuuukkkk mariiiii

  4. Say, let me tell u what i’m thinkin’ bout you.

    Sejak dulu sampe skrg, dimataku kamu cewek yg almost perfect. Well, there are lucky girls who have everything, n u’re one of them! Apa sih yg ga kmu punya? Cantik ya iya, pinter itu mah so pasti, dulu kmu termasuk cewek modis n aku yakin sampe skrg juga msh kyk gitu, n the most important of all, dirimu memiliki kebaikan hati seluas samudra raya (silakan deh kalo mau melambung, hihihihi).

    Nah, dgn semua kelebihan yg kamu punya,aku tmbh salut krn kmu tetep ngutamain keluarga. So, keep going deh say, gak usah peduli sama omongan sirik orang πŸ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s