NPWP-nya Suster

Sebelumnya gak pernah terpikirkan untuk mengurus NPWP si suster. Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Kehendak-Nya adalah agar saya dan kami semua yang termasuk dalam keluarga kecil Samosir – Krones yang bahagia ini menjadi keluarga yang taat hukum dan cinta akan bangsa dan tanah air…termasuk soal taat membayar pajak.

Sehubungan sesuatu hal yang sangat penting, akhirnya kami terdesak untuk sesegera mungkin mengurus NPWP si suster. Kalo untuk kami suami istri sih gak dipikirin lagi, secara sudah diurusin sama kantor.

Sejak awal mo ngurus, saya sudah rada hopeless terutama berkaitan dengan deadline-nya. Agak ragu apa bisa selesai dengan waktu yang sudah sangat mepet ini.

Informasi dari sana-sini mengatakan salah satu syarat untuk mengurus NPWP yang diperlukan adalah KTP setempat.

Nah, ini dia yang bikin bingung. Si suster belom punya KTP Palembang. Jangankan itu, tercatat dalam Kartu Keluarga kami saja belum!!

Untuk mengurus KK-nya saja butuh waktu selama 2 hari. Belom KTP-nya. Belomย  lagi nanti NPWP-nya *kebayang berurusan sama pejabat pemerintahan yang suka berbelit-belit*.

Sementara, waktu yang kami punya hanya 5 hari kerja!!!

Jadi ngerasa rada nyesel juga kenapa gak dari dulu-dulu si suster dibikinin KTP sini ๐Ÿ˜ฆ

Duh, pusing deh..belom lagi musti ngurus hal penting lainnya: passport untuk Raja dan si suster.

Suami jauh. Jadi terpaksa, sayalah yang diandalkan untuk mengurus semuanya.

Sebelumnya, sudah kepikiran sih bikin NPWP secara online. Tapi ragu juga. Secara ada kawan saya yang bantuin nanyain ke temennya yang notabene kerja di perpajakan. Dipastikan kalo gimanapun, mesti pake KTP Lokal.

Duh…pusing deh… mana urusan passport belom kelar lagi.

Akhirnya, kemaren sore sepulang kantor, saya dapat ilham untuk singgah di kantor perpajakan. Pas banget kantornya ini terletak di jalur saya pulang. Sudah jam 4 lewat, sempat terpikir jangan-jangan kantor pelayanannya dah tutup. Tapi nekad sajalah.

Nyampe sana, masih mesti nanya sana-sini dulu. Secara ini gedung baru. Kantor Dirjen Perpajakannya bergabung dengan kantor Dirjen lainnya di bawah Departemen Keuangan.

Pas nemu kantornya, di depan pintu tertulis OPEN. Syukurlah, berarti masih buka… biarpun di dalamnya udah sepiiiiiii….banget.

Saya langsung menuju ke loket pengurusan NPWP. Awalnya ketemu sama mbak-mbak. Begitu saya bilang pengen ngurus NPWP tapi KTP-nya bukan KTP Palembang melainkan Purworejo, si mbak langsung nolak.

“Wah, gak bisa mbak… mesti pakai KTP sini…”

Doooohhhhhh…..!!!!

Tiba-tiba, datang petugas yang lain lagi. Kali ini bapak-bapak *sebenernya penampakannya masih muda sih…keknya sih belom nikah*

Saya langsung ditanya permasalahannya. Saya jelasin pelan-pelan kalo saya berniat membuatkan pengasuh anak saya NPWP, tapi masalahnya belum punya KTP Palembang.

Setelah itu saya ditanya lagi, tujuan pengurusan NPWP ini untuk apa. Saya jawab jujur saja, untuk keperluan *itu*.

Petugasnya langsung manggut-manggut. “Ooo..makanya butuh cepet ya mbak? Tapi perlu dijelasin ya mbak sama susternya, kalo dengan pengurusan ini maka untuk selanjutnya ada kewajiban yang harus dilaksanakan sehubungan pelaporan SPT Tahunan.”

Catatan, penghasilan si suster dalam setahunnya berdasarkan kontrak perjanjian kerja dengan saya adalah masih di bawah Penghasilan Kena Wajib Pajak. Jadi pajaknya nihil, tapi masih perlu dilaporkan setiap tahunnya.

Setelah itu saya kemudian dijelaskan tentang gimana ngurusin NPWP untuk si suster.

  1. Mendaftar secara online melalui http://www.pajak.go.id di menu Aplikasi. Kalo belom punya account, berarti musti bikin account dulu.
  2. Setelah pendaftaran selesai, cetak Formulir Registrasi Wajib Pajak dan Surat Keterangan Terdaftar Sementara sebanyak 2 kali dan ditandatangani oleh Wajib Pajak.
  3. Kedua dokumen tersebut beserta foto kopi KTP di bawa ke KPP (Kantor Pelayanan Pajak) setempat, dalam hal ini berarti KPP Palembang, untuk kemudian dibuatkan kartu kuningnya.
  4. Kedua dokumen tersebut di atas beserta foto kopi KTP kemudian dikirimkan/di fax ke KPP sesuai dengan daerah yang tertulis di KTP, berarti dalam hal ini KPP Purworejo untuk kemudian diaktivasi di sana.

Seneng banget deh mendengar penjelasannya. Apalagi petugasnya nantinya akan membantu untuk mengecek apakah NPWP tersebut sudah diaktifkan atau belum oleh KPP Purworejo.

Sore itu, saya pulang ke rumah dengan perasaan lega.

Semalam, setelah Raja bobo, online registration-nya saya lakukan. Setelah itu dicetak lalu ditandatangani si suster.

Tadi pagi, jam 8 saya kembali ke KPP Palembang. Nyampe sana, langsung ketemu sama petugas yang kemaren sore itu. Langsung dilayani dengan ramah. Gak nyampe 15 menit, kartu kuningnya sudah berada di tangan saya.

Siang tadi, sehabis dari keimigrasian, saya mem-fax semua dokumen yang dibutuhkan ke KPP Purworejo. Setlah itu, saya telpon ke sana. Faxnya sudah nyampe, dan mereka berjanji akan segera mengaktivasi NPWP si suster.

Besok pagi, saya berencana untuk menelepon petugas KPP Palembang yang baik hati itu, pengen minta tolong untuk dicek apakah NPWP si suster sudah aktif atau belum.

Semoga sajalah, supaya target waktunya bisa terkejar.

Ahhhh….ternyata, it’s so easy untuk mengurus NPWP ini. Puji Tuhan, saya bertemu dengan petugas yang ngerti prosedur, yang baik hati mau menolong saya.

Dan satu catatan penting nih… ngurusin NPWP ini murni GRATIS!!! Bener deh, saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk mengurus ini.

Wah..wah….negeri ini mulai mengalami banyak perubahan ya…

Syukurlah…

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Iklan

3 thoughts on “NPWP-nya Suster

  1. KAsihan susternya dibuat NPWP padahal belum PTKP. Itu akan membuat sulit kehidupan suster itu karena harus lapor SPT setiap tahunnya.

    1. Hai yuhuuu…

      tks sdh mampir ke sini ya..

      Mmm….soal nyusahin gak nya, kayaknya keuntungan yang didapat dengan memiliki NPWP lebih banyak deh… Ke depannya kalo si suster pengen kredit rumah atau kendaraan misalnya, akan lebih mudah lagi karena sudah memiliki NPWP. Inget lho, Ditjen Pajak punya target di tahun 2010 ini seluruh rakyat Indonesia sudah memiliki NPWP, makanya dalam banyak urusan, yang diwajibkan tidak hanya memiliki KTP saja, melainkan harus memiliki NPWP juga sehingga masyarakat dituntut untuk menjadi pemegang kartu kuning ini ๐Ÿ™‚

      Ngelaporin SPT itu gak sulit kok, apalagi kalo statusnya PTKP. Sekarang ditjen pajak sudah benar-benar serius ngurusin masalah pajak ini, makanya masyarakat pun benar-benar dipermudah baik dalam pengurusan NPWP maupun dalam pelaporan SPT-nya…

      gitchuuu…

      Semoga Yuhuuu juga sudah punya NPWP yaaa…. ๐Ÿ™‚

Thanks for letting me know your thoughts after reading my post...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s